
Haiii selamat malam.
Maaf aku baru kembali
Selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
"Kamu kenapa?" Papa Galih kembali mendekat dan meraih tangan Mama Difa. "Apa yang lelaki itu bicarakan?" Tanya nya.
"Siapa yang Papa maksud?"
"MALIK! Aku tau tadi dia datang kembali untuk menemui kamu!" Jawab Papa Galih dengan rahang yang terlihat mengeras. Api cemburu terlihat berkobar-kobar didalam bola mata matanya.
"Apa maksud kamu menyembunyikan kematian Bunda dan Mba Dania?" Tanpa sadar Mama Difa mendorong tubuh Papa Galih begitu saja. Wanita ini murka dengan kelakuan suaminya.
Papa Galih membuang nafasnya kasar, ia terlihat meletakan kedua tangannya diatas pinggang. Lalu memejamkan kedua matanya sebentar kemudian membuka kembali dengan cepat.
"Jadi hanya masalah ini kamu marah sama aku, DIFA?"
Papa Galih semakin emosi. Ia menghentak istrinya dengan nada tinggi. Mama Difa terlihat mengigit bibir bawahnya, ia sedikit menundukkan kepalanya karena merasa takut dengan sikap suaminya yang tidak mau mengalah dengan sikapnya yang sudah salah.
Papa Galih terus mendelik penuh kesal ke arah istrinya. Ia menyembunyikan suaranya, ketika ada beberapa perawat yang terlihat mondar-mandir di sekitar mereka.
"Aku yang harusnya marah, Mas! Bukan kamu!" Mama Difa mengumpulkan kembali keberaniannya untuk menghardik suaminya.
"Demi dia? Demi lelaki itu? Kamu jadi marah sama aku?" Papa Galih bersuara lebih tinggi lagi dibanding Mama Difa.
"Aku begini karena cinta sama kamu! Aku sayang sama kamu! Aku nggak mau kamu salah arah lagi---"
"Mau sampai kapan sih Mas? Kamu stop untuk nggak mempermasalahkan masa lalu aku? Aku aja udah mengabdi hidup selama puluhan tahun, Mas! Apa itu semua nggak cukup untuk menebus semua kesalahan aku?"
"Aku hanya nggak mau kamu mengulangi kesalahan yang sama, itu aja!" Papa Galih tetap bersikukuh dalam emosinya. Ia sama sekali merasa bahwa tindakan yang ia pilih sangatlah benar.
"Aku hanya ingin melindungi Mama dari anak-anaku!" Imbuhnya lagi. Membuat Mama Difa semakin tersudut. 22 tahun ia menikah, nyatanya kepercayaan tetap tidak ada untuknya.
"Lalu bagaimana dengan kesalahan kamu? Aku tetap menerima itu kan? Aku tetap menerima Gifa dan kamu kembali!"
"Cukup, Mah! Papa nggak suka kamu bangkit masalahku dengan Gita! Kamu tau, aku dijebak dan kebenarannya akan terungkap setelah aku tau siapa Gifali sebenarnya!"
Bag.
Bagai hujan yang tiba-tiba muncul dengan deras di siang bolong. Begitu saja mengagetkan dan membuat semua orang berhamburan mencari jalan untuk berteduh. Seperti itulah hati Mama Difa yang terasa hancur.
__ADS_1
Ia kembali kaget dengan kenyataan yang sebentar lagi akan tiba. Entah ia harus berlari kemana untuk mencari jalan agar hasil DNA itu mengatakan positif kalau Gifa memang anak kandung dari suaminya.
"Aku nggak suka kamu bahas ini! Gifa tetap anakku! Apa pun yang terjadi, dia tetap anak kita!"
Dua bola mata Mama Difa terlihat nanar namun menyeramkan. Ada air mata namun urung untuk menetes lagi. Entah mengapa ia merasa mendapat nyawa setelah nama Gifa disebut secara tegas dari kedua bibirnya.
Sungguh begitu besar dan luar biasanya cinta Mama Difa untuk Gifali. Semoga saja setelah ini Gifa akan tetap menjaga dan melindungi sang Mama.
Mama Difa pun berjalan masuk kembali kedalam kamar, membawa luka dan sakit hati atas segala perkataan suaminya.
"Mah?" Desah Papa Galih dengan frustasi. Ia pun mengikuti langkah istrinya untuk masuk kedalam.
****
Hari semakin sore bahkan mau menjelang malam. Gifa tetap setia menunggu kedatangan Maura yang tak kunjung datang. Beberapa kali ia menghubungi lewat telepon, Maura tetap tidak bisa dihubungi. Hatinya cemas dan khawatir. Tiba-tiba saja perasaan tidak baik muncul dibenaknya.
"Maura kemana ya, Ma? Kok belum datang juga?" Tanyanya kepada sang Mama yang masih duduk disofa sedang menatap ke layar TV.
"Oh iya ya, udah mau malam tapi Maura belum datang lagi, apa mungkin ketiduran kali ya Kak? Kamu udah hubungi?"
"Udah berkali-kali Mah, tapi nggak diangkat-angkat."
Lelaki ini mengerucutkan bibirnya. Menyandarkan kembali kepalanya di bantal begitu saja. Rasanya sakit dikepala tidak ada apa-apanya dibanding keresahan yang sedang menggeluti hatinya.
"Apa mungkin sedang dijalan Kak?"
"...Tapi aneh Mah, kalau memang sedang kesini, Maura pasti akan kabarin aku!"
Mama Difa bangkit untuk menghampiri anaknya yang sedang gundah.
"Sabar Nak. Tunggu sampai jam 7, kalau memang tidak datang. Mungkin besok pagi Maura akan kesini. Kakak istirahat aja ya. Biar cepat pulih."
"Assalammualaikum..."Suara lain diantara mereka terdengar.
"GIFA!" Seru Gadis. Wanita ini langsung berhambur untuk memeluk Gifali. "Alhamdulillah aku senang banget kamu udah sadar!" Gadis tetap memeluk Gifali. Membuat Gifa dan Mama Difa hanya diam terus melihati tanpa mengedip.
"Dis.." Terdengar Gifali terbatuk-batuk karena dadanya begitu saja tertekan karena pelukan Gadis.
Dan
Blass.
"Assalammualaikum..."
Kembali terdengar salam yang terucap diantara mereka bertiga. Dengan cepat Gifali menoleh dan mendapati Maura yang tengah berdiri melihat ke arahnya sedang berpelukan dengan Gadis. Kedua tangan Gadis begitu saja melolong dibawah lengan Gifali terus mendekapnya dengan erat.
"Maaf..."
Hanya kata itu yang terlontar dari Maura ketika semua orang sedang melihat ke arahnya. Maura tersentak dan kaget namun ia mencoba untuk tetap bersikap biasa.
Sebisa mungkin ia harus mencoba untuk kuat. Ia pun kembali melangkah setelah menutup pintu untuk meletakan beberapa kantung belanjaan untuk kebutuhan Gifali diatas meja.
Gifali melepas paksa pelukan Gadis dan memintanya untuk bangkit.
"Ra...?" Sapa Gifali. Maura memberikan senyuman tipis ke arahnya.
"Kamu sama siapa, Nak?" Tanya Mama Difa ketika Maura menghampirinya dan mencium tangannya.
__ADS_1
"Sendiri Tante, kebetulan tadi aku ke mampir ke toko dulu." Alibi Maura. "Om dan adik-adik?"
"Om pulang dulu, katanya nanti malam akan kesini lagi--"
Maura mengangguk, lalu duduk disamping Mama Difa.
Gadis tetap duduk ditepi ranjang. Ia tidak mau bangkit dari sana.
"Aku kangen kamu Gifa!" Ucapnya polos. Ia sudah tidak malu lagi walau ada Mama Difa dan Maura.
"Dis..please!" Ucap Gifa memelas. Ia yakin ini adalah masalah baru untuk dirinya dan Maura. Jika saja badannya sudah tidak lemas, Gifali pasti sudah bangkit dan meraih tangan Maura untuk duduk didekatnya.
"Nggak apa-apa duduklah disana!" Sambung Maura, mendukung agar Gadis tetap ditempatnya.
"Ra..?" Gifali mendesah.
"Kamu sama siapa kesini, Dis?"
"Aku diantar sopir Kak. Oiya kamu disuruh datang kerumah, Kakek ingin bertemu."
Maura mengangguk pelan. Ini memang hari ulang tahun Kakeknya tapi ia malah tidak datang. Bahkan ia terlambat datang kesini karena harus bersitegang dulu dengan sang Papa. Maura tetap memaksa datang menemui Gifa dan pemandangan tidak enak ini yang ia dapat. Namun bagaimana lagi, ia tidak bisa menyalahkan Gadis secara sepihak.
Terlihat wajah Gifali memendam rasa penyesalan yang amat dalam. "Maaf ya...karena aku, kalian---"
"Udah nggak apa-apa." Maura menyelak cepat.
"Ra...?" Gifa berulang kembali memanggil namanya. Namun Maura tetap bergeming di sofa, Ia tidak mau beranjak menghampiri Gifa. Padahal hatinya sangat rindu untuk menggenggam tangan Gifali.
"Iya Gifa, aku disini..." Maura tetap memberikan senyumnya.
"Apa kepala kamu masih sakit Gifa?" Tanya Gadis, ia ingin Gifali menatapnya kembali.
"Sedikit Dis." Jawab Gifa seadanya.
"Kamu harus berterima kasih kepada Gadis, karena ia sudah mendonorkan darahnya buat kamu, Gifa---" Ucap Maura.
"Oh iya Tante hampir lupa, makasi ya Nak Gadis, sudah berjasa mau mendonorkan darah untuk Gifali."
"...Makasi banyak ya Dis!"
Ucapan terimakasih dari Mama Difa dan Gifali saling beriringan. Membuat wajah Gadis berbinar-binar.
"Iya Tante, Gifa. Sama-sama. Makanya kamu cepat sembuh ya Gifa, kan sebentar lagi kita mau ujian nasional---" Senyuman Gadis begitu merekah dan merona Beda hal dengan Maura. Wajah anak itu terlihat sedikit redup walau masih ada senyuman tipis yang dipaksakan.
Rasanya Sakit? Pasti! Itulah yang Maura rasakan saat ini. Namun semua sudah terjadi, Ia sadar tidak bisa terus menangisi masalah ini dalam waktu berkepanjangan.
Maura terlihat banyak diam, kepalanya menunduk ke layar ponsel, pura-pura mencari kesibukan sendiri. Gadis tetap saja berbincang banyak hal, namun Gifali hanya memandangi wajah Maura dalam diamnya.
"Gadis, mau nggak antar Tante ke kantin?" Pinta Mama Difa.
"Oh iya Tante. Gadis mau. Gifa sama Kak Maura mau apa? Biar nanti aku belikan."
Gifa dan Maura menggeleng bersamaan.
"Iya udah kita tinggal dulu ya.." Mama Difa meraih tangan Gadis untuk berlalu dari sini. Mama Difa sangat mengerti Gifali, jika tidak dengan ide seperti ini. Pasti sang anak tidak bisa berbicara dengan kekasih hatinya.
"Ra...?"
__ADS_1
****
Like dan Komen ya guyss