
Lanjutan guyss
Selamat baca yaa
❤️❤️❤️
"Oh iya Kak, besok kan hari minggu. Mau nggak kamu antar Mama kerumah anak yang tadi tolong Mama di jalan?"
"Kamu memang kenapa sayang?" tanya Papa Bilmar dengan kening berkerut-kerut ke wajah istrinya. "Oh iya, Mama belum cerita ke Papa ya?"
"Ya, kan kamu sibuk aja dari tadi bolak-balik nungguin anak kamu--"
"Jadi Maura bukan anak Papa nih?" selak Maura sewot.
"Udah, udah. Jadi adu mulut kayak gini!" Mama Alika melerai guyonan Papa dan Anak.
"Terus gimana, Mah?" Maura bertanya dengan rasa cemas.
Akhirnya Mama Alika menceritakan semua yang terjadi kepada dirinya tadi siang.
"...Jadi gitu ceritanya Pah, Nak! Untung aja ada anak perempuan itu, mama juga udah catat sih alamatnya. Mama janji sama dia mau bawain kue buatan kamu. Mumpung besok hari sabtu, Bagaimana? Kakak mau kan?"
Maura hanya bisa menutup kembali bibirnya tak kala sang Papa menyerobot duluan.
"Papa juga siap antar Mama! Pokoknya mulai besok jangan sendirian bawa mobil, kan bisa minta aku untuk antar kamu, Al!" Papa Bilmar mulai khawatir.
"Iya sayang, maaf ya. Kamu jadi khawatirin aku---" balas Mama Alika.
Kedua orang tua Maura, selalu terlihat mesra didepan semua anak-anaknya. Mereka selalu memberikan contoh yang baik, agar suatu hari nanti Maura dan Ammar bisa mencontoh mereka dalam menjalani rumah tangga.
Cintanya Mama dan Papa kuat banget sampai sekarang! Itu karena mereka saling mencintai, terus kalau aku gimana?
Maura terus melamun, ia hanya bisa menatap wajah bahagia Mama dan Papa nya secara bergantian.
Bahkan sampai sekarang aja, Tuhan belum juga mempertemukan aku sama kamu! Semua ini memang hanya buang-buang waktu!
Ada air bening yang akan turun dari kedua kelopak matanya. Begitu ringkih jiwanya, entah mengapa untuk menghapus nama GIFALI amatlah sulit untuknya.
"Udah ya Mah, Pah. Kakak tinggal dulu, mau mandi!" Ucapnya dengan sedikit wajah sedih. Ia pun bangkit dari sofa dan berlalu menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya.
Walau ia tidak menangis secara langsung. Tapi sebagai seorang Ibu, Mama Alika tahu anaknya sedang murung. Bagaimana pun selama berbelas tahun, Mama Alika selalu mencurahkan perhatian dan cintanya kepada Maura.
Walau Maura terlahir bukan dari rahimnya sendiri. Masalah ini memang sudah jadi rahasia umum. Karena Mama Alika menjadi istri kedua dari sang Papa, ketika Mama kandung Maura meninggal dunia.
"Pah, kamu kalau depan Maura. Jangan singung-singgung soal pacar deh! Kasian anaknya! Mama ngerasain banget dulu waktu nungguin kamu tanpa kejelasan!"
"Mama fikir, Papa nggak ngerasain hal yang sama? 12 tahun aku hidup dalam bayang-bayang kamu!"
"Ya mungkin emang udah garis tangan kita kayak gini. Tapi kalau Maura? Kalau penantian dia nggak kaya cerita kita gmna, Pah? Aku nggak tega lihat dia nanti--"
Papa Bilmar hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak bisa berucap apa-apa. Ia hanya bisa berdoa, supaya Allah mau memunculkan Gifali atau melupakan sosok pemuda itu dari hati anaknya.
"Doakan aja anak kita ya, Mah. Semoga bisa berhati besar jika kenyataanya nanti tidak seperti penantiannya!"
"Amiin Pah--"
__ADS_1
****
Krek
Pintu pun dibuka. Kamar tidur dengan wallpaper micky mouse menempel di semua dinding, bentuk tempat tidur miliknya terlihat seperti kerajaan istana dan sekelompok boneka barbie dan micky mouse terpajang dimana-mana.
Maura hempaskan tubuhnya begitu saja di atas ranjang dengan kedua tangan yang membentang. Ia terus menatapi bola lampu yang sedang menyoroti ke arahnya. Ada suara sesegukan menahan tangis dari wajahnya.
Gadis aja udah punya pacar. Padahal aku lebih tua dari nya walau hanya beberapa bulan. Tapi kenapa sampai sekarang aku masih terus mengharapkan kamu, Gifa?
Hati aku selalu menolak kalau ingin melupakan dan menghanpus kamu dari kepala dan hatiku!
Datanglah Gifa, penuhi janji kamu!
Sungguh drama apa yang sedang terjadi. Ia terus mengharapkan lelaki yang kini sudah bersama wanita lain. Sepertinya badai besar akan mengikuti langkah kalian.
****
Sesuai rencana pagi ini Mama Alika membawa kedua anaknya dan suaminya untuk mengantarkan dirinya ke rumah Gelfani.
Demi sang Mama, Maura sudah bangun dari subuh untuk membuat banyak kue yang akan ia berikan kepada keluarga Gelfani.
Papa Bilmar terlihat melambatkan laju mobilnya, ketika ia sudah sampai ke kawasan perumahan yang menjadi catatan alamat ditangan istrinya.
"Wah perumahan elite juga ya---" Ujar Ammar terus melihati sekeliling perumahan dari dalam kaca mobilnya.
Berbeda dengan Maura yang masih sibuk menatap layar Ipad nya, ia menyerahkan toko nya kepada salah satu karyawan hari ini. Karena hari minggu, toko kue pasti akan ramai pengunjung.
"Rayamond estate no 12 Hadnan Family"
Mendengar ucapan sang Mama, Maura pun beralih dari Ipadnya untuk mengikuti arah mata kedua orang tuanya yang sedang tertegun melihati nama tersebut.
"Kok kayak nggak asing ya sama namanya?" Tutur Papa Bilmar.
"Iya ya Pah, Mama juga kayak pernah dengar, tapi dimana ya?"
"Memang Mama sama Papa kenal dengan Hadnan Family?" tanya Ammar.
"Enggak, Nak! Mama lupa. Oh ya, Ammar coba kamu turun, tanya sama penjaga rumahnya. Kita boleh masuk apa tidak--"
"Baik, Mah!" Ammar pun turun dari pintu belakang mobil, ia terlihat sedang berbicara dengan satpam.
Lalu
Dari arah berlawanan
Terlihat mobil Papa Galih membelok untuk masuk ke gerbang rumah. Ada Papa Galih, Mama difa dari dalam mobil sedang bertanya-tanya, mobil siapakah yang tengah terparkir sekarang disamping pintu gerbang rumah mereka.
Setelah mendapat ijin dari Papa Galih, akhirnya Satpam memperbolehkan mobil Papa Bilmar untuk ikut masuk ke dalam.
Ammar kembali menuju mobil.
"Ayo Pah masuk, itu yang punya rumahnya baru sampai!"
"Alhamdulillah untung aja kita tepat waktu--" wajah Mama Alika mengembang bahagia.
__ADS_1
Tak berapa lama, mobil Papa Bilmar pun sudah mendarat dibelakang mobil Papa Galih. Terlihat Papa Galih dan Mama Difa tengah berdiri menunggu siapakah tamu yang sedang datang berkunjung. Mama Alika, Papa Bilmar, Ammar dan Maura pun turun dari mobil.
Drrt..drrtt
Ponsel Maura bergetar.
Maura berhenti dari langkahnya, lalu ia memberi kode kepada orang tuanya untuk masuk kedalam terlebih dahulu.
"Iya hallo..hallo??"
Karena suara si penelpon tidak jelas, Maura memutuskan untuk mencari sinyal. Ia berjalan terus sampai ke luar gerbang.
Langkah Mama Alika begitu saja terhenti ketika tubuhnya sudah bersejajar dengan tubuh Mama Difa. Mereka saling mengerutkan kening, menerka-nerka siapakah orang yang saat ini sedang ada dihadapannya. Mengingat-ngingat sambil memejamkan kedua matanya.
"Ya Allah, Mba Alika??"
"...Mba Nadifa??"
"Mas Bilmar??"
"...Mas Galih??"
Terdengar suara sorai gembira dari bibir mereka masing-masing. Saling berpeluk dan merangkul. Mereka merasa bahagia karena kembali dipertemukan.
Terlihat hanya wajah Ammar yang masih melongo melihat keakraban mereka.
Mereka udah saling kenal, Kok bisa ?
****
.
.
.
.
Nah guyss, gimana nih pertemuan Maura dan Gifa ?? tungguin ya.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️
__ADS_1