GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Aku tidak mau pulang, Gifa!


__ADS_3

Selamat malam guyss


Selamat baca


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maura POV


Bagai halilintar menerpa, ku dengar lelaki itu berbicara sangat menyakitkan kepadanya dan saat itu lah aku dan dia akhirnya menderita.


Aku tetap melebarkan tangan ini untuk mendekap mu, namun kau menolak. Dan menjadikan kita sesuatu yang tidak akan menjadi apa-apa.


Kamu egois! Aku membencimu, Gifa!


------------------------------------------------------------------------


"Gifa..."


Maura kembali memanggil nama kekasihnya dengan rintihan amat peluh. Kedua matanya terperangah hebat ketika melihat seluruh keluarga Hadnan tengah bergulung dengan angin keributan.


Jantung nya seolah diperas, ia tidak rela jika Gifali disakiti seperti itu.


"Ra...?" Sahut Gifa dengan suara amat pelan. Ia tidak akan menyangka jika wanitanya akan cepat mengetahui siapa ia yang sebenarnya.


Mengapa harus disaat seperti ini?


Lalu membawa tatapan tajamnya kembali untuk menoleh dan menatap ke arah wajah sang Mama yang masih setia memegangi tubuhnya. "Benar Mah, apa yang Papa bilang?"


Mama Difa tetap menangis dan menggelengkan kepalanya. Wanita paru baya itu terus menggenggam tangan sang anak.


"Kakak bukan anak Mama? Bukan anak Papa? Mereka semua bukan adik-adikku?" Tanyanya dengan suara bergetar.


Mama Difa kembali menggelengkan kepala dan terus menangis.


"Mah?" Tanyanya lagi.


"Gifa tetap anak Mama, Nak.."


"Jadi benar Mah, Gifa bukan anak Mama?"


Gifali menatap kedua mata Mamanya dengan dada yang terasa sesak seperti sedang di plintir dan dicacah-cacah.

__ADS_1


Mendengar tidak ada sanggahan yang berarti dari sang Mama. Seketika itu pun ia yakin apa yang dikatakan oleh Papa nya barusan adalah suatu kebenaran.


Dan


Blass.


Tubuhnya begitu saja merosot ke bawah. Ia jatuh ke atas lantai dengan keringat dan air mata yang menetes dan bercampur menjadi satu. Kenyataan ini amat memilukan jiwanya, membuat dirinya menjadi orang yang tidak mempunyai harkat dan martabat. Hanya karena ucapan lakhnat itu, seketika membuat ia seperti sampah yang akan dibuang ke dalam jurang yang paling dalam.


"Siapa aku?" Desahnya.


"Kakak...!" Gana, Gelfa dan Gemma beringsut untuk memeluk sang Kakak. Mereka menangis sejadi-jadinya.


Lalu bagaimana dengan Papa Galih? Lelaki itu pun menetes kan air matanya. Ia mematung dan melamun, nafasnya tersengal-sengal berat. Hatinya terasa lega, karena ia sudah berhasil meledakkan suatu rahasia. Rahasia yang sudah ia bongkar mentah-mentah hanya karena emosi sesaat dan karena cemburu yang membabi buta.


Gifali melepaskan tubuhnya dari adik-adiknya. Lalu ia bangkit dan berlari untuk menghampiri Maura dan meraih tangan kekasihnya untuk ikut pergi bersamanya.


"Ayo Ra, kita pergi!" Gifali menarik paksa tangan Maura yang masih mematung karena rasa kaget yang sedang mengguncang dirinya.


Mama Difa ikut berlari untuk mengejar sang anak. Namun kekuatan Gifali lebih besar untuk melepas genggaman sang Mama. Ketiga adiknya pun melakukan yang sama. Mereka terus merancau nama sang Kakak. Papa Galih masih belum tersadar, ia masih melamun dan tetesan air mata terus mengalir dengan deras. Ia menggelosor kan dirinya begitu saja ke lantai.


Gifali tetap membawa Maura dengan motor kesayangannya. Ia pergi meninggalkan kediaman Hadnan. Meninggalkan sejuta kenangan yang telah memberikan ia cinta, kasih dan hidup selama 18 tahun disana.


"GIFA!!" Seru Mama Difa.


Wanita itu pun terjerembab jatuh kembali dilantai depan rumah, tangannya melambai ke arah bayangan motor Gifali yang terus melaju sampai ke luar gerbang. Terlihat Gemma dan Gelfa mengejar sang Kakak sampai ke jalan.


"Mah..." Ucap Gana menatap wajah sang Mama dengan air mata. Kedua perempuan itu akhirnya berpelukan dalam tangis. Menangisi orang yang paling berarti dalam hidup mereka.


"KAKAK!!!" Teriakan Gelfani dan Gemma membuat lirih hati Gifali dan Maura yang masih bisa mendengarnya dari kejauhan.


Gifali tetap membawa motornya dengan kecepatan tinggi. Membuat Maura memeluk lelaki itu erat dan hanya bisa diam sambil menangis.


Mereka bukan keluargaku!


Aku bukan bagian dari mereka!


Lalu siapa aku?


SIAPA??


Rintihan Gifali terus saja membuat dadanya sesak. Anak itu terlihat menderita dah hancur sejadi-jadinya. Bagaimanakah nasibnya setelah ini? Bagaimanakah kisah asmaranya dengan wanita yang saat ini masih ia bonceng diatas motor? Apakah ia akan meninggalkannya?


Entahlah, hanya semesta yang bisa memberikan jawabannya.


****


Sudah dua jam Gifali melalang buana mencari tempat berteduh untuk mereka malam ini. Udara semakin dingin, menusuk kulit begitu saja. Gifali terlihat menepikan motornya di tepian pepohonan industri.


"Kamu pulang aja ya, Ra. Aku antar kamu kerumah!" Ucap Gifali sambil mengelus tangan Maura yang masih memeluk nya dari belakang. Maura enggan turun dari motor, ia tidak mau meninggalkan lelaki itu sejengkal kaki pun.


"Enggak, Gifa! Aku gak mau pulang, aku mau temenin kamu..." Rintih Maura, ia menggusar-gusarkan kepalanya di belakang punggung Gifali.


"Tapi ini udah malam, Ra. Orang rumah pasti nungguin kamu." Ucapnya lembut.


Walau hati Gifali saat ini sedang teriris, ia tetap saja berlaku baik kepada Maura, tanpa membuat wanita itu menjadi suatu pelampiasan akan amarah dan kekecewaannya.


"Aku gak perduli, Gifa! Aku hanya ingin kamu sekarang!" Maura tetap dalam keputusannya. Entah mengapa ia mempunyai perasaan yang tidak enak akan kekasihnya.


"Tapi kamu harus tidur, Ra. Mau tidur dimana? Aku akan pergi ke rumah Om ku, aku gak mungkin membawa kamu menginap kesana." Gifa masih berucap lembut untuk membujuk calon istrinya.

__ADS_1


"Pokoknya malam ini aku akan temani kamu, kemana pun! Tolong jangan tinggalin aku, Gifa!" Desah Maura lalu menangis.


Gifali hanya terdiam, ia terus menatap lurus jalanan kosong dengan tiupan angin malam yang berhembus disekeliling jalan.


"Gifa..?" Maura kembali bersuara ketika dirasa kekasihnya tidak membalas permintaannya.


"Iya, Ra..." Jawabnya pelan masih dengan tatapan kosong.


Di satu sisi ia masih ingin bersama Maura, melepaskan rasa perih dan kehancuran hatinya kepada wanita yang ia kasihi itu. Maura adalah obat untuknya, mampu menyembuhkan luka yang sedang menganga namun tidak berdarah.


Tapi ia juga tidak bisa egois, untuk membawa Maura masuk kedalam masalahnya. Tidak mungkin ia membiarkan Maura tidur dipinggir jalan begitu saja bersama dirinya yang tengah kacau.


"Kita ke apartemen aku aja yuk sayang, kita menginap disana. Sampai hati kamu tenang.."


"Kita pulang aja ya, aku antar kamu pulang." Gifa tetap dalam keputusannya untuk membawa Maura kembali kerumah. Ia mengelus tangan Maura sebelum akhirnya menyalakan motornya lagi.


"Gifa jangan! Aku gak mau pulang!" Maura melolongkan tangannya begitu saja ke bawah lengan Gifa untuk memutar kunci motor dan mencabutnya secara paksa.


"Sayang...jangan kayak gini ya, kamu tetap harus pulang." Gifali masih berucap hangat.


"Nggak mau! Pokoknya aku mau tetap sama kamu malam ini!"


Ada suatu insting kuat yang tengah bertahta di hati Maura. Wanita itu tetap kokoh dengan keinginannya. Ia merasa Gifali akan meninggalkan dirinya seperti tadi meninggalkan keluarganya.


Maura tidak mau!


Karena gelap semakin membelenggu malam dan udara dingin terus menyisir bulu-bulu halus ditangannya. Maka ia putuskan untuk menuruti kemauan Maura. Ia tidak mungkin membuat wanita itu terus merajuk, merengek, memohon dan membiarkannya masuk angin dengan sengaja.


"Ya udah kita ke Apartemen kamu ya.. Balikin dong kuncinya..." Gifali mengarahkan telapak tangannya ke belakang.


Tuk.


Kunci motor pun di letakan lagi digenggaman tangan Gifali oleh Maura.


"Kamu yakin tetap mau sama aku, malam ini?"


Maura mengangguk.


"Kamu gak takut? kalau aku macam-macam sama kamu nanti malam gimana?" Tanya Gifa terkekeh. Bisa-bisa nya disaat serius seperti ini, ia masih menggoda dan menakuti Maura.


Maura terdiam sebentar, kedua matanya bergerak kesana kemari untuk mencerna ucapan sang kekasih.


"Aku percaya kok sama kamu. Kamu gak akan rusak aku!" Jawab Maura mantap.


Gifali terlihat mengangguk. Ia mengangkat punggung tangan Maura yang masih memeluk perutnya untuk diciumnya beberapa kali. Sungguh rasanya sangat menenangkan Gifali, membuat dirinya merasa nyaman dan bisa menghilangkan beban yang masih meraungkan batinnya.


"Pegangan erat ya, aku mau ngebut soalnya!"


Maura mengangguk pasrah. Apapun yang Gifa lakukan, Maura akan selalu setia mendampinginya.


"Iya sayang..aku siap!"


Mereka pun berlalu menembus malam dengan kekecewaan yang masih belum membeludak untuk dikeluarkan.


****


Aku mau nya tetap sama kamu, Gifa.💔


__ADS_1


__ADS_2