GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Halilintar Pertama Untuk Gifali.


__ADS_3

Bonus nih buat kalian. Baikan aku?🤭🤭


Selamat baca ya


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Bermodalkan Gojek, Gifali memilih pulang cepat dari sekolah menuju sekolahan pujaan hatinya. Dirinya begitu rindu, ia sudah tidak bisa menahan lagi untuk tidak melihat wajah cantik Maura. Walaupun Ganaya sempat mengingatkan bahwa Gifali tidak boleh kemana-mana tanpa sopir seperti perintah dari sang Mama.


Mama Difa merasa trauma jika Gifa menggunakan motor kembali, ia takut kecelakaan itu kembali terjadi. Maka dari itu walaupun Gifali masih merengek untuk meminta kembali dibelikan motor yang baru, Mama Difa tetap tidak memberikannya.


Sebelum sampai disekolah Maura, Gifali lebih dulu turun di restoran cepat saji. Ia membelikan makanan kesukaan Maura. Ia sudah membayangkan wajah kekasihnya yang akan senyum sumringah jika melihat kedatanganya secara tiba-tiba nanti.


Dengan perjalanan yang begitu lumayan jauh. Akhirnya lelaki ini sampai didepan sekolah Maura. Ia sengaja tidak memberikan info kepada kekasihnya itu perihal kedatangannya sore ini. Ia ingin memberikan kejutan untuk Maura. Entah kan Maura yang akan terkejut atau justru dirinya yang akan dibuat terkejut.


Gifali terlihat duduk didekat warung pinggir jalan sambil menikmati minuman cola nya. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi menandakan anak-anak sudah boleh pulang kerumah, terlihat siswa-siswa berhamburan keluar gerbang sekolah. Gifali pun bangkit mendekati pintu gerbang.


"GIFA?" Seru Maura memanggil sang pujaan hati.


Begitu bahagianya dia melihat calon suami datang menunggu dirinya. Lelaki kepala plontos itu terus memberikan senyum menawan kepada Maura.


"...Ganteng banget tuh, anak mana ya?"


"Pacarnya Maura kali ya?"


"...Ganteng-ganteng kok gundul ya.."


"Eh, tapi liat deh badannya keren beb, tinggi lagi!"


Begitulah suara-suara gamang dari para siswa-siswa perempuan ketika melihat Gifali tengah berbicara dengan Maura. Semua mata yang memandang sangat mengagumi kegagahan Gifali saat ini.


"Sayang..kamu sama siapa kesini?" Tanya Maura.


"Aku pakai Gojek, Ra---"


"Jangan dipaksain kayak gini, aku nanti khawatir sama kamu, Gifa!"


"Tapi aku kangen banget sama kamu, Ra. Nih lihat aku bawain kamu apa?" Gifa menatap senang ke wajah Maura sambil menyodorkan bungkusan makanan tersebut.


Maura melihat kedalam bungkusan plastik. "Wah lasagna, makasi ya sayang. Ayo kita makan bareng, aku suapi kamu."


Gifali mengangguk. Maura pun menggandeng tangan Gifa untuk duduk dibangku kosong didalam gerbang sekolah, setelah meminta ijin kepada satpam. Akhirnya mereka diperbolehkan walau hanya sebentar.


Maura menyuapi Gifali, wanita ini tidak henti-hentinya memberikan tatapan cinta kepada sang kekasih. Sepertinya hatinya telah tegap dan bersinar kembali.


"Kok jadi aku yang makan? Kan aku belikan ini buat kamu, Ra!"


"Iya kita makan berdua ya, aku kangen suapin kamu sayang.."


Gifali mengangguk dan tersenyum puas. Ia bahagia karena perjalanan jauh untuk sampai kesini tidak sia-sia. Gifali terus menggenggam tangan Maura.

__ADS_1


"Gimana sekolah kamu? Praktek apa aja?" Tanya Gifa.


"Iya nih aku akhir-akhir ini nggak fokus. Aku banyak salah pas praktek, kayaknya karena kangen sama kamu deh--" Cicit Maura sendu.


"Sekarang udah terobati kan kangennya?" Gifali menggoda Maura. Membuat wajah kekasihnya menjadi merah seperti tomat.


"Yang fokus belajarnya ya, kalau ada tugas yang sekiranya butuh bantuan. Aku siap kok bantuin kamu."


"...Makasi ya sayang. I love you." Maura tersenyum dan kembali menyuapi Gifali.


"Terus kalau kamu gimana? Sekolahnya kamu? Sama soal....Gadis?"


Sontak kalimat terakhir dari pertanyaan Maura membuat Gifali tersedak.


"Duh, duh. Kamu kenapa sayang? Ayo minum dulu!" Maura menyodorkan air minum miliknya kepada Gifali.


Setelah tenggorokannya lega barulah ia berucap. Maura terlihat mengelap sisa-sisa basahan air di bibir Gifali.


"Pelan-pelan dong makannya. Jadi tersedak kan!" Ucap Maura lembut.


"Sekolah ku baik, Ra. Aku memang tertinggal banyak soal pelajaran, tapi Elang berbaik hati memberikan catatan sekolahnya kepadaku. Dan Gadis, aku belum bicara lagi dengannya. Terakhir tadi aku lihat dia sedang bercanda-canda dengan Elang dibangku taman..."


Gifali menjelaskan apa adanya kepada Maura. Membuat wanita itu percaya seratus persen kalau ia sudah tidak berhubungan lagi dengan Gadis.


"Percaya kan?" Gifali kembali bertanya.


Maura mengangguk dan mengelus pipi kekasihnya. "Iya sayang, aku percaya..."


"Ayo nih makan lagi..."


Namun seketika sendok yang telah berisi makanan ditangan Maura begitu saja terjatuh kebawah ketika ada suara hardikan nyaring mengusik telinga mereka.


"MAURA!!"


Blass.


Ada Papa Bilmar yang sedang berdiri berjarak beberapa meter dari posisi mereka saat ini. Kedua mata Maura terbelalak kaget.


"Masya Allah, Papa?"


Maura bangkit dari duduknya. Jantungnya mencelos begitu saja, ritme nafasnya terlihat kasar. Hatinya tak karuan ketika melihat lelaki itu sudah berada disana yang entah sejak kapan.


Jika saat ini Maura terlihat histeris, lain hal dengan Gifali. Pemuda ini malah memberikan senyum kepada calon mertuanya. Karena ia belum tahu sama sekali jika Papa Bilmar sudah melarang Maura untuk berhubungan atau berdekatan lagi dengannya.


"Ayo Ra, kita hampiri Papa kamu..."


Wajah Papa Bilmar terlihat geram ketika Gifali menggandeng tangan putrinya.


"Om..." Sapa Gifali seraya ingin meraih tangan Papa Bilmar untuk diciumnya.


Papa Bilmar hanya diam tidak mau memberi respon. Ia malah memberikan tatapan tidak bersahabat. Membuat Gifa seketika menoleh kepada Maura untuk menanyakan ada gerangan apa dengan Papanya.


"Pah?" Maura mendesah.


"Saya peringatkan kamu untuk menjauhi anak saya!" Ucap Papa Bilmar


"Papa!!" Maura terus memelas.


Jdrr.


Seketika guntur tengah bersautan di langit memberikan dentuman keras untuk menampar jiwa dan hati Gifali saat ini.


"Kenapa Om? Oh apakah karena Gifali datang kesini sebelum kelulusan ya? Maaf ya Om, Gifa hanya ingin membawakan Maura makanan---"

__ADS_1


"Ah sudah saya tidak perduli!" Papa Bilmar memotong cepat ucapan Gifa.


"Tidak akan ada pernikahan antara kamu dengan Maura. Setelah kelulusan Maura akan saya kirim ke London! Jadi kamu gak usah repot-repot untuk melamar anak saya, karena saya tidak akan merestuinya!"


"Ma--maksud Om gimana?" Gifali masih tidak faham. Ia terus mengalihkan pandangannya kepada Maura untuk menanyakan hal ini. "Ra...?"


"Pah, udah dong cukup! Jangan kayak gini, Gifa baru sembuh Pah!" Ucap Maura sambil menangis.


"Oh jadi selama ini kamu belum memutuskan hubunganmu dengannya?" Tutur Papa Bilmar.


Dada Gifali terasa amat sakit dan ngilu dengan pengakuan Papa Bilmar yang terus menghantam dirinya.


Maura menggeleng dan terus meminta belas kasih agar Papa nya berhenti berucap seperti itu. Karena Maura selama ini tidak mau berkata jujur kepada Gifali perihal ketidaksukaan Papanya. Ia tidak mau Gifa bersedih dan kepulihan sakit nya terganggu.


"Kamu dengarkan saya--!" Seruan Papa Bilmar begitu saja terpotong oleh Maura.


"Pah, udah dong! Kasian Gifa!" Maura tidak sengaja menghentak Papanya.


"Kamu lihat kan anak saya? Dia jadi berani melawan saya!" Papa Bilmar menatap wajah Gifa dengan garang.


Gifali tetap menatap Papa Bilmar yang berubah 100 persen kepadanya.


"Ra jangan kayak gitu! Nggak baik---Ayo Om jelasin kepada Gifa, apa salah Gifa? Sampai Om membenci Gifa seperti ini?" Tanya Gifali.


"Saya tidak simpatik lagi dengan kamu, setelah kamu menyakiti anak dan keponakan saya! Kamu dengan enaknya memacari mereka berdua dalam waktu bersamaan!"


"Saya tidak akan membiarkan Maura jatuh ke tangan lelaki yang salah! Hidup Maura masih panjang, ia masih bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari kamu!"


"Kamu hanya bisa menipunya! Mulai saat ini, putuskan hubunganmu dengan Maura!"


Gifali seketika mematung dan membisu. Ia begitu terkejut dengan ucapan Papa Bilmar. Kakinya terasa lemas, sepertinya ia merasa tubuhnya menjadi ringan seperti kapas. Jiwanya entah melayang kemana.


"Puas Pah?" Seru Maura.


"Gifa maafin aku, aku nggak maksud kayak gini! Tolong percaya---"


"Kenapa kamu gak jujur tentang masalah ini dari awal, Ra?" Jawab Gifa nanar, terlihat dua bola matanya berkaca-kaca.


"AYO PULANG!"


Papa Bilmar menggandeng tangan Maura untuk mengikuti langkahnya kembali pulang kerumah. Maura terlihat berontak untuk melepaskan tangannya dari genggaman sang Papa.


"Tolong Om maafkan Gifa, Gifa sangat sayang dengan Maura!"


"Pah, lepasin Pah! lepasin Pah!!"


Maura meronta-ronta, bergeliat memaksa untuk dilepaskan. Ia terus berlalu dengan langkah sang Papa menuju mobil. Ia terus menoleh ke arah Gifali yang masih terperanjat tidak percaya.


"GIFA!" Serunya seraya meminta untuk ditolong.


Dengan cepat Gifali tersadar dan berlari untuk mengejar Maura namun sayang mobil Papa Bilmar sudah melaju dengan cepat dan meninggalkan anak itu dalam keadaan hati yang hancur.


Sungguh tragis kehidupan Gifali. Rasanya ia tidak bergairah hidup dengan kejadian hari ini yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Maura yang begitu ia inginkan selama 12 tahun lamanya harus terlepas begitu saja darinya.


Belum lagi kenyataan setelah ini yang akan semakin menuntut untuk membeberkan siapa jatidiri yang sebenarnya. Bahwa ia bukanlah keturunan dari keluarga HADNAN.


Kemungkinan setelah ini, ia akan berjalan mundur untuk melepas nama HADNAN dari namanya dan pergi untuk meninggalkan Maura. Ia merasa bahwa dirinya tidak lagi berharga dan merasa tidak sejajar dengan keluarga Artanegara.


Sepertinya hari ini adalah halilintar pertama untuk Gifali, sebelum haliintar kedua akan mengejar dan menyerang pertahananya. Ayo Maura kembalilah, kejar calon pendamping hidupmu! Jangan lepaskan Gifali.


****


Like dan Komen guyss

__ADS_1


__ADS_2