Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Ketemu orang tua siswa


__ADS_3

Pagi hari, Raniyah sudah terbangun dan melaksanakan sholat berjamaah dengan Daiyan, selesai sholat, Raniyah kembali ke kamarnya. Terlihat Haya masih terlelap dengan Salsa disamping, Raniyah berpikir Salsa menangis semalaman dan dirinya tidur nyenyak dengan suaminya. Setelah menatap lama kakaknya yang masih tidur dengan anaknya, Raniyah menghampirinya dan membangunkan Haya untuk sholat, sedangkan dirinya langsung mengendong Salsa. Bayi itu sudah dibiasakan dibangunkan pagi oleh Raniyah agar terbiasa.


Selagi menunggu Haya mandi, Salsa diurus dan bermain dengan Raniyah. Suara pintu terbuka menampilkan Haya dengan handuk ditubuhnya dia bersender di gawang pintu kamar mandi memperhatikan Raniyah yang bersenda gurau dengan anaknya. Tiba-tiba saja Daiyan masuk ke dalam kamar.


"Ran, pinjam flashdisk!" Serunya memasuki kamar.


Kedua orang didalam kamar langsung tertuju ke arah Daiyan, Haya yang melihat Daiyan langsung mengambil kesempatan mengodanya.


"Biar aku ambilkan," Ucapnya sambil memperhtaikan Daiyan yang membuang muka.


"Aku ambil sendiri saja, kamu pakai baju saja!" Ucapnya kesal.


Hati Raniyah rasanya bergemuruh hebat melihat kakaknya seperti sengaja ingin mengoda suaminya. Daiyan melangkah mendekati Raniyah.


"Flasdisknya dimana?"


"Ditas kantor aku yang warna coklat, didompet kecil gambar kumis disana pilih saja flasdishnya."


"Oke!" Daiyan tanpa melirik ke arah Haya sedikit pun yang sudah duduk dengan pose menyilang kaki di tepi kasur sambil memilin rambutnya.


Daiyan dengan cepat mengambil satu flasdisk dan langsung keluar dari dalam kamar. Haya terlihat kesal dan kecewa dengan sikap Daiyan yang tidak melihatnya sedikit pun, namun disisi lain Raniyah senang melihat reaksi Daiyan yang tidak memperdulikan kakaknya.


"Kak, cepat berpakaian gantian jaga Salsa, aku harus ke sekolah."


Raniyah beranjak dari duduknya. Haya mendengus kesal dia mulai memakai pakaiannya, sementara Raniyah mengecek ponselnya, terdapat kabar kematian di grup sekolah dan isu tentangnya masih ramai dibicarakan. Selesai Haya berpakaian, Raniyah langsung menyerahkan Salsa dan dia memgambil handuk yang digantung, dia harus segera mandi.


*****


Seperti biasa pagi-pagi pengasuh Salsa datang, Haya, Raniyah dan Daiyan berangkat kerja dengan mengunakan satu mobil. Setelah mengantar Haya ke sekolahnya, tinggallah mereka berdua di dalam mobil. Hening tidak ada perbincangan, perasaan Raniyah juga merasa heran, padahal semalam mereka berbicara sangat akrab.


"Kak!" Raniyah memulai perbincangan.


"Hem.." Tanpa menoleh dan fokus pada jalanan.


"Berapa lama kak Haya bakal dirumah kita?" Tanya Raniyah melirik ke arah Daiyan yang masih fokus menyetir.


"Gak tau."


"Loh kok gitu sih jawabnya!" Kesal Raniyah.


Daiyan pun langsung melirik dengan tatapan tajam dan penuh kekesalan membuat Raniyah kebingungan dengan sikap Daiyan.


"Kakak kenapa sih?"

__ADS_1


"Flashdisk kamu penuh foto liburan!"


"Oh gara-gara itu, tapi masih ada loh 5 gb lagi bisa dipake!"


Kali ini Daiyan rahangnya mengeras dan tangannya terlihat mencengkram kuat kemudi. Raniyah semakin gelagapan melihat sikap Daiyan.


"Apa sebegitu penting foto-foto dengan lelaki lain disimpan di flashdisk kamu, tujuannya buat apa!" Kata Daiyan penuh penekanan.


"Foto sama lelaki lain?" Raniyah mulai memutar otaknya.


"... Foto bareng Fahrul? Ah iya ada foto sama dia." Ucap Raniyah menghela nafasnya.


Mata Daiyan melirik tajam pada Raniyah yang terlihat tenang saja saat dirinya tengah marah.


"Hapus semua foto itu!" Ketus Daiyan.


"Dihapus? wah itu gak mungkin!"


"Kenapa gak mungkin? Kamu masih ngarep sama mantan kamu?"


" Ya, maksudnya bukan gitu juga, aku menganggapnya teman saja. Ya tapi moment pemandangannya sayang sekali kalau dihapus. Kapan lagi aku bisa kesana!" Tutur Raniyah masih tenang.


"Momen pemandangan atau kebersamaannya! Gatel jadi cewek!" Kata Daiyan kesal bukan main.


"Kok gitu sih ngomongnya! Udah turunin aku disini! Kesel lama-lama jelasin ke kamu!"


"Ih gak punya perasaan!"


" Tengok kesana!" Ketua Daiyan


Seketika wajah Raniyah jadi malu, karena Daiyan tidak menurunkannya ditengah jalan melainkan mereka sudah sampai depan gerbang sekolah. Tapi ego Raniyah lebih tinggi, dia mengucaokan salam tanpa menoleh pada Daiyan dan langsung keluar dari mobil. Begitu pun Daiyan tidak berbasa basi langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.


"Dasar lelaki aneh!" Gumam Raniyah dan langsung membalikan badannya, segera dia masuk ke dalam sekolah.


*****


Raniyah berjalan dengan cepat-cepat karena dipanggil kepala sekolah ke ruangannya, semua orang sudah tahu tujuan Raniyah dipanggip. Sambil mengatur napasnya begitu sampai didepan ruangan kepala sekolah. Setelah merasa tenang barulah mengetuk pintu, dan orang didalam langsung mempersilahkannya. Raniyah pun duduk disofa, dan terlihat kepala sekolah yang sedang membaca koran itu menutup korannya dan meletakan kacamatannya lalu menghampiri Raniyah.


"Duh bu Rani harus masuk ke ruangan saya lagi, kasus kemarin sangat heboh dikalangan guru-guru bu!" Ucap Kepala sekolah muda itu.


"Iya saya minta maaf kalau tindakan saya salah yang kemarin." Ucap Raniyah tertunduk.


"Saya bisa memahami tindakan bu Rani, tapi warga sekolah yang lain tidak seperti saya, tapi ya sudahlah kita tunggu bu Bu Tina."

__ADS_1


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu dari luar membuat kedua orang itu menoleh, dan kepala sekolah langsung mempersilahkan masuk, sosok wanita dengan badan atletis memakai pakaian olahraga lengkap dengan pluit mengantung dia berjalan mendekat.


"Maaf pak boleh saya duduk."


"Silahkan bu Tina."


"Ah saya kemarin dengar-dengar anak saya kena masalah ya!" Suaranya meninggi seperti hendak marah.


"Benar bu, makanya sekarang kita selesaikan masalah ini"


"Siapa yang berani menghukum anak saya!" Nadanya semakin tinggi dengan raut wajah semakin garang, Raniyah menciut.


"Maafkan saya bu," Suara Raniyah pelan.


"Oh Jadi Ibu yang merobek celana anak saya dna menyeretnya?" Ucap Bu Tina dengan keras.


"Tenang-tenang bu Tina!" Ucap Kepala sekolah mencoba menenangkan.


"Saya juga dikentutin anak ibu." Ucap Raniyah.


"Hah! Dikentutin?" Kepala sekolah dan Bu Tina bersamaan terkejut.


"Iya. Bukankah itu tidak sopan juga."


" Seumur-umur anak saya nakal disekolah ini tidak pernah diperlakukan seperti itu!" Ucap Bu Tina sbil menatap tajam Raniyah.


"Silahkan jika ibu marah pada saya. Tapi saya merasa tidak bersalah dengan tindakan saya."


" Hah!" Kepala Sekolah dan Bu Tina keduanya slaing bertukar pandangan.


"Bu Rani Anda Berdiri sekarang!" Ucap Bu Tina dengan nada tinggi.


Tanpa menjawab Raniyah pun bangkit berdiri, tidak berselang lama tiba-tiba Bu Tina merangkul Raniyah dan memeluknya.


" Terima kasih Bu, sudah memperlakukan anak saya sama seperti anak yang lain disekolah ini."


" Loh Bu Tina tidak marah?"


" Saya kenapa harus marah!" Ucap Bu Tina sambil menguraikan pelukannya dan kini Raniyah sudah berkaca-kaca.


" Waduh. Bu Tina ternyata sangat tidak terduga." Celetuk Kepala Sekolah.

__ADS_1


Suasana haru pun menyelimuti keadaan di ruangan kepala sekolah, semua orang yang penasaran dengan keadaan di ruangan kepala sekolah mengintip dan menguping depan pintu tapi mereka yang menantikan perseteruan hebat dibuat kecewa dengan tidak mendengar suara apapun, dan terlihat damai didalam sana.


#Bersambung...


__ADS_2