
Haii kesayangan, aku kembali guysđź–¤
Selamat baca yaa
🖤🖤🖤🖤
.
.
.
.
.
.
.
Langkah kaki Gifali terhenti ketika melihat sebuah huruf Maura tergantuk dengan figura cantik berbentuk karikatur elsa didaun pintu.
"Ini pasti kamarnya?"
Gifali menghela nafasnya perlahan, ia pun mendenguskan hidungnya untuk merasakan aroma tubuhnya.
"Hemm..masih wangi."
Ia sedikit merapihkan kemejanya lalu mengetuk pintu kamar Maura.
"Ya, masuk!" Bukan Maura yang bersua tetapi Mama Alika lah yang menjawab.
Mendengar suara perizinan, Gifa pun menggenapkan langkahnya untuk membuka pintu.
Gifa dan Mama Alika sama-sama terperangah dalam kekagetan mereka. Jika Mama Alika merasa senang karena melihat sosok Gifa yang telah datang, beda hal dengan Gifa yang tidak senang sama sekali. Hatinya sedih ketika melihat Maura tengah berbaring didalam selimut tebal bergambar elsa.
"Tante, Maura kenapa?" Tanya Gifa sambil mencium punggung tangan Mama Alika.
"Maura sakit Gifa, badannya demam. Kata temannya hampir saja pingsan ketika sedang ujian praktik, mungkin Maura kecapean." jawab Mama Alika memandang putrinya sendu.
"Sudah di bawa ke Dokter tante?"
"Sudah, Nak. Maura juga sudah minum obat. Selama sakit ia merancau nama Gifa. Katanya layar ponselnya tiba-tiba mati. Tante mau kabarin Gifa, tapi enggak punya nomor kamu. Tante juga lupa untuk simpan nomor Mama kamu---"
Gifali melebarkan garis senyumnya.
"Nggak apa-apa tante, Gifa faham."
"Oh iya Gifa mau minum apa? Biar Tante buatkan--"
"Nggak usah Tante. Kalau Gifa mau nanti bisa ambil sendiri, Tante jangan repot-repot. Ini juga sudah malam, Tante lebih baik istirahat aja. Biar Gifa yang jaga Maura."
Mama Alika terlihat mengerutkan keningnya. "Maksudnya Gifa mau menginap malam ini?"
"Iya Tante, boleh ya?" Nanti Gifa akan tidur di sofa---" Gifali menunjuk sebuah sofa di ujung kamar ini.
Mama Alika menghela nafasnya, ia diam sebentar dan terus berfikir.
"Tante nggak usah khawatir, Gifa nggak akan macam-macam! Janji...."
"Janji ya Gifa! Kalian tidak boleh melakukan hal apapun sebelum menikah!"
"Iya Tante, demi nama Mamaku. Gifa janji--"
Mama Alika pun tersenyum dan mengelus bahu calon menantunya. Ia pun berpaling untuk melihat kembali wajah Maura yang sudah pulas tertidur. Mengecup pipinya sebagai tanda selamat malam.
"Semoga dengan kedatangan kamu, Maura jadi cepat sembuh ya. Tante tinggal dulu, kalau ada apa-apa kabari ke kamar ya!"
"Iya Tante---"
Mama Alika pun bangkit untuk berlalu pergi, namun sebelum sampai ke pintu. Mama Alika menoleh kembali.
"Gifa ingat ya pesan tante, jangan---"
Gifa menyelak cepat.
"....Macam-macam, hehehe!"
Mama Alika pun tersenyum. "Pintunya dibuka aja ya, jangan dikunci!"
__ADS_1
"Iya Tante---"
Mama Alika tetap merasa takut meninggalkan sang anak dengan Gifa hanya berdua dikamar. Walaupun ia tahu kedua anak itu saling mencintai dan mungkin tidak akan terpisahkan lagi, namun tetap saja tidak ada yang tahu bagaimana jodoh diakhir kisah cinta mereka.
Melihat Mama Alika sudah berlalu dan menjauh dari pandangannya. Ia pun beringsut untuk lebih dekat dengan Maura.
Tiba-tiba ia teringat kejadian masa lalu, ketika Maura dan dirinya sedang demam karena kejadian hampir tenggelam di pantai.
Kala itu, 12 tahun yang lalu.
"Maura, ayo bangun--" Ada bisikan di telinga kirinya. "Maura, ini aku Gifa!" suara pelan itu menyeruak masuk sampai ke gendang telinga Maura, seketika membuat ia membuka matanya perlahan.
"Ayo kita main!" Gifali terus menarik-narik selimut Maura. Maura pun bangkit dengan mata sendu, ia menyibak selimutnya untuk duduk ditepi ranjang.
"Apa itu--?" Jari telunjuknya menunjuk ke arah dahi Gifali.
"Kata Mamaku, ini plester untuk penurun demam, seperti yang kamu pakai saat ini!" jawabnya sambil menunjuk plester penurun demam yang menempel di dahi Maura.
"Kamu sakit?"
"Ya--"
"Aku juga sakit, Gifa!"
"Aku juga sakit, Maura--"
"Terus?"
"Ayo, kita---"
Selak Maura cepat. "...Main!!"
Kemudian bayangan itu pun terhancurkan karena suara Maura yang sudah membangunkannya dari lamunan masa lalu.
"GIFA!!" Maura menghentak bahu Gifa lalu memeluk nya erat.
"Kamu kenapa? Kok melamun terus, aku jadi takut sayang---"
Gifali yang baru tersadar akhirnya larut dalam pelukan itu, ia mengusap-usap punggung Maura yang terasa masih panas.
"Kamu kenapa bangun?"
"Tuh kan masih panas!"
"Aku mimpi nggak sih, lihat kamu disini?" Maura tetap tersenyum walau kelopak matanya setengah mengerjap karena menahan hawa panas ditubuhnya.
"Aku cemas mikirin kamu terus, nggak ada kabar sama sekali. Jadi aku putuskan untuk datang kesini, melihat keadaan kamu!"
"Hemmm....makasi, Gifa." Maura kembali meloloskan kedua tangannya dibawah lengan Gifali.
"Sayang, sayang. Ayo lepas dulu. Jangan pelukan disini, nanti Mama dan Papamu kalau lihat, aku bisa mati--" Gifali melepas pelukan Maura dengan sangat terpaksa.
Wajah Maura merengut. "Kamu nggak mau aku peluk ya?"
"Aku mau banget, malah lebih dari sekedar ingin dipeluk, tapi juga aku ingin mencium ini---"
Gifali mulai nakal meletakan jarinya untuk memegang bibir Maura yang terlihat kering karena dehidrasi.
"Terus kenapa melepas pelukanku?" cicit Maura polos.
Gifali menoleh ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Lihat itu, Mamamu sengaja membukanya. Karena takut aku akan macam-macam sama kamu!"
"Ya baiklah, Gifa. Ini sudah malam, kamu mau pulang kapan?"
"Baru juga sampai, udah disuruh pulang aja." Gifali menggelengkan kepalanya.
Maura menyeret kedua matanya untuk melihat ke arah jam di dinding.
"Wah sudah jam 12 malam Gifa, lalu bagaimana kamu---"
"Nggak usah khawatirin aku, aku akan menginap disini untuk jagain kamu sampai besok pagi!"
"Kamu akan menginap? Disini? Jagain aku?" Sekumpulan pertanyaan mencuat dari bibir Maura.
Gifali mengangguk dengan wajah senang. Walau di hatinya merasa gugup, ia takut kedua orang tuanya akan marah karena besok pagi tidak akan menemukannya di meja makan.
"Yess, as----!!" Dengan cepat Gifa membekap mulut Maura yang begitu nyaring mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Sssttt! Pelankan suara kamu, Ra! Nanti semua bangun!"
Maura pun menurut, ia kembali diam.
"Iya Gifa." Maura memelankan suaranya.
"Kenapa dengan ponsel kamu? Rusak, memangnya?" Gifali meraih ponsel Maura yang ada di nakas.
"Iya, aku juga nggak tah kenapa tiba-tiba aja ponselku mati."
"Kamu harus menghafal nomorku ya, biar kalau ada kejadian kayak gini. Kamu bisa kabarin aku, nggak buat aku cemas! Faham??"
"Iya aku faham...sayang---" Maura mengecup pipi Gifali dengan cepat.
"Kamu kenapa bisa sakit begini? Kecapean ya?"
"Iya Gifa, di toko lagi banyak pembeli, terus aku juga lagi menyiapkan acara ulang tahun untuk Kakekku tiga hari lagi. Kebetulan juga di sekolah ada ujian praktik, mungkin tubuhku lelah." Desahnya panjang.
"Jangan terlalu letih makanya. Kalau kamu sakit semua jadi terbengkalai--" Gifali mencolek pangkal hidung Maura yang bangir.
"Oh iya, nanti kamu datang ya ke pesta ulang tahun Kakekku, aku mau perkenalkan kamu sama keluarga besarku!"
"Kakek yang tadi?"
"Yang mana??" tanya Maura Balik.
"Ada Kakek yang tadi bukakan aku pintu untuk masuk kedalam, aku hampir saja tidak bisa bertemu kamu sekarang karena disuruh pulang olehnya!"
"Ohhh, hahahah." Maura tertawa. "Itu Kakek Bayu namanya, Ayahnya Papaku! Kakek ku itu memang posesif, dia sayang sama aku. Makanya dia kaya gitu."
"Pantesan, wajahnya tadi nggak bersahabat banget sama aku. Untung tadi ada Papa kamu, makanya aku bisa asa disini sekarang!"
"Tapi Kakekku itu baik Gifa, dia sangat sayang sama aku dan Ammar."
"Iya aku faham sayang. Lantas Kakek Bayu yang akan berulang tahun?"
"Bukan, tapi Kakek Luky. Ayahnya Mama, nanti keluarga besarku akan berkumpul. Aku mau memperkenalkan kamu kepada Kakek, Tante, Om dan Sepupuku, aku ingin bilang kalau kamu sudah kembali. Aku berhasil menemukan kamu lagi!"
Gifali merasa terharu dengan ucapan Maura.
"Aku jadi nggak sabar mau cepat datang bertemu keluarga besar kamu---" Gifali terus mengelus-elus pipi sang kekasih.
"Ayo tidur ya, kamu masih panas badannya. Aku tetap disini kok jagain kamu!" Gifali membaringkan Maura kembali.
Cup.
Ada sebuah kecupan hangat di dahi Maura. "Tidur ya, cepat sembuh calon istriku---" Gifali berdecis geli. Maura hanya tersenyum senang sambil memejamkan kembali kedua matanya.
Semoga saja semesta mengaminkan kalian untuk berjodoh🖤❤️
***
.
.
.
.
.
Terharu aku sama komenan kalian, ternyata udah masuk banget ke cerita ini. Sabar dulu ya guyss mereka pasti akan bertemuu🔥🔥🔥
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️
__ADS_1