
Terima kasih untuk dukungan para pembaca setia novel ini. Mrs cukup senang, dan untuk novel ini Mrs gak bisa janjikan update rutin, karena Mrs sedang ada kesibukan lain, tapi akan selalu diusahakan update, karena ini salah satu novel kesayangan mrs ๐๐. Walaupun mrs merasa monoton ceritanya ๐๐๐, novel ini dibuat Mrs dari hal-hal yang sering terjadi dilingkungan kita. Kalau ada kemiripan kisah dengan yang terjadi, ini murni sebagian fiksi sebagian lagi modifikasi permasalahan di kisah nyata. Cekkidot langsung aja baca guys, boleh ceritanya dibagikan ke temennya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ Selamat Membaca๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Pak Rasya langsung melangkah mendekati Raniyah yang sedang duduk dan membuka laptopnya, matanya tidak dapat berbohong, kalau dirinya sangat terluka. Beberapa kali dia mengambil tisu untuk menahan air mata yang terus bersiap meluncur.
"Bu Rani!" Panggil Pak Rasya yang sudah berdiri di depannya.
"Iya?" Kata Raniyah melirik sebentar.
"Emm.. Tadi maaf, kita hanya bercanda." Ucap Pak Rasya.
Raniyah meilirik tajam lalu kembali lagi ke layar monitor. Mendengar perkataan pak Rasya yang berkata hanya bercanda, membuatnya tersenyum kecut.
"Tidak masalah kalau saya jelek di mata kalian! Tapi tolong hal seperti ini, jangan dijadikan bahan bercanda!" Kata Raniyah dingin.
"Iya bu, saya minta maaf sekali lagi." Kata Pak Rasya tidak disahuti oleh Raniyah.
Melihat Raniyah mengabaikannya, Pak Rasya pun kembali ke tempat duduknya. Beberapa kali melirik ke arah Ranuyah yang tampak dia mulai sering menghapus air matanya.
Tidak berapa lama datang bu Lusi yang tampak geram, dia melirik Raniyah, kemudian matanya menyalang menatap Pak Rasya yang tampak terkejut. Bu Lusi berjalan cepat ke arahnya.
Brak!
Bu Lusi mengebrak meja Pak Rasya dengan keras. Dadanya turun naik menahan emosi yang memuncak semua mata menatap ke arah Bu Lusi. Guru wanita yang terkenal cerewet.
"Mulai sekarang Pak Rasya Jangan coba dekati Bu Rani lagi!" Tegas Bu Lusi sambil menunjuk ke arah wajah Pak Rasya.
"Ma..Maksudnya bu?"
"Saya nyesel menjodohkan Bapak dengan Bu Rani! Kalau tau kelakuan bapak kayak gini!" Tegaa Bu Lusi.
__ADS_1
"Bu.. Saya tadi tidak bermaksud body shaming bu!"
"Apapun alasan bapak! Saya tidak suka laki-laki banding-bandingin wanita!" Tegas Bu Lusi.
Pak Rasya terdiam, Bu Lusi tampak tidak mau perkataannya dibantah ditambah saat ini sedang naik pitam. Bu Lusi matanya melihat ke sekeliling, dia sudah tidak memperdulikan pandangan orang lain, dia cukup marah dengan kejadian yang baru terjadi.
" Kalian para lelaki! Pak Rojib juga anda berani-beraninya pake ngurutin kecantikan wanita heh! Anda gak punya hati! Coba Anda pikirkan kalau anda sendiri diperlakukan seperti itu!" Mata Bu Lusi menatap tajam pak Rojib.
Pak Rojib tampak tersenyum samar, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Semua orang tampak mengelengkan kepalanya dengan sikap Pak Rojib.
"Saya berkata fakta! Bu Rani kan emang gak cantik! Buktinya sampai sekarang belum nikah, malah ditinggalin calon tunangannya lagi!" Kata Pak Rojib sangat enteng.
" Shut up!" Pak Vikram kini ikut campur, semua orang terkejut dengan sikapnya, yang biasanya Pak Vikram diam saja dengan permasalahan yang ada di ruang guru.
Pak Rojib lebih terkejut lagi, karena guru juniornya itu berani sekali membentaknya. Suasana di ruang guru semakin panas. Sementara Jesika tampak senang dengan konflik yang sedang terjadi.
" Pak Rojib!" Seru seseorang disana mencoba mendinginkan suasana.
" Ya mereka kan Beda!" Kata Pak Rojib.
" Sudah cukup pembahasan ini! Maaf ya Pak Rojib ukuran kecantikan wanita itu beda-beda sesuai selera! Bu Rani dimata saya adalah wanita yang cantik, bukan karena fisiknya, tapi dari sisi yang lain! Dan tolong jangan banding-bandingkan lagi Bu Rani dengan wanita lain! Karena tidak ada yang bisa membandinginya, dia terlalu cantik!" Ucap seseorang dengan senyuman merkah diambang pintu.
"A**hsan!" Ucap Jesika kesal dalam hatinya.
Raniyah langsung melirik ke arah pintu dimana Ahsan sedang berdiri dan menatapnya dengan senyuman terukir indah.
" Wah! Iya benar sekali perkataan Ahsan!" Seru Pak Agus membuat semua orang akhirnya kembali ke urusannya masing-masing.
Jesika langsung menghampiri Ahsan, dia hendak menyapa Ahsan, tapi justru Ahsan melewatinya dan langsung mendekat ke arah meja Raniyah. Dia mengucek kepala Raniyah, membuat Raniyah menatapnya dengan mata berkaca-kaca, rasanya dia ingin menangis saat ini.
" Hey, mau pergi denganku? Aku tau kamu tidak ingin disini!" Bisik Ahsan.
__ADS_1
"Terkadang Ahsan tau apa yang aku butuhkan saat ini" Batin Raniyah.
"Uh soo sweet!!" Kata Bu Lusi yang sudah berubah ceria lagi dia tersenyum langsung kembali ke tempat duduknya.
" Jam kerjaku sudah selesai! ayo kita pergi!" Kata Raniyah membawa tas dan Ahsan tampak senang.
Pak Rasya melihat adegan tersebut, dia tampak tidak rela melihat Raniyah pergi bersama Ahsan. Bu Lusi memberikan tatapan tajam ke arah Pak Rasya yang sudah berdiri hendak mencegah Raniyah pergi.
" Jangan harap untuk mendekatinya lagi!" Ancam Bu Lusi.
" Saya hanya ingin minta maaf Bu!" Kata Pak Rasya yang tampak frustasi melihat Raniyah pergi bersama Ahsan.
"Jangan cari alasan!" Kecam Bu Lusi.
"... Awas kalau anda mendekati Bu Rani!" Kata Bu Lusi langsung memberikan tanda dengan tangannya .
Pak Rasya menghela nafasnya, kembali lagi ke tempat duduknya tampak menyesal dengan yang baru saja terjadi. Pak Farhan mendekatinya menepuk pundaknya.
" Sabar Bro, cewek kalau lagi marah emang suka ngancem-ngancem!" Kata Pak Farhan yang tidak lain suaminya bu Lusi.
" Apa kamu bilang Mas!" Kata Bu Lusi yang sangat jeli telinganya melotot ke arah Pak Farhan.
Pak Farhan langsung bungkam, semua orang cekikikan melihat ekspresi pak Farhan yang tidak dapat berkutik. Sementara Pak Rasya masih menatap kursi kosong tempat duduk Raniyah. Seribu sesal kini bersarang di benaknya.
Seandainya saja dia tidak ikut permainan Pak Rojib yang bercandanya suka kelewatan, mungkin kejadiannya tidak bakal separah ini. Hatinya sangat tidak enak melihat Raniyah sama sekali tidak mau bercakap-cakap dengannya. Bahkan saat ini, Raniyah tampak belum memaafkannya.
Di sisi lain, Raniyah menanggis terseguk-seguk sambil ditutupi jas kerja Ahsan. Sementara Ahsan menungguinya sampai Raniyah tenang. Ahsan mengelus kepala Raniyah yang tertutup oleh Jas. Dalam hatinya dia juga merasa kesal dengan kejadian di sekolah itu.
"bisa-bisa mereka mengolok-olok Raniyah!" Batin Ahsan dengan rahangnya mengeras dan tangan mengepal.
#Bersambung...
__ADS_1
๐ฟ Terima kasih sudah membaca episode ini๐ฟ