Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Misi Pak Rasya?


__ADS_3

Siang itu Raniyah yang sudah selesai jam mengajarnya tinggal menunggu jam pulang kantor, dia duduk-duduk di gazebo, melihat beberapa video menarik. Saat itu tiba-tiba Pak Rasya datang menghampirinya. Raniyah menatap tidak percaya, tapi segera melemparkan senyumannya.


" Bu lagi nugas ya?" Tanya Pak Rasya basa basi.


" Enggak pak lagi nyantai aja," Jawab Raniyah.


"Ini PNS gaib lagi booming ya bu, ada sekitar 100an lebih PNS gaib terdeteksi." Kata Pak Rasya membuka obrolan dengan berita yang sedang hangat.


" Iya ya pak, kenapa bisa begitu ya pak? Padahalkan harusnya hal seperti itu tidak terjadi."


" Ya begitu bu, banyak yang tidak melaporkan kematian PNS, jadi pusat gak tau apa-apa, jadi gaji terus aja ngalir."


" Walah berabe itu pak, bisa membahayakan kehidupan negara!"


" Iya bu, ibu sendiri gimana nih sebagaI PNS?"


" Saya gak gimana-gimana pak, semoga cepat selesaikan aja masalahnya."


" Iya hehe bu."


Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba segerombolan guru datang ke gazebo tatapan mereka penuh keheranan, tapi kemudian mereka mengulum senyumannya.


" Gimana pak Rasya semalam persib kalah nih, waduh ya pak!" Kata Pak Farhan.


" Gak apa-apa Pak, kalah menang bukan masalah, saya tetep dukung persib pak!" Seru Pak Rasya.


" Iya pak, saya juga dukung bapak sama bu Rani!" Celetuk Pak Agus guru matematika sambil senyum lebar.


Pak Rasya tampak tersipu mendengar hal demikian. Raniyah hanya mendengarkan obrolan para guru di gazebo yang tampak senang menceritakan perihal sepak bola yang ditayangkan malam kemarin.


*****


Di sebuah cafe dekat rumah sakit, Ahsan dan Daiyan sedang menikmati minum kopi, walaupun sebenarnya hanya Ahsan yang minum kopi, kalau Daiyan paling tidak suka kopi dia memilih minuman segar jus lemon.


"Jadi ngajak ketemu kau mau nikah Dai?" Tanya Ahsan.


" Iya, aku menikahi Haya kakaknya Rani!"


" Serius?" Kata Ahsan menatap tidak percaya, Daiyan membalasnya dengan sebuah angguk.


"...Jadii?"


" Setelah kakaknya kamu dan Rani bisa menikah!" Cetus Daiyan.


" Ta..tapi gimana undangan yang udah ke sebar?"


" Selama ijab qobul belum terjadi, kamu masih bisa membatalkannya! Bukankah kamu juga tidak menyukai Jesika?"


" Ya, dia sangat tidak cocok denganku!" Kata Ahsan tertunduk.

__ADS_1


"Jadi bagaimana?"


"Makasih Dai, you're my best friend!" Kata Ahsan berkaca-kaca.


" Jangan nangis lah! Lebay tau!!" Sarkas Daiyan yang justru membuat Ahsan tertawa.


" Aku gak nyangka banget Dai, kamu sampai sejauh ini demi aku!" Kata Ahsan.


" Aku gak suka teman terbaikku murung terus!" Kata Daiyan habis itu disambung dengan menyeruput jusnya.


" Tapi? Kamu menyukai Haya?" Tanya Ahsan menatap Daiyan yang dingin itu.


Daiyan hanya menjawabnya dengan senyuman penuh arti, Ahsan tahu sekali kalau Daiyan bukan tipikal orang yang mudah mengungkapkan isi hatinya kepada siapa pun, bahkan kepadanya saja hampir tidak pernah Daiyan bercerita.


Bagi Ahsan, Daiyan orang super mandiri, dia mengurus masalahanya sendiri dan pandai sekali menutupi masalah pribadinya. Dia selalu tampak tidak punya masalah.


" Aku tahu kamu gak bakalan jawab! Em tapi kamu tahu kemarin ada yang bertindak selangkah lebih maju dariku! Ada orang yang mendekati Rani!" Tutur Ahsan.


"Orang yang hanya menjadi bayangan akan kalah oleh orang yang bertindak nyata!" Kata Daiyan.


" Jadi maksud kamu aku juga harus bawain makanan buat Rani?" Kata Ahsan.


" Ya terserah yang penting bikin Rani mu itu tidak berpaling! Tunjukin kalau kamu suka dengannya San!" Kata Daiyan menasehati.


Ahsan tampak terdiam, sambil berpikir dan menimbang saran dari Daiyan itu, Ahsan melirik ke arah Daiyan lelaki yang tidak banyak bicara itu.


" Menurutmu?" Kata Daiyan dengan dinginnya sambil memgangkat satu alisnya.


" Ah tentu saja kamu bukan orang selebay itu!"


" Kamu menanyakan sesuatu yang sudah tahu jawaban San!"Kata Daiyan.


" Tapi emang cewek suka gitu dikasih kejutan?"


" Entahlah! Aku tidak tahu soal itu!"


" Hey Daiyan, apa kamu sepolos itu! Kamu kan pernah kuliah diluar negeri! Apa kamu tidak pernah pacaran sama cewek bule waktu kuliah! Kau gak gay kan?" Tanya Ahsan sedikit berbisik.


"Ah San!!!. Faa Amaa jaa-aruna Jaa alna aliyahaa Saafilahaa wa amtorna a laiha hijrotam ming sijillim mangdud! " Kata Jawab Daiyan dengan tatapan serius dan tajam.


" Keluarlah naluri santrinya!" Batin Ahsan dalam hatinya.


"Aku gak mungkin ngambil beban saat bumi dijungkirbalikan dan ditimpa bebatuan panas seperti kaum luth Ahsan! Aku menyukai wanita, aku tidak pacaran! Apa itu salah!" Tegas Daiyan.


" Iya ya Yan, cuma nanya aja, habisnya kamu sulit diajak diskusi soal cewek."


" Aku gak suka buang waktu ngobrolin cewek!" Pungkas Daiyan.


" Soleh soleh Daiyan! Kalau aku punya adek perempuan angkat kau jadi kakak ipar!" Kata Ahsan.

__ADS_1


" Aku gak mau jadi kakak ipar mu!"


jleb


" Eh Dai apa bisa kau gak kaku lah kalau ngobrol, gak asyik tau!"


" Suka-suka aku Ahsan! Biasanya kau tak pernah banyak komplen, kenapa sekarang?"


" Ah iya iya Daiyan, aku khawatir aja nanti kalau sudah menikah jangan terlalu cuek Dai! Kalau cinta tunjukin! kau juga jangan sok kuat, sesekali harus berbagi masalah!" Kata Ahsan.


"Ok!" Jawab Daiyan dengan menatap datar.


" Kau juga jangan kasih tatapan membunuh seperti ini pada isterimu!"


" Aku tidak bermaksud kesana, memang seperti ini cara aku menatap!"


" Okelah terserah kau saja!"


Daiyan memang orang yang cukup keras kepala juga. Tapi anehnya, Ahsan bisa saja bersahabat lama dengan Daiyan yang super cuek gak banyak tingkah dan banyak ngomong itu. Tapi kadang-kadang Daiyan itu orangnya tanpa terduga.


Dulu ketika kuliah, Ahsan pernah berada dimasa sulit, apalagi dia akan melakukan praktikum dan usaha ayahnya ditipu orang, Ahsan hampir tidak bisa ikut praktikum, tapi tiba-tiba uang praktikumnya sudah ada yang membayarkannya, ternyata Daiyan yang diam-diam menstransfer uang praktikumnya, setelah semalaman dia curhat ke Daiyan soal kesulitan keluarganya, tidak cukup disana orang tuanya Ahsan juga diajak kerja diperusahaan ayahnya Daiyan. Itulah momen-momen yang membuat Ahsan merasa Daiyan orang terbaik yang pernah ditemuinya dan tidak ada seorang sahabat seperti Daiyan. Sampai saat ini kebaikan Daiyan dan keluarganya tidak pernah bisa Ahsan lupakan.


*****


Malam tiba, Raniyah akan segera merebahkan badannya tapi tangannya penasaran dengan ponselnya yang masuk beberapan pesan. Ketika dibuka rupanya Pak Rasya memgiriminya pesan, dia mengomentari status Medos Raniyah.


Pak Rasya:


Kalau saya sukanya Suharto bu!


Raniyah (mengetik)


Kenapa pak suka Suharto?


Pak Rasya:


Soalnya Pak Harto orang yang luar biasa, tegas dan negara ini jadi teratur! Kalau Pak Soekarno diasuka memecat atau menyingkirkan orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya bu hehe


Raniyah terdiam, pikirannya sungguh bingung harus membalasa apalagi, sudah terlalu malam kalau mau berdebat dengan pak Rasya.


Raniyah


Sama saja pak! Bagaimana dengan kasus HAM di timor timur pada masa beliau pak? hehe


Raniyah tidak mau kalah membalas pesan pak Rasya, tampak pak Rasya begitu bersemangat dia langsung membaca pesan tersebut, sebentar dia mengetik, tidak lama kemudian keluar lagi, Raniyah pun menutup kolom pesan karena Pak Rasya tampak bimbang membalas pesannya. Sementara Raniyah langsung memilih menikmati malamnya untuk istirahat.


" Pak Rasya ini tumbenan sekali! Tapi aneh sekali dia mau deketik aku atau mau ngajak debat tiap hari!" Gumam Raniyah sambil menatap langit-langit.


#Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2