
Haii aku kembali
Selamat baca ya
❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terlihat Maura sedang berjalan menuju apartemen nya kembali. Pagi-pagi sekali ia mendatangi pusat perbelanjaan untuk membeli stok makanan dan pakaian ganti untuk Gifali serta dirinya. Ia meninggalkan Gifali sebelum lelaki itu terbangun dari tidurnya.
Menjelang subuh, tubuh Gifa terserang demam tinggi. Lelaki itu mengigau dan berkali-kali mimpi buruk. Untunglah ada Maura yang setia menjaganya. Mengompres dan membasuh tubuhnya agar demam itu terhempas dan pergi.
"Gifa?" Panggil Maura ketika langkah kakinya sudah sampai di ambang pintu kamar yang terbuka begitu saja.
"Kok kosong?" Ia melihat Gifa sudah tidak ada di atas kasur, hanya ada gusaran seprai dan selimut yang menjuntai ke bawah. Ia pun menoleh ke arah kamar mandi yang pintunya terbuka.
"Kosong juga.."
Seketika itu pula hati nya was-was. Jantungnya berdetak tidak karuan. Kedua matanya terbelalak terus mencari-cari keberadaan Gifali. Ia takut lelaki itu pergi meninggalkannya.
Kemudian ia keluar dari kamar berjalan ke arah meja makan dan meletakan semua belanjaannya disana. Maura pun melangkah lagi kesana kemari untuk mengecek keberadaan Gifali. Mulai dari kamar mandi tamu, dapur, dan semua sisi lantai bawah, tetap saja tidak menunjukan batang hidung lelaki itu.
"Ya Allah Gifa, kamu kemana?" Desahnya.
"Oh mungkin saja diatas!" Maura langsung berlari untuk menaiki anak tangga ke lantai dua. Ia kembali menyusuri dua kamar yang ada disana.
"Gak ada juga!" Maura terlihat menghentakkan kakinya karena merasa sedih tidak menemukan Gifali.
"Tega kamu ninggalin aku, Gifa!" Lirihnya frustasi, air mata begitu saja menetes. Hatinya kesal dan sedih. Namun semua itu terbuyar kan ketika ia mendengar ada sayup-sayup suara orang yang tengah bernyanyi dengan pelan sambil memainkan gitar dari arah balkon.
Ia melangkah cepat menuju pintu balkon dan menggesernya. Air mata yang sedang menetes begitu saja surut, nafas yang tidak beraturan begitu saja berubah menjadi nafas kelegaan.
"Ya Allah, Gifa. Kamu buat aku hampir mati sayang..Aku cemas nyariin kamu!" Ucap Maura lembut sambil berjalan menuju kekasihnya yang sedang duduk di kursi sambil memainkan gitar dan bernyanyi. Gifa hanya menoleh dan tersenyum ke arah Maura.
"Sini, Ra.." Gifali menepuk kursi disebelahnya. "Kamu cari-cari aku ya.." Gifa pun tersenyum manja.
Maura mengangguk dan duduk disebelahnya. "Aku pinjam ya, tadi lihat dia nganggur, ya aku mainin aja." Ujar Gifa membawa arah mata Maura kepada gitar yang sedang ia mainkan.
__ADS_1
"Jangan kan pinjam, buat kamu, juga gak apa-apa kok. Apa mau aku belikan yang lebih bagus dari ini?"
Gifali hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Gak usah, Ra."
"Oh iya, kamu abis dari mana? Aku bangun kamu udah gak ada.." Ucapnya lagi.
"Aku berbelanja makanan dan beli baju ganti buat kita berdua. Kamu mandi ya trus ganti baju nya. Masa mau pakai seragam sekolah terus---"
Gifali melihat ke arah tubuhnya sekarang. Dia tertawa pelan. "Aku dekil ya? Aku udah jadi gembel sekarang, Ra! Kamu yakin masih mau sama aku?" Gifali kembali tertawa.
"Jangan ngomong kayak gitu terus! Gak baik!" Maura mencubit pipi Gifali. "Kamu tetap gagah kok ! Kamu juga gak gembel! Ya udah kalau gak mau ganti baju juga gak apa-apa." Maura tersenyum. Ia tidak ingin membuat Gifali tersinggung.
"Ck!" Gifali tersenyum.
"Ya udah cium dulu nih, nanti aku mandi." Gifa menunjuk pipi kirinya.
"Muach.." Maura dengan cepat melakukannya. "Ya udah sana, nanti, selagi kamu mandi, aku mau masak."
"Makasi ya, Ra. Kamu tetap mau nerima aku yang kayak gini. Tapi kayaknya---"
"Udah, udah! Aku gak mau dengar kamu rendahin diri kamu lagi! Cinta gak butuh itu! Kita juang sama-sama ya."
Maura mengusap-usap tangan Gifa. Lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Gifa. Meletakkan kepalanya di bahu sang kekasih. "Kemana pun kamu pergi, tetap bawa aku ya, Gifa. Kamu juga harus ingat janji kamu! Kita tetap akan menikah.."
Gifali termenung, lelaki itu hanya diam dan menatap langit dengan pandangan nanar. Sejujurnya ia ingin sekali menikahi wanita itu, tapi ia bingung karena ia merasa tidak pantas. untuk bersanding dengan Maura. Ia merasa kecil hati dan tidak percaya diri.
"Gifa?" Tanya Maura lagi ketika ucapannya tidak digubris.
"Iya kan?" Maura meyakinkan lagi.
Gifa tetap tidak mau menjawab, ia hanya memberi senyuman manis namun tipis. Ia sudah mempunyai tekad dan rencana setelah ini.
Gifali menurunkan gitar dari pahanya. Ia beralih untuk mendekap Maura. Mengecup dahinya sangat lama. Membuat kedua mata wanita cantik itu terpejam. Ada tetesan air mata yang turun pelan dari ekor mata Gifali.
"Apapun yang terjadi, jangan benci aku ya, Ra!" Pintanya.
"Kok kamu bicara gitu, emangnya kenapa?" Maura masih memejam kedua matanya karena Gifa belum mau melepas kecupan itu.
"Ikutin aja mau aku ya...gimana?"
"Iya Gifa. Aku gak akan benci sama kamu, yang penting kamu harus tepatin janji ya.." Jawabnya dengan senyum mengembang.
Gifali melepas kecupan dari dahi lalu turun ke untuk menjamah kedua kelopak mata Maura kemudian menempelkan dua hidung mereka yang sama-sama bangir. Aroma nafas mereka pun akhirnya saling beradu. Gifali mulai meraih pangkal dagu Maura dan memiringkan kepalanya. Ia bersiap untuk mendaratkan kedua bibirnya di bibir Maura.
Maura hanya diam dan menunggu apa yang ingin Gifali perbuat. Tapi nyatanya Gifali enggan berciuman. Ia hanya mengusap bibir Maura, wanita itu pun dengan cepat membuka kedua matanya ketika bibir nya terasa hanya diusap.
"Kenapa Gifa?" Tanya Maura memastikan. Gifali hanya tersenyum dan menggeleng. "Nanti aja ya, pas udah nikah. Hehehehe." Gifali tertawa, ia bercanda.
Maura pun ikut tertawa malu. "Eh iya, hehehe." Wajahnya memerah karena menahan malu.
Gifali tidak ingin mengoleskan luka lebih dalam di hati Maura. Ia tahu, Maura pasti akan terbayang-bayang dengan kejadian di hari ini. Sungguh akan menyakitkan perasaannya.
"Ya udah sana masak, aku udah lapar, Ra.."
__ADS_1
"Oh iya lupa, ya udah ayo kamu mandi ya!"
Maura bangkit dan menggandeng tangan Gifali untuk kembali masuk kedalam. Wanita yang mempunyai hati seindah lembayung senja itu terus mengedarkan senyum bahagianya.
Berdua seperti ini bersama Gifali sebelum menikah, bisa memasak makanan, menyiapkan keperluan dan bisa tidur di kasur yang sama dengan Gifa, tentu tidak pernah ada dalam benaknya.
Ia tahu sikapnya salah. Lebih memilih tinggal bersama Gifa dan melupakan keadaan orang tuanya yang tengah frustasi mencari keberadaannya. Polisi belum bisa mencari keberadaan Maura karena belum dikatakan hilang dalam waktu 24 jam. Maura terus mematikan ponselnya agar tidak bisa di hubungi.
"Ini handuk dan baju gantinya. Nanti seragam kamu letakan saja di keranjang, habis masak aku akan mencucinya!" Ucapnya sambil menyerahkan baju dan handuk kepada Gifali.
"Kamu gak telepon Mama dan Papa kamu, Ra?"
"Hemm...Udah kok." Jawabnya cepat
"Beneran??"
Kedua mata Gifali membulat untuk memastikan bahwa apa yang diucapkan Maura adalah benar. Maura mengangguk dengan anggukan terpaksa. Tentu saja ia belum menghubungi orang tuanya dari kemarin malam.
"Aku bilang menginap di rumah teman, ada kerja kelompok." Jawab Maura asal, ia tidak ingin Gifali semakin merasa bersalah karena telah membawa dirinya ke dalam suatu masalah.
"Nanti aku antar pulang ya, biar Mama dan Papa kamu gak cemas."
"Aku mau pulang, kalau kamu juga pulang kerumah!"
"Ra..."
"Maafin mereka ya, please! Mereka tetap keluarga kamu, Gifa! Mama, Papa dan adik-adik kamu...tega kamu ninggalin mereka?"
Demi apapun perasaan Gifali saat ini kembali goyah. Wajah keluarganya terlintas lagi di kepalanya. Seperti ada telepati yang datang, ia terasa mendengar suara Mama nya tengah lirih memanggil-manggil namanya. Lelaki itu termenung dan melamun lagi.
"Udah sana mandi.." Maura mendorong tubuh Gifali untuk melangkah paksa ke dalam kamar mandi. Ia tidak ingin Gifali semakin larut akan masalahnya.
****
Drrt Drrt Drrt
Ponsel di atas nakas terus bergetar. Membuat Gadis yang sudah terlelap begitu saja bangun dan membuka matanya dengan cepat. Ia terus menguap sambil merentangkan tangannya untuk meraba-raba nakas dan meraih sebuah ponselnya disana.
My Lovely Cousin Incamming Call
Gadis seketika bangkit untuk duduk diatas ranjang. Ia menatap nama itu lekat-lekat dilayar ponselnya.
"Kak Maura? Telepon jam segini, ada apa ya? Gak biasanya telepon subuh-subuh?" Gumamnya bingung.
"Ya Hallo Kak?" Jawab panggilan tersebut.
Lalu tidak lama kemudian, ia teriak dengan nyaring.
"HAH?APA??"
Entah bagaimana keadaan Maura setelah ini, apakah ia masih bisa tersenyum cantik esok pagi.
****
__ADS_1
Tepati janji kamu, Gifa!