
Daiyan sudah berpakaian rapi, kemeja lengkap dengan dasi dan celana hitamnya, dia mengenakan jam tangan. Setelah melihat penampilannya sempurna didepan cermin, dia keluar kamar, sejenak dia mematung menatap ke arah kamar disebrangnya. Kakinya pun melangkah dan membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Raniyah dan anaknya masih terlelap, Daiyan melirik jam ditangannya sudah menunjukan pukul 05.00 pagi.
Kakinya melangkah lebar ke masuk ke dalam kamar, dia mendekat ke arah bayinya yang terlelap degan damai. Daiyan merangkak naik ke atas kasur hendak mengendong bayinya, namun pergerakan Daiyan cukup membangunkan Raniyah, mata Raniyah yang baru bangun tidur mengerjap-ngerjap melihat Daiyan yang juga menatap ke arahnya.
"Sudah pagi!Cepatlah mandi, dan mandikan juga anakku!" Seru Daiyan cukup membuat Raniyah memutar bola matanya, sikap Daiyan seolah-olah majikan dan babu.
Raniyah tidak mengubris ucapan Daiyan dia lekas bangkit dan menuju kamar mandi, ini adalah hari pertamanya berstatus sebagai isteri. Tidak ada kata romantis seperti cerita dalam novel-novel, semua bayangan indah tentang pernikahan tidak hadir dalam hidupnya.
Air dingin pun langsung menguyur tubuhnya, dia sengaja keramas membersihakan diri dan hendak mengusir rasa kantuk karena kurang tidur. Selesai ritual mandinya Raniyah baru sadar dirinya tidak membawa handuk. Dia melihat baju kotornya tidak mungkin dipakai lagi. Ia pun berjalan pelan-pelan membuka kamar mandi, tampak Daiyan sedang bercengkrama dengan bayinya. Raniyah ragu meminta bantuan Daiyan, tapi tidak ada yang bisa menolongnya selain Daiyan. Baru saja mulutnya terbuka hendak berbicara, mata Daiyan langsung tertuju ke arahnya.
"Lihat ke lantai!Handuknya jatuh!" Kata Daiyan kembali lagi bermain dengan Salsa setelah mengucapkan hal tersebut.
"Huh!" Raniyah lega dia melihat ada handuk dibawah dekat pintu, sepertinya Daiyan sengaja mengantungkan handuknya disana.
"Baik juga dan teliti!" Gumam Raniyah sambil menarik handuk ke dalam kamar mandi lalu mengenakannya.
Setelah selesai dia keluar kamar, rupanya Daiyan masih ditempatnya mengendong Salsa, Raniyah yang baru keluar kamar mandi dengan rambut basah dan hanya mengenakan handuk tersentak, dia lupa kalau Daiyan belum pergi, Daiyan tampak menatapnya sekilas membuat Raniyah salah tingkah, tapi kemudian tidak Daiyan kembali memperhatikan anaknya, wajahnya tetap datar, seperti tidak melihat sesuatu.
"Wah dia bisa setenang itu, padahal aku tidak nyaman!"Batin Raniyah berjalan pelan-pelan menuju lemari.
Sesekali matanya melirik kebelakang karena dia merasa tidak nyaman berganti baju depan Daiyan. Dia pun berlari ke kamar mandi sambil membawa pakaiannya.
Usai berganti pakaian dan menjalankan sholat, Daiyan mendekat ke Raniyah dan menyerahkan Salsa ke dalam gendongan Raniyah.
"Dia pup, sekalian mandikan!" Kata Daiyan sambil berlalu namun belum juga pergi Raniyah memegang lengannya.
"Tunggu!"
"Apa?"
"Emm...Aku harus kembali ke sekolah di Banten, dan selama aku kerja gak mungkin aku bawa Salsa ke sekolah, bagaimana kalau kita sewa baby sitter?"
__ADS_1
Melihat reaksi Daiyan yang hanya diam dan menatap lurus padanya, Raniyah melanjutkan perkataannya.
"Amm..Kamu tidak perlu khawatir biaya baby sitternya aku yang tanggung!" Kata Raniyah.
Reaksi Daiyan hanya mengangkat satu alisnya, setelah itu dia pergi membuat Raniyah melonggo.
"Apa ini yang namanya diabaikan?" Gumam Raniyah.
Salsa yang berada dalam gendongan Raniyah menanggis karena terlalu lama belum diganti popoknya, Raniyah pun panik dan mulai membawa ke kamar mandi. Dia segera membuka poponya sambil menutup hidungnya karena bau yang sangat menyengat.
Segera Raniyah memandikan Salsa yang baru berumur 3 minggu itu. Mata bayi itu berbinar-binar saat tangan Raniyah menguyurkan air ke tubuhnya, tanpa terasa Raniyah pun menyunggingkan senyuman.
"Memandikanmu, menganti popokmu, bangun memberikan susu untukmu, Makanya kamu harus panggil aku ibu! Oke!" Kata Raniyah sambil mencolek hidung si bayi dan si bayi terlihat senang.
****
Tangan Daiyan terus bergerak-gerak mengeser tabletnya, dia sedang membaca jurnal kesehatan sambil menyuapkan roti ke mulutnya, Raniyah datang bersama Salsa dalam gendongannya. Daiyan hanya melirik sekilas.
Rambut Raniyah masih basah sehingga dia tidak mengenakan jilbabnya dia mengendong Salsa dan memberikan ASI di dalam dot. Bi Yum datang menghampiri Daiyan.
"Suruh masuk!" Jawab Daiyan membuat Raniyah melirik Daiyan.
Bi Yum segera kembali ke depan, dia mempersilahkan tamunya, suara high heel terdengar mendekat ke ruang makan, Raniyah duduk dikursi, dia melirik ke arah kedatangan Haya yang mengenakan baju serba merah. Daiyan langsung menyimpan tabletnya. Raniyah hanya memperhatikan pasangan yang sudah bercerai itu dengan waswas takut-takut mereka akan bertengkar. Tapi, diluar dugaan tidak ada pertengkaraan hanya kesunyian, sementara Haya justru memperhatikan penampilan Raniyah yang terlihat habis keramas, dia tersenyum sinis.
"Kak Haya, silahkan duduk!" Ucap Raniyah merasa tidak nyaman diperhatikan.
Sementara Daiyan terus memperhatikan gerak-gerik Haya yang langsung duduk dikursi.
"Apa Salsa akan langsung punya adik?" Tanya Haya sedikit menyindir.
Raniyah terdiam belum memahami maksud perkataan kakaknya. Daiyan hanya membiarkan suasana tersebut dia menikmati hidangan sarapannya, dia menyantap salad.
__ADS_1
"Bukankah dia masih terlalu kecil!" Lanjut Haya sambil menatap ke arah Salsa.
Raniyah masih terus berpikir keras, sampai akhrinya dia menyadari kesalahpahaman tersebut dan langsung tersipu. Tapi dia sama sekali tidak ingin meluruskan dan membiarkan kakaknya terus menerka-nerka.
"Persedian ASI untuk Salsa sudah habis kak,"Raniyah mengalihkan pembicaraan.
Terlihat Haya menghela nafasnya, dia melihat ke arah Daiyan dan memperhatikan penampilan Daiyan, entah kenapa seperti ada api cemburu yang memancar dari bola mata Haya.
"Apa kamu tidak ingin menganti susu untuk Salsa! aku sangat sibuk juga harus mengirim susu ke sini! Siapkan susu formula!" Jelas Haya menatap Daiyan yang tak melihat ke arahnya.
"ASI lebih baik untuk tumbuh kembang bayi!" Balas Daiyan.
"Kamu memang egois dari dulu!" Ucap Haya, dia berjalan mendekat ke arah Daiyan.
"Buatlah Raniyah hamil agar dia bisa memberikan ASI untuk Salsa, maka hubungan batinnya akan semakin erat!" Ucap Haya sambil rahangnya memgeras.
"Akan kulakukan jika itu diperlukan!" Ucap Daiyan menatap tajam ke arah Haya.
Raniyah yang menyaksikan pertarungan dipagi hari hanya menghela nafasnya. Dia bangkit dari duduknya hendak meninggalkan dua orang yang berperang dingin itu. Namun tiba-tiba...
Brak...
Daiyan mengebrak meja, dia menatap tajam ke arah Haya. Seketika Raniyah yang hendak pergi pun berhenti dia juga sangat terkejut.
"Jangan mengaturku! Bertanggungjawablah pada anakmu!" Ucap Daiyan sambil berlalu pergi.
Haya bungkam mendengar Daiyan yang tampal emosi, Raniyah pun berlalu meninggalkan kakaknya dia berjalan ke ruang depan mengejar Daiyan yang hendak pergi. Setidaknya dia harus melihat suaminya berangkat kerja. Daiyan terlihat berjalan memasuki mobilnya dengan emosi, Raniyah berhenti dipekarangan melihat mobil yang hendak pergi.
"Hati-hati dijalan ayah!! Kiss bye ke ayah!! Kata Raniyah mengajak Salsa berbicara sambil memperagakan tangannya melambai ke arah mobil yang hendak pergi.
"Ayah pulangnya jangan malam-malam, Salsa kangen ayah!!" Kata Raniyah sambil melambaikan tanganya ke arah mobil yang sudah berjalan keluar dari pekarangan.
__ADS_1
Sementara Daiyan didalam mobil melihat ke arah kaca spionnya, dia memperhatikan tingkah Raniyah dan anaknya.Emosinya sedikit mereda dia sedikit tersenyum diujung bibirnya.
#Bersambung...