GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Hari ini, aku hanya ingin Maura!


__ADS_3

Haii selamat siang


Selamat membaca ya


❤️❤️❤️❤️


Setelah melalui perjalanan jauh, akhirnya kedua kaki mereka telah sampai di bibir pantai. Kedua tangan mereka saling menggenggam. Kedua mata Maura dan Gifa sama-sama sedang menatap lurus kepada ombak yang sedang naik dari dalam laut untuk tersembur keluar dan membawa gelombang, sampai ke bibir pantai.


"Gifa, jangan jauh-jauh. Aku takut !"


"Ayo kesini, tangkap aku, Maura !"


"Gifa tunggu, itu ada ombak datang--"


Dan


Brrrr


Tangan keduanya saling melepaskan genggaman secara bersamaan. Maura dan Gifali seketika membuka matanya dengan nafas tersengal-sengal. Bayangan seram itu kembali muncul di benak mereka.


Mereka kembali saling menatap.


"Aku sepertinya masih takut Gifa..."


"....Aku juga sama, Ra!"


"Aku takut kamu mati waktu itu--" Maura menundukan kepalanya kebawah dan melihat pasir-pasir pantai yang sudah basah.


Gifali pun meraih kembali tangan Maura untuk di naikan ke pertengahan udara di antara mereka. Maura pun kembali mendongakkan wajahnya untuk menatap Gifa.


"Kan sekarang aku masih hidup, masih disini sama kamu! Hanya untuk kamu!" Gifali pun mengecup dahi sang bidadari hati.


"Iya Gifa. Aku tau itu, karena aku yakin kamu hanya untuk aku! Bukan untuk yang lain--"


"....Berapapun lamanya waktu, akan aku tempuh untuk menunggu kamu!" Maura berjinjit untuk mengecup dahi kepemilikan Gifali.


Batin Gifa seakan ingin teriak, ia ingin langsung bersimpuh di kaki Maura dan mengucapkan kata maaf karena menyesal telah membawa Gadis diantara mereka.


"Karena aku percaya, Gifa! Hati kamu nggak akan berpaling dari aku---" Maura tersenyum penuh cinta, ia terus mengelus pipi Gifali.


Ya Allah, bagaimana sekarang ?


Wajah Gifali terlihat menjadi mendung dan redup. Ia hanya bisa menumpahkan rasa penyesalan didalam batinnya.


Aku harus bagaimana sekarang? Sepertinya jika melihat kamu pergi lagi, aku nggak akan sanggup, Ra.


Tapi bagaimana dengan Gadis, alasan apa yang harus aku kasih ke dia? Aku nggak mungkin menghancurkan perasaannya begitu saja.


"Kami kenapa melamun, Gifa? Apa kamu nggak enak badan? Mau pulang aja? Apa mau---"


Seketika Maura berhenti berucap dikala salah satu jari Gifali mendarat di kedua bibirnya.


"Aku hanya mau kamu sekarang! Ayo kita kesana!"


Gifali menggandeng tangan Maura untuk dibawanya pergi ke salah satu saung yang sudah tersedia sebagai fasilitas wisatawan pantai.


Maura tidak lepas dari senyumnya yang terus merekah dan mengembang. Ia selalu mengucap syukur karena kebahagiaan yang seperti mimpi sedang datang membanjiri hatinya.


"Ayo sayang, pelan-pelan!" Gifali membantu Maura untuk menaiki saung.


Maura pun mulai membuka perbekalan yang ia bawa dari rumah.


"Kamu kan selama diperjalanan belum minum, pasti haus! Sekarang kamu minum dulu ya." Maura menyodorkan sebotol air minum kepada Gifa.


"Kamu makan dulu ya. Angin pantai terlalu kencang, aku takut kamu masuk angin karena telat makan---"

__ADS_1


Gifali terus memandang bahagia wajah kekasihnya yang sibuk menata makanan di piring untuk dimakan oleh nya.


"Ayo makan sayang!" Maura memberikan piring itu.


"Aku mau kamu yang suapi aku, Ra."


"Iya sayang dengan senang hati." Jawab Maura dengan polos.


Perlahan-lahan Gifali mulai disuapi oleh Maura. Wanita ini begitu sangat perhatian kepadanya. Lalu Gifali mengambil sendok lain untuk menyuapi Maura.


"Aku juga ingin kamu makan, ayo buka mulut mu!" Maura pun membuka mulutnya dengan malu-malu.


"Duh, bentar Gifa--" Maura mulai mencari tissu untuk mengelap bibirnya, karena merasa butiran nasi menempel disana.


"Kalau aku yang bersihin gimana?"


"Ya nggak apa-apa.." Maura memberikan tissu kepada Gifali.


"Aku nggak mau pakai ini!" Gifali mengambil tissu itu untuk digenggamnya.


"Kalau pakai bibir aku, gimana?"


"Hah??" Ada sentakan tinggi mencuat dari mulut Maura. Melihat Maura yang panik, seketika Gifa kembali menarik ucapannya.


"Enggak kok, aku bercanda!" Lalu ia mulai mengusap sisa nasi yang ada di sudut bibir Maura dengan tissu di tangannya.


Kenapa aku ingin sekali mencium bibir kamu, Ra?


Bahkan semenjak bersama Gadis saja, Aku masih belum ingin melakukan hal ini kepadanya.


Aku memang hanya mencintai kamu, Ra!


*****


"Nggak apa-apa, Kek--" balasnya sendu.


Ia merasa khawatir karena Gifa belum juga memberikan kabar kepada dirinya sejak tadi pagi.


Udah siang begini, kamu belum juga chat aku? Apa kamu masih sibuk ya di luar kota?


"Mikirin apa sih, Nak? Pacar?" Kakek Luky bertanya lagi.


Gadis tersentak kaget. Ia menggeleng cepat, menampik hal yang sedang ditanyakan sang Kakek. "Ih Kakek, nggak kok. Gadis kan nggak punya pacar---" jawabnya berbohong.


"Masa, cucu Kakek cantik begini, belum punya pacar?" Kakek Luky mulai berpindah duduk untuk lebih dekat disamping cucunya.


"Walaupun memang sudah punya, bawalah kerumah. Biar Kakek bisa mengenalnya, jangan jadi sembunyi-bunyi karena Mamamu akan melarang!"


"Bener Kek? Kakek nggak marah sama aku?"


"Jadi benar ya sudah punya pacar?"


Gadis hanya memasang wajah malu. Ia tidak dapat mengelak jika gelagat nya yang seperti ini sudah diketahui oleh sang Kakek.


"Iya Kek, nanti aku akan bawa dia ketemu Kakek. Dia anaknya baik, sayang sama Gadis, pokoknya Gadis sayang banget sama dia---" Setiap mengingat bayang Gifali.


Gadis tidak berhenti untuk selalu memunculkan rona wajah yang begitu bahagia, ia sangat senang bisa memiliki Gifali secara utuh.


"Wah, enak banget nih. Gadis lagi manja-manjaan sama Kakeknya--" Ucap Mama Binar, yang tak lain adalah Mamanya Gadis. Mama Binar adalah adik kandung dari Mama Alika.


"Kamu mau kemana, Nak?"


"...Iya Mama mau kemana? Udah rapih gitu?"


Tanya Kakek Luky dan Gadis secara bersamaan. "Mau kerumah Kak Alika, Pah. Kamu mau ikut kerumah tante, sayang?" tanya sang Mama.

__ADS_1


"Enggak ah Mah, aku mau dirumah aja! Lagi malas kemana-mana. Lagian kalau hari minggu gini juga Kak Maura pasti lagi ditoko, mana mungkin dia ada dirumah--"


Karena Papa Rendi sedang ada diluar kota untuk mengurusi beberapa cabang perusahan disana, jadi terpaksa Mama Binar akan berangkat sendiri.


"Ya udah kalau gitu Papa aja yang ikut. Papa kangen sama Kakakmu!"


"Kamu nggak apa-apa, Nak. Dirumah sendiri?" tanya sang kakek kepada cucunya.


"Apa enggak sebaiknya kamu ikut aja, sayang?" Mama Binar kembali menawarkan.


"Nggak Kek, Mah. Gadis mau dirumah aja. Ada Bik Tuti kan dirumah--"


"Ya udah kalau gitu, Mama sama Kakek pergi dulu ya kerumah tante. Kalau ada apa-apa, cepat kabari Mama ya, Nak!" Mama Binar mencium putrinya.


"Iya, Mah pasti. Hati-hati ya Mama dan Kakek."


Mama Binar dan Kakek Luky pun berlalu untuk pergi berkunjung kerumah Mama Alika.


Dirasa Mama dan Kakeknya sudah pergi, Akhirnya Gadis memberanikan diri untuk menelpon Gifali secara terang-terangan.


Drrrt...drrrtt


Karena getaran dari Ponselnya, membuat Gifali mengerjap kedua matanya yang sudah terlanjur tertidur di sandaran saung.


Gadis Incamming Call


Sontak Gifali terperanjat kaget melihat nama Gadis yang sedang ada dilayar ponsel untuk menelpon dirinya. Terlihat Maura yang sekarang sedang tertidur diatas kedua paha Gifali. Sesekali ia mengusap-usap pipi Maura yang terlihat bergumam tidak jelas dalam tidurnya.


Begitu saja tombol merah digeser ke atas. Ia tidak mungkin menjawab telepon itu, disaat Maura masih bersama dirinya.


*Maafkan aku ya Dis, Aku nggak bisa angkat telepon kamu. Nanti aku akan telepon kamu balik. Maaf aku udah salah sama kamu.


Dan maaf lagi kalau hari ini aku hanya ingin Maura*.


Lalu arah matanya diputar kembali untuk memandangi wajah Maura yang sedang tertidur dengan sangat polos membahagiakan.


Maafkan aku juga ya, Ra. Aku udah bohongi kamu


***


.


.


.


.


.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Mantanku Presdirku Suamiku


2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang



Dua Kali Menikah



Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.


Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️

__ADS_1


__ADS_2