GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Malam ini ingin tidur bertiga.


__ADS_3

Selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Mobil Om Malik sudah sampai dipekarangan rumah Papa Galih. Dari kursi belakang tampak kebingungan keluar dari wajah Gifali. Masih ada kegamangan dihatinya, jiwanya terasa berongga. Setelah terkuak siapa jatidirinya yang sebenarnya.


Ia merasa malu untuk menginjakkan kakinya kembali di rumah ini. Rumah yang sudah menjadi saksi pertumbuhan dan perkembangan dirinya dari seorang batita menjadi seorang pemuda yang sebentar lagi akan menikahi seorang wanita.


"Nak ayo kita turun. Papa pasti senang melihat kamu lagi.." Mama Difa membuat Gifali terbangun dari lamunannya.


"Mah, kayaknya Kakak lebih baik tinggal aja sama Om Malik! Kakak gak pantas disini, Mah!" Gifali merintih.


Air matanya siap turun kembali ketika bayangan sedang bermain dengan para adiknya terlintas begitu saja dibenaknya. Begitu banyak kenangan yang sulit untuk ia lupakan.


"Kakak! Mau apapun jatidiri kamu, Gifali tetap anak lelaki Mama dan Papa! Tega kamu mau ninggalin kami yang sudah tua? Kamu itu adalah anak tertua, sandaran Papa, Mama dan ketiga adikmu! Mana janji Kakak ingin membahagiakan keluarga? Begini cara kamu?" Mama Difa berdecak marah walau ia pura-pura. Ia kembali membawa tatapannya kedepan dan melipat kedua tangannya di dada.


"Uluh-uluh ngambek---Udah tua, Dif. Gak pantes hahahaha.." Gelak tawa Om Malik begitu saja terdengar nyaring di dalam mobil membuat Gifali yang sedang galau ikut terkekeh. "Bisa aja Om, hahaha.."


"Berani ya pada ngeledek Mama, lihatin aja nanti Mama bilangin Papa!" Mama Difa mencebik.


Om Malik dan Gifali semakin terkekeh.


"Gifa ayo turun, minta maaf kepada Papamu. Bagaimanapun Galih adalah Papa yang harus kamu hormati, karena ia yang selama ini membesarkan kamu! Memberikan namanya kepada kamu, agar kamu bisa mempunyai harkat dan martabat!" Tutur Om Malik.


Ya, betul. Ini semua bukan salah Gifali. Tentu anak itu tidak akan pernah meminta di lahir kan dari rahim perempuan yang tega menyakiti hati sesama kaum perempuan. Tega merusak rumah tangga orang lain hanya karena cinta buta ya yang tidak bisa dikendalikan.


"Jangan buat diri kamu sulit hanya karena jatidiri, ini semua bukan salah kamu!"


Ia pun tidak menyetujui sikap Gifa yang masih seperti ini. Setelah ia berfikir panjang, ia pun menyesal karena sempat mengiyakan kemauan Gifali untuk meninggalkan keluarganya. Namun yang baru saja ia tahu, bahwa Papa Galih dan Mama Difa betul-betul sangat mencintai keponakannya, mereka mau menerima Gifali seperti anak kandung dengan tangan terbuka. Mustahil untuk bisa memutuskan ikatan batin yang sudah tercipta lama diantara mereka.


Gifali pun mengangguk, ia mau turun dari mobil untuk menemui sang Papa dan kembali tinggal di kediaman Hadnan.

__ADS_1


Tok Tok Tok.


Mama Difa terus mengetuk pintu rumah mereka. Berharap suami atau ketiga anaknya belum lelap tertidur walau waktu sudah menunjukan pukul 01:00 dini hari. Terlihat Om Malik beberapa kali menguap karena menahan kantuk.


Terlebih lagi hatinya sedang was-was, ia takut dengan kemarahan Galih yang akan menerjang dirinya. Tak masalah baginya, apapun yang akan diperbuat Galih. Om Malik hanya akan menerimanya dengan lapang dada.


Mama Difa pun mempunyai fikiran yang sama. Apa yang harus ia katakan kepada suaminya? Jika saat ini ia kembali pulang dengan membawa Om Malik kerumah karena sudah mengantar dirinya dan Gifa. Ia tahu suaminya itu pasti akan merajuk, marah dan kecewa. Namun Mama Difa tidak punya pilihan lain, selain menerima jasa mantan kekasihnya itu. Ia berfikir Gifali belum mau pulang dengan waktu secepat ini.


Setengah jam mengetuk pintu akhirnya terdengar ada langkah dari dalam. Terdengar kunci diputar dari dalam. Wajah mereka bertiga pun kembali menegang. Siapakah yang tengah malam seperti ini masih terjaga untuk membukai mereka pintu.


Krek


Pintu terbuka lebar.


"PAPA!!" Seru Gifa begitu melihat sosok yang baru saja menyembulkan kepalanya dibalik pintu. Gifa langsung menerjang lelaki yang sejak kemarin selalu ada di fikirannya. Lelaki yang sempat ia benci dan ingin ia tinggalkan.


Papa Galih yang setengah tersadar karena masih menahan kantuk langsung membelalakkan kedua matanya. Ia kaget setengah mati jika saat ini anak yang terus ia rindukan sedang memeluk dirinya.


Gifali menangis. Melolongkan kedua tangannya di bawah lengan sang Papa. Ia terus memeluk tubuh lelaki paru baya yang masih gagah perkasa itu dengan erat tanpa mau terlepas. Papa Galih pun menyambut dan mengunci tubuh anak itu dengan usapan lembut di punggung Gifali.


"Anak Papa. Putra Gifali Hadnan, kamu kembali lagi Nak---" Desah Papa Galih panjang. "Alhamdulillah Ya Allah..Jangan tinggalin Papa lagi ya, Nak!"


Hanya anggukan kepala dari Gifali, lidahnya masih tercekat untuk berbicara. Jantung dari mereka berdua terasa saling bersautan dalam detakkan yang hebat.


Papa Galih dan Gifali saling memeluk dalam tangis di keheningan malam. Udara malam yang sangat dingin sepertinya tidak ada rasanya lagi. Walau Mama Difa dan Om Malik terlihat meringis karena angin malam itu terus menyapu bulu-bulu halus di tangan dan kaki mereka. Papa Galih yang sedari tadi memejamkan kedua matanya akhirnya membuka dan meraih tubuh istrinya untuk masuk kedalam pelukan mereka.


"Maafkan Papa ya Nak, sampai kapanpun kamu tetap anak Papa! Buah cintanya Papa dan Mama---Lupakan masa lalu kamu. Jalani saja masa sekarang sampai menuju masa depan! Hanya Mama dan Papa yang bisa mendampingi kamu! Karena kamu tetap anak kami, mengerti kan?"


Seperti nya pertahanan Gifali sudah runtuh akan keinginannya untuk tetap pergi meninggalkan keluarga Hadnan. Ia merasa ketika ia menginjakkan kedua kakinya kembali dirumah ini, dirinya tidak terasa kosong. Seperti kembali lengkap, jiwanya tegap dan hatinya terasa penuh. Memang keluarga Hadnan lah yang ia butuhkan untuk menemani sampai ajal menjemputnya.


"Maafkan Kakak Pah, Kakak adalah anak yang tidak tau diri. Kakak udah kurang ajar sama Papa! Kakak udah salah sangka sama Papa. Kakak udah tau semuanya! Siapa Bunda Gita dan hubungan masa lalu diantara Om dan Mama!Maafkan Kakak, Pah! Maafkan---" Ucap Gifali sambil diiringi dengan isakkan tangis.


Wajahnya sudah basah karena air mata itu tidak mau surut. Gifali masih tersedak akan kepiluan hatinya. Mendengar ucapan sang anak membuat Papa Galih tersentak, ia menatap wajah Mama Difa dan Om Malik secara bergantian. Seraya ia meminta penjelasan dibalik ucapan sang anak.


Papa Galih melepas pelukannya. Menyeka air mata yang sudah bercampur keringat di wajahnya. Dicium nya kening dan kedua pipi Gifali oleh Papa Galih.


"Kakak harus lupain semua itu ya! Papa juga sadar kalau sikap Papa selama ini ke Mamamu juga salah! Sekarang, kita buka lembaran baru---Kakak mau kan?" Papa Galih mencoba menenangkan sang anak lalu beralih menatap sang istri yang masih setia mematung didekat nya.


"Mama juga mau kan memaafkan sikap Papa selama ini?"


Mama Difa dan Gifali mengangguk bersamaan. Mereka pun kembali berpeluk. Om Malik terlihat menyeka air matanya yang ingin menetes turun. Ia begitu terharu melihat Mama Difa dan Papa Galih begitu mencintai Gifali.


"Saya titip Gifali. Jaga dan rawat dia seperti yang sudah kalian lakukan selama ini. Kalian lah yang berhak untuk Gifali.." Om Malik membuka suara, membuat mereka bertigs menoleh ke belakang, tepat dimana wajah lelaki itu tengah berucap dalam keharuan yang mengharu biru.


"Dan untuk Gifali. Om akan menyerahkan segala aset dan warisan dari Bunda kamu. Segala fasilitas yang harus Om berikan kepada kamu, ketika kamu akan menikah. Om fikir waktunya sudah datang. Om akan menjelaskan semuanya besok dirumah Bunda kamu, itu pun kalau Mama dan Papamu menyetujuinya---"

__ADS_1


Om Malik memutar bola matanya untuk melihat ekspresi Mama Difa dan Papa Galih. Ada kerutan aneh yang berlipat-lipat muncul di kening Mama Difa dan Papa Galih, mereka terlihat terkejut dengan penuturan Om Malik.


"Kamu tau siapa ayah kandung Gifali, Pak?" Tanya Mama Difa menyelidik diikuti tatapan garang dari kornea gelap kepemilikan Papa Galih.


Om Malik menggelengkan kepala. "Untuk yang satu itu saya tidak tau! Saya hanya diberi amanat untuk memberikan segala aset milik Gita kepada Gifali, ketika Gifa akan menikah. Itu adalah permintaan Gita sebelum ia melahirkan anaknya..."


"Sudahlah Mah, Papa gak mau dengar masalah itu! Papa ingin Kakak mengubur masa lalu itu dalam-dalam. Tidak usah memikirkan siapa Papa kandungnya! Aku tetap Papa kandung untuk Gifali Hadnan!"


Mama Difa pun mengangguk mantap.


"Tapi apakah boleh kalau Gifa mengikuti kemauan Om untuk kerumah Bunda besok? Pah, Mah?" Tanya Gifali pelan-pelan.


Mama Difa hanya bisa menatap suaminya yang masih diam dan terus berfikir.


Lalu


Lelaki paru baya itu pun mengangguk.


"Boleh, asal Mama dan Papa ikut menemani Kakak!" Papa Galih kembali menunjukan rasa posesif kepada anaknya.


Om Malik mengangguk tanda setuju. "Ya sudah kalau begitu, kalian bertiga beristirahatlah. Saya akan tidur dimobil sampai besok pagi!" Om Malik yang baru saja akan melangkah kan satu jengkal kakinya, langsung menoleh kembali ketika suara Mama Difa memanggilnya.


"Hey Pak! Kenapa harus didalam mobil, menginap lah dirumah kami. Bisa tidur berdua dengan Gifali dikamarnya!" Ucapan Mama Difa membuat kedua mata Papa Galih membulat.


"Gak apa-apa ya, Mas. Pak Malik kan sudah jauh-jauh dari Bandung mau mengantarkan kami ke RS untuk melihat Maura dan kembali pulang kerumah!"


"Tapi tidak tidur dengan Gifa! Karena Papa malam ini ingin tidur bertiga bersama Mama dan Kakak dikamar! Papa rindu kalian---"


Lalu Papa Galih beralih menatap Om Malik. "Kamu boleh tidur dikamar Gifali. Tentu ini sebagai ucapan terimakasih dari saya karena kamu sudah berbaik hati untuk mengantarkan mereka pulang, walau saya masih bisa untuk menjemput mereka dan----"


Mama Difa dengan cepat membekap mulut suaminya yang akan terus bercuap-cuap tanpa henti. Dibawanya lelaki itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Kakak, antar kan Om ke kamar kamu ya. Habis itu cepat kembali ke kamar Mama dan Papa!" Titah Mama Difa sambil merangkul tubuh suaminya untuk masuk kedalam kamar.


Gifali dan Om Malik pun tersenyum melihat aksi konyol dari pasangan suami istri itu. "Makasi ya Om, makasi banyak."


"Sama-sama, Nak. Yang penting Gifali bahagia, itu saja permintaan Om, Bunda Gita dan Bunda Kinanti!"


Gifali mengangguk dan raut penuh kebahagiaan terus terpancar dari wajahnya. Ia memeluk kembali Om nya. Lelaki yang sempat membuatnya kecewa karena masalalu kelam bersama Mamanya.


Malam ini betul-betul malam yang membahagiakan, terlihat miliyaran bintang tengah berkelap-kelip untuk menemani hati Gifa yang sedang gempita. Semoga saja besok Gifali akan membuat hati Maura menjadi senang gempita dengan keputusannya bukan membuat hati Maura menjadi layu, redup dan gegana.


Kita tunggu saja, apa keputusan Gifali besok dihadapan orang tua Maura.


****

__ADS_1


Aku akan terima kamu apa adanya❤️



__ADS_2