Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Denganmu atau dengan yang lain


__ADS_3

Semenjak kejadian tersebut, Raniyah hilang kepercayaan pada Fahrul, namun hatinya masih tetap mencintai Fahrul. Tapi Fahrul sendiri tidak memberikan kabar apapun padanya sejak hal itu. Jelas saja membuat Raniyah bimbang dengan sikap Fahrul.


Tiap hari dia menunggu kabar dari Fahrul, tapi tidak juga ada kabar darinya. Mau menghubungi lebih dulu rasanya gengsi. Seminggu juga sudah berlalu, Raniyah hanya dapat melihat postingan foto-foto hasil jepretan Fahrul di sosial media. Fahrul aktif tapi tidak ada niat menghubunginya, membuatnya gregetan.


Dia sebagai wanita ingin dirayu juga, diajak balikan, dijelasin permasalahan kemarin, tapi entah kenapa Fahrul malah tampak cuek dengan permasalahan kemarin, atau mungkin memang Fahrul tidak menganggap itu masalah.


Selepas pulang sekolah, Raniyah langsung menyibukan diri, jika terus sibuk membuka ponsel pasti akan kecewa karena Fahrul tidak akan menghubunginya.


Saat pukul 22.00 Raniyah memutuskan istirahat setelah menyiapkan media pembelajaran hari esok. Saat baru melihat ponselnya panggilan masuk ke ponselnya, dan panggilan itu berasal dari Fahrul, jantungnya berdebar-debar.


Tanpa menunggu lama tangannya mengeser tombol hijau, suara Fahrul terdengar lebih dulu menyapanya, rasa kesal dan marah seketika menguap setiap kali diajak ngobrol oleh Fahrul, entah ada daya tarik magnet apa yang Fahrul berikan, sehingga bisa membuatnya luluh dalam seketika atau dirinya yang terlalu mencintai Fahrul.


"*Gimana kabarnya?"


"Baik, kamu?"


" Baik juga, aku kangen!"


"Sama, terus kenapa gak ngehubungi kalau kangen!"


" Em lagi agak sibuk!"

__ADS_1


"Oh gitu, kapan kesini?"


" aku gak tau Ran, masih banyak kerjaan."


"Mm ya udah gak apa apa, asal kita gak boleh putus komunikasi"


"Ran ada yang mau aku omongin*!"


Deg


Entah kenapa tiba-tiba mendengar kalimat itu tiba-tiba hatinya merasa tidak enak.


"*Iya omongin aja, kenapa gitu?"


" Sebentar lagi dong, 3 bulan lagi A Fahrul!"


" Iya, dan nanti entah aku akan menikah denganmu atau dengan yang lain!"


" Loh a kok ngomong gitu?"


" Ya kan namanya jodoh kita gak tau*!"

__ADS_1


Raniyah sangat tidak senang mendengar ucapa tersebut, pikirannya langsung melanglangbuana, kenapa juga Fahrul sampai mengatakan hal tersebut, apakah dirinya terlalu tidak pantas untuk menjadi pasangannya dan Fahrul mencari cadangan. Rasanya sesak sekali mendengar ucapan tersebut.


"Ran maaf ya, aku lagi sibuk, bye i love you!"


Tanpa persetujuan Fahrul menutup telponnya dan meninggalkan seribu kecewa, gelisah dan kawatir.Tanpa sadar air matanya menetes.


" bagaimana jika Fahrul tidak memilihnya? Sanggupkah aku kehilangannya?" Gumamnya


Raniyah mulai terisak, bisa-bisanya Fahrul bersikap demikian, dia sudah melepaskan yang lain dan bersiap memantapkan hatinya padanya tapi Fahrul membuat pernyataan tersebut seolah memberikan tanda bakal pergi meninggalkannya. Sesak sekali dadanya rasanya.


Seorang lelaki seharusnya tidak membuat cadangan wanita lain, ketika sudah memutuskan mantap memilih salah satu wanita. Karena tanpa sadar itu semua akan meninggalkan luka diwanita lain yang tidak menjadi pilihannya.


Raniyah langsung membuka sosial media, dia mencari tahu, wanita mana yang sedang dekat dengan Fahrul. Tapi semuanya nihil. Tak ada yang bisa dia lakukan. Raniyah menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak.Cinta yang sudah hampir mekar terpaksa harus siap dipangkas lagi.


"Ini salahku, terlalu percaya dengan cintanya" Bisik hatinya yang sedang terluka.


Raniyah menatap jam potret pantai dan gelang pemberian Fahrul yang masih melingkar ditanganya, dia memotretnya lalu mengirimkan potret tersebut.


Raniyah: Gelang dari kamu, masih ingat ini? Jangan membuat keputusan yang membuat aku sakit.


Raniyah mengirimkannya sambil berurai air mata, entah kenapa dia merasa tidak rela jika, Fahrul suatu ketika memilih meninggalkannya. Pesan langsung dibaca dan Fahrul mengetik balasannya.

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2