
Demi kalian nih aku balik lagi
selamat baca yaa
❤️❤️❤️❤️
Jam istirahat kembali terdengar. Guru-guru berlalu dari kelas, para siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin, perpustakaan atau mengobrol disekitaran taman. Ada yang bergosip dan berkumpul karena membahas pelajaran. Sorai gembira terdengar dari mereka.
Lain hal dengan pemandangan saat ini, antara Gifali dan Gadis. Sesuai insial namanya yang sama, Gadis berharap Gifali akan tetap menjadi miliknya. Namun sepertinya semesta berkata lain, mungkin Gadis akan berjodoh dengan lelaki yang tidak seinsial dengan namanya.
Hanya ada keheningan di keduanya. Gifali tetap hangat menyapa sang kekasih, bagaimanapun sebelum Maura kembali, Gadis lah yang ada untuk menemani hari-hari pemuda ini. Memberinya kasih dan sayang serta cinta dan semangat.
Gadis sesekali melirik ke arah Gifali yang terus menatap lurus lapangan di sekolah. Ia terdiam agak lama, angin panas sepertinya terasa diantara mereka. Tiba-tiba degup jantung Gadis begitu saja terasa hebat.
Wajah Gadis terlihat murung, ia seperti wanita yang tidak punya harapan lagi.
"Dis?" Seru Gifali. Ia masih lurus menatap lapangan.
"Iya Gifa?" Jawab Gadis pelan, entah mengapa hatinya terasa sedih kembali.
Gifali menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya ke udara, menutup matanya perlahan lalu melihat ada bayangan Maura tengah tersenyum kepadanya.
Gifali menoleh dan memiringkan tubuhnya lalu meraih tangan Gadis untuk ia genggam. Gadis hanya memandang nanar ketika tangannya di genggam. Ia masih menunduk, ia tidak tahan untuk memperlihatkan kedua matanya yang ingin menangis.
"Sebelumnya aku minta maaf, Dis! Kamu itu istimewa buat aku, kamu banyak baiknya! Aku yang jahat sudah membawa kamu masuk kedalam duniaku!" Gifali masih menggenggam tangan Gadis.
Gadis masih menundukkan kepalanya kebawah, seketika ada air mata yang menggenang, Ia sudah tahu akan kemana arah pembicaraan kekasihnya ini.
"Aku akan menikahinya, Dis! Aku akan melamarnya---"
Seketika ucapan Gifa terhenti, ketika Gadis langsung mendongakkan wajahnya untuk menatap Gifali.
Daun-daun kering begitu saja beguguran mengenai kepala mereka. Tidak ada lagi suara sepasang merpati yang saling bersautan dengan indah di udara.
Hancur sudah hatinya, gelap sudah jiwanya.
Brrr
Jatuhlah semua air mata itu dengan deras di kedua pipi Gadis. Ia menangis kembali, hatinya pilu dan linu.
Kedua mata Gifa sudah berkaca-kaca, ia merasakan bagaimana sakitnya seperti Gadis sekarang. Gadis menangis terisak-isak, ia hanya menggelengkan kepalanya berharap ini hanya mimpi buruk belaka.
Genggaman tangan itu terlepas begitu saja, Gadis meremas tepian rok, ingin ia menampar Gifali.
__ADS_1
Masih dalam sesegukan, Gadis akhirnya bertutur.
"Kenapa harus aku, Gifa?"
"Kenapa?"
"Kenapa harus aku, yang kamu sakiti?"
"Kenapa harus aku yang mengalah, KENAPA??"
Gadis terus menangis, ia memegang kedua lengan kekasihnya. Berharap membangunkan Gifali yang hanya bercanda.
Wajah Gifali sendu, kedua matanya kini siap meneteskan air mata seperti Gadis. Gadis terus mencoba menghentak-hentakkan bahu Gifali. Namun lelaki ini tetap dalam keputusannya.
"Baru saja Mamaku memberi izin untuk aku mempunyai kekasih, baru saja aku memberitahu Kakekku dan Kakakku kalau aku punya kamu!"
"Namun sekarang kamu tega memberi arang panas di hati dan jiwaku, Gifa!!"
Gadis semakin terisak, ia terus menangis menderu-deru.
Ganaya yang melihati mereka dari jauh pun ikut menangis. "Maafkan Kakakku ya, Kak! Aku tau kamu sakit, tapi akan semakin sakit kalau kamu tau, kamu tidak akan ada tempat dihati Kakakku."
"Maafkan aku Dis, aku nggak punya pilihan! Mempertahankan kamu, sama aja aku akan menyakiti kamu lebih lama---"
Gadis kembali merengkuh kedua pipi Gifali dengan tamparan keras secara bergantian dari tangannya. Mungkin tamparan kemarin saja masih terasa di benak Gifa. Namun Gifa tetap tersenyum, karena ia tahu dirinya pantas di perlakukan seperti ini.
"AKU BENCI KAMU GIFA! SEUMUR HIDUP AKU MEMBENCIMU, semoga kamu bisa berhagia dengannya diatas penderitaanku! Aku kabulkan doamu, KITA PUTUS!"
Gadis Mendorong tubuh Gifali sampai terdorong ke sandaran bangku. Gadis bangkit dan berlalu, ia berlari menuju kelas sambil terus menyeka air mata dengan rambut yang terus terhantam dengan kibasan angin.
Gifali hanya bisa memandangi sosok bayangan Gadis yang sedang frustasi.
Aku telah berhasil menanamkan luka dihatinya. Membuat kebencian abadi diantara kami
Tapi aku tahu, kamu lebih kuat! Maaf, Dis! Aku harus melalukan ini
Karena aku tidak bisa kehilangan Maura lagi
Langkah cepat Gadis terhenti begitu saja ketika Gana mulai menghadangnya.
"PUAS GANA? AKU SUDAH menyerahkan Kakakmu demi wanita itu! BERBAHAGIALAH!!" Gadis kembali berlalu dengan air mata yang tidak mau padam.
Ganaya hanya diam memandang Gadis dengan wajah sendu. Gana adalah saksi dari perjalanan cinta Gifali, Maura dan Gadis.
__ADS_1
Ia pun berjalan memutar arah untuk menghampiri sang Kakak yang masih ada dibangku taman. Gifali terlihat sedang menunduk ke bawah. Ganaya mengelus bahu sang Kakak.
"Ayo Kak, aku antar Kakak ke kelas!"
Ganaya meraih tangan Gifali untuk mengantarnya ke kelas. Ia tahu hati Kakaknya sedang sedih, walaupun Maura sudah menguasai hati Gifa, tetap saja perpisahan dengan Gadis sungguh menyakitkan.
Hanya dengan patah hati dan kehancuran jiwa bisa membuat kita terus belajar, agar bisa menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.
Semoga saja Gadis Artanegara bisa menjadi wanita tangguh untuk mencari kekasih hati yang benar-benar menginginkan dirinya.
"Maafkan aku, Gadis! Tolong jangan benci aku!"
***
.
.
.
.
.
Nah guys nggak tau kenapa aku nangis loh sama part ini💔💔. Kalian pasti pernah kan diposisi Gadis dan Gifali, diputusi atau memutusi...
Terharu aku sama komenan kalian, ternyata udah masuk banget ke cerita ini. Sabar dulu ya guyss mereka pasti akan bertemuu🔥🔥🔥
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️
__ADS_1