
Cengkraman tangan Daiyan masih kuat, Raniyah tertunduk dia melihat tangan Daiyan yang memegangnya. Sorot mata Daiyan jelas memperhatikan dirinya yang kini tengah menunduk.
"Aku tidak menghapusnya," pelan sekali suara Raniyah.
"Terus?"
"Aku hanya mengubah pengaturannya jadi tidak ada foto profil."
"Kenapa kamu melakukannya? Orang akan salah paham!" Balas Daiyan.
aku kesal dengan kakak, masa aku harus mengatakannya, sungguh memalukan, dan salah kakak sendiri gak bisa jaga perasaan aku! Gerutu Raniyah dalam hati.
"Jangan diam saja! Sini ponsel kamu!" Kata Daiyan melepaskan cengkraman tangannya lalu meminta ponsel pada Raniyah.
Raniyah menurut, dia memgambil ponselnya didalam tas dan menyerahkannya pada Daiyan. Tangan Daiyan mengotak-ngatik ponsel Raniyah.
"Apa yang dia lakukan?" Batin Raniyah mengawasi Daiyan yang mengoprek ponselnya.
"Mulai sekarang foto profil disini tidak boleh di ubah! Semua orang harus tahu kamu sudah menikah!"Kata Daiyan mengembalikan ponsel Raniyah.
"Baiklah! Tadi kakak ketemuan sama kak Haya?" Perkataan itu tiba-tiba saja lolos dari mulut Raniyah, membuat raut wajah Daiyan tampak berubah dingin.
"Iya."
"Ngapain aja?"
"Cuma makan, jalan-jalan di mall dan nonton!"
Raniyah terdiam, setelah mengetahuinya justru hatinya menjadi semakin sakit. Tapi kenapa juga dia malah menanyakan sesuatu yang jelas dia sudah tahu.
"Kapan akan mengajak aku jalan-jalan juga," Ucap Raniyah sambil melihat ke sembarangan arah.
"Aku tadi hanya mengajak Salsa jalan-jalan, Haya hanya menemaninya saja!" Jelas Daiyan dengan sorot mata tidak teralihkan memandangi wanita dihadapannya, wanita yang tengah cemburu buta ini sangat menarik perhatiannya.
Wanita memang tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya sedikit pun, Raniyah tampak cemberut. Dia pun diam dan segera pergi ke kasurnya lalu merebahkan badannya disana membelakangi Daiyan yang masih memperhatikannya.
"Apa kamu tidak akan keluar?" Ucap Raniyah sambil membelakangi Daiyan.
Tidak ada jawaban sekali dari Daiyan, membuat Raniyah akhirnya membalikan badan, namun kaget karena Daiyan berada dibelakangnya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat dikening Raniyah.
"Selamat istirahat" Ucap Daiyan lalu bangkit dari kasur dan berjalan hendak keluar dari kamar, Raniyah masih terkaget dan wajahnya memerah dengan jantung berdebar kencang.
"Besok aku tidak bisa mengantar kamu ke sekolah, aku ada meeting pagi-pagi di Rumah Sakit!" ucap Daiyan sambil memegangi gagang pintu.
"Iya kak," Raniyah berubah jadi gugup sambil menunduk tidak berani menatap Daiyan, dia bersebunyi dibalik selimut yang menutupinya hingga leher.
Setelah pintu tertutup, barulah Raniyah bernafas lega. Dia menormalkan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan. Wajahnya terasa panas dingin.
"Kenapa dia melakukannya tiba-tiba!" Raniyah tersipu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berguling-guling diatas kasur sepeeti cacing kepanasan.
Disisi lain Daiyan tersipu dibalik pintu kamar Raniyah, dia pun melangkah ke kamarnya sambil mendendangkan lagu cinta. Dia masuk ke dalam kamar mandi, wajah Raniyah yang kemerahan dan terkaget membuatnya merasa lucu.
"Wanita ini!" Gumamnya tersipu kembali dibawah Shower.
****
Semalaman Raniyah tidak bisa tidur karena terpikirkan terus sikap manis Daiyan. Kecupan selamat tidur itu tidak membuatnya tertidur, hingga akhirnya Raniyah terbangun kesiangan. Baby sitter Salsa sudah mengendong Salsa, Raniyah tekejut dan melihat jam sudah menunjukan pukul setengah 7 pagi. Dia langsung terbirit ke kamar mandi.
__ADS_1
Perjalanan menuju sekolah memakan waktu 15 menit. Gerbang sekolah hampir tertutup, Raniyah terburu-buru turun dari ojek. Dia meminta satpam membiarkannya masuk. Dia sudah terlambat 10 menit. Raniyah menuju meja piket.
"Saya Raniyah guru mutasi, saya mau bertemu dengan kepala sekolah,"
"Oh ini guru baru itu!" Celetuk Guru piket yang sedang mengenakan gincu merah.
"Ah iya, kenalkan saya Raniyah" Ucap Raniyah mengulurkan tangannya.
"Wah tangan saya sedang pegang lipstik, sorry ya, aku Tiara, guru fisika!"
"Oh iya gak apa-apa!" Ucap Raniyah.
"Udah nikah?"
"Sudah." Balas Raniyah membuat guru piket itu melirik ke arah Raniyah dan memutar badanyanya mengadap full ke arah Raniyah. Dia menatap Raniyah dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Laku juga ya!" Ucapnya membuat Raniyah berkerut dahi dengan ucapan guru tersebut yang dinilai kurang sopan.
"Iya Alhamdulillah."Balas Raniyah berubah tidak seramah dan ceria tadi.
"Sudah punya anak?"
"Sudah, satu."
"Masa??? Badan kecil ini bisa memproduksi anak?" Ucapnya sambil menurunkan kacamatanya.
"Wah kenapa orang ini sangat menyebalkan!" Gerutu Raniyah.
"Apa saya bisa ketemu pak kepala sekarang?"
"Ah kamu kesal ya saya tanya-tanya?" Ucapnya menyindir.
"Oh baiklah! Kepala sekolahnya sedang keluar dia ada urusan. Ah iya hati-hati kepala sekolah ini masih muda dan juga duda!" Bisik guru piket tersebut.
Wajah Raniyah semakin berkerut, karena sikap guru piket tersebut.
"Tapi dia berpesan padaku, kamu bisa menunggu fi ruangannya." Ucap guru tersebut.
"Ah iya kalau begitu saya tunggu di ruangan beliau." Balas Raniyah.
"Eeee. Tunggu dulu! Kamu jangan pake lipstik berlebihan!" Sambil mengusapkan tisu ke bibir Raniyah
"Kenapa?"
"Kamu kan yang mengoda kepala sekolah biar bisa mutasi ke sini?" Ucapnya.
Hati Raniyah kali ini sudah sangat kesal, kemarahannya sudah berada diubun-ubun, kalau tidak mengingat posisinya sebagai guru yang menjadi suri teladan bagi anak didik, dan juga berada dilingkungan sekolah, dia ingin menyumpal mulut wanita dihadapannya dengan kaos kaki yang tidak dicuci sebulan.
"Maaf bu, anda bicara kelewatan." Tandas Raniyah langsung berjalan meninggalkan guru tersebut.
"Sombong sekali!" Ketus guru piket tersebut.
****
Satu jam berlalu..
Raniyah menatap jam dinding yang terpajang di atas tempat kerja kepala sekolah tersebut. Air yang disajikan oleh office boy sudah setengahnya diminum, namun orang yang ditunggunya tidak kunjung datang. Sesekali Raniyah memainkan ponselnya.
__ADS_1
Ceklek
Suara pintu dibuka dari luar, membuat Raniyah terperajat. Dia menoleh dan benar saja seorang lelaki dengan perawakan yang bugar, kulit putih bersih, badan tegap, memasuki ruangan. Dia berkeringat, tampaknya selesai olahraga karena dia membawa raket.
"Maaf bu menunggu lama, tadi saya pergi badminton dulu!" Ucapnya sambil tersenyum ramah pada Raniyah.
"Oh iya pak tidak apa-apa, saya juga tadi terlambat datang kesini."
"Emm.. Saya ganti baju dulu sebentar," Ucap Kepala sekolah tersebut dibalas anggukan oleh Raniyah.
Sejurus mata memandang lelaki yang menjabat sebagai kepala sekolah tersebut, tampak terlihat masih sangat muda. Jiwa mudanya terpancar dan sangat energik. Raniyah kali ini setuju dengan perkataan guru piket diluar bahwa kepala sekolah ini masih muda dan bisa mempesona.
"Aku kira semua kepala sekolah lelaki yang sudah beruban dan berperut buncit, sepertinya kali ini salah. Kepala sekolah yang seperti ini mungkin hanya ada 1 diantara 10.000. Astagfirullahhaladzim Raniyah kamu tidak boleh memikirkan lelaki lain!" Batin Raniyah langsung tertunduk.
Tidak lama lelaki dengan setelah kemeja biru dan celana span hitam keluar dari ruangan pribadinya, dia sudah tampak segar, rambutnya tertata rapi dengan parfum semerbak memenuhi ruangan, dia berjalan ke kursi dan duduk dihadapan Raniyah.
"Saya Riyan kepala sekolah disini." Ucapnya membuka percakapan.
"Saya Raniyah pak."
"Nama kita sama ya huruf depannya," Ucap Lelaki itu sambil tersenyum.
"Ah iya," Raniyah tersenyum canggung.
"Bu Rani saya sudah membaca profil anda dan alasan mutasi kesini juga. Saya pribadi menerimanya dengan senang hati, nanti ibu bisa mulai bersosialisasi dengan guru-guru disini besok. Untuk jadwal pelajaran, saya masih mempertimbangkannya dengan kurikulum. Mudah-mudahan minggu depan sudah siap, tapi ibu bisa tetap ke sekolah untuk mengenal para guru."
"Iya baik pak."
"Untuk meja kerja ibu, kebetulan di ruang guru ada yang kosong karena baru saja ada yang pensiun, ibu bisa menempatinya."
" Baik pak terima kasih.
" Ah ngomong-ngomong, bu Rani sudah menikah?"
Bukannya dia sudah baca profil aku kenapa masih nanya?" Batin Raniyah.
"Ah sudah pak."
"Wah padahal saya melihat bu Rani masih sepeeti wanita lajang, sudah punya anak juga bu?"
"Sudah pak."
"Lagi-lagi wanita mungil memang suka menipu, mereka terlihat muda terus padahal sudah memiliki anak ya." Ucap kepala sekolah tersebut.
"Ya pak" Balas Raniyah sambil tersenyum.
"Padahal kalau ibu belum menikah, saya mau melamar ibu." Celetuk kepala sekolah tersebut membuat Raniyah terbengong.
"....Hahahaa... Bu Rani jangan kaget begitu, saya hanya bercanda." Ucap kepala sekolah tersebut sambil tergelak tawa.
"Oh iya hahaha.. saya jadi kaget." Balas Raniyah.
"Tapi kalau tidak keberatan, ya jadi simpanan saya saja bu."
Deg
Raniyah terkejut dengan ucapan kepala sekolah tersebut.
__ADS_1
#Bersambung....