GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Sang Penjaga & Penyelamat Telah Tiba


__ADS_3

Haii selamat malam


Siapa yang udah rindu Gifali?


Oke deh selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tubuh mereka masih setia terjaga dalam relung kesedihan dan kekosongan hati. Jika awalnya mereka lega karena Gifa sudah berhasil melewati operasi Kraniotomi.


Namun sepertinya kelegaan itu tidak berlangsung lama, mana kala saat ini jantung mereka kembali berdegup ketika Gifa belum juga tersadar.


Dokter sudah mengestimasi waktu terlama Gifa sadar adalah dua jam dari pasca operasi, namun saat ini sudah lima jam berlalu, Gifa belum juga bangun dari tidurnya.


Sakit adalah penggugur dosa. Banyak malaikat yang hadir menemani orang yang sedang sakit atau meregang nyawa. Maka disitulah setiap keberkahan tercurah bagi siapa saja yang mau menemani dan mendoakan orang-orang yang sedang tidak berdaya tersebut.


Dan di tempat ini lah kedua orang tua Gifa dan Maura berada. Mereka bertiga masih di dalam mushola yang hening, menjalani shalat Duha, berdzikir dan mengaji.


"Sadarlah sayang, kasihani Mama dan Papamu..." Gumam Maura sendu.


Terlihat kantung mata yang menghitam di wajahnya yang pucat dan Bibir yang terlihat kering, karena dehidrasi.


Maura melemparkan pandangannya ke arah Mama Difa yang sedang mengaji lalu bergantian melihat Papa Galih yang masih memunggungi mereka. Lelaki itu menundukan sedikit wajahnya ke bawah dan terus berdzikir.

__ADS_1


"Bangunlah sayang, aku tau kamu dengar rintihan hatiku..." Maura merasa dadanya kembali sesak, tidak dipungkiri kalau ia terus saja menerka-nerka hal buruk yang akan terjadi pada Gifali.


Mama Difa kemudian mengakhiri tilawahnya, menutup Al- Quran dan mengembalikan ke tempat semula dimana Al-Quran itu berasal. Ia pun menghampiri suaminya. Mengelus punggung Papa Galih yang sebenarnya tengah menangis dalam alunan dzikir nya.


"Pah..." Tutur Mama Difa.


Sang istri terus menguatkan hati suaminya yang sedang gundah gulana. Hati Papa Galih terasa ketar-ketir dengan dua hal yang masih membebani jiwa dan fikirannya.


"Mah..." Papa Galih yang sudah tidak kuat menahan, akhirnya beringsut untuk memeluk sang istri dan menangis sejadi-jadinya.


"Ini sungguh berat bagi Papa, Mah!" Ucapnya terisak.


Ia merasa hidupnya akan hancur jika Gifali bukanlah darah dagingnya. Anak lelaki nya yang amat cerdas dan sering ia jadikan panutan untuk ketiga anaknya yang lain.


Anak lelaki yang hebat, mandiri dan tidak pernah menyusahkan dirinya. Malah selalu membuat dirinya bangga.


Sangat Miris! Perbuatan Mama Gita memang sangatlah terkutuk! Demi cinta buta kepada Papa Galih, ia tega membuat keluarga Hadnan terpecah belah.


"Sabar Pah, yang terpenting sekarang adalah kepulihan anak kita----" Mama Difa seakan mengerti apa yang sedang difikirkan oleh suaminya.


Maura yang tidak tahu apa-apa akan semua itu. Hanya bisa menatap sendu dan nanar. Ia terenyuh dengan kesedihan kedua orang tua Gifali.


"Kamu selalu bilang, kalau kebahagiaan orang tuamu adalah yang nomor satu---Maka sadarlah Gifa! Mereka akan bahagia jika melihat kamu sadar kembali!" Batin Maura kembali mengiring.


"Bangunlah, Gifaku---Jangan buat kami menunggu!"


*****


"Apa gak sebaiknya Maura pulang dulu, Nak? Ganti baju dan istirahat sebentar, kalau Gifa sadar. Tante dan Om pasti akan kabari kamu." Ucap Mama Difa sambil berjalan merangkul Maura.


"...Iya Ra, biar Om yang antar kamu pulang."


"Tapi....Om?" Raut wajah Maura terlihat sedikit menolak.


"Maura sayang sama Gifa kan?" Mama Difa mengambil kembali pandangan Maura.


"Sayang banget Tante..."


"Kalau gitu dengerin apa kata Tante dan Om. Gifa juga gak akan rela kalau kamu jadi sakit karena dia.."


Mama Difa terus meyakini Maura agar mau istirahat dulu dirumah. Ia pun merasa tidak enak hati kepada orang tua Maura, jika nanti anak mereka sakit karena letih menunggu Gifali.


"Ya udah Tante, Om. Maura mau kok pulang dulu kerumah, tapi sebelum pulang Maura mau lihat dulu Gifa, siapa tau kan dia udah sadar?"

__ADS_1


Mama Difa melepas senyumnya. "Iya Nak, boleh---"


Mereka pun melangkah kembali ke ruang ICU untuk menuruti kemauan dari calon menantunya.


Entah sebutan apa untuk nama di hari ini. Ketika sesaat lagi jantung Mama Difa dan Papa Galih akan mencelos terlepas begitu saja dari tubuh mereka masing-masing. Lebih tepatnya Papa Galih yang akan murka dan sedikit tidak suka.


Tap.


Tap.


Tap.


Kaki mereka pun terus melangkah menuju tempat yang akan mereka sambangi. Samar-samar tapi nyata, sebuah pandangan mata terhenti begitu saja dengan pijakan langkah yang seketika membeku.


Mama Difa menghentikan langkahnya beberapa jarak sebelum sampai kesana. Seketika ia benar-benar yakin dengan siapa yang ada dihadapannya sekarang


"Ya Allah..."


Seruannya membuat wajah Papa Galih mendongak ketika ia sedang sibuk melihati layar ponselnya sambil berjalan. Dan Maura pun terkesiap dengan senyuman lelaki yang sedang berdiri menunggu kedatangan mereka.


"Siapa itu?" Cicit Maura pelan.


"Hah?" Haluan nafas Papa Galih meningkat drastis. Seketika netra nya menatap tidak suka kepada sesosok lelaki ini.


"Mau apa kamu?" Papa Galih berdecak didalam dasar hatinya yang paling dalam.


"Difa...." Panggil lelaki ini. Lelaki yang masih gagah, berkarisma, ramah dan selalu membuat siapapun merasa nyaman. Walau tubuhnya tidak terlihat kekar lagi, namun garis senyum itu tidak pernah berubah dari wajahnya yang manis nan gagah.


Kerinduan selama enam belas tahun pun terpecah diantara mereka.


"Pak Malik?" Desah Mama Difa tidak percaya.


"Kalian dari mana aja? Ayo cepat masuk kedalam. Gifali sudah sadar----"


Demi janjinya kepada Kinanti, ia akan selalu menjaga Gifali dan mengatakan sesuatu kebenaran yang telah Gita amanatkan kepada mereka, ketika masih mengandung Putra Gifali Hadnan, Tujuh belas tahun yang lalu.


Lihatlah keluarga Hadnan!


Sang penjaga dan penyelamat Gifali nanti, sudah tiba.


*****


Like dan Komen ya guyss

__ADS_1


__ADS_2