GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Gifali Merancau, Papa Galih Tertohok


__ADS_3

Lanjutan guyss, episode ke dua di hari ini


Selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


Sudah satu jam berlalu dari kecelakaan yang menggemparkan dua keluarga besar mereka. Kini terlihat Maura, Mama Difa dan Papa Galih sudah berada didalam ruang ICU untuk melihat keadaan Gifali.


Sisa dari mereka hanya bisa menunggu diluar, karena di ICU tidak boleh banyak orang yang masuk.


"Ada darah yang menggumpal di kepala anak Bapak, secepatnya saya harus mengambil tindakan operasi. Dalam bahasa kedokteran kami menyebutnya dengan tindakan operasi Kraniotomi..."


Papa Galih dan Mama Difa masih fokus mendengarkan setiap penjelasan yang keluar dari mulut Dokter Spesialis Bedah Syaraf ini.


"Operasi Kraniotomi adalah proses pembedahan otak yang dilakukan dengan membuka tulang tengkorak untuk memperbaiki gangguan yang terjadi seperti cedera yang ada didalam kepala anak Bapak dan Ibu.."


"...Operasi ini bisa dikatakan operasi besar. Apalagi kasus anak bapak ini bisa mengancam nyawanya. Saya pun tidak bisa menjanjikan banyak hal, karena kegagalan di meja operasi tentu saja bisa menyerang siapa saja. Setidaknya saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk Sdr. Gifali!"


Papa Galih dan Mama Difa saling melemparkan pandangan, ada rasa takut dan gelisah ketika tindakan operasi sebagai satu-satunya jalan agar Gifali kembali pulih.


"Apakah setelah operasi, anak saya akan kembali seperti semula Dok?" Tanya Mama Difa cemas.


"Kita hanya bisa berdoa, semoga saja Gifali bisa kembali normal seperti dulu. Karena pasca operasi ini pasti akan membuat Gifali sedikit berbeda---."


Ternyata operasi yang akan dilakukan bukan sebuah jaminan bisa membawa Gifali kembali seperti dulu. Semoga Allah selalu menolong keadaan Gifali agar bisa berhasil menjalani operasi


Terlihat kedua tangan dan kaki Gifali terikat dengan kain yang mengait pada restrain ranjangnya. Tahap kesadaran Gifali saat ini adalah Derilium. Dimana kondisinya mengalami kekacauan gerakan, siklus tidur bangun yang terganggu, tampak gaduh, gelisah dan mengingau.


Tubuhnya terus meronta-ronta karena rasa sakit yang lebih dominan mencekam tubuhnya. Ia tidak bisa berfikir secara baik, hanya bisa mengerang dan terus berontak seperti orang sedang depresi.


Sungguh hati terasa hancur bagi siapa saja yang melihat keadaan Gifa saat ini!


Dalam perangainya yang sedang berpeluh keringat, ia terus merancau nama Maura. Walau saat ini wanita yang sedang ia sebut-sebut sudah mendekapnya sedari tadi.

__ADS_1


Ia terlihat meronta kembali, seraya ingin bangkit dari tidurnya. Maura dengan sekuat tenaga merebahkan kembali tubuh itu untuk berbaring dalam posisi nyaman.


Tetap saja beberapa menit kemudian Gifali akan mengulangi hal yang sama. Tetapi Maura tetap sabar untuk membaringkan tubuhnya untuk kembali ke posisi nyaman.


"Jika Bapak dan Ibu sudah bersedia, silahkan urus dulu administrasinya. Maka operasi akan saya mulai--"


"Baik Dok, beri saya sedikit waktu untuk berbicara dulu dengan istri saya."


"Baik kalau begitu, saya permisi."


Papa Galih dan Mama Difa kembali masuk kedalam ruangan kaca yang tengah memenjarakan Gifali disana.


Mama Difa kembali menangis melihat perangai Gifali yang saat ini seperti tidak tau arah. Ia merancau dan mengerang. Kadang kedua matanya terbuka paksa lalu kembali tertutup. Rasa sakit yang sekarang masih menjalar dikepalanya membuat ia bergejolak hebat.


"Ya Allah, tolong lah Anakku!" Mama Difa tidak kuasa melihat anak yang ia besarkan selama ini merasakan sakit sendirian. Walau Gifali tidak lahir dari rahimnya, tetapi ia sudah membuang kalimat ibu dan anak sambung diantara mereka. Gifali tetaplah anaknya.


"Gifa, ini Mama Nak. Sabar sayang---" Mama Difa mencoba mendekap sang Anak. Ia terus menguatkan hati Gifa dan selalu membisikan kata-kata istighfar ditelinga sang anak.


Papa Galih terus menghela nafasnya berkali-kali. Mengusap wajahnya dengan kasar, air matanya berlinang. Anak lelaki yang selalu ia banggakan tengah menjadi sesosok yang berbeda sekarang.


"Gifa akan tetap menjalani operasi! Malam ini juga---" Ucap Papa Galih.


"Iya Om, Maura setuju!"


*****


Waktu sudah menunjukan pukul 01:00 dini hari. Mama Alika dan Papa Bilmar terlihat saling merangkul di pojokan kursi. Gadis terlihat tertidur di kursi tunggu, begitu pun Gelfa, Gema dan Ammar.


Mereka terlihat lelah karena sudah berjam-jam menunggu Gifali untuk masuk ke ruang operasi.


Tinggal Maura, Ganaya, Mama Difa dan Papa Galih yang masih terjaga untuk persiapan operasi Gifali.


Seorang perawat terlihat menghampiri mereka.


"Maaf Pak, Bu. Untuk kelancaran operasi pasien, kami membutuhkan cadangan stok darah. Di Bank darah kami untuk stok darah O tinggal satu kantung, apakah Ibu dan Bapak bisa mendonorkan darah untuk anak anda?"


Kening Mama Difa, Papa Galih dan Ganaya terlihat berkerut-kerut. Seraya berfikir seperti ada hal aneh yang terucap.


"Kok golongan darahnya O, Sus?" Tanya Ganaya cepat.


Mama Difa pun terperangah. Ia lupa selama 17 tahun ini tidak pernah mengecek apa golongan darah Gifali. Ia merasa darah Gifali akan sama dengan Galih atau Gita. Karena Gifali sedari kecil adalah anak yang jarang sakit seperti adik-adiknya yang lain.


"Kok aneh ya? Yang aku tau darah Mama kan AB dan Papa B! Sedangkan aku B, Gelfa B dan Gemma AB. Kenapa Kakak beda sendiri ya?"

__ADS_1


Mendengar ucapan bias yang keluar dari bibir Ganaya membuat dada Papa Galih terasa sesak dan berat. Matanya seketika melotot dengan tajam, ia langsung berfikir yang tidak-tidak.


Sama halnya dengan Mama Difa, ia pun panik dan cemas. Disatu sisi ia sudah menerima bahwa Gifali memanglah bukan anak kandungnya namun bagaimana dengan Papa Galih. Lelaki itu hanya tahu Gifali adalah anak kandungnya. Dari benihnya bersama Gita.


Darah Mba Gita sama dengan ku, sama-sama berdarah AB. Bagaimana bisa Gifali berdarah O?


Batin Mama Difa seketika menerka-nerka.


....Apa jangan-jangan, Mba Gita?


Apa Gita selama ini sudah membohongiku?


Dalam waktu bersamaan Mama Difa dan Papa Galih saling bersitatap dalam mode hening. Sepertinya mereka saling bersautan dalam telepati jiwa.


Maura pun menoleh ke arah Gadis yang masih tertidur. Ia tahu saudaranya itu mempunyai golongan darah O. Ia harus menekan ego, untuk keselamatan Gifali.


"Sebentar ya Sus..." Maura meninggalkan mereka untuk berjalan menghampiri Gadis.


"Dis, bangun!"


"Hemm..iya Kak, gimana?" Gadis langsung terkesiap ketika ia dibangunkan dari tidurnya.


"Tolong donor kan darah mu untuk Gifa! Dia perlu darah cadangan sekarang juga, biar operasinya bisa berjalan dengan lancar nanti!"


"...Iya Kak aku mau!" Maura pun akhirnya menggandeng tangan Gadis untuk mengikuti langkah perawat yang akan mengambil darahnya untuk persiapan operasi Gifali.


"Ayo Sus, Tante, Om, Gana. Kami permisi dulu ya---"


Mereka pun berlalu dari pandangan kedua orang tua dan adik Gifali. Ganaya masih terus berfikir dengan golongan darah Gifa yang tidak sesuai.


"Pah??" Desah Mama Difa masih memeluk suaminya yang tubuhnya sedikit bergetar.


"Papa ingin tes DNA, Mah!" Kedua mata Papa Galih terlihat berkaca-kaca.


Mama Difa langsung membekap mulut Papa Galih dan membawanya jauh dari Ganaya. Ganaya yang kepalang tanggung sudah mendengar ia hanya diam dan tertohok.


"Tes DNA bukannya dilakukan untuk menyamakan----?" Kedua mata Ganaya terlihat melebar, ia menatap tajam dinding kosong yang ada dihadapannya saat ini.


"Ya Allah, apakah Kak Gifa, bukan Kakak kandungku???"


****


Komen dan Like ya Guyss

__ADS_1


❤️❤️❤️🖤


__ADS_2