Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Masalah Haya dan Daiyan


__ADS_3

Setelah percakapan panjang dibawah pohon dekat sekolah dasar itu, Teguh lantas mengantarkan Raniyah pulang ke rumahnya. Ini pun baru pertama kalinya Teguh datang ke rumah Raniyah. Sambil terus berbincang disepanjang jalan, sampai akhirnya mereka sampai. Begitu sampai rumah, Raniyah melihat Daiyan tampak duduk di kursi luar rumahnya.


"Teguh aku sudah sampai, terima kasih sudah menemani perjalanan pulangku." Ucap Raniyah ramah membuat Teguh tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


"Boleh aku kapan-kapan main ke sini?" Raniyah terlihat tercengkat mendengar perkataan Teguh.


"Ya, silahkan Teguh, tapi aku besok juga juga akan kembali ke Banten." Ucap Raniyah membuat Teguh terkejut.


"Benarkah?" Raniyah mengangguk membuat segurat kecewa di wajah Teguh.


"Emm.. aku boleh menghubungi kamu selama di Banten?"


" Hubungilah, ini nomorku!" Kata Raniyah menyodorkan ponselnya ke Teguh karena dia melihat Daiyan tampak menunggu Raniyah.


Teguh dengan girang segera meronggoh ponselnya dan memasukan nomor Raniyah. Setelah menyimpannya dia mengirimkan pesan ke Raniyah.


"Itu nomorku!" Kata Teguh dengan wajah berbinar.


" Ok!" Kata Raniyah.


" Aku akan menghubungimu nanti malam!" Kata Teguh menatap lekat ke arah Raniyah yang dibalas anggukan.


"Hati-hati dijalan" Raniyah mengucapkan kata perpisahan pada Teguh.


Setelah melihat Teguh berjalan menjauh meninggalkan pekarangan rumahnya, Raniyah menghampiri Daiyan yang tengah berdiri.


"Rupanya kamu ada disini?"


" Baru lima hari, kenapa kakak di luar? Apa kak Haya tidak ada di dalam?" Tanya Raniyah sambil membuka pintu.


" Aku tidak tau," membuntuti Raniyah masuk ke rumah.


" Tunggulah, aku cek ke kamarnya!" Ucap Raniyah tanpa menoleh pada Daiyan.

__ADS_1


Ceklek


Raniyah mendorong pintu kamar Haya, disana Haya meringkuk di kasurnya menyamping. Perut besarnya terlihat jelas, apalagi saat ini dia mengenakan daster. Raniyah duduk disisi ranjang, dan menepuk pelan bahu kakaknya itu.


" Kak, suami kaka ada disini." Bisik Raniyah.


Tampaknya suara Raniyah yang memasuki telinganya cukup mengusik tidur siangnya, yang baru jam 9 pagi itu. Haya mengisikan matanya dan menghela nafas kesalnya.


"Ada apa?"


"Kakak masih pagi kok udah tidur sih!"


" Ini hormon ibu hamil, jangan cerewet kalau kamu belum pernah berada diposisi aku!" Gerutu Haya sambil tertatih mendudukan dirinya di kasur, Raniyah terdiam dia tidak mau berdebat dengan kakaknya yang saat ini sangat sensitif.


"Kak Daiyan ada di depan, nunggu kakak." Ucap Raniyah sambil membantu Haya terduduk.


"Ngapain kesini sih, ganggu!"


"Kak temui dulu, kali aja ada yang penting." Seraya mengucapkan demikian Raniyah bangkit dari duduknya dan meninggalkan kamar Haya.


Tiba-tiba baru beberapa langkah Raniyah berjalan hendak ke ruang tengah, dia menghentikan langkahnya karena mendengar obrolan kak Haya dan Daiyan.


"Aku tuh cape, pokoknya titik gak mau lanjutin pernikahan ini. Ini bukan soal masalah aku gak boleh kerja ya, ini juga masalah hutang kamu, penurunan jabatan kamu di Rumah sakit!" Suara Haya terdengar begitu lantang, mungkin karena merasa tidak ada orang lain di rumah.


"Hayaaa.. Apa bener gak bisa banget?" Tanya Daiyan dengan lembut.


"Gak bisalah! kamu suruh aku berhenti kerja. Emang kamu bisa hidupin aku sama bayarin hutang kamu dengan gaji pas pasan!" Cerocos Haya.


Mendengar obrolan yang tidak semestinya dia dengar, Raniyah langsung berbalik badan dia kembali ke dapur dan menyimpan nampannya. Dia tidak menyangka urusan rumah tangga kakaknya terbilang cukup rumit.


Dia terdiam di dapur segera mengambil susu di kulkas dan meminumnya. Saat ini dia akan pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar obrolan kakaknya. Namun, suara langkah terdengar mendekat ke arahnya. Dia melirik kak Haya berjalan ke dapur dan langsung menuju kulkas. Dia mengambil air dingin, lalu duduk di kursi.


"Dari tadi disini?" Tanya Haya menyelidik ke arah Raniyah.

__ADS_1


"Iya habis olahraga bawaannya lapar kak." Celetuk Raniyah sedikit berbohong.


Lebih baik aku sedikit berbohong tidak apa-apa, biarkan kak Haya dan kak Daiyan memendam permasalahannya masing-masing. Batin Raniyah.


"Kamu bikin teh?" Tanya Haya melirik ke arah nampan yang disimpan dimeja.


"Iya aku bikin teh buat kakak sama kak Daiyan, mau dianterin habis makan." Kata Raniyah sambil bangkit membuka tudung saji.


"Mmm..Bawa tehnya ke depan, kakak masih kesal sama dia! Kalau bisa suruh dia pulang!" Ucap Haya.


Aneh sekali kak Haya, dulu cinta mati, lah sekarang kemana cintanya pergi! Batin Raniyah sambil bangkit dan membawa nampan.


Begitu sampai di ruang tengah, kak Daiyan tampak sedang termenung sambil memijat kepalanya, Raniyah langsung menyimpan nampan di atas meja, dan berlalu pergi.


******


Bayangan lelaki dengan paras lembut mengandeng seorang wanita tersenyum ke arahnya, mereka tampak sangat bahagia. Tanpa disadari saat ini Raniyah tertidur sambil meneteskan air mata, terisak, menahan sesak di dadanya. Ibu yang mendengar suara seseorang tampak menangis. segera masuk ke kamar Raniyah, rupanya puterinya mengigau sambil menangis.


Bu Ansor langsung mendekati puterinya yang masih terpejam matanya, dia duduk ditepi ranjang mengelus pipi puterinya, dia menatap wajah anak bungsunya. Bu Ansor membangunkan Raniyah dari tidur siangnya. Seketika Raniyah terperajat bangun, dan wajah ibunya yang pertama kali ia lihat.


Ada apa dengan Rani sampai menangis dalam tidurnya Batin Ibu Ansor.


"Bu." Ucap Raniyah parau.


Ibunya langsung tersenyum dan memgelus kepala Raniyah, ia pun berpindah menjadikan paha ibunya sebagai bantalan. Diam-diam sambil menikmati belaian ibunya, dia mengalir air matanya. Mimpinya membuatnya tidak tenang dan masih teringat sampai ia terbangun pun.


"Ada masalah apa Ran?" Suara lembut ibunya membuatnya membisu. Ia sedang menahan suaranya agar tidak terdengar menangis.


"Ibu tau, kamu lagi ada masalah nak.." Lanjut ibunya, membuat Raniyah meleleh air matanya. Untuk kembali menceritakan rasa sakit yang dialaminya rasanya belum sanggup lagi.


"Baiklah, kamu belum sanggup bicara, gak apa-apa, tenangkan dirimu nak." Tanpa sadar ibunya pun meneteskan air mata. Dia merasa tidak tega melihat air mata puterinya yang tampak sedang menahan beban berat.


"Ibuu.." Rani bersuara dengan sedikit bergetar dan beberapa kali menghapus air matanya.

__ADS_1


#Bersambung.


__ADS_2