
Gemerlap cahaya lampu menerangi ruangan, alunan lagu dari grup musik di kafe mengisinya. Beberapa pasangan anak muda terlihat bercengkrama. Daiyan terus menatap greentea hangat yang dipesannya, pikirannya terus melanglangbuana, sentuhan lembut bibir Raniyah pagi tadi membuatnya kurang fokus seharian.
"Yan!" Seru Ahsan yang mengejutknya sambil membawa kentang goreng.
"Iya!"
"Melamun aja, kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa!"
"Serius?"
"Iya bawel!"
"Hah, dikirain lagi ada masalah sama Raniyah!"
Mendengar nama Raniyah seketika wajah Daiyan memerah, perubahan itu tampak jelas tertangkap mata Ahsan.
"Wajah lo kenapa merah? Lo..." Ucapan Ahsan tidak dilanjutkan otaknya langsung traveling.
"Jangan mikir yang enggak-enggak!" Telak Daiyan melihat temanya sudah berpikiran mesum.
"Lah terus.. kenapa wajah lo merah?"
"Enggak taulah!"
"Lo lihat Raniyah gak pake baju?"
"Yaelah, kagaklah! Mana pernah gue buka baju Raniyah!" Daiyan keceplosan langsung membuat Ahsan membulatkan matanya.
"Seriuuuus? Jadi Raniyah belum lo apa-apain dong!"
Seketika rasanya tenggorokan Daiyan kering, dia langsung menyeruput minumannya dan melihat ke arah lain, Ahsan tersipu dan langsung menopang wajahnya di meja melihat ke arah Daiyan didepannya.
"Selama ini gue penasaran sama Raniyah, kalau gue jadi lo, udah gue hajar tiap malam."Sambil memamerkan barisan giginya, namun kalimat tersebut cukup memancing Daiyan menoleh dan memberikan tatapan tajam.
"Jangan ngebayangin isteri gue!" Serunya.
"Weh, kalem kalem, bercanda! Tapi gue serius nanya kenapa Raniyah gak disentuh?"
"Belum saatnya!"
"Mau sampe kapan?Cewek juga butuh nafkah batin!"
"Gue tau!"
__ADS_1
"Terus kenapa gak dikasih! Raniyah pasti kepengen juga disentuh!"
Deg
Daiyan terdiam, "Apa itu alasannya dia nyosor tadi pagi, karena kebelet pengen gue sentuh?" Batinnya.
"Hey, begong!"
"Jadi gimana lo sekarang?" Daiyan mengalihkan pembicaraan.
"Ya begitulah, hidup rumah tangga gue biasa aja, isteri gue gak bisa hamil."
"Lo pengen punya anak?"
"Pengenlah Yan. Tapi isteri gue dulunya punya masa lalu yg berat."
"Coba cerita yang rinci!" Ucap Daiyan.
"Lo bisa jaga rahasia kan?"
"Kalau lo gak percaya gue, mendingan gak usah cerita!"
"Oke, gini dulu dia pernah terlibat pergaulan bebas sampe hamil, terus dia aborsi sebanyak 3 kali. Dan sekarang rahimnya rusak." Suara Ahsan mulai memelan dan terlihat menahan sesuatu. Matanya terlihat berkaca-kaca.
".... Lo beruntung punya isteri yang baik kayak Raniyah," Lanjut Ahsan.
"Lo tau kisah ini kapan? Sebelum nikah atau sudah nikah?"
"Setelah nikah pas kita coba cek kondisi kesehatan kita buat program hamil."
Helaan nafas Ahsan terdengar lesu, Daiyan bisa merasakan perasaan temannya.
"Keluarga udah tau?"
Ahsan mengelengkan kepalanya dia tertunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Daiyan juga ikut membuang nafas beratnya.
"Gue mungkin gak bisa ngasih saran. Soalnya berat juga, mungkin lo bisa adopsi anak kalau situasi begini. Kalau buat pengobatan isteri lo ya gue gak bisa jamin juga."
"Iya bro, gak apa-apa, setidaknya gue ada tempat cerita."
"ya, yang sabar lo!"
"Iya bro."
Hening beberapa saat, keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.
__ADS_1
"sebenernya gue masih cinta banget sama Raniyah! Kalau Raniyah belum nikah gue pasti nikahin dia!" Batin Ahsan dalam lubuk hatinya. Remuk rasanya.
Sementara dirumah Raniyah sudah mondar mandir diruang tengah menunggu kepulangan suaminya yang tak kunjung datang, mau menelpon tapi dia segan. Beberapa kali dia melihat ponselnya.
"Apa dia marah karena tadi pagi?"
Raniyah menatap layar ponselnya lalu memutuskan menekan tombop panggilan. Telpon pun masuk ke ponsel Daiyan yang diletakan diatas meja, nama Raniyah terlihat disana dengan foto pernikahannya. Mata Ahsan dan Daiyan sama-sama melirik ke ponsel tersebut. Wajah Daiyan memerah, dia langsung menekan tombol hijau.
"Assalamuaikum kak dimana?"
"Waalaikumsalam. Di kafe, kenapa?"
"Kenapa belum pulang?"
"Sebentar lagi."
"Ya udah aku tungguin"
Seketika wajah Daiyan langsung memerah, Ahsan terlihat sangat cemburu melihat sahabatnya sedang dimabuk cinta.
"Oke,"
Panggilan ditutup. Daiyan langsung terlihat salah tingkah. Ahsan dapat memakluminya dan menyuruh Daiyan segera pulang ke rumahnya karena kasihan Raniyah sendirian dan menunggu kepulangannya.
***
Perjalanan yang memakan waktu 15 menit dari kafe ke rumahnya, Daiyan sengaja mengulur waktunya sampai 30 menit, dan baru saja membuka pintu sudah disuguhkan wajah Raniyah yang terlihat cemas.
"Kenapa kakak gak langsung pulang?"
"Kenapa kamu menungguku pulang?"
Pertanyaan dibalas lagi pertanyaan oleh Daiyan membuat Raniyah terdiam dan membuntuti Daiyan yang berjalan ke kamarnya. Begitu dia samoai didepan pintu kamarnya, Daiyan berhenti dna berbalik.
"Ini batas privasi kita!" Tandasnya, langsung dibalas anggukan oleh Raniyah, Daiyan pun berbalik dan membuka pintu tapi tangan Raniyah memegang jasnya.
"Kenapa?" Kepala Daiyan menoleh ke belakang.
"Soal tadi pagi aku minta maaf, kalau kakak gak nyaman! Aku tidak akan mengulangnya," Ucap Raniyah tertunduk.
Wajah Daiyan memerah lagi mendengarnya, dia pun berdehem.
"Gak usah minta maaf!" Ucap Daiyan dan melepaskan tangan Raniyah dari jasnya.
Daiyan langsung berjalan masuk ke kamarnya tapi suara kecilnya terdengar jelas oleh Raniyah, "aku suka"
__ADS_1
Raniyah berkedip-kedip dan mengosok telingannya takut salah dengar.
#Bersambung...