
Waktu cepat berlalu, seminggu sudah berlalu, Raniyah memakai pakaian terbaiknya, dia mengingat hari ini. Benar, ini adalah hari pernikahan Fahrul, dia tidak pernah lupa, bahkan seminggu ini dia tidak dapat tidur tenang, setiap bangun tidur terkadang air matanya meleleh. Rasa putus asa dan hilang harapan selalu saja menghantuinya.
Tangan Raniyah terulur memegang gagang pintu dengan tangan satunya memegang koper, dia membuka perlahan pintu kontrakannya. Tepat saat itu dia tersentak melihat seseorang yang tengah berdiri depan pintu kontrakannya. Pakaian rapi berjas hitam berdiri tepat dihadapannya.
"Ka-" Belum sempat Raniyah selesai bicara lelaki itu memeluknya.
"Aku tau kamu gak bakalan datang!" Ucapnya sambil memeluk Raniyah.
Seketika Raniyah terpaku, hatinya bergemuruh. Pelukan Fahrul terasa menyesakkan, semakin membuat dirinya merasa lemah. Fahrul mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Raniyah, dia pun memegang pipi Raniyah dengan kedua tangannya.
"Maafin Ran!" Ucapnya dan saat itu juga melelehlah air mata Raniyah, Fahrul pun tertunduk.
"...Jangan membenciku," Ucap Fahrul sambil menghapus air mata Raniyah.
Kepala Raniyah mengeleng dan seraya melepaskan tangan Fahrul yanh bertahta dipipinya. Fahrul terus menatapnya dengan penuh iba, Perasaan Raniyah semakin berkecambuk.
"Pergilah, kamu hari ini menikah!" Balas Raniyah.
"Kamu mau pergi kemana?" Fahrul mengabaikan perkataan Raniyah.
" Pulang!" Balas Raniyah singkat. Raniyah langsung membelakangi Fahrul yang dibelakangnya, dia mengunci pintu kontrakannya.
"Sungguh?"
" Ya,"
Fahrul terdiam dan memperhatikan gerak gerik Raniyah yang mengunci pintu dan menyeret koper. Melihat sikap Raniyah, perasaan Fahrul semakin tidak enak. Dia pun meraih pergelangan tangan Raniyah.
"Kamu marah? Marahlah Ran, jangan diam saja!" Ucap Fahrul.
Seketika Raniyah diam, gengaman tangan Fahrul membuatnya teriris-iris, dia menatap tangan Fahrul yang sudah melingkar cincin pertunangan. Segera dia melepaskan tangan Fahrul.
"Kenapa aku harus menunjukan kemarahanku A?" Kata Raniyah mencoba menatap mata Fahrul.
"Aku ingin kamu melampiaskannya, aku gak mau kamu kesulitan melewati hari karena aku,"
__ADS_1
" Jangan pedulikan aku! Selamat atas pernikahanmu A!" Ucap Raniyah sambil melanjutkan langkah kakinya.
Kali ini Fahrul melangkah lebar mengejar langkah kaki Raniyah yang berjalan cepat, dia langsung memeluk Raniyah dari belakang, Raniyah terdiam, aroma parfum dari baju Fahrul menyeruak memenuhi hidungnya. Hatinya semakin sakit dengan sikap Fahrul yang terus ingin membuatnya tenang.
" Aku memang salah, karena telah membuatmu berharap." Ucap Fahrul.
"I love you, Raniyah." Bisik Fahrul masih memeluk Raniyah dalam dekapannya.
****
Kedatangan Raniyah yang tidak terduga membuat Pak Ansori dan Bu Ansor terkejut, tapi disisi lain mereka senang, Raniyah akhirnya pulang ke rumah, Pak Ansor juga tampak sudah melupakan kemarahannya, dia menyambut Raniyah dengan hangat.
Radit, Fraz dan Haya yang sedang berkumpul di rumah tidak kepalang bahagianya melihat kedatangan Raniyah yang tiba-tiba, meskipun Haya tidak sepenuhnya bahagia dengan kedatangan Raniyah.
Perasaan canggung juga terlihat karena perpisahan mereka tidak baik. Tapi bu Ansor mencoba mencairkan suasana di ruang makan dengan menyajikan semua makanan kesukaan Raniyah. Disana ada semur jengkol, goreng asin peda, sambal goreng, lalapan daun singkong dan sop ayam.
"Makan yang banyak nak, kamu tampak kurus sekali," Ucap bu Ansor sambil menambahkan semur jengkol ke piring Raniyah yang mengangguk saja diberikan tambahan.
Mata Haya terus mengintai melihat sikap bu Ansor yang begitu perhatian pada Raniyah. Haya merasa semakin kesal dengan pemandangan tersebut, Radit yang bisa menangkap adegan tersebut tersenyum sinis. Sementara Fraz fokus pada makanannya dia tidak memperdulikan keadaan di ruang makan.
" Paling seminggu aja bu," Balas Raniyah sambil melahap makanan yang sudah dirindukannya.
" ...Rani kangen banget sama masakan ibu." Lanjut Raniyah.
Air mata bu Ansor menetes terharu, dia langsung menambahkan sop ke mangkuk Raniyah. "Makan yang banyak nak," Balas Bu Ansor.
Acara makan malam yang tidak terlalu hangat selesai, Raniyah memasuki kamar yang dulu ditempatinya, dia tergerak membuka ponselnya, tidak ada pesan yang terkirim dari Fahrul. Raniyah membuka sosial media, disana dia menatap story sosial media Fahrul yang memamerkan pernikahannya.
"Pura-pura!" Gumam Raniyah langsung menutup kembali ponselnya.
****
Pagi yang cerah, kicauan burung terdengar, mata hari belum tampak, langit pun belum terang, dia berlari pagi sambil mendengarkan musik di ponselnya. Lagu itu menambah semangat harinya.
Raniyah berlari melewati pematangan sawah, kemudian melewati jalan raya. Beberapa orang pagi itu tampak sedang berlari juga. Angin segar pagi terus berhembus memenuhi rongga dada.
__ADS_1
Melewati jembatan, Raniyah terhenti, di menepi dan melihat ke arah bawah jembatan yang mengalir sungai cimanuk. Dia menatap jauh sungai Cimanuk yang mengalir dari hulu ke hilir. Hembusan angin terasa lebih segar. Sayup-sayup terdengar seseorang memanggilnya.
" Raniyah!!" Sapanya membuat Raniyah menoleh.
Senyuman merkah terukir dibibir pemuda itu, Raniyah tanpa sadar mengukir senyuman juga. Lelaki itu melangkah mendekat pada Raniyah.
"Apa mungkin aku jodohnya?" Tiba tiba terbesit hal itu dalam diri Raniyah.
"Kamu pulang juga!" Ucapnya ikut berdiri disamping Raniyah sambil menatap aliran sungai Cimanuk diatas jembatan.
"Aku rindu kampung halaman, mungkin rindu kamu juga," Canda Raniyah membuat lelaki itu menunduk Raniyah terus memperhatikannya.
"Tidak ada yang berubah darinya," Bisik hati Raniyah.
" Aku akan menikah minggu depan Ran!" Ucapnya seketika mematahkan pikiran Raniyah.
" Oh benarkah?" Raniyah sedikit terkejut tapi langsung menguasai dirinya dan mengutuk pikirannya.
"Gila aku, pikiran gila ah mungkin karena sedang patah hati!" Bisik hatinya.
" Iya Ran, mm gimana hubungan sama Fahrul?" Tanyanya.
Deg
Pertanyaan itu muncul membuatnya tertampar dengan kenyataan, hatinya yang belum sembuh rasanya ingin menanggis. Tapi Raniyah membuang pandangannya dan menghirup udara sekuat-kuatnya.
" Dia sudah menikah," ucapnya pelan.
" Hah! Maaf Ran," Balas Ahsan merasa bersalah sekaligus kaget dengan apa yang baru didengarnya.
"Semua orang pada akhirnya meninggalkanku, mereka sudah menentukan takdirnya," Bisik Raniyah melirik tangan Ahsan yang terlilit cincin dijari manis.
"Semoga kamu segera menemukan seseorang yang tepat, Ran!" Ucap Ahsan dibalas anggukan oleh Raniyah.
#Bersambung...
__ADS_1