
Haiii selamat siangg
Aku kembali
Selamat baca ya guyss
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Lelaki yang sedari tadi diucap-ucap didalam doa semua orang akhirnya tersadar. Kedua matanya perlahan terbuka jelas. Ada sisa-sisa kebasahan air bening disekitar kelopak matanya yang tebal.
Bibirnya keluh lama-lama garis senyumnya mulai naik ke atas ketika melihat kedatangan orang-orang yang sudah ia rindukan mulai sampai menghampirinya.
"Mah..." Kata awal yang terucap dari bibirnya. Mama Difa langsung memeluk Gifali.
"Iya Kak, ini Mama Nak..."
"Pah..."
Walau masih lemah, ia mengusahakan tangannya untuk terangkat sedikit agar bisa menggengam tangan sang Papa.
"Iya Nak, Papa disini.." Papa Galih mencium kening Gifali dan membalas genggaman tangan itu. Air matanya telah berganti menjadi air mata haru penuh bahagia.
Kedua orang tua ini terus mendekap sang anak.
Dan
Jap.
Rayuan jenakanya kembali muncul. "Hei..cantik!" Ia kembali menggoda Maura.
Wajah tegang Maura kini berubah menjadi hangat. Ia bernafas lega, ketika Gifali benar-benar sudah kembali seperti dulu. Tetap merayu dan memuji-muji kecantikannya.
Mama Difa dan Papa Galih melepas dekapan itu dan memberikan ruang kepada mereka untuk melepas rindu. Gifali melebarkan kedua tangannya dengan sisa-sisa energi yang masih ada untuk mendekap tubuh Maura.
Maura menyeka air matanya lalu berhambur kedalam dekapan Gifali.
"Aku kangen..."
"...Aku lebih kangen kamu, Gifa!"
"Masa?" Senyum sarkas Gifa merekah.
Gifa tetap mengunci tubuh Maura dalam pelukannya. Betapa bahagianya Maura lelaki yang ia tangisi semalam suntuk kini sudah mendekapnya lagi.
Walau hatinya masih kecewa, sepertinya ucapan rindu yang mencuat dari Gifali sedikit meredam rasa itu dari jiwa dan hatinya.
"Aku cubit ya perut kamu!" Maura mencebik.
__ADS_1
"Mau, tapi cubitnya pakai bibir kamu ya?"
"Hemm..."
Deheman dari Mama Difa dan Papa Galih begitu saja terdengar dan mengalihkan dunia anak baru gede ini. Maura pun dengan cepat melepas dekapan itu, ia sedikit menunduk karena malu. Menjauhkan tubuhnya sedikit dari Gifali.
"Ra...sini!" Gifali kembali mengangkat tangannya untuk meraih tangan Maura.
"Kakak..." Mama Difa dengan cepat menarik tubuh Maura.
"Nanti lagi ya, sekarang Maura nya pulang dulu kerumah. Mau tidur, makan dan mandi dulu."
"Tapi tante?" Maura menoleh.
"Mah, tapi aku masih kangen sama Maura---"
"Masih ada waktu, nanti kan Maura bisa kesini lagi!" Sahut Mama Difa.
"...Iya Kak, lihat tuh Maura, wajahnya pucat. Kelelahan karena semalaman menunggu kamu!" Sambung Papa Galih.
Walau ia masih rindu wanita ini dan selalu ingin menahannya agar selalu bertahan disisinya sekarang. Tapi kesehatan Maura adalah segalanya dan akhirnya Gifali pun mengangguk.
"Maura nanti pulang sama siapa Mah?" Tanyanya.
"Papa yang akan antar Maura kerumahnya, Kak---"
"Iya Kak..."
Lalu stimulus otak Papa Galih kembali bekerja. Dengan ia mengantar Maura kerumah berarti sama saja ia memberi celah untuk Mama Difa bisa berbincang-bincang dengan Om Malik ketika sudah keluar dari ruang ICU.
Karena tidak mungkin selama perjalanan mengantar Maura, Mama Difa akan bertahan terus di dalam ruang ICU. Mengingat jam besuk tidak boleh lama-lama.
"Ra, Om tunggu diluar ya. Kak, Papa tinggal dulu ya, Nak!"
"Ayo Mah!" Mama Difa mengangguk. "Mama keluar dulu ya Kak, ada Om mu diluar--"
Wajah Papa Galih terlihat jenga, ia tidak suka kata-kata itu keluar dari bibir istrinya.
"Iya Mah, Pah..."
Lalu
Maura yang masih berdiri menjauh mulai mendekat dan meraih punggung tangan Gifali untuk diciumnya. Mengucap kata pamit untuk pulang dulu sebentar dari sana.
"Aku pulang ya...kamu mau dibawakan apa?"
"Hati kamu aja balikin lagi ke aku, Ra..." Gifali mengenggam tangan Maura dan meletakan diatas dadanya.
Gifali menatap lurus kedua bola mata Maura. Ia tahu hati wanita ini belum sepenuhnya memaafkan dirinya.
"Aku udah keterlaluan, Ra. Sama kamu dan juga Gadis."
"Udah, Gifa----"
Gifa menggeleng dan menyelak cepat tangkisan Maura.
"Aku gak akan berhenti, sampai kamu mau maafin aku, Ra!"
Maura terdiam. Dadanya terasa berat dan jiwanya melayang. Hatinya pun terasa kosong, manakala ucapan Gadis dengan Elang yang tidak sengaja ia dengar selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
__ADS_1
"Ya nggak gitu sih! Ya kalau aku nggak bisa dapetin Gifali, Kak Maura juga jangan Lang!! Adil kan? Aku sama Kak Maura sama-sama nggak dapetin dia!"
Maura diam termenung.
"Sayang...?" Tanyanya. "Kamu udah ngantuk ya? ya udah pulang dulu gih, kamu tidur dulu yang cukup ya. Nanti balik lagi kesini---"
Gifali mencium tangan Maura yang terasa hangat. "Iya Gifa, secepatnya aku akan kembali lagi!" Maura mencium kening Gifali sebelum akhirnya ia berlalu dari sana.
"Aku pulang ya...."
Maura melepaskan jari jemarinya yang masih terkunci didalam jeratan telapak tangan Gifali.
"Iya."
Gifali mengangguk dan melambaikan tangan.
"Dada sayang..."
"Dada Gifa!" Maura melakukan hal yang sama sampai wajah Gifali tidak terlihat lagi dari pandangannya.
*****
"Kok Pak Malik gak ada ya? Apa udah pulang?" Cicitnya pelan seperti terus mencari sosok lelaki yang baru saja ia tinggal beberapa menit kedalam.
"Cari siapa? Malik?" Papa Galih membuka suara. Ia seperti tahu apa yang diresahkan oleh istrinya.
"Iya Pah, kasian kan baru sampai langsung pergi lagi, mana gak pamit."
"Loh urusannya apa sama kita? Toh dia kesini kan hanya ingin menengok keponakannya kan? Bukan mau lihat----"
Mama Difa memotong cepat. "Udah deh! Mulai kamu tuh----Mau nya ribut terus! Capek tau gak!" Mama Difa berdecak.
"Mama hanya gak enak Pah, Pak Malik kita tinggal gitu aja kayak tadi pas tau Gifa udah sadar!" Sambung Mama Difa.
"I-yya sayang, Papa ngerti...." Papa Galih mencoba merayu Mama Difa agar tidak marah.
"Ayo Om...Maura udah siap." Membuat Papa Galih dan Mama Difa menoleh dan bangkir dari kursi.
"Salam untuk Mama dan Papa ya, maaf sudah buat putrinya letih seperti ini--" Ucap Mama Difa.
Maura menggelengkan kepala dan meraih punggung tangan tangan Mama Dif untuk menyalaminya. "Nggak kok Tante, Mama sama Papa juga khawatir sama Gifa. Mereka mengerti keadaan Maura sekarang."
"Ya baiklah Nak...ayo pulang lah. Jangan lupa istirahat ya, kalau mau kesini tinggal bilang. Biar nanti sopir yang jemput Maura kerumah."
"Gampang Tante, nggak usah dipikirin hehehe."
"Pah hati-hati ya bawa mobilnya---"
"Iya Mah. Ayo Ra, kita pulang."
Papa Galih dan Maura pun berlalu dari pandangan Mama Difa. Meninggalkan wanita itu seorang diri dibangku tunggu ruang ICU.
Langkah Papa Galih dan Maura saling beriringan melaju untuk keluar dari Rumah sakit.
Kemudian
Blass
Seketika kedua matanya tercekat dan rasa sesak kembali muncul tak kala dirinya melihat Om Malik dari arah berlawanan kembali datang menuju ruang ICU dengan kantung plastik berisi minuman ditangannya.
__ADS_1
Ternyata lelaki itu tidak pulang, hanya saja ia pergi untuk membeli minuman.
"Sial....!"