
Haii aku kembali guyss.
Demi kalian aku kasih bonus
Bacanya pelan-pelan ya
💔💔💔💔
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wanita itu pun akhirnya meraih sebuah dompet dan mengeluarkan sebuah foto yang sudah usang, ada gambar tiga orang disana tengah menatap ke arah kamera dengan wajah bahagia.
"Yang ini siapa, Mah?" Gifa menunjuk ke salah satu gambar orang yang ada disana.
Mama Difa mendekat dan ikut menunduk untuk melihat ke arah foto yang kini digenggam sang anak.
"Yang ini Papa.." Ia menunjuk ke wajah lelaki yang gagah dan masih muda. Lelaki itu berada ditengah-tengah kedua wanita yang tengah ia rangkul.
"Yang ini Mama..." Ia menunjuk ke wajahnya.
"Mama cantik ya." Ucap Gifa mendongakkan wajah, lalu mencium pipi Mamanya. Mama Difa tersenyum dan mencium balik anaknya. Om Malik hanya tersenyum melihat hubungan Mama dan Anak itu kembali menyatu.
Mama Difa menunduk lagi memperhatikan gambar seseorang yang akan ia tunjuk dengan jarinya.
"Kalau ini..." Mama Difa menoleh lagi untuk melihat dua bola mata Gifa yang masih menatapnya balik.
"Ini Bunda Gita. Bundanya Kakak. Bunda kandung kamu---Ini, diperutnya sedang ada kamu, Nak." Suara Mama Difa berubah lirih.
"Dan arti di balik nama Kakak selama ini adalah penggabungan dari nama Bunda, Mama dan Papa---Gifali yaitu Gifa-Difa-Galih."
Gifa terus melihati telunjuk Mama Difa yang terus berputar-putar di perut Bunda Gita.
"Bunda?" Gifa mengulangi ucapan sang Mama. Mama Difa tersenyum dan mengangguk.
"Apa hubungan wanita ini dengan Papa dan Mama? Apakah wanita ini teman kalian?"
__ADS_1
Lidah Gifa terasa keluh jika harus memanggil wanita yang tidak pernah ia kenal dengan sapaan Bunda. Mungkin jika arwah Gita sedang ada disini, ia akan menangis dan menjerit histeris melihat sikap anaknya yang seperti itu.
Mama Difa dengan wajah menegang menoleh kembali ke arah Om Malik. Lagi dan lagi Om Malik hanya mengangguk. "Ceritakan saja, Dif! Gifa berhak tau."
Mama Difa mengangguk. Tentu hal ini semakin membuat hati Gifali penasaran. Ia sudah memutuskan bahwa betul Mama dan Pamannya pernah ada sesuatu hal di masa lalu.
"Bundamu adalah istri kedua dari Papa---Bundamu adalah adik sepupu dari Bunda Kinanti--" jawab Mama Difa tergagap.
Gifali menoleh ke arah Om Malik dan lelaki itu pun mengangguk setuju
"Kami bertiga pernah tinggal satu atap!" Mama Difa kembali melanjutkan ucapannya.
"Istri kedua Papa?" Suara Gifa terdengar melengking.
Mama Difa terlihat meringis. Ia kembali mengangguk. "Iya Nak, mereka menikah karena sebuah kesalahan---" Mama Difa tetap membela suaminya.
"Keterlaluan!" Gifa mengepalkan kedua tangannya. "Berarti wanita itu dan Papa telah menghianati Mama? Dan aku lahir dari kesalahan mereka berdua? Papa tega menghianati Mama?? Lalu kenapa Papa bilang aku bukan anaknya, Mah?"
Gifa pun beringsut untuk berjongkok dan mencium kaki Mama Difa.
"Maafkan wanita yang telah melahirkan aku, Mah. Karena ulah dia dan Papa, telah menyakiti Mama berpuluh-puluh tahun! Mama tetap mau membesarkan Kakak sebagai anak Mama.." Gifa mengeluh frustasi.
"Mamamu mungkin salah, tapi tidak dengan Papa, Nak---"
"Mah tolong jangan belain Papa terus! Papa sama wanita itu udah nyakitin Mama! Mereka menghianati Mama, aku benci Papa!"
Mama Difa menangis dan menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Jangan benci Papa, Nak. Papa gak salah!"
"Papa itu salah, Mah! Dia gak benar-benar cinta sama Mama. Buktinya dia bisa nikahin wanita itu dan melahirkan Kakak! Papa jahat Mah, Papa udah nyakitin Mama---Papa yang selalu cemburu kepada Mama tanpa alasan, selalu membatasi ruang gerak Mama selama ini, padahal Papa yang salah, Mah!"
"Gifa, cukup!" Wajah Mama Difa mulai menegang dan serius. Ia lurus menatap anak lelakinya.
"Tapi Mah, Papa memang jahat, Mah! Dia udah nyakitin Mama, bohongin kita berempat! Gifa benci Papa!"
Pakk.
Tanpa sengaja Mama Difa menampar pipi sang anak agar bisa diam dari ucapannya yang terus saja mengumpat dan memaki suaminya.
Gifa memegang pipinya yang masih terasa panas.
"Tolong hargai Papa, mu! Papa gak pernah salah, Kak! Papa menikahi Bunda kamu karena suatu kesalahan! Bunda kamu menjebak Papa, mengaku hamil anaknya. Dan Papamu percaya dan akhirnya menikahi Bunda kamu!" Nada Mama Difa meninggi.
"Karena rasa cinta Mama kepada Papa, Mama rela untuk di madu dan ikut membesarkan kamu sampai detik ini. 18 tahun kami di bohongi oleh Bunda tentang jatidiri kamu. Bahwa kamu bukanlah anak kandung Papa, kamu adalah anak dari lelaki lain bersama Bunda kamu!" Mama Difa meringis, dadanya sesak. Ia pun menangis lagi.
Gifali menangis ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mengutuk semua masa lalunya yang begitu mencekam dan menjijikan. Walau ia tetap saja bayi suci yang tidak pernah berdosa.
"Walau kamu bukan anak kandung Mama. Bukan anak yang lahir dari rahim Mama. Kamu tetap anak kesayangan Mama---Mama selalu berlaku adil, malah terkadang lebih banyak mencurahkan perhatian kepada kamu dibanding adik-adikmu yang lain!"
Mama Difa terhenti sejenak, ia kembali mengikuti ritme dadanya yang makin terasa berat dan sesak.
"Difa, sebaiknya kamu minum dulu. Wajah kamu pucat." Ucap Om Malik lalu bangkit untuk menyodorkan segelas air kepada Mama Difa.
__ADS_1
Mama Difa menggelengkan kepalanya dan lelaki itu pun kembali duduk di posisinya.
Sang Mama menatap kembali anaknya yang masih menunggu penjelasan dari nya.
"Mama ikhlas membantu Papa untuk membesarkan Kakak! Tapi semua itu terhancurkan, Papa kecewa, karena perbuatan Bunda kamu yang biadab!" Mama Difa kembali mengeraskan rahangnya.
"Bukan hanya sudah merusak rumah tangga kami, tapi juga sudah membodohi Papa kamu! Kami mengetahuinya ketika kamu sedang kecelakaan dan membutuhkan darah untuk operasi!"
"Barulah kami tau, kalau darah kamu antara Bunda dan Papa semua berbeda, Papa mu kalut dan emosi. Lalu ia melakukan tes DNA dan akhirnya betul, kakak bukan anak kandung Papa! Papamu tidak pernah menghianati Mama!"
Gifali kembali membulatkan kedua matanya, sepertinya jantung dan parunya akan begitu saja jatuh dan tercecer dilantai. Anak itu tersentak kaget. "Pantas sikap Papa agak berbeda dengan Kakak, semenjak Kakak keluar dari Rumah Sakit---" Desahnya pelan.
"Iya, Nak. Papa mu belum bisa terima, dibohongi mentah-mentah oleh Bunda kamu!
"Karena cinta buta Bunda kamu yang terus menginginkan Papa, maka ia menggunakan segala cara untuk memikatnya. Bunda kamu tau, waktu itu Mama belum bisa memberikan keturunan kepada Papa! Papa gak salah, Gifa! Mama yang salah----"
Gifali tercengang, ia menjatuhkan dirinya di lantai. Terkesima dengan segala penuturan dari sang Mama. Ia tidak menyangka, jika jatidirinya akan menggelikan seperti ini. Gifa kembali menatap sang Mama. Namun sepertinya ucapan sang Mama mental begitu saja di hatinya, ia tetap bersikeras membenci sang Papa.
"Mama bohong kan? Mama sengaja berucap kayak gini, biar Kakak maafin Papa kan? Mama terus membela Papa, karena hanya menutupi kesalahan Papa, iya kan, Mah? Papa mengaku aku bukanlah anaknya, karena hanya gak ingin mengakui kesalahannya dengan wanita itu kan? Jawab, Mah!"
Mama Difa beringsut untuk berjongkok dan menggenggam tangan anaknya. Menatap wajah Gifa dengan rasa bersalah.
"Jangan lagi mengadili Papa dengan sesuatu yang gak pernah Papa lakukan, Nak! Papa mencintai dan menyayangi kamu seperti anak kandungnya. Papa tetap menerima Kakak! Dan Papa juga yang menemui dan memohon kepada Papanya Maura untuk memberi kesempatan kepada kamu! Sebegitu cinta nya Papa sama kamu, Gifa!"
"Apa, Mah?" Kedua mata Gifali kembali berkaca-kaca. Ia sama sekali tidak menyangka bagaimana pengorbanan lelaki itu kepadanya. Lelaki yang telah ia hancurkan hatinya karena lebih memilih Om Malik.
"Mama yang salah! Yang harusnya kamu benci itu Mama!"
Mama Difa menepu-nepuk dadanya dengan telapak tangan. "Papamu orang baik, Nak! Sangat baik, malah Mama yang tidak pantas untuk terus berada disisi Papamu! Papa sangat mencintai Mama!!"
"Difa?" Om Malik bangkit untuk menghentikan ucapan Mama Difa. Sepertinya ia tahu, apa yang akan diucapkan oleh wanita itu setelah ini.
Mama Difa menoleh dengan leleran air mata yang masih turun membasahi wajahnya. "Sudah saat nya Anakku tau Pak, aku yang salah selama ini! Mas Galih terus bersikap seperti ini, karena ia masih tidak rela dengan perbuatan kita di masa lalu!"
"Perbuatan apa Mah? Apa yang pernah Mama lakukan?" Tanya Gifa sambil menyeka air matanya. "Kenapa Papa sangat benci sekali dengan Om Malik?"
Om Malik mengusap wajahnya kasar dan hatinya sangat gegana. Ia tidak ingin aib yang sudah ditutup lama harus dibuka kembali. Namun sepertinya hal itu akan melegakan hati Mama Difa. Ia tidak ingin Gifali terus menyudutkan suaminya.
"Mama pernah berselingkuh dengan Om Malik---"
"APA??"
Suara Gifali dan wajahnya kembali tercengang dan suara nya lebih nyaring. Terlihat urat-urat di kulit lehernya menegang keluar. Bola matanya melotot tajam, mulutnya menganga. Jiwanya seperti tertampar oleh suatu dentuman cahaya kilat dan menggelegar seperti bunyi halilintar.
"Ya Allah, Gifa..." Mama Difa berteriak ketika melihat sang anak akan tergelepak jatuh ke lantai. Gifa jatuh pingsan, tubuhnya dingin dengan sekejap. Ia shock bukan main.
Gifali tidak akan menyangka wanita yang selalu ia sanjung-sanjung dan di anggap suci penuh kebaikan hati, pernah bermain api. Tega menghianati dan menjalani kisah terlarang. Gifali shock karena sang Mama bermain hati dengan lelaki yang juga ia anggap suci dan sangat bijaksana.
Ia selalu mengganggap lelaki itu adalah lelaki terbaik lebih dari Papanya yang selalu arogan dan emosional. Mengapa bisa Mama dan Om malik, fikir nya, sebelum nadi ditubuhnya melemah drastis.
"Bangun, Nak..."
__ADS_1
****