GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Lirihan Hati Gifali dan Maura


__ADS_3

Selamat siang


Selamat baca ya


❤️❤️❤️


Sudah tiga jam, Gifa menemani Gana berkeliling di toko buku. Ia terus berjalan dibelakang mengikuti kemana arah kaki Gana melangkah.


Di lihatnya sang adik hanya melihat-lihat saja cover depan buku dan di letakan kembali ke dalam rak.


"Kamu sebenarnya niat nggak beli buku?" ucapan sang Kakak menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh cepat ke arah Gifa.


"Kakak ikhlas nggak sih temenin aku?"


"Kalau nggak ikhlas, Kakak nggak mungkin antar kamu sampai kesini!"


"Ya udah makanya diam aja! Ini juga kan lagi nyari---" jawab Gana ikut kesal. Raut wajahnya mengerut dan akhirnya mengambil buku secara asal tanpa dilihat kembali.


"Udah dapat nih! Ayo kita bayar." ucapnya ketus.


"Et..et! Tunggu, kamu yakin beli buku itu?" Gifa kembali menghentikan langkah Gana, lalu ia menunjuk buku yang saat ini tengah digenggam sang adik.


"Yakin?" Tanya Gifa meyakininya.


"Iya yakin. Bawel ah! Ayo, Kak!"


"Lihat dong, masa buku dongeng anak mau kamu beli? Siapa yang mau baca? Gemma?"


Mendengar ucapan Kakaknya, sontak kedua mata Gana diarahkan ke buku yang tengah ia genggam.


"Eh! Kok bisa buku kayak gini yang aku ambil? Berarti salah ambil nih tadi---" cicit nya malu. Lalu ia mengembalikannya kembali dan berpura-pura untuk mencari buku yang lain.


"Udah, udah! Kita pulang aja! Kakak tau ke toko buku itu cuman alasan kamu aja kan? Kamu cuman nggak mau, Kakak antar Gadis pulang, iya kan?"


Seketika Ganaya diam membisu, ia tidak mempunyai alasan untuk tidak berkata iya. Bahwa memang itu lah kenyataannya.


"Udah ayo pulang! Mau sore, nanti Mama cemas cariin kita!" Gifa memutar langkahnya untum keluar dari toko buku.


Gana pun mulai mengejar-ngejar langkah kakaknya yang cepat lebih dulu darinya.


"Pakai helm nya!" Gifa menyodorkan helm kepada Gana ketika mereka sudah sampai di basement.


"Kak?" Gana memegang lengan sang Kakak yang sudah naik di atas motor.


"Apa lagi?" decak Kakaknya malas.


"Jangan marah sama aku, Kak! Aku kan sayang sama Kak Gifa--" cicitnya sendu.


"Emang yang bilang, Kakak nggak sayang sama Gana tuh siapa? Kamu nya aja yang suka baperan, cemburuan! Sama Gelfa aja cemburu, sama Gadis juga. Terus siapa yang buat kamu nggak cemburu?"


"Kak Maura..."


Gifali langsung melepas helmnya. Ia terus menatap wajah sang adik.


"Kenapa kamu sebut dia?"

__ADS_1


"Kakak memang udah lupa sama dia?"


Gifali kembali terdiam dan ia tidak mau menjawab. "Ayo, naik!"


"Kak? Jawab dulu, Kakak udah lupa sama Kak Maura?"


Gifali membawa arah matanya untuk melihat ke atap basement, membuang nafasnya dengan kasar. Sesungguhnya hatinya sakit kalau nama itu terus disuarakan. Ia semakin merasa bersalah dengan Gadis. Karena sebagian hatinya masih terpaut akan Maura.


"Aku nggak pernah lupa sama dia, Gana!" balasnya pelan. Gifa memang tidak bisa membohongi suara hatinya.


"Ya kalau gitu, Kakak cari dong keberadaan dia dimana?"


"Udah 12 tahun tapi kita nggak pernah bertemu, aku juga nggak tau, dia masih ingat Kakak apa enggak! Kakak takut sakit hati kalau tau dia udah punya kekasih---"


"Loh, apa bedanya? Sekarang Kakak udah pacaran sama Gadis, terus kalau tiba-tiba Kak Maura muncul dan dia belum punya kekasih, Kakak mau gimana?"


Seketika jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya terus mengalir deras. Ia terus membenarkan apa yang dikatakan oleh Ganaya. Bagaimana jika itu terjadi?


"Aku tau kok, Kakak itu ke Kak Gadis cuman iseng aja kan? Cuman mau jadiin dia bahan, supaya kamu bisa lupa sama Kak Maura?"


"Jangan sok tahu kamu! Kakak sayang kok sama Kak Gadis!"


"Oh, oke kalau gitu! Ya, aku doakan juga lah semoga aja Kak Maura udah punya pacar disana."


Mendengar ucapan Gana. Hati Gifali seperti tidak rela, kalau ia harus melepas Maura demi laki-laki lain. Ia jadi semakin tidak enak hati.


Tenanglah Gifa, mungkin saja ucapan Gana ini adalah suatu pertanda bahwa sebentar lagi kalian akan dipertemukan


Bagaimanapun kamu sekarang, aku tetap berharap kita bertemu lagi


****


"Mama memang nggak capek mondar-mandir terus kayak gitu?" tanya Papa Bilmar yang masih duduk santai di sofa ruang televisi sambil menikmati kacang rebus kesukaannya.


"Udah Papa diam aja deh, bantuin nungguin juga enggak kan!" decaknya sewot.


"Loh, ini kan Papa juga lagi tungguin Maura pulang. Ya santai aja, sambil makan kacang sama nonton tv. Maura juga udah biasa pulang jam segini, Mama nya aja terlalu cemas sama anak..." balas Papa Bilmar santai.


"Udah diam aj---" ucapan Mama Alika begitu saja terhenti ketika melihat mobil Maura sudah masuk ke gerbang rumah mereka.


"Alhamdulillah, akhirnya pulang juga anakku!" ucapnya senang, ia langsung membukai pintu sebelum Maura mengetuk.


"Mama belum tidur?" tanya Maura yang masih berpakaian sekolah lengkap. Ia membawa sebuah bingkisan cemilan untuk Mama dan Papanya.


"Kamu kok akhir-akhir ini pulangnya malam terus, Nak? Mama kan khawatir sayang. Takut kamu kenapa-napa dijalan--"


"Sini, Nak!" Terdengar suara sang Papa menyelak ucapan sang Mama.


"Mah, aku ke Papa dulu ya--"


Mama Alika mengangguk lalu kembali mengunci pintu utama.


Dilihatnya langkah Maura sudah dekat, Bilmar pun merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang anak.


"Pah!" seru Maura sambil menjatuhkan diri di dekapan sang Papa.

__ADS_1


"Mamamu khawatir tuh dari tadi udah kaya setrikaan bolak-balik terus nungguin Maura."


"Iya Pah, soalnya toko lagi ramai pembeli. Kayaknya aku butuh karyawan lagi--"


"Nanti Papa akan carikan karyawan baru untuk di toko mu ya, tentunya Maura yang akan tetap menggajinya, hehehehe." Sang Papa tertawa.


"Kirain toko ku, akan di subsidi lagi--" cicitnya manja.


"Iya boleh di subsidi, kalau kamu bisa bawa pacar!" Papa Bilmar tertawa lagi. Niat sang Papa memang hanya ingin putrinya untuk tidak lagi mengingat Gifali.


"Mah...Papa ngeledek aku----!"


"Maura masih nggak bisa lupain Gifa, Pah." Seru Mama Alika menjatuhkan dirinya di sofa. Maura pun berpindah ke pelukan sang Mama.


"Mah, udah ah jangan dibahas--" ucap Maura merungut.


"Loh, siapa tahu aja sebentar lagi ketemu Gifa. Ya walaupun bukan Gifa, Mama selalu mendoakan Kakak untuk mendapatkan pasangan yang baik budi pekertinya. Kalau Kakak suka sama orang, jangan pacaran ya, Nak! Mama akan nikahin Kakak--"


"Lah, kok asal nikahin? Kan dia belum kuliah--" selak sang Papa tidak terima.


"Dari pada macam-macam, terus jadi dosa Pah. Kita juga nggak bisa kan perhatiin anak dalam 24 jam ngapain aja!"


"Adeuhhhh! Mama, Kakak nggak mau nikah sebelum umur aku 25 tahun. Masih lama--"


Masih ada waktu untuk tunggu kamu, Gifa


Lagi-lagi suara hati Maura menderu-deru.


****


.


.


.


.


.


Aku ada beberapa part hari ini, tungguin ya. Semoga proses reviewnya cepat❤️❤️


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Mantanku Presdirku Suamiku


2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang



Dua Kali Menikah



Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.

__ADS_1


Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️


__ADS_2