GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Tolong buktikan rasa cinta mu kepadaku, Mas!


__ADS_3

Selamat siang guyss


Selamat baca


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"BRENGSEKK! SIALANN!!"


"Berani-beraninya wanita itu menipu ku, selama ini!


"BAJINGANN kamu GITA!! Arrgh!!"


Papa Galih terus memaki-maki ibu kandung Gifali yang sudah berani membohongi hidupnya selama belasan tahun. Wanita yang pernah merusak kebahagiaan antara dirinya dengan Mama Difa.


"Jangan begini sayang. Tenang..."


Mama Difa ikut berjongkok untuk menenangkan suaminya yang masih duduk menggelosor dilantai dengan histeris sambil menjambak-jambaki rambutnya. Mengepalkan tangannya dan meninju barang apapun yang ada disana.


Hati lelaki itu terasa hancur dan sakit ketika mengetahui bahwa hasil tes DNA Gifa dengan dirinya tidak cocok sama sekali.

__ADS_1


"GIFALI BUKAN ANAKKU, MAH!" Seru Papa Galih sambil menangis. Kedua matanya memerah, otot di leher nya tercetak jelas ketika ia terus mengeluarkan suara nyaring dari kerongkongan.


"Gita membohongiku, Mah! Wanita jalangg! Wanita sialann! Ia tega memberikan benih orang lain untuk aku rawat selama ini!"


Papa Galih bangkit berdiri dan menghancurkan barang yang ada di kamar mereka untuk menyalurkan rasa kesal dan kecewanya.


Trangg.


Semua benda dihancurkan dan dilemparkan ke segala arah. Mama Difa terus beringsut memegangi tubuh suaminya untuk menyudahi apa yang terus dilakukan oleh suaminya. "Sayang, udah! Jangan seperti ini, bagaimanapun ini lah kenyataannya. Kita harus menerima nya dengan lapang dada." Ujar Mama Difa sambil menangis, ia terus merintih dan memelas agar Papa Galih bisa tenang dulu.


Papa Galih menoleh menatap wajah istrinya. "Apa kamu bilang? Lapang Dada??" Kedua mata Papa Galih berapi-api. Ia mendelik tajam dan memegang kedua bahu istrinya.


"Mama bilang apa tadi? Papa harus lapang dada?? Melihat bangkai betina itu telah mempermainkan perasaanku dan pernikahan kita selama berbelas tahun! Membuat kamu mengecam aku menjadi penghianat seumur hidup!"


"Demi Tuhan Pah, Mama udah relakan semua yang terjadi! Mama sudah mengikhlaskan pernikahanmu dengan Gita dulu...." Ucap sang istri diiringi dengan tetesan air mata.


"Lihat kan wanita jalangg itu! Dia berhasil membuat aku mencintai dan menyayangi Gifali. Membuat aku menjadi satu-satunya ayah untuk anak lelaki itu!"


"Aku berikan hidupku! Cintaku! Perasaanku! Aku banggakan dia kepada semua orang! Aku berikan namaku untuknya! Lihat dia sekarang....DIA BUKAN ANAKKU!"


Mama Difa terlihat memejamkan kedua matanya dan meringis ketika semua perkataan penuh kekecewaan tengah ditumpahkan secara nyaring oleh suaminya.


"Papa, istighfar sayang. Ini sudah takdir rumah tangga kita. Kamu boleh marah, boleh kecewa. Tapi Gifa tetap anak kita, buah hati kita!" Mama Difa mengucap lembut kepada suaminya. Menyeka air mata Papa Galih yang semakin deras. Berusaha untuk mengimbangi ke gamangan hatinya.


"NGGAK MAH!! Walaupun aku mencintai Gifa, tapi tetap dia bukan anak kandungku. Aku akan mengembalikannya kepada Malik. Biar Gita makin tersiksa di neraka sana!" Papa Galih tetap bersikeras untuk menjalankan rencananya. "Setiap aku ingat Gifali, aku seperti teringat Gita tengah menertawakan ku, Mah!!" Papa Galih kembali menangis.


Begitu hancur dan patah hatinya. Menimang-nimang Gifali dari semenjak bayi lalu memberikan kasih sayang secara utuh dalam kelengkapan materi, dan lainnya tentu itu sangat menyakitkan. Membuat remuk jiwanya sebagai orang tua.


Mama Difa akhirnya bersujud dikedua kaki suaminya. Ia rela menjatuhkan harga dirinya demi Gifali. Anak yang sama sekali tidak ada lahir dari rahimnya.


"Mah?Ayo bangun! Aku bilang BANGUN!!" Papa Galih menghentak, melepaskan kakinya dari rengkukan tangan Mama Difa. Ia pun kembali memegang kaki suaminya dan berujar.


"Demi cintamu padaku, Mas! Demi kasih sayangmu kepadaku! Tolong, jangan lepaskan Gifali!" Mama Difa tetap merintih dan menangis.


"Apa yang kamu rasakan sekarang, itulah yang kurasakan dulu. Ketika aku salah mengetahui kamu menghamili Gita dan menghadirkan Gifali ditengah kita. Tapi karena rasa cintaku untukmu, maka aku berkorban untuk terus mendampingimu merawatnya dengan baik! Demi berbakti kepadamu, aku terima Gita hidup bertiga dengan kita dulu. Itu semua ku lakukan demi rasa sayangku kepadamu, Mas!"


Mama Difa mendongakkan wajahnya menatap wajah suaminya yang masih juga menatapnya dari atas.


"Aku mencintai Gifali seperti aku mencintai ke tiga anak kita yang lain. Tolong jangan pisahkan aku dengannya, Mas!"

__ADS_1


"Tolong buktikan rasa cinta mu kepadaku, Mas!"


Suara Mama Difa terdengar lembut dan sedikit penekanan diakhir kalimatnya. Bibirnya terlihat bergetar, wajahnya sudah terlihat pucat karena terus menangis dan menahan rasa takut terhadap suaminya. Meminta belas kasih dengan cara seperti ini, sungguh membuat pilu dan tidak pernah terbayangkan oleh Mama Difa.


Jika saja Gifali melihatnya, ia pasti akan memeluk wanita itu dengan erat dan bersujud dikakinya untuk mengucap tanda terima kasih.


Papa Galih mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memejamkan kembali kedua matanya untuk mengambil keputusan yang bisa melegakan hatinya.


"Hm..." Nafas yang tercekat kembali ia keluarkan dengan deruan panjang. Seketika itu pula ia meraih lengan istrinya untuk bangkit. Memeluk Mama Difa dengan erat.


"Sudah jangan menangis! Walau hati ku masih sakit dan berat. Tapi demi kamu bahagia. Aku nggak punya pilihan lain!"


Mendengar ucapan membahagiakan itu sontak membuat Mama Difa terkejut. Ia menarik kepalanya untuk menatap wajah suaminya penuh dengan pengharapan.


"Benar Mas?"


Papa Galih mengangguk berat.


"Benar Mas?" Mama Difa mengulangi kembali.


"Hem.." Papa Galih kembali mengangguk.


"Tapi aku masih belum bisa bertatapan dengan anak itu dulu, aku butuh waktu!"


"Iya Mas, gak apa-apa. Aku faham, kamu pasti akan bisa menerimanya seperti aku dulu."


"Makasi ya Mas, aku sayang kamu---"


Mama Difa kembali memeluk tubuh suaminya. Melepaskan rasa sedih, kecewa dan bahagia disana. Namun berbeda dengan Papa Galih, dadanya masih terasa sesak dan berat. Ia terus mengutuk Gita dalam batinnya. Membenci dan murka kepada wanita yang sudah tega memberi arang kehancuran kepada istrinya dulu.


Papa Galih mencoba menerima Gifali, karena dirinya sayang anak itu dan sebagai bukti cinta untuk sang istri serta memperhatikan bagaimana perasaan ketiga anaknya yang lain. Tentu mereka akan bersikap sama seperti Mama Difa.


Papa Galih masih bersyukur karena Mama Difa kala itu tidak meninggalkannya, tetap jalan berdampingan menerima segala kesalahan yang tidak pernah ia buat. Coba saja kalau Mama Difa tetap memilih pisah dan bercerai darinya. Tentu saat ini Papa Galih akan amat menyesal jika peristiwa ini telah datang memberikan kenyataannya.


Namun Tuhan lebih tahu, bahwa Mama Difa lah wanita sempurna yang bisa memberikan cinta luar biasa untuk Gifali, dibanding Gita. Ibu kandungnya sekalipun.


****


Aku nangis nulis part ini tuh! Sedih sama Galih dan Difa💔💔💔💔

__ADS_1


terus sedih sama yang ini juga👇


Yang baca nya banyak nih tiap hari, tapi yang like nya dikit, abis baca pada lupa apa gimana ya? sedih aku tuh, gak ada cemangat🥺🥺


__ADS_2