GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Surat Perpisahan


__ADS_3

Aku kembali lagi guyss


Bonus buat malam ini


Selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


"Mah?" Papa Galih terus memanggil-manggil istrinya dari luar pintu. Ia berkali-kali mengetuk-ngetuk pintu kamar Gifali yang saat ini tengah dihuni oleh istrinya, yang masih menangis sesegukan.


"Maafkan Papa, Mah.." Ucap nya lirih.


Lelaki paru bayah itu tidak akan menyangka tentang sikapnya yang hanya meletakan ego sebagai pusat dan dasar pemikirannya saat ini bisa membuat masalah semakin meluas dan memanas seperti sekarang.


Malam ini Mama Difa memutuskan tidur di kamar anak lelakinya yang memilih pergi dari nya. Ia terus menciumi baju Gifali. Hatinya teramat sakit ketika ia melihat figura foto Gifali yang tengah tersenyum terpampang baik di meja belajarnya. Ia bangkit dari ranjang untuk meraih foto itu dan mencium nya beberapa kali.


Ia semakin menangis ketika melihat beberapa obat puyer yang masih ada dan harus terus diminum oleh Gifali. Anak lelakinya itu belum sembuh betul pasca kecelakaan. Gifa harus terus meminum obatnya sampai habis, dan rencananya besok adalah hari kontrolnya ke Dokter.


Sungguh menyedihkan!


"Sayang..." Seru suaminya kembali.


Mama Difa tidak memperdulikan. Ia tetap membisu didalam kamar. Ia menolak untuk bertutur kata dengan Papa Galih. Ia benci dengan lelaki itu. Lelaki yang sangat sulit melupakan masa lalu nya bersama Om Malik.


"Difa, buka pintunya. Aku mau bicara sayang.." Papa Galih terus merayu dan memohon. Lelaki itu terlihat frustasi dan menangis. Bayang-bayang senyum Gifali mulai tampak dalam ingatannya.


Pah, ayo kita main golf


Seuntai suara Gifali terus menyerbak fikirannya. Membuat ia mengepalkan tangannya untuk memukul-mukul kepalanya. Karena merasa bersalah dan menyesal.


Papa Galih meloloskan dirinya begitu saja untuk duduk dilantai dan menyandarkan punggungnya didepan pintu sang anak. Ia terus meminta istrinya untuk keluar dari kamar, ia takut Mama Difa akan menceraikan dan pergi meninggalkannya.


"Difa?" Papa Galih kembali memanggil dan mengetuk daun pintu. Sesekali ia merapatkan telinganya untuk mendengarkan apa yang tengah istrinya lakukan didalam.

__ADS_1


"Mah..buka pintunya!" Papa Galih merasa khawatir karena istrinya yang sedari tadi menangis begitu saja diam dan hening.


"Mamah! Papa bilang keluar!" Papa Galih menjadi emosi karena ia khawatir kalau Mama Difa akan menyakiti dirinya. Ia pun menarik kursi dan berdiri disana, menatap celah ventilasi jendela kamar untuk melihat ke dalam.


Jag.


"Ya Allah, Difa!"


Seketika itu pun wajah Papa Galih menegang, nafasnya sudah tidak beraturan. Jantungnya berdegup parah.


"Gana, Gelfa, Gemma!" Seru sang Papa memanggil nama triple G dengan suara kencang.


Mereka yang masih didalam kamar sambil memeluk bantal akhirnya bangkit dari ranjang dan menyusuri suara Papa nya yang terus merancau nama mereka.


"Kenapa Pah?" Tanya Gemma, anak lelaki itu sudah sampai lebih dulu.


"Bantu Papa dobrak kamar Kakak!"


"Loh kenapa Pah?" Tanya Ganaya.


"Iya Pah memangnya ada apa lagi?" Sambung Gelfani.


"Ada Mama didalam, Mama pingsan di lantai.."


"Hah??"


Gana dan Gelfa dengan wajah cemas langsung berlari menuruni anak tangga.


"Gem, ayo bantu Papa dobrak pintu ini. Siapa tau kita bisa!"


"I-ya Pah, ayo! Kasian Mama.."


Semoga saja Mama Difa tidak apa-apa.


****


Sebagaimana Rembulan yang tidak akan pernah meninggalkan malam. Sebagaimana ombak yang tidak akan pernah meninggalkan lautan. Begitupun rasa sayangku untuk kamu, Ra! Tidak akan usang oleh waktu, jarak dan tempat.


Kemanapun kakiku melangkah, selalu ada nama kamu yang menemani jiwa dan fikiranku. Tapi aku sadar, cinta itu tidak harus memiliki. Bahkan cinta kadang harus mengalah dan meninggalkan agar yang dikasihi dapat hidup lebih baik.


Aku gak mau merasa bersalah untuk membawamu masuk kedalam masalahku, Ra! Aku gak bisa nikahin kamu dengan keadaan ku yang seperti ini. Untuk menghidupi diriku saja sulit, apalagi untuk kita berdua.


Masa depanku saja belum tentu cemerlang, tapi masa depanmu sudah dapat dijamin akan membahagiakan. Terimakasih atas segala pengorbanan serta rasa cinta yang tulus untukku!


Aku doakan kamu bisa menjadi chef terbaik.


Lupain aku ya, Ra! Jangan tunggu aku lagi! Selamat tinggal sayang, aku cinta kamu!


Jangan menangis ya,

__ADS_1


----Putra Gifali---


Setelah membaca isi surat dari Gifali, tubuh Maura seketika lemas dan lemah. Gadis dengan sigap menyokong tubuh Maura yang akan terjatuh dengan kedua tangannya.


"Kak?" Seru Gadis.


Maura menatap sudut kamarnya. Air bening begitu saja menetes pelan dari ekor matanya. Ia masih menggenggam surat perpisahan dari sang kekasih. Lelaki yang selalu ia puja-puja dan selalu ia anggap sempurna tanpa kurang satu apapun.


Maura masih diam, ia tidak percaya jika Gifali akan tega melakukan ini kepadanya.


"Kenapa kamu raguin cinta aku, Gifa! Aku akan tetap menerima kamu apa adanya!"


Desahnya pilu, bibirnya bergetar. Tubuhnya pun seketika berubah jadi panas. Kedua matanya memerah, ia menggigit bibir bawahnya sampai terlihat ada darah yang mencuar.


Ia tidak bisa menahan rasa sakit yang sekarang sedang meluap-luap di dalam dadanya.


"Gifa kembali, aku mohon!" Maura tetap merancau, ia terus berteriak-teriak memanggil-manggil kekasihnya yang sudah pergi entah kemana. Gadis tetap menenangkan Maura. Tidak ada jalan lain selain menghubungi Om dan Tantenya.


Maura melepas paksa tangan Gadis yang masih mengunci tubuhnya.


"Lepas, Dis! Aku mau cari Gifali!"


"Kak, Gifa udah pergi!"


"Kenapa kamu gak tahan?" Maura mendelikan matanya tajam, ia menumpahkan rasa kesalnya kepada Gadis.


"Udah Kak, tapi Gifa tetap aja pergi!"


"Apa kamu senang, Dis? Nyatanya sekarang Gifa benar-benar sudah meninggalkan aku dan kamu!" Maura melayangkan jarinya untuk menunjuk ke arah wajah Gadis.


Kedua mata Gadis terbelalak, ia sama sekali tidak percaya jika Maura akan menyakiti hatinya dengan ucapan yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Tentu Maura berubah seperti ini, karena emosinya yang terus bergejolak. Fikiran nya meraung kemana-mana. Ia tidak sadar dengan sikapnya sekarang.


"Argghhhh! Gifa tolong kembali!"


Maura menghentak-hentakkan tangannya diseprai. Menendang-nendang selimut dengan kedua kakinya. Ia melemparkan lampu tidur yang ada di nakas ke lantai. Lalu ia bangkit menuju keranjang baju, meraih seragam sekolah Gifali yang niatnya akan ia cuci besok.


"GIFA!" Maura terus menangis sambil memeluk seragam sekolah itu. Air matanya tumpah ruah. Ia terus menangis kencang dan histeris.


"Kak, udah! Aku akan bantu kamu cari Gifa!" Gadis memeluk sang Kakak dari belakang. Namun Maura terus meronta-ronta, hatinya tidak kuat. Jiwanya terpukul karena kepergian Gifali.


Seketika itu pula tubuhnya menggelosor ke bawah. Kedua matanya terpejam, suhu tubuh Maura semakin panas. Yang paling menakutkan, tubuh, kedua tangan dan kakinya jadi bergetar hebat.


Maura tidak sadarkan diri, tubuhnya kejang! Maura shock.


*****


Kembali lah, Gifa


__ADS_1


__ADS_2