
Haii cinta-cinta, selamat malam
Maaf aku telat datang, karena casan ponsel ku tertinggal di rumah sakit, jadi aku harus balik lagi kesana..dan baru bisa update✌️
Oke deh, selamat baca yaww❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
Terlihat Gifali masih menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Ia sedang berbaring dengan masih menggunakan pakaian lengkap sehabis pesta makan malam barusan. Ia terus menatap layar ponselnya. Mencari-cari kabar sang pujaan hati. Sampai saat ini Maura belum juga bisa dihubungi.
Kamu kemana sih, Ra! Buat aku cemas!
Tanpa menunggu lama, satu-satunya jalan untuk mengakhiri kekhawatirannya adalah mendatangi rumah Maura malam ini juga. Ia tidak perduli walau jam saat ini sudah menunjukan pukul 22:00 malam. Tidak perduli jika akan melewati jalanan sepi yang penuh resiko kejahatan.
Gifa akan menerjang berbagai pedang sekalipun, apabila memang itu terjadi. Ia akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan kabar Maura malam ini.
Gifali bangkit dari ranjang lalu meraih sebuah jaket dilemari untuk ia pakai di tubuhnya. Setelah kunci motor diambil dari meja, ia pun melangkah cepat menuruni anak tangga.
"Kak?"
Seketika Gifali menghentikan langkahnya lalu menoleh ke sumber suara.
"Kamu belum tidur, Gel?"
"Aku abis ambil ini dari kulkas, Kak---" Gelfa menunjukan mangkuk masker miliknya.
"Hemm..ya udah sana tidur!"
"Kakak mau kemana?" Langkah kaki Gifa pun terhenti. Ia kembali menoleh.
"Mau kerumah Kak Maura dulu, Kakak khawatir soalnya dari sore ponselnya nggak bisa dihubungi!"
"Tapi ini udah malam, Kak. Kalau nanti Mama sama Papa nanyain gimana?"
"Kamu aja yang bilangin ya, Kakak harus buru-buru! Kunci lagi pintu ya---"
Gifali pun memutar kunci pintu dan membukanya. Ia pun berlalu dengan sepeda motor untuk menyambangi rumah Maura.
Gelfa melaksanakan perintah Kakaknya untuk mengunci pintu utama terlebih dahulu, kemudian melangkah menuju kamar tidur orang tuanya.
Tap.
Langkahnya pun terhenti tepat didepan pintu kamar Mama Difa dan Papa Galih, sebelum tangannya terayun untuk mengetuk. Ia lebih dulu menempelkan telinganya di daun pintu. Seperti ada keributan kecil didalam. Gelfa semakin penasaran, ia lebih memilih untuk menguping dibanding menjalankan perintah dari Gifali.
"Pah, pokoknya kamu harus bicara sama Lukman! Aku nggak mau, dia keceplosan bicara sama Lala tentang Gifa!"
"...Iya Mah, Lukman udah janji kok. Buktinya Lala aja nggak tau kan siapa anak kita sebenarnya?"
"Hah??" Wajah Gelfa menegang, ada beberapa kerutan di dahinya. "Maksudnya apa ya?" Gelfa terus mendengarkan percakapan orang tuanya.
"Mama takut Pah, Lukman nggak bisa pegang rahasia rumah tangga kita!"
"...Tenang Mah, Lukman bisa dipercaya kok--"
"Eh tunggu deh! Ini tuh Lukman yang dimaksud, calon mertua aku kan? Papanya Fadil? Terus apa hubungan beliau sama Kak Gifa??"
__ADS_1
Hati Gelfa semakin berliku. Jantungnya berdegup kencang, ia merasa ada sesuatu hal yang tidak beres.
"Mama tenang aja ya. Seumur hidup nggak akan ada yang tau kalau Gifa itu anakku dari Gita! Kamu tetap lah mama yang sebenarnya untuk Gifali, putra kita...."
Duarrrrrr
Bagai suara bom yang tengah meledak dan menyapu banyak nyawa untuk langsung menghadap Illahi, ada Gelfani yang langsung tersungkur kebawah karena tubuhnya terasa lemas. Telapak kakinya begitu saja panas, ia tidak mampu berdiri.
Seketika kedua mata Gelfani melotot tajam. Ia terperangah dan kaget. Haluan nafasnya kencang dan kasar.
"APA?? Kak Gifa? Gita? Siapa itu Gita? Papa pernah menikah lagi?"
Gelfa tetap menggelosor dilantai dengan telapak tangan yang ia letakan di dadanya. Hatinya terasa begitu sakit dan jiwanya luka. Ia tidak bisa membayangkan kalau Kakak lelakinya itu bukanlah anak dari sang Mama.
Air matanya menggenang dan dengan cepat ia berlari menuju kamar tidurnya. Mangkuk masker ia tinggalkan begitu saja dilantai, mungkin ketika Mama Nadifa akan membuka pintu ia akan merasa was-was apakah ucapannya dengan sang suami sudah diketahui.
Bragg.
Pintu kamar nya seketika di gebrag dengan keras. Membuat Ganaya menoleh ketika melihat sang adik tengah menangis dan langsung menaiki tangga menuju kasurnya.
Ganaya bangkit dari kasur, ia berdiri dan berjinjit untuk melihat sang Adik yang tengah menangis tersedu-sedu di atas kasur susun mereka.
"Gelfa? Kamu kenapa dek?" tanya Ganaya. Ia sedikit menaiki tangga agar lebih jelas melihati wajah sang adik.
Gelfa tidak mau menjawab, ia terus memalingkan wajahnya untuk tidak melihat wajah Ganaya. Ia terus menangis dan air matanya pun membasahi bantal.
"Dek?" Ganaya mengelus kaki sang Adik. Gelfa tetap aja bergeming.
"Kamu berantem sama Fadil?"
"Kamu marah karena Papa mau menjodohkan Fadil denganku?"
"Jangan difikirkan Gel, aku nggak akan merebut Fadil darimu! Aku nggak suka sama dia, dia itu nakal persis kaya kamu----"
"Kenapa kamu semakin nangis, Gel? Jangan begini, nanti Mama dan Papa datang kesini!"
Gelfani saja yang perangainya seperti cewek tomboi ketika mendengar masalah Gifali, ia langsung menangis dengan sangat urakan. Bisa dibayangkan bagaimana jika Ganaya yang pertama kali mendengarnya tentu anak ini tidak hanya akan menangis, tetapi juga pingsan tidak sadarkan diri.
"Ya udah kalau nggak mau bicara! Jangan nangis lagi, aku nggak bisa tidur kalau kamu berisik kayak gini!" Ganaya berdecak kesal.
Ia kembali berbaring di kasur bawah dengan menarik selimutnya.
Aku nggak menyangka sama sekali, kalau Kakak bukanlah Kakak kandungku! Kita hanya saudara tiri.
Mama dan Papa tega merahasiakan semua ini dari Kak Gifa dan juga kami semua!
Lalu siapa Gita? Bagaimana hubungannya dulu dengan Papa??"
Rangkaian lirihan batin terus berkibar didalam relung jiwanya. Gelfani tetap menangis karena dirinya merasa dibohongi oleh kedua orang tua mereka.
"Benarkah, kamu bukan Kakakku?"
****
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh dengan memakan waktu sekitar 45 menit. Gifali telah sampai di depan rumah Maura.
Karena izin dari satpam rumah, Gifali akhirnya bisa masuk kedalam pekarangan rumah. Rumah yang begitu mewah bernuansa etnik seperti gedung putih negara Amerika serikat.
Tok tok tok
Gifali memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah itu. Hatinya sudah tidak bisa kompromi jika harus menunggu besok.
Karena merasa tidak ada jawaban. Ia pun mengetuk kembali.
__ADS_1
Tok tok tok
Greg.
Seketika pintu utama terbuka lebar, terlihat seorang lelaki paru baya tengah berdiri melihati perangai Gifali saat ini.
"Cari siapa kamu?" Lelaki ini lebih cepat menyodorkan pertanyaan. Terlihat dari wajahnya ia kurang menyukai Gifali.
"Saya Gifali, Kek. Maaf jika malam-malam bertamu, saya hanya ingin bertemu Maura. Apakah Maura nya ada?"
"Ada perlu apa, malam-malam mencari cucu saya?" Tanya lelaki ini.
Lelaki paru baya ini adalah Kakek Maura dan Ammar. Namanya Kakek Bayu, ia adalah Ayah dari Papa Bilmar.
Dari Maura kecil, Kakek Bayu sangat posesif dengan cucu perempuannya itu. Ketika dirinya masih kuat membawa mobil, Maura akan selalu diantar jemput olehnya kemanapun cucunya akan pergi.
Namun setelah penyakit stroke melanda membuat ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat. Beruntunglah ia mempunyai menantu seorang perawat, jelas saja Mama Alika akan selalu merawat dirinya.
Hari-hari tuanya, hanya ia isi untuk beribadah dan jalan-jalan ke tempat yang ia inginkan. Tak jarang Kakek Bayu sesekali akan keluar kota untuk berwisata dengan para teman lansia nya.
"Sudah pulang sana! Sudah malam, cucu saya sudah tidur!" ucap Kakek Bayu.
Sebenarnya Kakek Bayu adalah Kakek yang sangat baik kepada siapapun, ia hanya tidak suka jika Maura sudah didekati oleh lelaki.
Sebelum Kakek Bayu memaksa Gifali untuk pulang dan mau menutup pintu, ada suara yang muncul secara tiba-tiba. Membuat Kakek Bayi menoleh dan seketika membuat wajah Gifali merekah senang karena kedatangannya malam ini tidak sia-sia.
"Gifa? Ayo masuk Nak! Maura sedang ada dikamarnya bersama Tante Alika---" Papa Bilmar memberi angin segar agar Gifali bisa masuk. Ia pun meraih tangan Papa Bilmar untuk diciumnya.
"Makasi ya Om, Kek. Gifa ke atas dulu!"
Bilmar mengangguk senyum dan mempersilahkan Gifa untuk bergegas ke kamar putrinya. Berbeda dengan Kakek Bayu yang hanya menatap kesal kepada sang anak.
"Ayo Bilmar antar Papa ke kamar ya--" Bilmar menutup pintu utama lalu berbalik untuk mengantar sang Papa ke kamarnya.
***
.
.
.
.
.
Terharu aku sama komenan kalian, ternyata udah masuk banget ke cerita ini. Sabar dulu ya guyss mereka pasti akan bertemuu🔥🔥🔥
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️
__ADS_1