GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Kemarahan Papa Bilmar


__ADS_3

Haii aku kembali


Episode kedua di hari ini


Selamat baca ya


❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di malam yang dingin dengan sentuhan rintikan hujan, Mama Alika dan Papa Bilmar terpaksa menggedor-gedor pintu rumah keluarga Hadnan. Terutama Papa Bilmar yang terus merancau emosi karena sudah sampai jam sepuluh malam, sang anak tidak kunjung pulang kerumah.


Krekk


Pintu pun terbuka lebar. Gana memberanikan diri untuk menatap mereka.


"Gana, Kak Maura ada disini, kan?" Tanya Mama Alika penuh kekhawatiran. Sepertinya rasa sabar sudah tidak dapat dibendung oleh Papa Bilmar, lelaki itu menerobos masuk begitu saja ke dalam.


Mama Alika pun melakukan hal yang sama. Ia mengikuti jejak suaminya untuk masuk ke dalam rumah mewah itu mencari keberadaan putri tercinta mereka. Seketika Mama Alika dan Papa Bilmar terperangah kaget karena mendapati kondisi rumah dalam keadaan yang kacau balau.


Semua pajangan rumah terlihat hancur lebur di atas lantai. Barang-barang terjungkal kemana-mana. Ini semua terjadi akibat kemarahan Mama Difa. Wanita itu tidak menerima kelakuan suaminya yang sudah berhasil membongkar rahasia Gifali, membuat anak itu kabur dari rumah.


"Ada apa ini, Nak?" Tanya Mama Alika kepada Gana.


Anak itu meringis dan menggigit bibir bawahnya. Matanya pun sembab, ia sulit untuk berujar. Gana tetap terjaga diruang tamu. Sedangkan dua adiknya sudah berada dikamar dan terus menangis.


"Mama dan Papamu kemana? Lalu Gifa dan Maura?" Giliran Papa Bilmar yang bertanya.


Gana menunjuk ke arah pintu kamar orang tuanya. Sekelibat ada suara keributan dari dalam sana. Gana menundukkan wajahnya lagi, ia takut menatap wajah Papa Bilmar.


"Ada apa Nak? Ada masalah kah? Dimana Kak Maura?" Tanya Mama Alika dengan sangat lembut, ia tahu sekali jika Gana sedang takut saat ini.

__ADS_1


"Kak maura dan Kak Gifa pergi dari rumah Tante, ada keributan tadi di antara Mama, Papa dan Kak Gifa.." Gana menjelaskan dengan susah payah. Dadanya kembali sakit jika mengingat kejadian yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.


"Apa? Lalu dimana anak saya?" Tanya Papa Bilmar geram. Wajah Mama Alika seketika menegang.


"Pah gimana ini?" Tanyanya panik.


Papa Bilmar berdecak marah, ia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah pintu kamar Mama Difa.


Sementara didalam kamar.


"Tolong maafkan Papa, Mah.." Papa Galih terus memohon kepada istrinya.


"Aku benci sama kamu! Lepasin aku!" Mama Difa menepis tangan suaminya yang terus berusaha untuk menggenggam tangannya.


"Mah, Papa khilaf. Papa kebawa emosi.." Papa Galih terus merintih karena sangat menyesal.


"Lebih baik kamu ceraikan aku, Pah! Aku fikir 18 tahun bisa membunuh rasa ketidakpercayaan kamu ke aku, nyatanya aku salah! Kamu tetap tidak mempercayai aku!"


Mendengar ucapan sang istri membuat Papa Galih tersentak. Tubuhnya merasa mendidih, bagai panah yang tengah tertancap ke dalam jantungnya.


"Apa Mah? Cerai? Nggak!" Papa Galih menggelengkan kepalanya.


"Kamu tega bicara kayak gini sama aku, Mah? Oh, aku tau kamu ingin meminta cerai agar bisa kembali bersama Malik kan?"


Papa Galih terus dibakar ketidakwarasan. Bisa-bisanya ia menambah kebencian di hati istrinya. Menuduh semaunya dan asal bicara tanpa difikir secara matang.


Ya begitulah Papa Galih sejak dulu. Lelaki itu selalu sulit untuk mengatur cara bicaranya. Walaupun ia bersikap seperti itu hanya karena ingin mempertahankan miliknya. Ia pernah tersakiti karena sebuah penghianatan, jelas ia menjadi trauma dan tidak ingin hal itu terjadi kembali.


Hentakan telapak tangan Papa Bilmar terdengar dari daun pintu kamar mereka dengan sangat kencang.


"Mas? Mas Galih? Mba Difa? Ini saya Bilmar!"


Papa Bilmar terus memanggil-manggil nama mereka agar mau membukai pintu. Kedua mata pasangan suami istri itu pun langsung berputar dan menoleh ke arah pintu. Untuk mendengar secara pasti suara siapakah yang sedang memanggil mereka.


Mama Difa pun melangkah cepat untuk berjalan menuju pintu.


Krek


Pintu kamar dibuka olehnya. Melihat Mama Alika dan Papa Bilmar didepan sana, sontak membuat Mama Difa memeluk Mama Alika dengan erat.


"Ada apa Mba? Anak-anak kemana?" Tanya Mama Alika yang masih kaget karena melihat keadaan calon besannya sedang menangis histeris.


"Ada apa ini Mas?" Tanya Papa Bilmar kepada Papa Galih.


Papa Galih hanya bisa mengusap wajahnya yang sudah banyak bercucuran keringat. Ia menghembuskan nafas panjang ke udara. Lelaki itu bingung bagaimana cara menjelaskan masalah ini kepada orang tua Maura.


"Anak saya dimana? Mobil Maura ada di halaman depan, tapi kenapa didalam rumah ini tidak ada?" Papa Bilmar bertanya lagi.

__ADS_1


"Pah, udah!" Ucap Mama Alika kepada suaminya.


"Kita duduk dulu di sofa. Dan saya minta kepada kalian untuk menjelaskan duduk perkaranya. Kenapa mereka bisa pergi begitu saja meninggalkan rumah!" Ucap Mama Alika untuk menetralkan suasana.


Ia pun merangkul tubuh Mama Difa untuk berjalan ke sofa begitu pun Papa Bilmar membawa Papa Galih mengikuti istri-istri mereka.


Mau tidak mau, malu atau tidak. Mama Difa dan Papa Galih harus menjelaskan tentang masalah yang terjadi dengan keluarga mereka kepada orang tua Maura. Bagaimanapun kedepannya Gifali akan menjadi bagian dari mereka.


Papa Galih pun mulai menjelaskan tentang keributan yang baru saja mereka lewati. Mama Difa masih terus menangis dan gelengan kepala tanda tidak percaya masih terus terlihat dari wajah Papa Bilmar dan Mama Alika.


"Jadi Gifali bukan anak kandung kalian?" Tanya Mama Alika untuk memastikan bahwa apa yang ia dengar barusan.


Mama Difa dan Papa Galih pun mengangguk.


"Apakah kalian akan memutuskan hubungan mereka?" Tanya Mama Difa terbata-bata. Ia tidak bisa membayangkan kalau perasaan Gifali akan hancur untuk kedua kalinya.


Mama Alika menoleh ke arah suaminya. Menunggu jawaban kepada sang penguasa. Ada helaan nafas panjang dari Papa Bilmar.


"Untuk masalah ini, saya hanya bisa menyerahkannya kepada Maura. Apa yang membuat anak saya bahagia, saya akan selalu dukung. Jika Maura bisa menerima keadaan Gifali yang seperti ini. Tentu saya pun akan menerima Gifali seutuhnya. Tidak perduli bagaimana latar belakangnya, yang saya inginkan, Gifa bisa membahagiakan anak saya. Itu saja sudah cukup."


Seketika raut wajah Papa Galih, Mama Difa dan Mama Alika terlihat senang dan bahagia. Nafas kelegaan muncul dari kedua orang tua Gifali. Begitu senang hati Mama Difa, karena ia merasa Gifali tidak akan hancur kembali. Wanita paru baya itu merasa Gifali pasti akan kembali dan mau memaafkan keluarga mereka.


Namun Mama Difa salah besar, Gifali akan tetap pergi meninggalkan Maura dan Keluarga Hadnan. Ia ingin mencari jati dirinya yang telah hilang. Gifali tahu siapa yang harus ia cari.


Setelah bercakap panjang, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari Gifali dan Maura dengan menggunakan satu mobil. Menyusuri jalanan yang sudah gelap. Rasa was-was terus berdetak di dalam dada mereka. Lebih tepatnya Papa Bilmar yang tidak konsen dalam mengemudi, ia lebih takut jika terjadi apa-apa dengan putrinya.


Dua jam berlalu.


Hanya kegagalan yang mereka dapat. Gifali dan Maura tidak bisa ditemukan. Papa Bilmar belum terpikir untuk mendatangi apartemen Maura. Lelaki itu melupakan tempat tersebut. Tempat dimana saat ini menjadi tempat berbaring sementara untuk anak-anak mereka.


Beberapa kali Papa Bilmar menghentakkan tangannya di stir kemudi. Lelaki itu frustasi memikirkan nyawa sang anak. Maura adalah putri kesayangannya, buah cintanya, anak perempuan yang selalu perhatian dan begitu menyayanginya. Pergi begitu saja meninggalkan dirinya demi seorang pria yang belum bisa bertanggung jawab dan tidak jelas asal-usulnya.


Mama Difa dan Mama Alika terus berusaha untuk menghubungi ponsel anak mereka masing-masing.


"Ponsel Kakak tidak aktif, Pah..." Ucap Mama Alika.


"Gifa juga sama Pah!" Ucap Mama Difa.


Ia takut Gifali akan melakukan macam-macam kepada putrinya. Ia tidak ingin nasib Maura hancur begitu saja.


"Besok pagi saya akan meminta bantuan polisi untuk mencari Maura dan Gifa!"


Pernyataan tegas itu mencuat dari bibir Papa Bilmar. Suasana menjadi mencekam, Papa Bilmar kembali berapi-api dan emosi. Ia berubah tidak menjadi setenang tadi. Fikiran buruk terus menghantui dirinya. Ia berbalik menjadi benci kepada Gifa. Karena sudah membawa putrinya kedalam suatu masalah.


"Jika terjadi apa-apa dengan Maura, saya akan bawa Gifali ke jalur hukum!"


****

__ADS_1


Kita akan tetap menikah kan, Gifa?"



__ADS_2