
Haii kesayangan
Selamat pagi
Selamat baca ya
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
"Masya Allah, Mas Lukman??" Serunya dengan suara pelan.
"Binara------?" Langkah kaki Om Lukman begitu saja terhenti.
Om Lukman dengan Mama Binara saling bersitatap dalam kekagetan yang membuncang diri mereka.
Seperti ada angin kencang yang berhembus untuk menerpa kulit mereka saat ini. Masa lalu telah kembali datang.
"Mas??"
Lalu mereka berlari untuk saling menatap dan memeluk.
Papa Galih, Mama Difa dan Maura saling terperangah. Mereka terus bertanya-tanya dan saling mencerna ada hubungan apa diantara mereka.
Saling mengenal?
"Ya Allah, Mas Lukman---Mas ngapain disini?Siapa yang sakit?" Mama Binara memeluk erat dan memejamkan kedua matanya, karena mengeluarkan rasa rindu yang sudah lama terpendam.
"Anaknya temen gue sama temennya anak gue!"
"Kalau lo sendiri ngapain?"
"Mau jemput anak Mas---" Wajah Mama Binar terlihat sedikit cemas.Ia hanya menemukan Maura disini.
"Gila, Bin! Udah lama banget kita nggak ketemu! Lo ngilang kemana aja sih? Gue frustasi nyariin lo!"
Binara melepaskan tubuhnya dari pelukan itu, kedua matanya berkaca-kaca menampung rasa haru karena pertemuan mereka kembali.
"Panjang ceritanya Mas!"
"Belasan tahun ya, lo ilang gitu aja. Bikin stress gue tau nggak!"
Binara tersenyum dan menyeka air matanya. Ia begitu merasa bersalah karena sudah menghilang dari kehidupan Om Lukman.
"Maafin aku ya, Mas. Emang rezeki kayaknya, Allah nemuin kita lagi disini---"
"Terus lo ngapain disini, Bin?" Om Lukman mulai menyeka air mata Mama Binar.
"Mah...!"
"...Pah!"
__ADS_1
Suara Elang dan Gadis terdengar memanggil kedua orang tuanya. Seketika Om Lukman melepaskan tangannya dari wajah Mama Binar.
Elang menghampiri Om Lukman dan Gadis pun berdiri tegak di samping Mamanya.
"Oh iya Mas, kenalin ini Gadis. Anak aku--Dis, ayo salaman sama Om Lukman, ini teman Mama, Nak!"
"Kok bisa sih?"
Suara Gadis dan Elang mencuat bersamaan. Kening mereka berkerut-kerut menatap keanehan.
"Bin, ini?" Tanya Om Lukman dengan hati yanf berdebar. "Anak lo yang sama---"
"Jadi kamu udah kenal sama anaknya teman Mama, Dis?" Mama Binar langsung memotong cepat pertanyaaan Om Lukman.
"Iya ini Elang, Mah! Kita satu sekolah--"
"Elang, Tante..."
Elang mencium punggung tangan Mama Binar. Gadis pun melakukan hal yang sama kepada Om Lukman.
"Kamu tuh ngapain ada disini sampai pagi? Mama dan Kakek stres mikirin kamu! Untung Tante Alika telepon kasih tau kamu lagi ada disini!" Mama Binar berdecak.
"Pacarku masih didalam, Mah. Dia masih belum sadar!"
Demi apapun Elang sangat membenci wajah Gadis saat mengucap kata-kata itu.
Kedua mata Mama Binar mengerjap. "Pacar kamu? Loh kata Tante Alika, yang lagi sakit pacarnya Maura, kenapa bisa?"
Sayup-sayup ucapan Mama Binar terdengar sampai ke telinga Maura. Wanita ini hanya diam, ia tidak mau menampik ucapan Gadis. Ia hanya membiarkan saja, baginya terserah Gadis ingin berucap apapun saat ini. Karena yang terpenting sekarang, ia hanya menunggu kesadaran Gifali.
Papa Galih yang sudah duduk disamping Maura. Hanya berbisik.
"Maura mau pulang dulu? Kasian kamu, pasti sangat capek semalaman nggak tidur."
Mama Difa hanya bisa meraih tangan Maura untuk menggenggamnya. Mencoba membuat Maura dalam rasa yang tenang. Ia pun membawa Maura untuk tidur dipangkuannya.
"Tidurlah sayang, nanti akan Tante bangunkan!" Maura pun mengangguk dan merebahkan kepalanya di atas paha Mama Difa. Orang tua ini terus mengelus-elus tubuh Maura sampai ia memejamkan kedua matanya.
"Ayo kita pulang, Nak. Kakakmu juga harus pu---" Ucapan Mama Binar terhenti ketika ia menoleh dan menghampiri serta mendapati keponakannya tengah tertidur dipangkuan wanita yang tidak ia kenal sama sekali.
"Pulanglah Bu, Maura akan tetap disini katanya. Ehmmm, Gadis! Pulang lah Nak, ada kita dan Maura disini. Kalau Gifa sudah bangun nanti akan kita kabari--"
Mama Difa merubah pandangannya ke Gadis. Bukan maksud mengusir, tetapi hanya untuk menjaga perasaan masing-masing.
Mama Difa tahu kalau hati Maura masih terluka karena masalah ini. Tentu, dalam masalah ini ketiganya tidak bersalah. Yang salah adalah waktu dan keadaan.
"Nggak ah Mah, aku mau disini dulu aja!" Gadis tetap keras kepala. "Jangan buat Mama marah, Nak. Kakek mencari kalian, tau kan hari ini ulang tahun Kakek?"
Gadis diam, kedua matanya jenga karena merasa harus pulang dari sana. Ia pun berucap pelan dan terpaksa. "Iya---"
"Om, Tante. Gadis pamit ya..." Gadis menyalami Mama Difa dan Papa Galih bersamaan.
"Mas, Mba, saya titip Maura ya." Ucap Mama Binar, ia terus melihati Maura yang sedang tertidur. "Kasian kamu, Nak---" Bisiknya pelan.
"Iya Gadis, Mba. Pasti saya akan jaga Maura disini." Jawab Mama Difa mewakili suaminya.
"Mas Lukman, Elang. Kami permisi dulu ya!"
"Kapan-kapan kita bisa hangout bareng lagi kan, Bin?"
"Bisa Mas, tapi bawa anak-anak ya..."
"...Buat jodohin Elang sama Gadis ya tante?" Tanya Elang dengan senyum jenakanya.
Seketika wajah Gadis melolong, tak kala Elang berani to the point kepada Mama Binar.
__ADS_1
"Ishh!" Gadis mencebik.
Mama Binar hanya tertawa melihat dua anak mereka yang sama-sama sudah tumbuh besar. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Om Lukman setelah 17 tahun berpisah. Dia adalah teman dari ayah kandung Gadis yang pergi begitu saja ketika mengetahui Mama Binar tengah mengandung.
Om Lukman selalu membantunya kesana kemari untuk mencari Ayah Gadis, namun hasilnya nihil. Walau saat itu Om Lukman sedikit ada perasaan dengan Mama Binar, tetapi ia tidak tidak bisa menikahinya karena sudah kepalang tanggung bertunangan dengan Mama Lala.
"Iya udah kita pamit ya---"
"....Hati-hati ya Bin!"
"Hati-hati ya, Dis!"
Elang dan sang Papa beriringan mengantar kepergian mereka yang berlalu tanpa jejak.
"Lo kalau mau balik gak apa-apa, Men. Nanti gue chat kalau anak gue udah sadar."
"...Iya Mas, kasian tuh Elang. Dia pasti udah ngantuk."
Tidak dipungkiri memang, Om Lukman merasa lelah dan mengantuk. Sudah empat jam ia ada disana. Walaupun sebenarnya ia juga ingin sekali menunggu Gifali sadar dan lebih tepatnya ingin memastikan hasil tes DNA antara Papa Galih dengan Gifa.
Semoga aja Gifa bukan anak gue deh! Toh juga tadi Galih bilang, Gifa kan darahnya O. Sedangkan darah gue A plus. Kayaknya cewek yang gue temuin di Club, emang bukan Gita yang dimaksud si Galih. Amanlah
"PAH! Kok bengong sih---" Elang menghentak beberapa kali bahunya, tak kala ia terus memanggil sang Papa yang hanya melamun terpaku ke atas lantai.
"Ehh, iya Nak." Om Lukman terhenyak.
"Napa lo? Kesambet hantu Rumah Sakit?" Sambung Papa Galih.
"Kan hantunya lo--" Cibirnya. "Ya udah Dif, Lih kita berdua pulang dulu. Nanti chat gue ya, kalau Gifa udah sadar."
"Iya Men, makasi ya lo udah nemenin gue sampai pagi--"
"Sebisa gue selalu nemenin lo, asal jangan sampai ke dunia lain aja, Ck! Oke deh besan gue cabut dulu yak!"
Besan?
Kening Elang pun kembali mengerut. Anak itu pun menyalami Mama Difa dan Papa Galih bersamaan. Mereka pun pergi berlalu dari sana.
Dirasa Maura sudah pulas, Papa Galih membuka suaranya.
"Mah?"
"Hemm?"
"Papa masih kefikiran soal tes itu Mah, Papa takut kalau hasilnya gak sesuai sama yang kita inginkan!"
"Mama juga nggak tau Pah, Mama bingung! Mama juga nggak bisa bayangin, gimana kalau sampai Gifa memang benar-benar bukan anak kamu----"
Mama Difa dan Papa Galih kembali termenung dalam keheningan. Ia terus menatap kosong pintu ruang ICU.
Apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti mencintai Gifali. Jangan tinggalkan dia.
****
Duarrrrr udah tauu kan si Lukman sapa?? Dia emang penjahat kelamin guys, tapi kali ini dia masih selamat.
Guys aku mau luruskan, karena komenan kalian banyak bgt yang pgn tau sama latar belakang dr mereka.
Aku nggak akan mengulas sosok bapak dari Gifa dan Gadis, atau ada episode mereka ketemu dan tau siapa bapaknya.
Itu sama aja kayak aku ngulang cerita nya MPS. Kaya Alika yang akhirnya ketemu sama Papa Luky. Aku nggak pengen cerita novel aku jadi sama alurnya.
Sesuai outline, Gifali akan tetap punya penyelamat guys yang udah siap nerima dia apa adanya. Aku udah siapin kok sosok buat dia❤️. Stay terus ya sama kisahnya.
Berikan semangat kalian ke aku dengan Like dan Komen ya❤️
__ADS_1