GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Tolong Jaga Maura, untukku!


__ADS_3

Haii aku kembali


Selamat baca ya


❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Air mata terus menetes turun dari kelopak matanya yang tebal. Lelaki itu terisak, kedua bahunya terlihat membuncang tidak karuan. Gifali masih melipat kedua tangannya di dada dan berdiri menyandar di daun pintu, dirinya masih menatap Maura yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.


Perpisahan memang sangat menyakitkan, ia tidak akan menyangka jika waktu akan secepat ini berjalan. Meninggalkan cinta yang sedang merekah dengan sangat hebat. Mempunyai mimpi untuk saling bersama namun berubah begitu saja menjadi mimpi buruk yang menyakitkan.


Gifali terus menangis, menangisi dirinya. Mengapa ia bisa sekejam ini, pergi meninggalkan janji, janji untuk mau hidup semati dengan Maura.


Tok tok tok


Gifali dengan cepat menyeka air matanya. Mengakhiri kesedihannya, ia harus bisa kuat untuk menjalani keputusannya saat ini.


Krek


Pintu apartemen dibuka, Gadis begitu saja menerobos masuk karena ia khawatir dengan keadaan kakak sepupunya, setelah ia mendapatkan telepon dari Gifali melalui ponsel Maura.


"Kenapa kalian berdua bisa ada disini?" Tanya Gadis dengan tatapan kejam, lalu ia meremas kain baju pada bagian dada Gifali. "Kamu apakan Kakakku, Gifa!" Gadis melotot kan kedua matanya.


Gifali hanya tersenyum sambil memegang pergelangan tangan Gadis untuk melepaskan tangan wanita itu dari bajunya. Gadis memalingkan sebentar tatapannya dari lelaki itu. Tentu ia belum kuat untuk menahan cintanya yang masih ada, walau sudah tidak tahu lagi berapa kadar persennya yang masih bertahta, di relung hati nya yang paling dalam.


"Tolong jaga Maura, Dis. Aku sayang sama dia---" Pinta Gifa memelas. Wajahnya datar, tidak tahu arah.

__ADS_1


"Maksudnya apa?"


Gadis kembali menatap Gifali. Wanita ini belum mengetahui apa yang sedang terjadi dengan lelaki yang ia gelisah kan saat ini.


Air mata Gifa kembali menggenang. Kedua bibirnya terkatup rapat. Dadanya sesak kembali, jika bisa ia ingin menutup rapat kenangan 12 tahun yang pernah terjadi. Ia ingin sekali meminta kepada semesta alam untuk menghilangkan dirinya dari hati dan fikiran Maura.


Gifa menghentak bahu Gadis. "Berikan surat ini kepada Maura ketika ia bangun nanti." Gifa menyodorkan sebuah amplop berisi surat.


Kedua mata Gadis membulat dan melebar. Ia mengambil surat itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia sudah tahu pasti bahwa Maura akan ditinggalkan oleh lelaki ini, lelaki yang juga telah meninggalkannya dengan sekumpulan luka yang sampai saat ini masih belum terobati.


"Aku pergi dulu, Dis! Tolong jaga Maura." Gifali pun melangkahkan kakinya untuk berlalu meninggalkan Gadis.


Tak berapa lama kemudian.


"Tunggu, GIFA!!"


Jag.


Suara Gadis terdengar lantang, membuat Gifali tersentak karena kaget. Lelaki itu pun menoleh cepat, sebelum tanganny memutar handle pintu.


Gadis memutar tubuhnya untuk menatap Gifali dalam jarak dua meter.


"Aku relakan hati aku, supaya kamu bisa berbahagia dengan Kak Maura!" Gadis mengepalkan tangannya.


Gifali hanya menghela nafasnya perlahan. Tentu ia tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semua yang telah terjadi kepada Gadis. Maka ia memilih untuk dihujat, di maki dan mungkin sebentar lagi akan ditampar oleh Gadis.


Wanita itu pun melangkah untuk menatap Gifali lebih dalam. Mereka pun akhirnya bersitatap kembali. Terlihat kedua mata Gadis sudah berkaca-kaca. Kedua rahangnya mengeras.


Bass.


Ia melemparkan amplop yang sedang ia genggam ke arah dada Gifali. Amplop itu pun akhirnya luluh lantah jatuh ke lantai.


"Apa itu? Puisi perpisahan? Kamu putusin kakakku, Gifa?" Gadis menatap lebih tajam. Setajam penjahat yang tengah membidikkan arah pistol kepada sasarannya.


"JAWAB!!"


Dengan sekumpulan keberanian, Gadis menghentak Gifali begitu saja. Membuat lelaki itu memejamkan kedua matanya karena menahan kaget dan pilu. Ingin ia ucap, bahwa bukan hanya dirinya yang sakit, bukan hanya Maura yang kecewa, tapi dirinya pun sama. Jiwa dan batinnya sedang hancur dua kali lipat.


Ia bukanlah seorang Hadnan, tentu ia merasa tidak pantas jika bersanding dengan Maura, seorang anak dari keluarga kaya raya dan terpandang. Seorang ahli waris dari keluarga Artanegara, penghasil logam dan baja terbesar di Asia Tenggara.


"Aku pergi, Dis. Tolong jaga Maura, untukku!"


Gifali dengan cepat berlalu begitu saja. Ia meninggalkan apartemen dengan desahan tangis yang akhirnya tumpah ruah tanpa bisa ditahan. Jika kemarin ia bertekad untuk menjadi lelaki tangguh, saat ini ia telah mengubah itu menjadi lelaki pecundang.

__ADS_1


Biar kan saja, semoga Maura bisa memaafkannya, begitulah isi kepala Gifali saat ini.


Ia terus pergi dengan menggunakan motornya, membelah suasana jalanan yang sebentar lagi akan berubah menjadi kuning keemasan. Ia sudah tahu kemanakah ia harus berlari dan menyandarkan hidupnya setelah ini.


"Maafkan aku, Ra..."


****


"Pah, barang-barang semua mau langsung dibawa ke mobil?" Tanya Leta kepada Ayahnya, lelaki paru baya itu pun mengangguk. Ia masih berdiri di halaman depan, menunggu kedatangan sang keponakan.


Leta kembali masuk kedalam untuk membawa kopernya masuk kedalam mobil. "Gifa, belum sampai, yah?" Tanya Aisyah yang juga muncul dari dalam rumah. Ia mengikuti jejak sang adik untuk membawa koper miliknya ke dalam mobil.


"Mungkin seben----"


Ucapan Om Malik terhenti begitu saja, terlihat ia mengikis bibirnya dengan senyuman bahagia ketika melihat motor Gifali sudah muncul dari luar gerbang rumahnya.


Gifa memarkirkan kan motor itu di garasi. Melepas helm dan meletakan nya di kaca spion. Ia menunduk kan kepalanya kebawah, memejamkan kedua matanya lagi. Seraya kembali menterjemahkan isi kalbunya, apakah benar ia akan meninggalkan dua wanita yang sangat ia cintai, Mama Difa dan Maura begitu saja.


Karena selama diperjalanan, suara sang Mama dan sang kekasih terus saja saling bersautan memanggil-manggil namanya. Membuat lirih batinnya. Namun semua sudah terjadi, seperti halnya mangkuk yang sudah pecah tidak akan bisa lagi kembali utuh. Gifa sudah kuat dalam keputusannya. Yaitu pergi dari keluarga Hadnan dan Maura.


Ia pun turun dari motor dan melangkah menuju keberadaan lelaki yang sedang berdiri dan tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk anak lelaki itu.


Blass.


Hembusan angin mencuat ketika Gifa menerjang tubuh Paman nya dengan sebuah pelukan. Lelaki itu menangis lagi, Gifa terisak kembali.


"Sabar, Gifa..." Ucap Om Malik terus menenangkan keponakannya. Ia terus mengusap-usap punggung Gifali.


Gifa terus menumpahkan rasa sedih, rasa kecewa dan rasa sakit hati nya kepada lelaki yang selalu dibenci oleh Papanya, Papa yang sebenarnya tidak mempunyai kesamaan darah dengannya.


"Jadi lelaki gak boleh cengeng!" Ucap Om Malik dengan suara nyeleneh. Membuat Gifali sedikit tertawa karena di ejek.


"Kita pergi dari sini ya, tenangkan hati kamu."


Gifali melepas pelukan itu dan menyeka air matanya kembali.


"Ayo Leta, Aisyah naik ke mobil sekarang. Kita berangkat!" Ucap Om Malik sambil merangkul Gifali untuk naik kedalam mobil.


Entah dibawa kemana Gifali setelah ini. Berhasilkah Mama Difa dan Maura untuk menjemputnya kembali.


****


Aku pergi, Ra💔

__ADS_1



__ADS_2