GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Itu dia, Papaku


__ADS_3

Haiii para readers kesayangan. Maaf aku baru kembali setelah sekian lamanya hiatus dari cerita ini.


Semoga kerinduan kalian terobati ya.


Selamat baca guyss


🤗🤗


***


Terlihat di halaman parkiran sekolah, ketika semua siswa-siswa sudah berhamburan menuju gerbang sekolah untuk pulang kerumah, ada Gadis yang masih bersitegang dengan supir pribadinya.


"Mang Ujang, pulang duluan aja ya. Soalnya aku mau ke sanggar dulu--" tutur Gadis berdalih kepada sopir pribadinya. "Kan udah biasa, Non. Mamang yang antar ke sanggar."


Gadis terdiam sebentar, ia masih bingung mencari alasan apa yang bisa membuat Mang Ujang pergi dari hadapannya. Dari sebelah barat ada Gifali yang sudah menunggunya di motor.


"Soalnya sebelum ke sanggar. Aku ada rapat osis dulu, Mang. Agak lama--" Gadis masih memberikan kode mata ke arah Gifali, yang sedari tadi sudah memberi aba-aba untuk berangkat.


"Tapi, Non. Nanti saya di marahin sama Mama dan Papanya Non.." Mang Ujang kembali mengingatkan.


"Nggak bakal Mang, udah tenang aja! Sekarang Mamang pulang aja ya kerumah. Gadis mau masuk lagi ke dalam!"


"Baik, Non. Hati-hati ya, Non--" Tidak ada pilihan untuk Mang Ujang selain dengan kata menyerah.


Gadis pun berakting kembali masuk ke dalam sekolah. Ia bersembunyi sebentar untuk mengelabuhi pandangan Mang Ujang.


Tak lama kemudian


"Dorrrr!!"


Ada hentakkan di bahu sebelah kiri Gadis. Seketika itu pun ia menoleh dan mendapati wajah Elang disana. "Kamu ngapain, Dis?"


"Duh, kamu tuh! Buat aku kaget aja! Enggak, nggak! Aku lagi nggak ngapa-ngapain disini---"


"Tunggu dulu, dong. Aku kan lagi ngomong masa kamu tinggal gitu aja!" Elang mulai mencengkram lengan Gadis yang ingin beranjak pergi meninggalkan diri nya.


"Lepasin dia!"


Suara lelaki yang terdengar dari jarak tiga meter tengah melangkah menghampiri mereka.


"Ngapain lo?" sentak Elang bertepatan dengan langkah Gifali yang sudah sejajar dengan dirinya.


"Lo, yang ngapain? Lepasin tangan lo dari Gadis, dia kesakitan--"


Elang pun seketika menoleh melihati wajah Gadis yang sudah meringis. "Maaf, maaf. Dis! Aku nggak sengaja."

__ADS_1


"Mau berangkat sekarang?" tanya Gifali memutus ucapan Elang. Gadis pun mengangguk setuju. "Ayo!" Gifali mulai menggandeng tangan Gadis untuk dibawanya pergi ke parkiran motor.


Hanya ada tatapan sinis dan kesal terpancar dari wajah Elang. "Apa benar kalian sudah berpacaran?"


Setelah sampai di parkiran, Gifali pun mengambil helm dari dalam jok motor, lalu ia pakaikan di atas kepala Gadis. Kemudian Gifali naik ke motor dan mulai menyalakannya.


"Ayo, kamu naik!" Wajah Gifali sedikit berbeda, karena ia masih kesal melihat Elang barusan.


Gadis hanya diam menurut. Ia pun naik untuk duduk dibelakang Gifali.


"Pegangan!" Sebuah instruksi yang harus dijalani oleh Gadis sepanjang perjalanan mereka menuju sanggar tari.


Di usia 17 tahun, Gadis sudah menjadi anak yang berbakat. Ia diminta oleh guru tari di sekolahnya untuk ikut mengajar di sanggar tari milik pribadi gurunya.


Mendengar tawaran itu, Gadis pun langsung menyetujuinya. Walau awalnya kedua orang tua nya menentang itu semua. Namun karena kegigihannya, akhirnya sang Mama dan Papa menyetujui keinginan sang anak.


Suatu bakat luar biasa yang terpendam di tubuh Gadis.


"Masuk lah, aku tunggu disini!" ujar Gifali ketika ia sudah memberhentikan motornya tepat di depan sanggar Pak Imron.


"Aku kan lama, kamu nggak apa-apa, kalau harus menunggu di luar seperti ini?" Gadis kembali memastikan.


Gifali hanya memberikan senyuman dan anggukan kepala.


"Kata kamu kalau aku tunggu di dalam, nanti Pak Imron lihat, bagaimana?"


"Ya udah sana kamu masuk dulu, aku akan tetap disini, nungguin kamu sampai selesai!"


"Baiklah, makasi ya, Gifa."


Gadis pun masuk ke dalam untuk berbaur dengan anak-anak yang akan ia ajari menari.


***


Dua jam sudah berlalu, waktu sudah menunjukan pukul 17:30 wib. Langit pun sudah berganti menjadi gelap. Namun sesuai perkataannya, Gifali tetap akan setia menunggu Gadis sampai selesai.


Tak berapa lama kemudian, terlihat beberapa adik-adik kelas yang ikut les tari berhamburan keluar dari gerbang. Garis senyum Gifali akhirnya mengembang. Karena ia senang, sebentar lagi akan membawa Gadis untuk makan malam dulu bersamanya. Sebelum akhirnya pulang kerumah.


"Maaf ya Gifa, aku kelamaan di dalam. Habisnya mereka belum hafal semua dengan gerakannya. Mana lombanya seminggu lagi--" keluh Gadis menatap wajah Gifali dengan kesenduan.


"Kamu yang sabar ya, Dis. Namanya juga belajar, kalau udah pintar mah ya kan nggak perlu belajar lagi, hahahaha---" Gifali terus membesarkan hati Gadis.


"Iya sih, makasi ya kamu selalu buat aku semangat."


Karena mengikuti alur hati, tanpa sengaja Gadis mengelus pipi Gifali tanpa ragu-ragu. Namun kedua mata mereka kini saling bertatap, untung lah ada Adzan Magrib yang membangunkan mereka dari lamunan.

__ADS_1


"Nanti sebelum aku antar kerumah, kita makan dulu ya. Aku mau ajak kamu makan nasi goreng, maafkan aku hanya mampu belikan kamu makanan pinggir jalan."


Walau Gifali bukanlah anak sembarangan. Ia tetap tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya dengan meminta-minta uang untuk keperluan yang tidak penting. Ia akan tetap menabung. Walau dirinya tahu kedua orang tuanya mampu memberikan apapun yang ia minta.


"Aku lebih suka nasi goreng abang-abang pinggir jalan, Gifa! Dari pada di restoran, masih kalah jauh--" Gadis menyetujui ajakan Gifali, ia memang anak yang lembut mau menerima apa adanya Gifali. Ia selalu siap menerima apa saja pemberian dari Gifali.


"Baiklah, ayo naik. Kita jalan!"


Lalu


Sebelum deru mesin motor di nyalakan. Wajah mereka mengerjap silau karena pantulan lampu jauh dari mobil yang sedang melaju mendekati kendaraan mereka.


Seketika kedua mata Gadis terbelalak hebat. Kedua bibirnya terbuka sedikit, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Seperti kucuran es tengah menyerang dari atas kepalanya sampai ke ujung kaki. Akralnya tiba-tiba dingin. Jantungnya mencelos begitu saja.


"Dis? Kamu nggak apa-apa?" pertanyaan Gifali yang sudah berkali-kali mendera telinganya belum mampu memindahkan pandangan Gadis.


Ia terus fokus melihati mobil yang kini sudah berhenti di depan mereka. Lampu mobil seketika padam, lalu ada ketukan sepatu yang terdengar turun dari pintu kemudi. Melangkah dan berjalan ke arah mereka.


"ITU PAPAKU, GIFA!!"


***


.


.


.


.


.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Mantanku Presdirku Suamiku


2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang



Dua Kali Menikah



Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.

__ADS_1


Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️


__ADS_2