
Kakak hari ini mau makan apa, Nak?
Kak, belum tidur?
Kak, ayo bangun. Nanti kamu kesiangan!
Kak, ayo belajar, jangan main hape terus!
Kak, jangan gangguin Gemma. Dia lagi tidur!
Serentetan suara sang Mama terus terbayang-bayang dalam benak Gifali. Pemuda itu terus membisu ketika Paman dan kedua kakak sepupunya tengah menikmati makan siang di meja. Mereka sudah sampai di villa Om Malik.
Tak lama kemudian terdengar suara yang tak asing kembali menghantuinya.
Kak, ayo cepat. Nanti pemancingannya penuh
Gifa, tolong ambilkan laptop Papa!
Kak, ini uang lebihan buat Kamu, jangan bilang Mama ya!
Kini suara sang Papa yang mengiris kalbunya. Lelaki yang sangat dekat dengannya. Teman nonton dan begadang di rumah kalau lagi musim bola. Teman mancing, teman main golf dan Papa tersegala-gala bagi hidupnya.
"GIFA??"
Suara Om Malik seperti melupakan semua bayangan yang sedari mondar-mandir di kepalanya. Gifa hanya mengangguk pelan dan kembali melanjutkan makanannya.
Namun bayangan suara kembali terlintas dan ini lebih dalam. Dadanya kembali linu, fikirannya tidak tenang, sejujurnya ia sedang menunggu kabar dari wanita itu. Hatinya ingin kembali untuk mempertahankan Maura, tapi kenyataan tidak bisa dibohongi. Sakit memang, rasanya seperti menyerahkan jantung yang masih hidup untuk di santap singa lapar di hutan belantara.
Kamu sedang apa, Gifa?
Iya aku kangen, kamu kangen juga gak sama aku?
Gifa jangan tinggalin aku ya, janji?"
"GIFA??"
Suara kembali menghancurkan lamunannya. Suara yang bukan keluar dari bibir Om Malik, Letta atau Aisyah. Suara yang memanggil ini adalah suara yang sejatinya ia tunggu-tunggu untuk meminta maaf dan mengobati rasa rindu.
Kedua mata Gifali membulat, melebar dan bergerak kesana kemari, sampai dimana ia putuskan untuk menoleh.
Dan
Benar saja!
__ADS_1
Wanita paru bayah yang masih saja awet muda, tengah berdiri diambang pintu yang saat ini keberadaanya tengah mereka punggungi.
"Mama?" Desah Gifali, ia pun bangkit dan menatap wajah sang Mama sebentar dari kejauhan.
Begitu pun Om Malik, ia juga menoleh dan tercengang.
"Difa?" Lelaki ini makin tidak percaya dengan lelaki yang baru muncul dibelakang Mama Difa, yang sama sekali tidak ia bayangkan, bisa menemukan keberadaan mereka disini.
"Kakak..."
"...Mah!"
Mama Difa dan Gifa sama-sama melangkah untuk saling mendekap dan memeluk. Suara tangisan dari keduanya pecah. Gifa memeluk wanita itu erat, seperti anak usia tiga tahun yang baru saja ditinggal Mamanya seusai pulang berbelanja.
"Mah..." Lirihnya. Gifa tidak bisa membohongi hatinya, ia tidak bisa pergi dari wanita ini. Wanita yang menjadi cinta pertamanya sebelum Maura. Wanita yang selalu ia puji-puji sebagai wanita tercantik didunia, tak salah kadang Ganaya dan Gelfa cemburu dan hanya mencebik.
"Kakak nakal ya!" Mama Difa berdecak marah namun pura-pura.
"Mama kan selalu bilang, kalau main jangan jauh-jauh...." Mama Difa tetap menangis, melepas pelukannya dan menghujani wajah sang anak dengan kecupan dari nya. Lega hatinya, genap sudah jiwanya. Putranya sudah bisa ia rengkuh saat ini, semoga saja Gifa tetap mau pulang untuk kembali hidup bersama Hadnan.
"Kamu tetap anak Mama, Nak. Buah hati Mama dan Papa! Mau lari kemana pun, Mama dan Papa pasti bisa kejar Kakak!"
Gifali tetap memangis dan menundukkan kepalanya. Ia malu bersikap erat seperti ini, karena setan jahat selalu mempengaruhi dan mengingatkan kalau wanita yang barusan ia peluk bukanlah Mama kandungnya.
Dia bukan ibumu!
Begitulah bisik setan durjanah yang terus menghakimi keinginan hati yang sebenarnya.
"Tapi Mah? Gifa gak pantas---"
"Sstt! Mama gak suka mendengar hal itu! Kamu tetap Putra Gifali Hadnan. Kakak tetap keturunan dari Hadnan. Maafkan Papamu, Nak. Papa khilaf---Tapi jangan pernah lupakan, kasih sayangnya selama ini ke kamu. Papa mu hanya sedang cemburu waktu itu!"
Gifali terperanjat. "Cemburu, Mah?"
"Hemm..." Mama Difa terlihat salah tingkah. Sudah dipastikan Gifa akan tahu napak tilas masa lalunya bersama Om Malik.
Om Malik menghampiri mereka berdua dan langsung mendapatkan tatapan tidak bersahabat dari mantan kekasihnya itu.
"Kamu dan Bunda memang Paman dan Tantenya, tapi jangan lupakan kami. Aku dan Galih tetap Mama dan Papa Gifa!"
"Harusnya kamu gak terpancing dengan hati Gifali yang masih terombang-ambing, disulut emosi dan kekecewaan!"
"Gimana perasaan kamu, kalau kejadian ini menimpa kamu? Masih bisa untuk tidur dan makan? Seperti yang saat ini kamu lakukan? Bisa berkumpul di satu meja dan menikmati makan siang??"
__ADS_1
"Kamu tau? Aku gak tidur dari kemarin, belum ada satu butir nasi pun yang bisa aku telan! Hanya karena memikirkan Anakku dan tega-teganya kamu membawa ia pergi!"
Mama Difa terus memuntahkan segala unek-uneknya kepada lelaki yang pernah ia cintai dimasa lalu. Tatapan kesal terus mengalir dari wajahnya.
"Aku benar-benar gak habis fikir sama kamu!"
Bukan hanya Om Malik yang terus diam dan menerima umpatan dari Mama Difa, tetapi juga Gifali. Anak ini terdiam lama memperhatikan Mama Difa yang sedang marah. Bukan karena ia takut melihat Mamanya seperti ini, namun ia sedang berfikir. Mengapa bisa sang Mama berbicara dengan panggilan aku-kamu kepada Pamannya. Jelas-jelas Gifa tahu, bahwa selama ia besar Mama Difa dan Om Malik tidak boleh bertemu dengan sang Papa. Tentu akan ada kecanggungan diantara mereka tidak seakrab seperti ini sekarang.
"Sepertinya Mama dan Om Malik sudah saling mengenal ya?" Ucapan Gifa begitu saja menerobos ucapan Mama yang masih mengumpat.
Sontak membuat mereka hening. Kedua mata Mama Difa, Om Malik dan Om Fajar seketika terkesiap. Kalau menurut Om Fajar, bukan hanya mengenal namun lebih dari itu.
Om Malik tetap memasang perawakan tenang dan bijak seperti dulu. Lelaki itu tidak pernah tersulut api walau Mama Difa terus memaki dirinya.
"Kamu salah faham Difa, awalnya memang aku mau pergi kesini. Karena Letta sedang libur sekolah. Dan aku ingin mengajak Gifali seperti biasa nya aja kan, aku selalu bawa anak kamu untuk ikut keluarga ku berlibur, dan---"
Gifali menyelak cepat. "Kakak yang menceritakan semua yang sudah terjadi kepada Om, Mah! Kakak mau ikut sama Om, makanya Kakak disini sekarang---Ini semua bukan salah Om Malik!" Gifa membantu Om nya untuk lolos dari kebisingan mulut Mamanya yang terus menyudut tanpa henti.
"Hhhh..." Mama Difa mendengus kesal, ia masih menatap Om Malik dengan tatapan malas namun malu.
"Tante apa kabar?" Letta dan Aisyah menghampiri dan mencium tangannya.
"Makin cantik aja kakak sama adik, sekarang gimana kuliah kalian??" Mama Difa merangkul Gifa, Letta dan Aisyah untuk membawanya menuju sofa. Ia tidak perduli lagi dengan Om Malik yang habis ia maki lalu ia tinggal begitu saja.
"Kamu yang antar Difa kesini, Jar?" Fajar pun mendekat dan mengayuh kan tangannya untuk berjabat tangan dengan Om Malik.
"Sambil ngopi bisa Pak ngomongnya?" Om Fajar tertawa. "Saya haus banget Pak!"
Om Malik pun tertawa. "Oke baik, ayo kita ngopi bareng..."
*****
Dua jam kemudian, Letta dan Aisyah sedang tidur siang di kamar dan Om Fajar sudah pamit pulang beberapa belas menit yang lalu. Kini diruang tamu ada Mama Difa, Om Malik dan Gifali. Mama Difa memang sengaja menunggu keadaan sepi dan tenang lebih dulu. Ia ingin menceritakan asal muasal Gifali sesungguhnya. Gifa tetap menunggu penjelasan tentang jatidirinya dari mereka berdua dan pastinya ia ingin menanyakan lebih dalam ada hubungan apa diantara Mama dan Pamannya.
"Mah?" Desah Gifa. Ia tidak sabar.
Mama Difa menatap wajah Om Malik dan lelaki itu hanya memberi anggukan sebagai kode agar Mama Difa sudah boleh memulai dan membuka percakapan ini.
Wanita itu pun akhirnya meraih sebuah dompet dan mengeluarkan sebuah foto yang sudah usang, ada gambar tiga orang disana tengah menatap ke arah kamera dengan wajah bahagia.
"Yang ini siapa, Mah?" Gifa menunjuk ke salah satu gambar orang yang ada disana.
****
__ADS_1
Ada part selanjutnya, tunggu komen dan like yang banyak. Aku akan UP lagi❤️❤️