GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Jangan Temui Gifali Dulu!


__ADS_3

Haii aku kembali


Selamat baca ya guyss


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


"MAURA!!" Seru Mama Alika


Lalu menyusul suara Mama Difa. "GIFA!!"


Begitulah suara yang terdengar memanggil nama mereka dengan secara bersamaan. Maura dan Gifali langsung menoleh dan saling melepaskan pelukan mereka. Kedua pasangan ini tersentak kaget karena diketahui. Kini ada sepuluh mata yang tengah menatap tajam ke arah mereka.


Melihat pemandangan ini sontak membuat hati dan dada Gadis seketika hancur. Ia menghentakkan kakinya terlebih dahulu sebelum akhirnya berlari dari sana untuk meninggalkan kamar perawatan.


"Dis..." Seru Maura, namun langkahnya seketika dihentikan oleh Gifali, ketika ia ingin mengejar Gadis. "Nggak usah, Ra!" Bisik Gifa pelan.


"Gadis, sayang?" Mama Alika pun ikut memanggil, ketika melihat keponakannya pergi begitu saja. Gadis tetap pergi, ia tidak mengidahkan seruan Tantenya.


"Ck!" Elang mendengus dan menggelengkan kepalanya ke arah Gifali. Ia pun menyusul kepergian Gadis.


Ia memang senang jika Gifa melalukan itu kepada Maura karena Gadis akan bisa belajar untuk melupakan Gifa. Tetapi ia tidak sampai hati jika melihat Gadis kembali menangis.


Ammar hanya membuang nafasnya pelan dan beringsut duduk di sofa, melihat ke arah Gifali dan Maura tanpa bicara.


Maura dan Gifa masih saja diam dan membeku. Mereka mengatur ritme nafas dan terus bertanya-tanya, sejak di menit keberapa mereka semua ada dihadapannya.


Terlihat wajah Mama Alika seperti marah dan kecewa namun masih bisa ditahan. Begitupun juga Mama Difa. Tidak mungkin ada orang tua yang bisa melihat anak-anak mereka bisa berpelukan dengan erat seperti itu. Entah apa jadinya ketika mereka masuk di detik Maura dan Gifa tengah berciuman.


"Kamu gimana keadaannya, Nak? Sudah mendingan?" Mama Alika menghampiri Gifali.


"Masih ada sedikit linu Tante disekitar kepala..." Jawab Gifa sambil mencium punggung tangan Mama Alika.


"Jangan fikirin yang berat-berat dulu ya, Gifa harus fokus sembuh. Kan sebentar lagi ujian nasional!" Mama Alika melirik ke arah Maura, Maura hanya terdiam sedikit menundukkan kepalanya.


Mati lah aku! Mama pasti marah


Maura terus berdiri mematung disamping Gifali. Ia terlihat meringis dan hanya bisa diam. Sesekali Gifa melirik ke arah Maura, ingin ia genggam tangan itu tapi tidak mungkin kembali dilakukan dalam keadaan seperti ini.


"Kak, Maaf. Waktu itu aku udah pukul kamu! Refleks, karena nggak suka kamu nyakitin perasaan Kak Maura!" Ammar membuka suara. Ia masih tetap duduk di sofa.

__ADS_1


"Iya Mar, gak apa-apa. Aku ngerti kok!"


"Gifa juga mau minta maaf sama Tante Alika. Gifa nggak punya maksud kayak gitu dari awal. Tapi memang Gifa salah, sudah melukai hati Maura dan Gadis."


Mama Alika tersenyum.


"Mungkin kalau Gifa nggak mutusin Gadis terlebih dulu. Tante pasti larang Maura untuk berhubungan sama kamu."


Senyuman bahagia mengalir dari Gifa dan Maura. Mereka merasa seperti di dukung untuk melangkah.


"Jangan diulangi ya Nak, Maura kan yang selalu kamu nanti-nantikan dari dulu.." Sambung Mama Difa.


"Iya Mah Kakak janji. Maka dari itu Tante, Gifa mau nikahin Maura habis kelulusan, apakah boleh?" Gifa beralih menatap Mama Alika.


Kedua Mama tersebut menjadi saling pandang. Memang Mama Alika pernah berucap, ia akan menikahkan anaknya jika Maura sudah siap sekalipun putrinya belum lulus kuliah. Karena Mama Alika tidak mau Maura melakukan hal-hal yang akan melanggar norma dan adab.


Mama Difa pun mempunyai pemikiran yang sama, niatnya sehabis kelulusan Gifa. Ia ingin melamar dulu Maura, namun untuk niat menikahkan cepat, belum ada arah kesana.


"Gampang itu. Yang penting kalian lulus dulu, kasih nilai yang bagus, buat kita semua bangga sama kalian---Gimana?" Jawab Mama Alika.


Wanita ini kembali membuat hati Gifa dan Maura bermekaran karena bahagia.


"Iya betul itu apa yang diucapkan Tante, belajar dulu untuk kelulusan. Kalau Kakak udah lulus, Mama berjanji akan menikahkan kalian. Asal, Kakak dan Maura tetap melanjutkan kuliah.." Sambung Mama Difa.


"...Iya Mah..makasi juga ya tante." Ucap Gifa.


"Iya Tante dan Mama, makasi ya---" Sambung Maura.


"Oh iya Mba, Mas Bilmar nggak ikut kesini?" pertanyaan Mama Difa sontak membuat keadan kembali menegang.


Maura kembali terenyuh dengan pertanyaan itu. Ia kembali teringat, memori kebencian tentang Papa kepada Gifa hinggap kembali dalam benaknya. Membuat garis senyum di bibir Maura samar-samar menghilang. Begitupun Ammar, ia tetap bersikeras untuk meminta Kakaknya putus dengan Gifali, ia berada di pihak sang Papa.


"Kak, Mama, Tante---Ammar keluar dulu ya." Tanpa basa-basi Ammar pun meninggalkan kamar perawatan.


Dengan segala alasan Mama Alika bisa membuat Mama Difa dan Gifa percaya akan alasannya mengapa suaminya tidak ikut datang.


****


Langkah Ammar terhenti, ketika mendengar suara tangisan Gadis yang terdengar di belokan lorong kamar perawatan. Ada Elang yang terus menggenggam tangannya untuk melipur lara hatinya yang sedang tidak bernyawa.


"Aku benci sama mereka, Lang!"


"...Buat apa kamu benci mereka? Ini tuh terapi buat kamu, Dis! Biar secepatnya bisa lupain Gifali!"


"Tapi aku nggak bisa, Lang! Aku sayang banget sama Gifa! Aku benci liat mereka pelukan kayak gitu!" Gadis mendengus kesal. Air matanya terus menetes.


"Coba kamu tanya sama aku! Aku sakit nggak lihat sikap kamu kayak gini? Kamu tetap perdulikan Gifa yang jelas-jelas dia hanya perdulikan Kakak kamu!"


"Gifa cintanya cuman sama Kakak kamu, Dis. Dia mau jadikan Maura sebagai istrinya----"


Istrinya..


Istrinya..


Istrinya..

__ADS_1


Gadis terus terngiang-ngiang akan ucapan itu. Wajahnya yang saat ini mengerang lalu berubah menjadi sendu, sedan dan nanar. Ia melamun dalam kebingungan.


"Aku tau, Dis! Kamu nggak siap kehilangan Gifa. Karena kamu hanya takut kurang akan perhatian, iya kan?" Elang mengangkat dagu Gadis, agar mereka kembali bersitatap.


"Ada aku, Dis. Aku yang akan obatin luka hati kamu. Orang tua kita saja sudah berteman dari dulu, itu berarti kita memang berjodoh!"


"Tapi, Lang? Aku nggak---"


Elang menyelak. "Bukan nggak! Tapi belum belajar. Kamu pasti bisa terima hati aku! Aku antar pulang ya?"


Elang merangkul tubuh Gadis dan membawanya dari sana. "Tapi aku diantar sopir, Lang."


"Ya gak apa-apa nanti aku ikutin kamu dari belakang."


"Elang, please jangan kayak gini. Aku jadi tersiksa, karena kamu udah baik banget. Aku nya aja kaya gini, gak pernah anggap kamu ada!"


"Ya udah kalau gitu, coba dong belajar ya. Yuk pulang, udah malam."


"Tapi kan belajarnya susah, Lang!"


"Nanti aku ajarin---"


Mereka pun terus berjalan dan berlalu dari sana. Semoga saja Elang tidak pantang menyerah untuk bisa merebut cinta dari Gadis.


Ammar hanya bisa menatap sedih kepergian Kakak sepupunya.


"Kasian sekali Kak Gadis, semoga kamu bahagia bersama dia ya, Kak!"


*****


Mama Alika menyuruh Ammar untuk mengemudikan mobil Maura. Sedangkan Maura ikut pulang di mobil Mamanya. Mama Alika sengaja melakukan ini, ia ingin berbicara berdua saja dengan Maura.


Mama Alika terus fokus menaruh kedua tangannya di bundaran stir mobil. Wanita ini menunggu apa penjelasan dari sang anak. Hatinya sedikit kecewa dan kaget, namun ia tidak bisa menyalahkan seratus persen bagaimana gejolak cinta yang tengah membara di hati anaknya.


"Mah?" Betul saja, Mama Alika memang menunggu seruan itu.


"Ya..." Singkat padat dan jelas. Maura semakin salah tingkah dengan sikap Mamanya.


"Maafin Kakak ya, Mah." Maura menggigit bibir bawahnya dan tetap menatap lurus jalan yang ada dihadapannya.


Langit sudah pekat gelap dalam malam, memang ada beberapa bintang yang memberikan cahayanya. Harusnya indah untuk dipandang, namun melihat perangai Mama yang seperti ini. Bagi Maura malam ini bukanlah malam terbaiknya.


Kulit kerongkongan Maura terlihat turun naik, ia bingung memulai pembicaraan ini dari mana. Ia masih malu.


"Kayaknya Kakak nggak usah ketemu dulu ya dengan Gifa sampai kelulusan!"


Maura menoleh dengan cepat. Ia sangat kaget dan tersentak, betulkah ini sang Mama yang sedang berbicara padanya. Angin kencang kembali berhembus manakala Mama Alika kembali berucap.


"Mulai besok sampai kelulusan, Kakak jangan bertemu dulu dengan Gifa. Kalau keluarganya sudah melamar, baru Mama ijinkan untuk bertemu! Bisa kan, Kak?"


"Mah?" Sergahnya.


Entah mengapa kebahagiaan itu cepat sekali dengan mudah untuk terhancurkan begitu saja. Memang rasa sedih dan bahagia akan selalu beriringan untuk mengejar dan mengikuti.


*****

__ADS_1


Like dan Komen ya guyss


__ADS_2