
Suara isak tangis Haya masih terdengar dikamarnya, semua anggota keluarga masih di ruang tengah dan membiarkan Haya menenangakn diri. Mereka lebih memilih menggali informasi sebanyak-banyak mengenai calon yang akan dinikahi oleh anak sulung di keluarga Pak Ansori.
" Jadi siapa nama wanitanya?" Tanya Pak Ansori.
"Mm.. Mela Pak!"
"Bukannya dia sudah menikah?" Tanya ibunya mewakili semua orang yang hadir.
"Dia janda sekarang bu, dan seminggu lagi akan menikah tapi ditinggalkan pacarnya!"
" Wah ini mah karma nih!" Celetuk Kak Radit yang mulutnya tidak bisa dikontrol, semua mata langsung melototin Radit, membuatnya membalas dengan cengir.
" Ya kalau bapak terserah kamu Fraz! Asal kamu bahagia saja! Bapak gak bakal ngatur soal itu!" Kata Pak Ansori.
" Yaa , Kalau ibu sih gimana kamu aja," Kata Ibunya mengikuti suaminya.
"Kak Fraz kenapa masih mau sama kak Mela?" Tanya Raniyah.
" Yah kan niat kakak cuma mau nolongin De! Ya semoga saja jadi ibadah! Bukan masalah cinta cinta lagi" Bela Fraz.
" Terus gak nyesel gitu! Emang gak takut ditinggalin lagi?" Tanya Radit si anak kedua pak Ansori.
"Sekarang dia sedang berada diposisi terpuruk, dia gak bakalan kayak kemarin lagi!"
" Yakin? Bisa aja sekarang dia ngomong bakal setia, yaelah nanti pas udah seneng nyari lagi cowok kayak!" Ledek Radit.
" Kamu ya gitu aja! Iri ya!" Kata Fraz emosi.
"Sudah! Sudah! Jangan bertengkar! Sekarang siapin akan maharnya kalau gitu!" Kata Pak Ansori.
" Ya udah, kalau masalah seserahan, ibu sudah nyiapin dari dulu di lemari, tinggal beli kalung atau cicinnya, Fraz. Adakan uangnya?"
" Hehehe, Radit, De , ada uang gak 5 juta?" Tanya Fraz sambil cengegesan.
" Tuuuh kan mau minjem?" Sinis Radit.
" Dede Ada 5 juta!" Jawab Raniyah.
" Ya udah minjem ya, nanti diganti!"
" Boleh."
" Tapi masih kurang sih, 5 juta kan malu kalau maharnya dikit bu!" Kata Fraz.
" Ya udah, kamu Dit ada gak barang 2 juta gitu?" Tanya ibunya.
" Iya sama saudara saling bantulah!" Kata Pak Ansori.
" Ya ada sih! Tapi berani kapan balikinnya?" Kata Radit.
__ADS_1
" Ya bulan depanlah!" Kata Fraz.
"Sisanya masih kurang ya pak, kita minjem ke mana lagi?" Kata Ibu.
"Haya kayaknya punya 10 juta juga!" Celetuk Radit.
" Ah gak enak ngomongnya ,mana udah nikahnya gak jadi dia gara-gara gue!" Kata Fraz dengan bahasa santainya keluar.
"Ya terus mau minjem dimana?" Tanya Radit.
" Entahlah!" Jawab Fraz.
" De kamu yang ngomong ke Haya!" Kata Radit.
" Iya, nanti Rani coba ya!" Kata Raniyah.
"Ya udah kalau gitu besok, bapak anter Fraz ke rumah Mela ya." Pinta Fraz.
" Iya, bapak Anter sekalian ngobrol sama keluarganya!" Kata Pak Ansori.
Malam itu terasa bahagia sekeluarga, kecuali Haya yang masih tidak terima dengan keputusan menunda pernikahannya dengan Daiyan. Pagi-pagi sekali pun Haya berangkat tanpa sarapan dan pamitan ke keluarganya, sebagai bentuk demo.
Sementara, Raniyah juga kesulitan berbicara dengan kakak perempuannya yang masih marah itu. Raniyah juga berangkat ke sekolah bersama kak Radit, sekalian Radit berangkat ke toko. Sepanjang jalan Radit mengerutu dengan kejadian semalam, Raniyah hanya mendengarkannya masuk kuping kanan keluar kuping kiri, dia memang sudah malas dengan obrolan tersebut.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Raniyah mencium tangan kakaknya dan pamitan, lalu masuk ke ruang guru yang masih tampak sepi, hanya ada tukang bebersih yang sedang mengepel lantai. Raniyah langsung duduk dikursinya, dan lagi-lagi kejutan sudah ada di atas mejanya.
Sekotak susu murni segar hangat sudah disajikan disana. Sebait kata pun terselip, ' Sorry gak berani bertemu dulu, tapi aku udah baca tulisan kamu. Oh iya ini susu segarnya jangan lupa diminum ya! Ini minuman kesukaan Rasulullah!'
" Bu Totoy!" Seru Raniyah saat melihat bu totoy membawa alat pel dan ember berjalan menuju kamar mandi.
" Iya kenapa neng?" Tanyanya.
"Ibu lihat yang ngirim ini gak?" Tanya Raniyah sambil menunjukan sekaleng susu segar.
"Tadi ada mamang go send ngirim itu!" Kata Ibu Totoy.
" Oh gitu ya, makasih bu!" Jawab Raniyah terdiam.
"Sama-sama neng!" Sambil berlalu ke kamar mandi.
Raniyah kembali menatap barisan kata di kertas itu, dia menyimpannya lagi di laci. Tulisannya sama, berarti yang selalu mengirimkan makanan dan bunga adalah orang yang sama pikir Raniyah.
Tidak lama, datang Pak Rasya tersenyum ke arah Raniyah, Pak Rasya sengaja berjalan melewati meja kerja Raniyah, kemudian berhenti di depan meja Raniyah.
"Bu, lihat berita semalam?"Tanyanya dengan penuh semangat.
"Berita semalam? Boro-boro orang lagi genting di rumah!" Batin Raniyah.
" hehehe saya gak sempet nonton televisi sampai malam pak!" Jawab Raniyah sambil cengir kuda.
__ADS_1
" Wah bu, semalam rame! Tentang koruptor yang masa penjaranya dipotong!" Kata Pak Rasya.
"Pinangki?" Tanya Raniyah yang semalam sempet buka akun instagram.
" Nah iya bener bu! Wah kan aneh ya bu, kalau di Arab orang maling dipotong tangan, di negara komunis orang maling di potong leher, lah di Indonesia orang maling uang negara masa dipotong masa tahanan! Kan lucu!" Kritik Pak Rasya yang ditimpali senyuman oleh Raniyah.
"... Gimana negara ini mau maju bu, kalau tikus-tikus berdasi makin di enakkan!" Kata Pak Rasya mengebu-ngebu.
"Ambil positifnya aja pak, toh kita disini gak bisa ngapa-ngapain! Setidaknya dari kasus Pinangki kita bisa tahu bagaimana mengurangi masa tahanan gitu pak!"
"What!! Ibu masih aja membelanya! kalau ASN emang harus gitu ya!" Sindir Pak Rasya.
"Bukan masalah itu, tapi aku malas membahas hal berat dipagi hari!" Kata Raniyah dalam hati.
Pak Rasya tampak tidak senang dengan jawaban Raniyah, dia melirik ke arah tangan Raniyah, matanya tertuju ke kaleng susu segar yang tertera tulisan.
"Jadi benar rumor itu, ada yang sering ngasih makanan dan minumana ke Bu Rani!" Ucap Pak Rasya dalam hatinya.
"Saya kesana dulu ya bu!" Kata Pak Rasya yang dibalas anggukan oleh Raniyah.
Setelah kepergian Pak Rasya, datanglah Jesika yang tampak murung sekali, begitu matanya melihat Raniyah, sejuta kebencian langsung terpangpang. Dia memutar bola matanya, Raniyah melihat cincin tunangan di tangan Jesika juga tidak ada disana. Tapi, Raniyah tidak mau ikut campur urusan mereka, tapi menariknya juga, Ahsan tampak tidak datang bersamanya.
"Heran, cantik kagak, seksi kagak, tapi bikin kejer Ahsan! Peletnya kuat banget!" Kata Jesika menatap tajam Raniyah yang sedang duduk.
"Situ susuknya banyak banget!" Kata Lusi yang baru datang dan duduk dekat Raniyah.
"Siapa yang pake susuk! Jangan sembarangan!" Kata Jesika tersulut emosinya.
"Gitu aja ngambek! Bu Rani aja santuy dikata-katain ibu!" Bela bu Lusi yang disambut senyuman dari Raniyah yang merasa lucu melihat sikap Jesika.
Jesika yang masih emosi langsung berlalu, wajahnya tampak masih kesal, Raniyah dan Lusi tertawa. Tatapan Lusi mengejek ke arah Jesika yang duduk dikursi guru beda dua meja itu.
"Bu Jes itu emang pake!" Celetuk Lusi pela namun cukup terdengar oleh Raniyah.
" Maksudnya bu? Ibu tau darimana?" Tanya Raniyah.
"Kelihatan bu Rani, saya bisa lihat yang kayak gitu dari dulu!" Kata Lusi cukup membuat Raniyah terkejut.
"...Lihat dibagian bibir, bokong dan dada, Dia pasangan di tiga tempat!" Lanjut Lusi membuat Raniyah menoleh ke arah Jesika.
Dia mengakui bagian-bagian yang disebutkan sekilas tampak sempurna dan indah dilihat oleh mata. Tapi jika jeli, sebagai wanita melihatnya biasa saja.
"Coba aja suruh dia makan daun kelor!" Goda Lusi pada Raniyah.
" Ah ibu ini udah ah jangan ngegosip masih pagi!" Kata Raniyah sambil tersenyum lebar.
Kedua guru itu tersenyum, lalu mulai kembali ke aktivitasnya masing-masing.
*****
__ADS_1
#Bersambung...