
Jalanan sore itu begitu lengang, para pekerja kantoran tentunya sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Namun, tidak bagi lelaki berkulit putih yang mengenakan pakaian dokter ini, dia masih berkutat di ruangannya. Sesekali matanya melirik ke arah jam dinding. Masih terlalu siang baginya untuk pulang.
Dia mengambil ponselnya, di telponnya seseorang disana. Dia sungguh tidak sabar menunggu wanita ini mengangkat telponnya.
" ada apa?"
Suara merdu itu terdengar ditelinganya membuat seutas senyuman menghias bibirnya.
" Ayo kita makan diluar!"
" Apa-apaan! Kenapa aku harus makan denganmu?"
" Kenapa kamu banyak bertanya!"
" itu hak aku! Ajak saja kak Haya!"
Daiyan tersenyum kecut, dia tidak menyukai penolakan, apapun cara akan dilakukan untuk memenuhi keinginannya, dia ingin bertemu gadis pujaannya.
"Aku jemput sekarang ke sekolah!"
" Hey tidak usah!"
__ADS_1
Tapi Daiyan langsung mematikan ponselnya sebelum Raniyah memprotesnya. Daiyan mengambil kunci mobil dan pergi ke parkiran. Dia sangat bersemangat sekali. Dan tidak sabar melihat wajah kesal Raniyah yang dipaksa bertemu dengannya.
Singkat cerita, Daiyan dan Raniyah sudah berada di tukang bakso. Wajah Raniyah ditekuk karena kesal pada Daiyan. Berbanding terbalik dengan Daiyan yang tertawa dalam hatinya.
" Makan!" Kata Daiyan menyodorkan mangkuk bakso.
Raniyah meliriknya tajam, lalu mengambil mangkoknya dan terburu-buru memakannya, dia tidak ingin berlama-lama dengan Daiyan.
" Hey! Tenanglah, aku tidak akan mengambil baksomu!" Tegur Daiyan.
" Aku makan memang kayak gini!"
Raniyah memutar bola matanya, dia mulai kembali melahap baksonya, senyuman kemenangan terukir dibibir Daiyan. Sementara mata Raniyah sesekali meliriknya, dia tidak memahami kenapa Daiyan tiba-tiba mengajaknya makan bersama di luar.
Dan yah, dia tidak bisa memungkirinya, setengah hatinya senang bisa bersama Daiyan, namun dilain sisi dia merasa tidak enak dengan kakaknya. Raniyah juga takut dia jatuh cinta kepada calon kak Haya itu.
Raniyah cepat-cepat menghabiskan baksonya, Daiyan melihatnya sampai geleng-geleng kepala. Wanita dihadapannya memang cukup menarik, bolehlah diluar sana banyak wanita yang cantik, putih mulus dan seksi, tapi Daiyan punya selera sendiri tentang wanita. Dia bisa saja mendapatkan wanita cantik, tapi baginya kecantikan paras semata itu mudah hilang rasanya.
Daripada memilih wanita yanh cantik, Daiyan lebih menginginkan wanita yang ceria, dan bisa membuatnya terhibur. Bahkan Daiyan lebih suka wanita yang pendek dengan pipi cubby. Pokoknya semua kriteria yang disukainya benar-benar ada pada Raniyah.Namun, dia juga sadar yang menyukai Raniyah bukan hanya dirinya, tapi Ahsan juga menyukainya.
"Sudah selesai! Aku mau pulang!" Kata Raniyah melihat Daiyan yang dengan tenang menikmati baksonya.
__ADS_1
" Oh yea?" Kata Daiyan sambil menaikkan satu alisnya.
" Iyalah! Kamu yang bayar! Soalnya kamu yang ngajak makan!" Kata Raniyah sambil tersenyum puas.
Tiba-tiba saja tangan Daiyan mengambil tisu dan menyusut sudut bibir Raniyah yang belepotan. Seketika Raniyah terpaku dengan sikap Daiyan. Setelah itu, Daiyan kembali makan dengan tenang, Raniyah langsung menghembuskan nafasnya.
"Bisakah kamu lebih cepat makannya?" Kata Raniyah.
" Bisa! Kamu yang suapin!" Kata Daiyan lansung menyodorkan mangkuk baksonya.
Rasanya Raniyah mati kutu, Daiyan selalu punya cara membuatnya meleleh dan gerogi. Raniyah langsung mendorong kembali mangkuk baksonya.
" Sudahlah kamu makan sendiri! Udah gede juga mau disuapin!" Kata Raniyah sambil mengalihkan pandangannya.
Tampak Daiyan mengulum senyumannya, hal itu tertangkap oleh Raniyah, yang tidak percaya lelaki dingin itu bisa tersenyum juga, bahkan senyumannya bisa meluluh lantahkan bumi.
"Sadar sadar Raniyah!" Batin Raniyah yang hampir terpesona dengan senyuman mansi Daiyan.
Diam-diam tanpa sepengetahuan keduanya, sepasang mata tengah mengabadikan momen tersebut. Perang keluarga akan segera terjadi.
#Bersambung....
__ADS_1