
Selamat pagi guys
Selamat baca ya
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Kehilangan adalah hal yang paling menyakitkan dari apapun. Bisa membuat suasana cerah menjadi gelap serta dapat merubah rasa sayang menjadi benci berkepanjangan.
Di sisi kanan Maura, ada Mama Alika yang terus saja menangis. Wanita paru bayah itu terus mengusap-usap tangan Maura yang masih belum sadarkan diri di ranjang pasien. "Sadar ya, Nak. Ini Mama sayang..."
Di sisi kiri Maura, ada Papa Bilmar yang masih berdiri sambil melipat kedua tangannya. Ia terus menatap wajah putrinya yang pucat dan tidak bertenaga. Benar-benar cinta Gifali bisa merubah hidup Maura secara drastis.
"Gadis, Elang, gimana Maura?" Tanya Mama Difa yang langkahnya sampai lebih dulu dari pada suaminya. Gadis dan Elang yang masih duduk didepan kamar perawatan langsung menoleh ketika nama mereka dipanggil secara bersamaan.
Walau tubuh Mama Difa masih lemah karena ia juga tidak sadarkan diri beberapa jam yang lalu, ia tetap memaksakan datang karena mendapatkan kabar Maura sudah ditemukan. Ia tetap melesat datang ke Rumah Sakit. Ia yakin Gifali pasti ada disini.
Mereka pun bangkit, Gadis langsung memeluk Mama Difa.
"Kakak sakit Tante, Gifa meninggalkannya..."
Mama Difa langsung melepas pelukan itu. Ia kaget setengah mati. "Maksudnya gimana Nak? Gifa dimana sekarang?" Tanya wanita itu semakin cemas.
Gadis hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah..." Desah nya. Mama Difa pun langsung bergegas untuk masuk kedalam kamar perawatan untuk melihat keadaan calon menantunya.
__ADS_1
Papa Bilmar dan Mama Alika menoleh ketika ada langkah lain yang masuk kedalam untuk menghampiri mereka.
"Mba..." Mama Difa mengelus bahu Mama Alika untuk menguatkan wanita itu.
"Ya Allah sayang.." Mama Difa mengecup kening Maura. "Kenapa ini Mba?" Tanya Mama Difa menatap kembali Mama Alika yang masih menangis.
Papa Bilmar bersikap acuh kepada Mama Difa, lelaki itu pun memilih untuk pergi keluar. Mama Difa pun menoleh, ia tahu lelaki itu pasti kecewa dengan Gifali.
"Ini Mba..." Mama Alika mengeluarkan surat dari dalam tas nya.
"Surat ini saya temukan tepat di kepalan tangan Maura, Maura mengalami shock berat sampai kejang, setelah ia ditinggalkan oleh anak kamu!" Mama Alika berdecak marah sambil menyodorkan surat itu kepada Mama Difa.
Mama Difa berjalan menuju sofa sambil membaca surat yang ditulis oleh Gifali untuk Maura. Air mata wanita paru bayah itu kembali turun, ada suara ringisan tangis darinya.
Anak lelaki nya itu benar-benar meninggalkan dirinya. Mama Difa pun menjatuhkan dirinya di sofa, ia menangis sejadi-jadinya. Meletakan kepalan tangannya didada, jantungnya kembali menciut. Ia seperti orang yang sedang sulit bernafas.
"Gifa, tega kamu tinggalin Mama, Nak..." Mama Difa merintih kembali.
Jika didalam ruangan dua Mama sedang sama-sama menangis. Beda hal yang tengah terjadi di luar kamar perawatan saat ini.
Langkah Papa Galih terhenti ketika menemukan Papa Bilmar yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Mas?" Panggilnya.
"Maura kenapa, Mas? Gifali apakah baik-baik, aj--?"
Seketika itu pula.
Bug.
Kepalan tangan tengah dilayangkan kuat oleh Papa Bilmar ke arah wajah Papa Galih. Lelaki itu pun jatuh tersungkur ke atas lantai, ia masih memegangi bagian pipi yang habis terkena pukulan panas dari calon besannya. Elang dan Gadis yang masih duduk tidak jauh dari mereka, kemudian bangkit untuk melerai perkelahian itu.
"Kenapa kamu pukul saya Mas? Salah saya apa?" Tanya Papa Galih dengan nada tinggi, ia menatap Papa Bilmar dengan pandangan tidak suka.
"Kamu sudah berjanji untuk menjadi jaminan kebahagiaan anak saya! Tapi karena ulah kamu, membuat anak saya menderita! Harusnya saya tidak menerima anak kamu kembali untuk mendekati anak saya!"
Papa Bilmar menunjuk-nunjuk wajah Papa Galih dengan tatapan garang, emosi dan kecewa.
"Saya tidak tau, apa yang telah anak kamu lalukan kepada anak saya! Mengapa Maura bisa shock seperti itu, apakah Gifali juga sudah memperkosa anak saya?" Papa Bilmar asal menuduh Gifali.
Mendengar tuduhan lakhnat itu membuat Papa Galih murka dan geram. Ia langsung bangkit berdiri.
__ADS_1
Dan.
Bug.
Pukulan panas dari tangannya kini mendarat di pipi Papa Bilmar. Sekarang giliran Papa Bilmar yang jatuh tersungkur.
Papa Galih berbalik menunjuk-nunjuk wajah calon besannya itu. "Jangan menuduh anak saya tanpa bukti. Saya tahu betul bagaimana anak saya, dia tidak mungkin melakukan hal sekeji itu! Saya yang mendidik dia!"
Papa Bilmar tertawa sarkas. Menatap Papa Galih dengan perangai meledek.
"Mendidik dalam hal apa? Menjadikan lelaki pecundang yang berani meninggalkan anak saya begitu saja? Membuat jiwa anak saya hancur?? Itu yang kamu bilang mendidik?" Ucap Papa Bilmar menatap tajam ke arah Papa Galih, ia pun bangkit dibantu berdiri oleh Gadis sedangkan Elang masih memegangi tubuh Papa Galih.
"Karena masalah rumah tangga kamu! Anak saya jadi terkena imbasnya!" Papa Bilmar kembali mendorong tubuh Papa Galih.
"Kurang ajar kamu! Jangan pernah ikut campur dalam masalah rumah tangga saya!" Papa Galih tidak mau kalah. Mereka pun akhirnya saling dorong, saling pukul dan saling memaki.
"Om udah Om..." Seru Gadis dan Elang secara bersamaan yang masih berusah untuk memisahkan mereka.
"STOP!" Seru Mama Difa yang baru keluar dari dalam ruangan. Ia menatap tajam ke arah suaminya.
"Kamu jangan buat ulah lagi, Pah! Udah cukup!"
"Mah, Papa gak memulai! Dia yang tiba-tiba nyerang Papa dan menuduh Kakak, Mah!" Ucap Papa Galih dengan nafas tersengal-sengal sambil menunjuk ke arah Papa Bilmar. Ia terus membela diri, ia tidak mau sang istri tambah membenci dirinya.
"Kamu yang salah Pah, kamu yang buat petaka ini!" Mama Difa menghentak bahunya dengan sebuah surat yang baru saja ia baca dan membuat ia menangis histeris.
"Kakak pergi! Dia ninggalin kita! Puas kan kamu?"
Papa Galih tersentak dengan ucapan istrinya, ia pun meraih surat yang sudah jatuh ke lantai lalu mengikuti langkah Mama Difa yang mulai berjalan untuk berlalu dari sana.
Mama Difa terus melangkah cepat, ia meninggalkan suaminya yang masih jalan terseok-seok sambil menahan linu disekitar wajahnya karena pukulan dari Papa Bilmar.
Papa Galih terus mengejar istrinya, ia tidak ingin wanita itu pergi. Namun Papa Galih kalah cepat, Mama Difa sudah lebih dulu masuk ke dalam taxi. Ia meninggalkan suaminya yang masih mengejar-ngejar dan meneriaki namanya.
Mama Difa terus membiarkan taxi itu membawanya pergi. Ia tahu kemanakah ia harus pergi untuk membawa Gifali pulang.
"Malik! Aku tau, pasti kamu yang bawa anakku!" Ujar Mama Difa geram, ia menghentak kepalan tangan di atas paha nya.
"Gak ada yang bisa rebut Gifa, dari tanganku!"
****
__ADS_1
Pulang Gifa, aku sakit 💔