
Selamat siang guyss
Selamat baca
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Brag.
Maura turun dari dalam mobil dan membanting pintu kendaraan itu dengan kasar. Meninggalkan sang Papa yang masih berada di dalam kursi kemudi. Anak perempuan itu berlari sambil menangis tersedu-sedu.
Hatinya terasa perih, jiwanya kacau. Ia sedih karena sang Papa telah menyakiti hati lelaki yang amat ia sayangi. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat Mama Alika dan Ammar sedang berada di meja makan.
"Kak? Kenapa Nak?" Tanya Mama Alika sambil meletakan mangkuk sup ke meja.
Lalu berjalan menghampiri anaknya. Namun Maura hanya memberikan wajah sendu, lalu kembali melangkah untuk berlari menaiki anak tangga.
Dan
Bragg.
Pintu kamarnya dibanting begitu saja. Bersamaan dengan munculnya langkah Papa Bilmar yang sudah sampai di pertengahan ruang tamu.
"Pah, Maura kenapa? Kok nangis kayak gitu?" Tanya Mama Alika sambil meraih tas kerja dan membantu suaminya melepas jas kantor.
Papa Bilmar hanya menghela nafasnya, memijit-mijit pangkal hidungnya, lalu lelaki itu merebahkan dirinya untuk duduk di sofa.
"Pah, kenapa?" Mama Alika mengulangi pertanyaannya.
Ia pun ikut duduk disebelah suaminya. Menunggu penjelasan mengenai sikap Maura yang terlihat sangat kacau.
"Tadi Papa jemput Kakak. Dan ada Gifa disana..."
"Hah? Terus?"
Wajah Papa Bilmar terlihat seperti orang yang sedang menyesal. Jika sejak tadi Maura yang merajuk sudah ditebak pasti setelah ini istrinya yang akan murka karena sikapnya yang keterlaluan kepada Gifali.
__ADS_1
Sambil melonggarkan dasi dan sedikit membuka kancing disekitar kerah lehernya. Ia kembali menatap istrinya dan berujar.
"Papa bilang sama Gifa, kalau mulai saat ini harus menjauhi Maura. Papa bilang sama dia, kalau Papa gak akan ngerestuin mereka menikah!"
"APA??"
Mama Alika seketika bangkit dan berdiri, ia terus menatap kesal kepada suaminya.
"Keterlaluan kamu, Pah! Jahat banget sih!"
"Papa nggak jahat, Mah! Papa kayak gini karena sayang sama Kakak!" Papa Bilmar ikut emosi.
"Kamu kan tau Pah, Maura sangat sayang sama Gifa. Tega kamu pisahin mereka?"
Mama Alika kembali bersuara lebih tinggi. Ia merasa Papa Bilmar sudah kelewat batas. Setiap malam sebelum tidur, Mama Alika terus merayu suaminya, namun begini hasilnya.
"Papa melakukan semua ini hanya untuk kebahagiaan Maura nantinya! Kamu tinggal nurut aja dengan keputusan aku! Karena aku Papanya!"
"Aku juga Mamanya, jadi aku berhak untuk menentukan masa depan anakku! Walaupun aku bukan ibu kandungnya!"
"Karena sejak kecil sampai sebesar itu, aku yang urus! Aku yang membesarkan dia! Jadi kamu nggak bisa egois, untuk memutuskan semua ini sendirian!!"
Mama Alika terus berdecak marah. Kedua matanya menyemburkan kekecewaan amat dalam ke netra hitam polos milik suaminya.
"Dengarkan aku, Bilmar!" Terlihat wajah Mama Alika mengerang penuh emosi. Hatinya terasa tertusuk duri ketika melihat Maura menangis seperti tadi.
Lelaki itu terkejut ketika istrinya menyebut namanya tanpa awalan apapun. Dengan nafas yang menderu-deru ia kembali berucap.
"Kamu masih ingat kan ketika kamu berpisah denganku selama 12 tahun? Kamu tau pasti bagaimana rasanya dipisahkan, bukan? Bagaimana rasa kecewanya kamu, ketika Mama kamu dan Papa ku mencoba memisahkan kita? KAMU INGAT KAN??"
Ammar bangkit dari meja makan dan melerai Mama dan Papanya yang masih menatap dalam keributan.
"Mah udah ya, ayo kita ke atas." Ammar merangkul tubuh Mamanya untuk dipisahkan sementara dari sang Papa.
"Ayo Mah!" Ammar mengusap air mata mamanya yang akhirnya jatuh menetes dengan pelan.
Papa Bilmar hanya bisa terduduk diam. Entah mengapa dadanya terasa sesak dengan sekumpulan perkataan istrinya yang habis-habisan mencercanya.
Ia kembali mengingat bagaimana perjalanan cintanya bersama sang Istri yang penuh lika-liku dan segala terjangan badai masalah yang selalu datang silih berganti.
*****
Terlihat triple G sudah pulang tanpa Gifali diambang pintu. Membuat kening Mama Difa mengkerut. Ia berjalan cepat dari dapur sambil melepas celemek yang menggantung ditubuhnya.
"Kakak kalian mana?" Tanya Mama Difa menghampiri ketiga anaknya yang baru sampai. Mereka pun mencium tangan Mamanya secara bergantian.
"Kakak mau ke sekolahan Kak Maura, Mah." Jawab Gana.
"Padahal udah dilarang kok, Mah. Tapi Kakak tetap mau kesana---" Sambung Gelfa.
"Pakai apa kesana?" Tanya Mama Difa panik.
"Pakai Gojek katanya."
"Ya Allah kok pakai motor sih!" Mama Difa semakin cemas.
__ADS_1
"Kan Mama udah bilang, dijagain dulu Kakaknya. Kakak kalian tuh belum sembuh betul, Nak..."
"Assalammualaikum..."
Suara yang tengah mereka perbincangan akhirnya terdengar. Terlihat Mama Difa mengelus dadanya karena merasa lega ketika melihat anak lelaki nya sudah sampai dirumah.
Mama Difa langsung berjalan menghampiri Gifali dengan tatapan bingung penuh tanda tanya.
"Kakak kenapa, Nak?" Tanya sang Mama ketika air mata tengah menggenang di pelupuk mata Gifali.
"Mah..."
Gifali langsung melolongkan kedua tangannya di bawah lengan sang Mama. Memeluk wanita itu dengan erat sambil melepaskan segala isakkan tangis yang meledak-ledak.
"Kenapa sayang? Gifa kok nangis?" Tanya Mama Difa dengan sangat lembut sambil mengelus punggung yang ditutupi oleh tas punggungnya.
Dengan kelembutan seperti ini membuat Gifali semakin menangis terseguk-seguk. Mama Difa merasa aneh karena selama membesarkan Gifali belum pernah melihat anaknya sesedih ini. Menangis dan menjadi lemah seperti itu. Tentu tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Ma--ura, Mah...!" Ucapnya terbata-bata.
"Iya Maura kenapa, Nak?"
"Om Bilmar pisahin aku sama Maura, Mah. Om akan kirim Maura ke London setelah kelulusan...tidak akan ada pernikahan, Mah." Desahan panjang beriringan dengan kucuran air mata yang terus turun dengan deras.
"Ya Allah, Kakak..." Seru ketiga adiknya. Mereka ikut menatap sendu dan nanar ke arah Kakak lelaki nya itu. Mereka bertiga pun berlari untuk menghampiri Mama dan Kakaknya yang saling berpeluk.
Ganaya, Gelfa dan Gemma pun mendekap melingkar untuk memeluk mereka. Ikut merasakan bagaimana kesedihan hati Gifali. Mereka bertiga ikut menangis.
"Ya Allah cobaan apa lagi ini?" Batin Mama Difa terus menyeruak.
Hatinya kembali linu dan sakit untuk kedua kalinya. Baru saja beberapa jam yang lalu ia menenangkan hati suaminya yang kacau akan kebenaran jatidiri Gifali, namun saat ini dirinya harus kembali menenangkan sang anak yang sedang merana karena kehilangan sang kekasih.
"Sabar ya Kak, Mama akan tetap pertahankan Maura untuk Kakak..." Ucap Mama Difa.
"Iya Kak, kami juga akan bantuin Kakak!" Seru Gelfa, Gana dan Gemma bersamaan.
Dari balik pintu kamar terlihat Papa Galih tengah menatap sedih sang anak yang sedang mengeluh dan merintih. Anak lelaki yang bukan darah dagingnya.
Anak lelaki yang sangat ia cintai tanpa kurang satu rasa pun. Setega itu kah ia ingin menghilangkan Gifali dari dalam hatinya? Bisa kan ia hidup tanpa anak itu?
Sekelibat bayangan ketika Gifali masih bayi, ketika tumbuh gigi, bisa memanggil namanya dengan tertatah-tatah dan sedang berjalan belajar serta sedang berlari mengejar-ngejarnya di taman. Semua bayangan indah itu terus menusuk relung hati dan sanubari nya yang paling dalam.
Dengan Jantung yang berdegup kencang, dengan dada yang masih terasa sesak dengan hati yang masih terasa hancur. Ia paksakan langkah kakinya untuk menghampiri anak lelaki itu dengan pelukan. Ia buang semua perasaan sakit itu dengan memeluk anak lelakinya yang nakal.
"Papa..." Seru Gifa melepas pelukannya dari sang Mama lalu beralih memeluk tubuh kekar lelaki yang selama 17 tahun ini ia anggap sebagai Papa kandungnya.
Sungguh menangis di dada sang Papa sangat menyejukan dan menenangkan hati dan jiwa Gifali dari semua masalah yang saat ini tengah mencekik lehernya.
"Alhamdulillah Ya Allah..." Desah Mama Difa sambil merangkul ketiga anaknya yang lain untuk kembali mendekap memeluk Gifa dan Papa Galih.
Kesyahduan terlihat ketika mereka berenam saling memeluk dalam tangis. Sunguh pandangan dilema yang dramatis dan sangat memilukan hati. Semoga saja halilintar kedua untuk Gifali tidak akan pernah terjadi.
Semoga saja!
*****
__ADS_1
Like dan Komen ya guyss.