GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Hati Maura Seindah Lembayung Senja


__ADS_3

Haii aku kembali


Selamat baca ya guyss


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


"Ra...?"


Begitulah seruan yang terucap dari bibir Gifali. Ia melambaikan tangannya yang masih melemah. Menatap rindu kepada wanitanya. Karena Maura mempunyai hati seindah lembayung senja. Ia pun menurut dan mengiyakan kemauan Gifali. Menghampiri lelaki yang sedang membuat salah kepadanya.


Maura meraih derjapan telapak tangan Gifa yang terbuka dan meringkukan jemarinya untuk saling menggenggam. Wanita cantik ini tidak pernah berubah, ia tetap memberi senyum termanisnya walau saat ini hatinya sedang merana.


"Ayo duduk sini.."


Gifa menepuk sisi yang masih kosong disampingnya. Lagi dan lagi Maura mengikuti kemauannya. Gifali mencoba bangkit untuk duduk berselonjor. Ia ingin lebih dekat dengan tubuh Maura.


"Kenapa jam segini baru datang, Ra? Kamu udah makan?"


Tangan Gifa menyelipkan helaian rambut Maura ke balik daun telinganya. Memperlihatkan pipi mulus dan putih secara keseluruhan. Serta leher jenjang Maura yang membuat ia bercaku padu dengan gelora asmara yang sedang membuncang.


"Cantik.." Ucapnya.


Maura berdesir. "Siapa tuh? Gadis?"


"Ya kamulah..kan kamu yang jadi pacar aku!"


Gifa bersiap mencium pipi Maura, namun dengan cepat Maura memalingkan wajahnya dan Gifali hanya bisa mencium aroma dari helaian rambut yang sudah ada terkibas tepat diwajahnya.


Gifa terkejut, dia merasa aneh. Kenapa sikap Maura bisa berubah. Jelas-jelas Maura akan selalu diam dan menurut saja apa yang akan dilakukan Gifali kepadanya.


Cukup lugunya sama Gifali aja ya, Ra


"Hey sayang, kenapa?" Tanyanya sambil meraih dagu Maura. Ia kembali menatap manik mata cokelat kepemilikan Maura yang terlihat berkaca-kaca.


"Kamu kenapa, Ra? Aku punya salah lagi?"


Entah mengapa melihat Gifali yang seperti ini, membuat hati dan jiwanya terusik. Perkataan sang Papa terus saja mengganggunya dan sikap Gadis yang tidak mau melepaskan Gifali, menjadi pelengkap dalam masalah ini.


Dari semua masalah ini, hanya ada satu solusi. Yaitu Maura harus melepaskan Gifali. Namun Maura selalu menolak dan menolak. Ia rasa semua ini bisa diperbaiki. Tetapi ia enggan untuk melawan dan hanya membiarkan masalah ini begitu saja tersapu oleh angin.

__ADS_1


"Apa kamu pernah mencium Gadis, seperti halnya padaku? Apakah kamu pernah berciuman dengannya?"


Maura menatap Gifali penuh harap bahwa kata tidak lah yang ingin ia dengar. Namun jika iya, Maura akan melepaskan Gifali detik ini juga.


"Demi Tuhan dan demi nama Mama Papa ku, Ra. Aku nggak pernah nyentuh dia!" Gifali berbicara dengan reluhan hati yang lembut, membuat Maura tesirap dalam ucapannya.


"Aku pacaran sama dia belum lama. Aku memang jahat, aku salah! Telah membuat dia menjadi pilihan ketika aku merasa kamu nggak mungkin bisa aku raih lagi..."


"Tapi nggak tau kenapa ketika sama Gadis, rasanya nggak sama kaya lagi sama kamu, Ra! Dari situ aku faham, aku hanya cinta sama----"


"Gadis---?" Ia kembali menggoda Gifali lalu menyeka air matanya.


"Ra..please!" Gifali memelas. Ia menatap wajah Maura dengan tatapan sendu.


"Kamu yang aku sayang setelah Mama..." Gifali berucap kembali, ia terus menggenggam tangan Maura dan sedikit menunduk kan kepalanya.


"Apa aku nggak bisa dipercaya lagi sama kamu, Ra?"


Maura memberikan senyuman tipis lalu mengangguk.


"I--ya, aku percaya!" Maura dengan cepat mengakhiri perdebatan ini. Ia tidak mau Gifali menjadi tegang, merasa bersalah dan menganggu kesembuhannya saat ini.


Maura mengusap perban yang ada dikepala Gifa. "Masih sakit emang?"


"Sakitan hati aku, Ra. Kamu cuekin kayak gini..."


Maura memutar bola matanya, ia mendengus jenga. "Cuekin dari mana? Kalau aku cuek, aku nggak akan bela-belain datang kesini, malam-malam!"


"Buktinya kamu nggak mau aku cium, kan?" Ucap Gifa dengan nada yang di sedih-sedih kan.


"Udah nih."


Gifa masih memejamkan kedua matanya. Entah mengapa kecupan dan aroma bibir Maura sangat menenangkan hatinya. Dada mereka pun berdebar seperti mendamba sesuatu yang lebih dari ini.


"Gifa?" Hembusan nafas Maura makin menjadi-jadi, Gifa membuka matanya dengan cepat. Menatap lekat netra milik Maura. Mereka Saling menatap, saling mendekat.


Dan


Pum.


Bibir Gifa sudah membenam di dataran bibir Maura. Wanita itu memejamkan kedua matanya. Menunggu apa yang akan dimainkan oleh Gifali.


Sungguh hal yang memabukan untuk keduanya. Gifa semakin hanyut dalam perasaan, sepertinya rasa sakit dikepalanya telah menghilang.


Gifa meraih tengkuk Maura dan menekannya. Lama-lama kecupan itu menjadi panas. Gifali berhasil membuat Maura membuka lebar bibirnya. Lidahnya mengeksplor rongga mulut Maura, membuat wanita itu mengeluh dan terbawa untuk mengimbanginya.


"Uhh.." Maura dan Gifali saling melepaskan ciuman tersebut mana kala mereka sudah sesak karena berebut oksigen.


Maura menundukkan wajahnya kebawah. Ia terlihat sedikit menyesal sudah melakukannya lagi.


"Habis lulus, aku mau nikahin kamu, Ra.." Ucapnya mengangkat dagu dan mengelap kebasahan yang masih ada disekitar bibir Maura. "Kita nikah ya, Ra.." Gifa mengulang kembali permintaannya.


Kedua mata Maura membulat, wajahnya semakin memerah. Ia terdiam begitu lama, melamun dan akhirnya tersadar kembali.


"Nikah, Gifa?" Gifali mengangguk.

__ADS_1


"Iya, kita nikah, Ra! Kamu jadi istri aku..."


Maura masih tetap mematung, diam dan membisu.


"Sayang...?" Ucap Gifa membangunkan Maura yang kembali terdiam.


"...Tapi bukannya habis lulus, kita mau lamaran dulu, terus kuliah dulu baru nikah?" Sambung Maura.


"Aku nggak mau nunggu lama untuk nikahin kamu, Ra. Kamu nggak usah khawatir kita tetap bisa kuliah, kok! Aku akan melamar kerja di kantor Papa sebagai sampingan. Biar aku punya penghasilan buat menghidupi kamu!"


Kedua mata Maura terang benderang, seolah ucapan sang Papa begitu saja mental ketika memaksa Maura untuk meninggalkan lelaki ini. Lelaki yang baru saja meminta dirinya menjadi istrinya.


Seketika jiwa Maura melayang-layang bagai bunga-bunga yang sedang menari-nari di taman hijau yang luas. Hatinya kembali mekar, nama Gifali kembali hadir menyirami relung hati Maura yang sedari kemarin mulai redup. Cintanya yang sedikit berongga terhadap Gifa kini kembali utuh dan tegap.


"Iya Gifa aku mau!" Maura langsung memeluk Gifali dengan erat.


"Mau apa?" Tanya Gifa menggodainya.


"Mau jadi istri kamu--" Bisiknya.


Gifali dan Maura sambil memeluk dan memejamkan kedua mata.


"Coba ulang, kok aku nggak dengar sih?" Gifa mulai usil.


Maura bergeliat manja. "Kamu tuli emang? Aku udah sekencang ini kamu nggak dengar?" Jawab Maura.


"I-ya aku udah tuli, Ra. Semenjak kamu nggak pernah bilang sayang lagi ke aku---"


"Bisaan kamu tuh..." Balas Maura.


"Ayo cepat ulangin, Ra---"


"Apanya yang diulangin?" Maura semakin membuat Gifali gemas.


"Mau aku telanjangin disini, atau----"


"Ih, apa sih kamu!" Maura mencubit Gifali.


"Ya udah ayok cepetan!" Gifa tetap menggoda Maura. Ia suka jika membuat wanita itu bergeliat manja ditubuhnya.


"IYA GIFA AKU SAYANG KAMU! AKU TERIMA LAMARAN KAMU! AKU MAU JADI ISTRI KAMU!!"


Suara Maura begitu saja menggema dan nyaring. Membuat Gifali semakin memeluknya dengan erat. Mencium rambut wanita ini berulang kali.


Lalu


Tak lama kemudian,


Rasa bahagia itu terhancurkan begitu saja, mana kala ada seruan nyaring memanggil nama mereka.


"MAURA---GIFA??"


***


Like dan Komen ya guyss

__ADS_1


__ADS_2