Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Meminta Haya Pulang


__ADS_3

Di tempat tidur yang sama, keduanya berbaring tapi tidak tidur. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, dan enggan memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Raniyah memilih buka suara.


" Kak!" Serunya tanpa melihat Daiyan disampingnya.


"Iya?" Yang dipanggil dalam hati bersorak langsung menoleh menatap pahatan wajah isterinya dari samping.


"Mengenai Kak Haya, sampai kapan disini? Aku gak nyaman."


Mendengar ucapan demikian, Daiyan tersenyum merasa senang karena Raniyah mulai terusik dengan keberadaan mantan isterinya. Daiyan pun merubah posisi tidurnya menyamping menghadap Raniyah.


" Aku gak tau, menurut kamu gimana?" Daiyan menatap Raniyah.


" Ya.. Salsa udah mendingan juga sekarang. Gak mungkinkan kita nunggu sampe usia salsa 2 tahun buat lepas ASI, dan membiarkan kak Haya disini. Gimanapun kak Haya mantan isteri kakak, apa kata orang nanti yang lihat."


" Kamu tidurnya nyamping deh!" Daiyan alih-alih menanggapi protes Raniyah dia malah meminta Raniyah tidur menghadapnya.


" Kenapa?" Menoleh pada Daiyan yang sudah tidur menyamping.


" Biar enak ngobrolnya."


Raniyah pun menghadap Daiyan, terlihat ada sedikit senyuman disudut bibirnya, karena Raniyah mau menurutinya. Tidak hentinya Daiyan menatap wajah isterinya yang kini sudah berada tepat dihadapannya.


"Jadi kamu mau aku suruh Salsa pulang, kalau gitu besok aku ngomong sama dia." Ucap Daiyan.


Senyuman terukir dibibir Raniyah, entah kenapa dia merasa senang mendengarnya, tapi Daiyan merasa akan ada yang hilang, karena Raniyah akan kembali ke kamarnya dan dia tidak punya alasan memintanya tidur sekamar.


"Kamu tidak senang tidur disini?"


"A..aku merasa sedikit tidak nyaman"


" Kenapa?"


"Aku tidak pernah tidur sekamar dengan lelaki, apalagi sekasur, rasanya itu sangat menyiksa sekali, mungkin bagi kakak biasa saja, tapi aku mana bisa, kakak sudah terbiasa, setiap malam kakak bisa tidur nyenyak, sementara aku waswas, terkadang aku juga takut salsa kenapa-kenapa."


Selagi Raniyah berbicara Daiyan terus memperhatikan bibir Raniyah. Dia pun keceplosan.


"Bibir kamu cantik," Seketika Raniyah terdiam dan melipat bibirnya.


"Lanjutin ceritanya, em.. gimana disekolah tadi?" Tanya Daiyan mengalihkan topik ucapannya agar tidak membuat Raniyah canggung.


"Oh.. Semuanya seperti biasa, banyak sekali masalah. Tapi ya sudahlah. Aku hanya perlu beradaptasi dengan lingkungan baru..." Raniyah terus berbicara tidak menyadari Daiyan masih memperhatikan bibirnya.


" Iya.. bener cantik banget." Gumamnya.

__ADS_1


"Kenapa kak? Kakak bilang apa barusan?" Raniyah yang samar-samar mendengar ucapan Daiyan terkejut.


" E..enggak." Daiyan salah tingkah karena tertangkap basah.


"Em.. Kakak gimana hari ini?"


" Baik, ya begitulah." Jawabnya singkat.


" Hanya itu saja? Baiklah ayo kita tidur." Ucap Raniyah hendak berbalik tapi tertahan.


" Ah.. aku gak tahan!" Ucap Daiyan membuat Raniyah tidak jadi berbalik.


" Gak tahan kenapa?"Raniyah tidak mengerti dan tidak memahami kondisi.


Tangan Daiyan pun menyelipkan rambut Raniyah ke telinga. Dia mengelus pipi Raniyah, jantung Raniyah semakin berdebar-debar ketika Daiyan mengikis jarak diantara keduanya. Daiyan mencium bibir isterinya dengan lembut. Barulah setelah itu keduanya tidur.


*****


Haya terdiam didalam kamar, dia menatap foto pernikahan diponselnya, seketika air matanya meluncur deras. Entah kenapa hatinya terasa merindukan saat-saat pernikahannya dulu. Dia merasa menyesal bercerai dengan Daiyan karena alasan Daiyan memiliki banyak hutang. Tapi kini, tidak mungkin baginya merebut kembali lelaki yang sudah menjadi suami dari adiknya. Bahkan melihat pemandangan yang baru dilihatnya, ketika Daiyan memeluk Raniyah hati teriris-iris.


"Padahal aku lebih cantik dari Raniyah, kenapa Daiyan lebih mencintai Raniyah yang biasa-biasa saja." Ucapnya.


Tatapan matanya melihat ke arah bayi yang tertidur diatas kasur bayi. Dia berjalan mendekat dan melihat bayi yang tertidur pulas.


****


Hening, ketiga orang dimeja makan sedang sarapan pagi. Daiyan yang sibuk dengan gadgetnya terus dilirik oleh Raniyah menantikan agar suaminya berbicara. Dia menendang pelan kaki suaminya dibawa meja. Seketika Daiyan menoleh dan memandang dengan polos tidak mengerti kode yang diberikan Raniyah.


Raniyah menghela nafas karena tampaknya suaminya tidak mengingat apa yang dibicarakan olehnya semalam.


" Kak, yang semalam itu loh!" Ucap Raniyah kesal.


" Apa? Ciuman? Kamu mau lagi?" Balas Daiyan dengan polosnya membuat wajah Raniyah memerah bagaikan kepiting rebus.


Wajah Haya berubah jadi tegang mendengar hal tersebut, sementara Daiyan terlihat tenang-tenang saja, dia pura-pura tidak mengingatnya, dia ingin melihat reaksi wajah isterinya yang malu-malu. Indah sekali baginya melihat wajah Raniyah yang merona.


" Kenapa wajah kamu kok merah?" Tanya Daiyan sambil menopang dagunya menatap Raniyah yang semakin merasa salah tingkah.


" Amm.. Kak Haya, sekarang gimana keadaan Salsa?" Ucap Raniyah mengalihkan topik.


" Baik." Jawab Haya dingin.


" Oh kalau begitu, berarti Salsa sudah bisa ditinggal sama kakak, bukan aku mengusir kak--"

__ADS_1


" Tinggal bilang aja sih, kamu udah gak butuh kakka, dan kakak disini cuma ganggu aja gitu kan!" Ucap Haya memotong pembicaraan Raniyah.


"Kakak jangan marah, aku tidak bermaksud seperti itu."


" Terus maksud kamu kayak gimana?" Daiyan yang selagi tadi melihat pertengkaran pagi itu langsung angkat bicara.


" Haya, aku merasa kondisi Salsa sudah membaik. Kamu bisa mengirimkan ASI tiap pagi buat Salsa, tapi kalau tidak bisa aku akan memberikannya susu formula saja. Aku mengambil keputusan ini, kamu harus ingat status kita, harusnya kamu sadar bukannya marah-marah" Tegas Daiyan bangkit dari duduknya berjalan mengambil tas kerjanya meninggalkan dua wanita yang masih duduk dikursi.


Selang beberapa detik, Raniyah menyusul Daiyan yang berjalan hendak masuk mobil. Melihat isterinya menyusul Daiyan berbalik badan.


"Kak," Ucap Raniyah.


" Ya. Hari ini Haya harus berkemas!" Ucapnya.


" Iya kak, makasih." Ucap Raniyah tertunduk, tapi kemudian Daiyan meraih dagunya dan mengecup bibir isterinya.


Sontak mata Raniyah membulat, tapi Daiyan tidak menghiraukan itu dia segera berpamitan dan menjalankan mobilnya. Hari ini dia ada rapat dadakan lagi jadi tidak bisa menunggu Raniyah dan sudah memesankan taxi online untuk mengantar isterinya berangkat kerja.


Raniyah masih mematung menatap ke arah kepergian mobil yang dikendarai suaminya, dia meraba bibirnya yang masih terasa hangat karena kecupan suaminya, namun dibalik pintu Haya sesegukan menyaksikan pemandangan keromantisan isterinya.


Langkah kaki Raniyah berjalan memasuki rumah langsung dicegat oleh Haya, wajah Haya yang habis menangis terlihat disana.


" Kamu pengoda!" Ucap Haya.


" Maksud kakak apa?"


" Kamu lupa alasan aku menikahkan kalian?"


" Untuk mengurus Salsa"


" Iya, tapi aku rasa kamu lupa tugas itu sekarang! Kamu sibuk bermesraan dengan Daiyan. Atau jangan-jangan selama ini memang kamu rencanakan niat busuk menghancurkan rumah tangga kakak ya!"


" Kakak ngomong sembarangan, kenapa juga aku berniat menghancurkan rumah tangga kakak aku sendiri!"


" Jangan sok baik kamu, kalian sudah saling mencibtai dan kalian sudah merencanakan ini semua kan?"


" Kak, aku gak ada niatan sama sekali buat menghancurkan rumah tangga kakak, bahkan aku dibuangkan dulu demi pernikahan kakak sama kak Daiyan."


Plak


" MUNAFIK!!" Teriak kak Haya.


Raniyah terdiam memegang pipinya yang kemerahan dan air matanya mengalir deras. Tidak menyangka kakaknya akan sekasar itu padanya.

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2