GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Halilintar kedua untuk Gifali.


__ADS_3

Haii selamat malam


Aku kembali guyss


Selamat baca ya


πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mama Difa terkesiap dengan hentakan tangan suaminya di meja. Bukan hanya istrinya yang ketakutan, tapi semua anak-anak pun ikut membidikkan bahu karena takut.


Lelaki itu bangkit dan meletakan kedua tangannya untuk membungkuk di atas meja. Dengusan nafasnya terasa berat dan kasar, ia terus menatap lurus wajah istrinya dengan kedua rahang yang mengeras.


Ponsel terus berdering, terlihat tangan Gana menjadi tremor ketika menggenggam benda kecil tersebut. Benda yang menjadi biang keributan malam ini.


Drrt drrt drrt


"Ayo cepat bawa ponsel itu!" Papa Galih menyuruh Gana untuk menghampirinya. Gana mengangguk sambil menoleh ke arah wajah Mamanya yang masih meringis.


"Ini Pah.." Gana menyodorkan ponsel itu kepada Papanya.


"Berikan ponsel itu kepada Mama!"


Ponsel itu pun akhirnya di sodorkan paksa oleh Ganaya kepada Mamanya. Kulit tenggorokan Mama Difa terlihat naik turun, jari-jarinya terasa gugup ketika meraih ponsel itu.


"Angkat, lalu loudspeaker!" Titah Papa Galih.


Mama Difa pun melalukan apa yang diperintah oleh suaminya, tak berapa lama suara Om Malik pun terdengar bersua.


Hallo Difa? Sedang apa kamu? Maaf saya menganggu malam-malam.


Om Malik terus berbicara di sambungan telepon yang masih didengarkan oleh semua orang di meja makan. Kedua mata Papa Galih terlihat sedang menyala-nyala.


Difa? Apa kamu masih disana? Saya hanya ingin memberi tahu, kalau saya jadi membelikan motor untuk Gifali.


Tentu mendengar ucapan itu membuat kedua mata Mama Difa dan Papa Galih terbelalak hebat. Bagai bola api panas yang tengah menghantam wajah Papa Galih.


Difa? Kamu dengar saya? Kenapa diam?


Suara Om Malik terus saja membuat hati Papa Galih semakin tersudut akan lahar panas amarah. Ia merasa dibohongi oleh istri dan lelaki itu.


Melihat perangai suaminya, Mama Difa hanya menggeleng pelan kepada Papa Galih, seraya meminta belas kasih, jika semua ini hanyalah salah faham.


Papa Galih memutar langkahnya untuk menghampiri istrinya lebih dekat. Ia meraih ponsel itu dan melemparnya ke lantai.


Pragg.


Benda kecil tersebut terjerembab jatuh kebawah bersamaan dengan menghilangnya suara Om Malik.


"Pah...Ma--ma..bi--sa jelasin semu--anya.." Ucap Mama Difa dengan suara terbata-bata. Mama Difa terus memundurkan langkahnya ketika suaminya terus maju dan mendekat.


"Pah..." Desahnya lagi.


"Pah jangan!"


Gana menerobos masuk dan membentangkan kedua tangannya untuk mengalihkan pandangan Papa Galih kepada Mamanya. Ia takut jika sang Papa memukul Mama Difa.


Gelfa dan Gemma pun melakukan hal yang sama. Gelfa memegangi tangan Papanya untuk berhenti melangkah. Sedangkan Gemma melakukan hal yang sama terhadap Mamanya.


"Pah jangan marah sama Mama!" Ucap Gemma.


"Kenapa bisa lelaki itu menghubungi kamu, Difa?" Kelakar Papa Galih. "JAWAB AKU!" Hentakan nyaring kembali didengar.


"Tolong percaya aku. Kamu hanya salah faham! Ia meminta nomorku pada saat Kakak dirawat karena kecelakaan tempo lalu. Ia hanya ingin mendapatkan kabar tentang Kakak lewat aku, Mas!" Mama Difa menjawab dengan susah payah.


"...Dan tadi pagi ia memang menelpon aku untung mengatakan kalau dia ingin membelikan motor baru untuk Kakak. Tapi aku menolak!" Sambung Mama Difa.


"Jadi kalian sudah sering berkomunikasi dibelakang ku, Difa??"


Sepertinya ucapan Mama Difa tidak bisa diserap banyak oleh Papa Galih. Lelaki itu terus mengerang karena emosi. Rasa cemburu yang ada didalam hatinya menjadi penutup kesadarannya saat ini. Ia pun meraih paksa tangan istrinya untuk ditarik dan dibawa ke kamar. Membuat tubuh Mama Difa jadi jatuh tersungkur.


Membuat triple G beringsut untuk memegangi tubuh sang Papa.

__ADS_1


"Mah ayo Mah pergi ke kamar Gana!" Seru Gana.


"Atau ke kamar Gemma aja ya Mah..." Ucap Gemma terus susah payah melepas cengkraman tangan Papa dari Mamanya


"Pah jangan kaya gini dong, kasian Mama!" Tidak sadar Gelfa membentak Papanya.


"DIFA MASUK KE KAMAR KITA!!"


Papa Galih tetap ingin meraih tubuh istrinya untuk diberi pelajaran, namun langkahnya dihalang-halangi oleh ketiga anaknya. Mama Difa terlihat menangis terisak-isak.


"Maafin aku, Mas. Kamu hanya salah faham." Ucap Mama Difa dengan wajah yang penuh leleran air mata.


Kemudian kedua mata Papa Galih beralih ke arah pintu masuk ketika mendengar suara motor terhenti didepan sana. Mama Difa pun mengikuti arah mata suaminya yang ingin sekali mencengkram kedatangan Gifali.


"Assalammualaikum..."


Salam dari anak lelaki mereka yang sudah sampai diambang pintu. Dari kejauhan ia terkejut ketika melihat pemandangan seperti ini.


"Mama..!" Serunya lalu berlari dan membungkukkan badan untuk meraih tubuh sang Mama yang sedang menggelosor begitu saja di lantai.


"Ada apa Mah?" Tanya anak itu, lalu ia beralih menatap wajah sang Papa.


"Ada apa ini Pah, kenapa Mama menangis?"


"Bagaimana motor baru mu? Bagus? Enak di pakainya?" Tanya Papa Galih dengan wajah dingin dan datar.


Rasa benci dihatinya kembali timbul untuk Gifa. Gifali pun bangkit lalu berdiri untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang Papa.


"Oh soal motor, itu dibeli---"


Pakkk.


Telapak tangan kanan Papa Galih begitu saja mendarat dengan keras di pipi Gifali. Membuat anak itu seketika menoleh ke arah lain karena pergerakan tangan Papanya.


Membuat dua bola mata triple G dan Mama Difa membulat dengan tajam.


"Kamu tau, Papa benci dengan lelaki itu!"


"Bisa-bisanya kamu mau dibelikan motor olehnya?"


"Kamu tidak menghargai perasan Papa!"


Gifali kaget dengan perlakuan dari sang Papa, membuat ia terdiam lama dan terus berfikir.


Mama Difa seketika bangkit untuk melindungi sang Anak. Ia menatap dan mendekat ke arah suaminya.


"Kalau kamu mau marah! Marah sama aku Mas!"


"Beraninya kamu, melawan aku seperti ini! Hanya karena lelaki bangsatt itu!"


Kedua mata Papa Galih melotot tajam, ia mulai mencengkram lengan istrinya dan meraih tubuh itu dengan paksa.


"Pah jangan Pah, lepasin Mama!" Seru triple G kembali. Membuat lamunan Gifali seketika buyar dan beringsut untuk menjauhkan tubuh sang Mama dari Papanya.


"Udah cukup Pah!"


"Gifa udah muak sama semua sikap Papa!"


"Papa selalu saja membenci Om Malik! Apa sih alasannya? Papa juga selalu menutup akses agar Om Malik dan Mama tidak pernah bertemu, memangnya ada apa Pah??"


Gifali makin tersulut akan emosinya. Melihat kebaikan hati dan kasih sayang Om Malik kepada dirinya membuat ia mengutuk sikap Papanya saat ini.


"Papa juga menutupi masalah kematian Bunda dari Mama, hanya karena tidak suka dengan Om Malik!"


"Dan sekarang apa salahnya, jika aku dibelikan motor oleh Paman sendiri?"


"Ada hal apa sampai Papa sangat membenci Om Malik?"


"Kenapa sih Pah??"


"Om Malik adalah lelaki yang baik dan sabar, dia tidak pernah arogan seperti Papa!"


Gifali menghentak Papa nya dengan ucapan menyakitkan yang terus ia keluarkan.


"Gifa jangan Nak! Jangan berbicara seperti itu dengan Papa kamu.." Desah Mama Difa dengan suara parau.


Tangisannya pun tumpah kembali. Ia meraih tangan anaknya untuk membawa Gifa pergi dari sana.


"Enggak Mah! Papa memang harus dikasih tau soal ini. Kalau Om Malik itu baik, dia sayang sama keluarga kita Mah!" Ucap Gifa kepada Mamanya.


Papa Galih berdecis geli, ia tertawa sambil meledek.


"Hebat kamu Gifa! Sudah lantang kamu berbicara dengan saya!"


Ucapan Papa Galih sontak membuat Gifa menoleh dan membuat dirinya terkejut.


"Kamu biarkan hati saya sakit hanya untuk membela lelaki sialann itu! Kamu terlena dengan kebaikannya hanya dengan sebuah motor baru??"


"Kamu tidak menganggap saya? Menganggap orang yang sudah berbaik hati untuk merawat kamu? MEMBESARKAN KAMU??"

__ADS_1


Suara nyaring terdengar diujung kalimat membuat bahu semua orang membidik ngilu.


Gifali menukik kan kedua alis nya secara tajam. Ia terlihat gamang karena ucapan Papanya yang sulit untuk dicerna.


"Apa maksud Papa, kenapa Papa berkata seperti itu?"


Suasana makin mencekam. Papa Galih dan Gifali semakin di sulut emosi.


"Mungkin sudah saatnya kamu tahu, siapa kamu se---"


"PAPA JANGAN!!"


Seruan itu terdengar dari Istri dan dari kedua anak perempuannya. Seraya kode untuk menghentikan ucapan dari Papa Galih, karena mereka sudah mengetahui siapa Gifali sebenarnya.


Gifali semakin tidak mengerti, ia terus melemparkan pandangan kepada Mama Difa dan kedua adiknya.


"Ada apa ini?" Tanya nya polos. "Apa yang kalian sembunyikan dari ku?"


Mama Difa, Gelfa dan Gana lalu berjongkok memegangi kaki Papa Galih untuk memohon dan memelas agar tidak mengucapkan kebenaran tentang jatidiri Gifali.


Mama Difa pun kaget dengan sikap Gana dan Gelfa. Ia merasa kedua anak perempuannya ini sudah tahu siapa Gifali.


"Mah? Gana? Gelfa? Kenapa ini? Memangnya siapa Kakak??" Tanya nya lagi.


Kedua matanya kini beralih kembali kepada lelaki yang masih menatap garang ke arahnya.


"Pah? Lelucon apa ini?" Gifali makin tersulut emosi.


"Gifa sudah cukup! Ayo minta maaf sama Papamu!" Mama Difa mendongak ke atas untuk menatap wajah anaknya. "Ayo Gifa!"


"Maaf untuk apa Mah? Kakak nggak salah! Papa nya aja yang aneh!"


Melihat Gifa membangkang seperti ini membuat Papa Galih semakin geram. Ia pun melayangkan telapak tangannya lagi di pipi Gifali.


Pakk.


Tamparan itu terasa lebih keras dan kasar. Membuat bibir Gifa memuncarkan darah di sudutnya.


"Papa!! Keterlaluan kamu!"


Mama Difa bangkit dan mendorong tubuh suaminya agar terpental dan menjauh. Mama Difa memeluk tubuh Gifali.


"Kalau kamu mau nyakitin aku, jangan lewat dia Mas, Gifa nggak salah!"


"AYO IKUT AKU!"


Papa Galih meraih kembali tubuh istrinya untuk ikut bersamanya ke kamar. Emosi terus membakar dirinya. Ia tidak memperdulikan lagi semua anak-anaknya saat ini. Yang ia mau, hanya ingin menghukum wanita yang sudah melahirkan tiga orang anak untuknya.


Tangan Mama Difa ditarik paksa oleh lelaki itu. Membuat Gifali menjadi murka dan tidak bisa menahan. Ia beringsut untuk melepas gandengan tangan mereka dan tidak sengaja mendorong tubuh sang Papa yang akhirnya terjungkal kebawah.


"Papah!!" Seru Gema. Anak itu dengan cepat membantu Papa nya untuk bangkit berdiri.


"Ku pertaruhkan namaku untuk meletakannya dibelakang namamu, untuk melindungi mu dan membuat kamu berharga dimata dunia, lalu begini kah balasan mu?" Ucap Papa Galih lantang dan tegas.


"GALIH JANGAN!" Sergah Mama Difa.


Ucapan sang Papa membuat aliran darah Gifali seketika memanas. Lebih panas dari sengatan listrik sekalipun.


"KAMU BUKAN ANAK KANDUNGKU! Kamu tidak pernah dilahirkan dari rahimnya!" Papa Galih menunjuk ke arah Mama Difa.


"KAMU BUKAN BAGIAN DARI HADNAN!!"


Tubuh lelaki 18 tahun itu pun seketika gontai dan goyah. Ia merasakan sakit amat dalam serasa pedang yang sedang diasah untuk menebas kepalanya. Kedua matanya memerah, air mata menggenang begitu saja. Ia terus menatap lurus ke wajah lelaki yang selama 18 tahun ini selalu ia panggil dengan sebutan Papa.


Pakk.


Tamparan kembali terdengar. Kali ini Mama Difa yang mendaratkan tangan mulusnya di pipi lelaki yang sudah ia nikahi selama 22 tahun.


"Brengsekk kamu GALIH! PUAS KAMU!!" Suara Mama Difa terdengar begitu menyakitkan.


Hatinya sakit ketika melihat lelaki yang sudah berjanji kepadanya, tega begitu saja melupakan janjinya.


"TEGA KAMU!" Mama Difa mendorong tubuh Papa Galih. Terlihat wajah menyesal muncul setelahnya dari lelaki itu.


Lalu.


Bugg.


Semua mata menoleh cepat ke sumber suara dari arah lain. Terlihat bingkisan kue begitu saja terjatuh ke lantai dari tangan wanita cantik yang tengah berdiri diambang pintu sambil menutup kedua mulutnya.


Wanita ini shock bukan main akan kebenaran jatidiri tentang calon suaminya yang baru saja ia dengar dan terkuak malam ini.


Sekilas terlihat ada genangan air mata dikelopak mata Maura.


"Gifa..." Desahnya.


****


Aku nangis buat part ini😭

__ADS_1


Gifali : Aku gak pantas buat kamu, Ra!



__ADS_2