
Haii semua adakah yang rindu?
Maaf baru kembali, selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Tatapan mata si wanita berhati sabar itu terus saja kosong dan layu. Tidak ada makanan dan minuman yang ia telan. Bibirnya terlihat sangat kering dan bawah kelopak matanya menghitam karena ia tidak mau memejamkan kedua matanya. Air matanya kadang menetes, berhenti lalu menetes lagi sampai bantal yang ia pakai kadang basah lalu kering dan basah kembali.
Ia mendiamkan semua orang yang berlalu lalang masuk dan ingin membesarkan hatinya. Ia tahu ucapan-ucapan itu mustahil bisa membawa Gifali kembali ke hadapannya.
"Kak.." Telapak tangan hangat mengelus bahu nya dari belakang dan kecupan singkat mengenai pipi nya. Ia pun menolehkan sedikit kepalanya kepada orang yang memanggilnya.
"Ammar..."
Maura beringsut untuk memutar tubuhnya dan memeluk adik laki-lakinya yang duduk ditepi ranjangnya. Ia tidak perduli selang infusan itu tertarik jauh dan terlihat darah seperti akan mengalir untuk naik ke tetesan infus. Ia memeluk sang adik dan menangis. "Tolong cari Gifa, Ammar! Bawa pulang dia untuk Kakak! Hanya kamu harapan Kakak!" Ucap Maura sambil menangis.
Ammar terus mengunci tubuh sang Kakak dan mencium pucuk rambut Maura. Maura adalah wanita yang ia cinta setelah Mamanya. Walau ia tahu Maura bukanlah Kakak Kandungnya--Tapi ia sudah menganggap bahwa Maura adalah Kakak terbaiknya.
"Sabar, Kak. Kakak tenang aja, Ammar pasti bawa pulang Kak Gifa untuk kamu---"
Maura mendongakkan wajahnya, entah mengapa ia begitu lega jika Ammar mau melakukan hal ini, walau entah bagaimana hasilnya.
"Benar Ammar?" Tanya Maura dengan wajah sumringah namun masih terisak.
Ammar mengangguk samar. "Iya Kak aku janji! Kalau gitu sekarang makan ya..."
Maura mengangguk dan mengusap air mata dengan telapak tangannya. "Ammar yang suapin Kakak ya?" Pinta Maura.
Ammar tersenyum, ia pun mengambil semangkuk bubur yang masih ada di nakas. mengaduk-aduk dan bersiap untuk menyuapi sang Kakak.
Dari balik pintu luar, Mama Alika dan Papa Bilmar terlihat senang karena anaknya mau makan dan juga sudah bisa diajak bicara. Mereka begitu was-was melihat Maura selama berjam-jam terus diam dan melamun.
****
"Ayo Pah, diminum teh nya. Papa mau makan apa? Biar Gana buatkan." Ucap Gana sambil meletakan segelas teh manis untuk sang Papa di meja. Ia pun duduk disebelah Papanya.
"Makasi ya, Nak.." Papa Galih meraih teh yang dibuatkan oleh anak perempuannya itu.
__ADS_1
"Papa gak nafsu makan, Gana! Papa masih menunggu kedatangan Mama dan Kakak. Ponsel Mamamu tidak bisa dihubungi!"
Gana pun sama, fikirannya seraya terbang ke awang-awang karena terus memikirkan keadaan Mama dan Kakaknya yang belum terdeteksi ada dimana, mereka sedang apa dan dimana.
Kring Kring Kring
Gana bangkit untuk berdiri dan melangkah menuju meja telepon.
"Mama? Mama dimana, Mah?" Tanya Gana ketika ia langsung mendengar suara Mamanya yang berbicara di sambungan telepon. Mendengar nama istrinya disebut membuat Galih menoleh dan bergegas cepat, ia langsung menarik gagang telepon yang masih di genggam oleh Ganaya.
"Sayang, kamu dimana?" Tanya Papa Galih dengan rasa cemas.
"Aku baik-baik aja, Mas. Aku hanya ingin kabarin kamu sama anak-anak dirumah. Kalau sekarang aku sudah bersama Kakak!"
"Alhamdulillah Ya Allah..." Nafas kelegaan begitu saja tercuat dari bibir Papa Galih. "Mama dan Gifa sedang ada dimana sekarang? Biar aku langsung jemput kesana!"
"Alhamdulillah Kakak udah ketemu---" Wajah Ganaya berubah menjadi bahagia. Ia pun bangkit untuk berlari ke kamar para adiknya untuk mengabari kabar sudah mereka tunggu-tunggu.
"Jangan Mas, nanti dulu. Gifali masih shock. Sepertinya aku dan Gifa akan tetap di Bandung untuk beberapa hari, sampai Gifa mau pulang. Kamu tau kan semua hal ini berat untuk dia----"
Papa Galih mengangguk dengan rasa penyesalan yang amat dalam.
"Tolong sampaikan permintaan Papa kepada Kakak, Mah! Dan aku juga ingin meminta maaf sama kamu, aku menyesal tidak bisa memegang janji---Kalau saja Papa bisa menahan emosi, mungkin semua ini tidak akan terjadi!" Papa Galih terlihat semakin menyesal.
"Nasi sudah jadi bubur, Mas. Semua juga sudah terjadi. Menyesali juga percuma..." Suara Mama Difa masih terasa kecewa.
Dan mereka berdua pun hening.
Papa Galih tahu sang istri masih merajuk. Ia mencoba untuk menetralkan suasana.
Ada helaan nafas kosong dari seberang sana. Ia menunggu jawaban dari istrinya yang terus terdiam.
"Sayang?" Papa Galih kembali membuka suaranya ketika dirasa lawan bicaranya tidak menjawab pertanyaannya.
"Papa gak usah khawatir ya, Mama sama Kakak disini baik-baik aja. Mama titip anak-anak dirumah ya Pah.."
"Mama dan Kakak sekarang dimana, lalu bisa menemukan Kakak bagaimana caranya?" Papa Galih tetap ingin tahu.
Mama Difa kembali mendesah panjang, ia tahu sekali bagaimana tipe suaminya, lelaki yang tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan hal yang ingin ia ketahui.
"Mama akan jelasin secara intinya aja ya Pah, tapi untuk menceritakan secara detail mungkin nanti ketika Mama sudah pulang bersama Kakak.."
"Iya, Mah--"
"Mama dan Kakak sedang ada di villa Pak Malik dan Mama kesini diantar oleh Mas Fajar----"
Deg.
Jantung Papa Galih seperti sedang diremas, semua tulang-tulang penyangga ditubuhnya seakan bergerak bergeser dari porosnya. Terasa linu yang memuncah hebat dan begitu menyakitkan kenapa juga harus dua lelaki itu yang membantu istrinya.
"Fajar, Malik! Sialan! Kok bisa?" Gumamnya.
__ADS_1
Merasa suaminya begitu saja diam dengan cepat Mama Difa kembali berujar.
"Jangan fikir macam-macam! Jangan dulu marah ya Pah, Mama kayak gini hanya untuk membawa anak kita pulang---Udah dulu ya Pah, nanti Mama telepon Papa lagi..."
Karena dirasa istrinya akan menutup sambungan telepon dengan cepat ia kembali bersuara, namun ia masih kalah cepat.
"Hallo..Mah...Mah----"
Tut.
Sambungan telepon tetap terputus.
Kekesalan terus memburu hatinya, sampai kapan pun dia tidak akan pernah bersahabat dengan dua lelaki itu.
****
Malam pun tiba. Mama Difa terpaksa meninggalkan suami dan ketiga anak kandungnya untuk tetap bersama Gifa saat ini di Villa milik Om Malik di Bandung.
"Sayang..." Suara Mama Difa terdengar ketika langkahnya sudah sampai diambang pintu kamar yang ditempati oleh Gifali. Ia mendorong daun pintu dengan bahu nya karena kedua tangannya sedang membawa nampan berisi susu dan sepiring nasi.
Tug.
Mama Difa meletakan semua itu di nakas. Ia pun duduk ditepian ranjang dan mengusap punggung sang anak yang masih memunggungi dirinya ke arah lain. Mama Difa tahu anaknya masih enggan untuk berbicara kepadanya sejak ia sadar dari pingsan beberapa jam lalu. Gifali masih shock, ada rasa kekecewaan amat dalam kepada Mama dan Pamannya. Gifali terus saja membungkam mulutnya karena ia masih kecewa dengan kenyataan yang baru saja ia terima.
Gifa yang sedari tadi sudah membuka matanya langsung memejamkan kembali dengan paksa. Ia masih memeluk guling sebagai pertahanan untuk menguatkan dirinya.
"Kakak, makan yuk, Nak. Kakak kan belum makan malam..."
Gifali tetap diam, ia membisu sebisanya. Ia masih kesal, kecewa, namun ia tidak bisa mengungkapkan semua itu kepada sang Mama. Walau ia geram, tapi Mama Difa adalah orang yang pantang untuk di kasari dari segi suara, sikap atau perbuatan. Ia lebih memilih diam sebagai rasa penolakannya. Mungkin jika ini ada di posisi Papanya, ia pasti sudah mengumpat lelaki itu tanpa ampun.
Namun sekarang berbeda.
"Maafkan Kakak ya Pah, Kakak udah salah faham sama Papa selama ini!" Gifa lirih dalam batinnya.
Ia mengaku menyesal telah bersikap tidak pantas kepada Papanya. Lelaki yang sudah memberikan tenaga nya untuk membesarkan Gifali. Sekarang ka merasa hidupnya hanya dikelilingi oleh orang-orang yang bermasalah.
Mama Difa tetap menatap Gifa yang masih bertahan untuk memunggunginya.
"Mama tau Kakak pasti kecewa dengan Mama. Mama khilaf, Nak. Mama salah besar waktu itu, Mama memang pantas untuk dihukum. Bukan hanya harus menghadapi sikap kamu yang marah, tapi Mama juga harus siap mendapat cacian, makian dan ambekkan dari ketiga adik mu---"
Mama Difa mengangkat wajahnya ke atas seraya menahan agar air matanya tidak turun menetes. Mendengar ucapan itu membuat Gifa membuka kedua matanya dengan cepat, namun ia masih diam ditempat.
"Mama memang pernah salah di masa lalu, terbuai akan cinta terlarang. Berpaling dari Papamu untuk mencintai Om Malik. Lelaki yang dulu menjadi atasan Mama dikantor sekaligus menjadi suami tantemu sendiri. Hukuman sudah Mama dapatkan. Terkekang berbelas-belas tahun, hanya boleh dirumah, melalukan aktivitas yang Papamu bolehkan saja, tidak mempunyai sahabat atau teman main walau hanya berkumpul reuni sekolah atau berkumpul dengan teman-teman arisan. Selama 18 tahun Mama hanya dirumah, mengurus dan merawat ke empat anak Mama. Mama tidak tau dunia luar seperti apa semenjak 18 tahun yang lalu---Apakah sekarang dosa itu belum juga bisa termaafkan, Nak? Apa dengan pengorbanan, tanda bakti kepada kalian dan Papamu, belum cukup, untuk bisa mengembalikan nama baik Mama?" Suara Mama Difa begitu lirih. Wanita paru bayah itu merasa dirinya sudah tidak punya harga diri lagi.
Air mata Gifa menetes. Ia masih diam dan terus mendengarkan semua pengakuan dari sang Mama. "Maafkan Mama ya, Kak. Semoga Kakak, Gana, Gelfa dan Gemma. Tidak pernah salah langkah seperti Mama atau pun Papa.." Ucap Mama Difa sambil menyeka air matanya yang sudah mulai turun dari sudut matanya.
"Makan ya sayang...Mama tetap ingin bawa Gifa pulang. Kasian Maura, Nak! Maura sakit---Maura shock berat. Dia ingin kamu kembali...."
Gifa membelalakkan kedua matanya dan ia menoleh langsung ke arah Mama Difa yang masih menatapinya.
"Maura sakit, Mah?"
__ADS_1
***