GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Papa dan Mama akan temani, Kakak!


__ADS_3

Haii kesayanganku❤️


Makasi atas segala doa nya, aku terharu🤗


Selamat baca ya❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Keesokan paginya seperti janji dari Om Malik, lelaki paru baya itu akan membawa Gifali untuk mendatangi rumah peninggalan dari Bunda Gita. Om Malik akan menjelaskan segala harta warisan yang akan dilimpahkan kepada sang keponakan.


Tap.


Langkah mereka berempat pun telah sampai didepan pintu rumah yang masih berdiri kokoh dan terawat.


"Selama ini rumah Bunda kamu, dikontrakkan Nak. Uangnya dikumpulkan oleh Bunda Kinanti untuk keperluan kamu kalau sudah besar, tentu itu permintaan dari almarhum Bunda Gita." Ucap Om Malik kepada Gifali sambil membuka pintu rumah itu. Mama Difa dan Papa Galih setia dibelakang mereka menunggu untuk masuk kedalam rumah.


"Lalu sekarang apakah masih ada yang mengontrak, Om?"


Krek


Pintu pun terbuka lebar. Angin pekat ruangan berhembus begitu saja keluar, terlihat keheningan didalam. Gifali terus mengedarkan pandangannya ke sudut rumah. Kedua bola matanya bergerak kesana-kemari untuk menatap satu persatu barang-barang yang masih tertata dengan baik ditempatnya. Rumah yang tidak terlalu besar namun terawat dan tidak nampak terlihat banyak kerusakan.


"Kebetulan dari dua bulan yang lalu orang yang mengontrak sudah meninggalkan rumah, karena masa perjanjian kontraknya sudah habis." Jawab Om Malik.


Gifali hanya mengangguk bias tanpa menjawab. Ia masih asik kesana kemari untuk melihat-lihat bagaimana tatak ruang didalam rumah ini.


"Semua barang-barang juga masih utuh ya, Pak?" Tanya Mama Difa.


Om Malik menoleh ke arah wanita itu dan mengangguk. "Saya bilang kepada orang yang mengontrak untuk tidak mengubah/ membuang barang-barang yang ada. Biarkan saja tetap seperti ini, karena saya tahu hari seperti sekarang akan datang! Dan Gifali pasti akan datang kesini---"


Mama Difa mengangguk lalu menghampiri sang anak yang masih berdiri menatap foto di atas bufet.


Sedangkan Papa Galih lebih memilih diam dan hanya duduk di sofa. Tentu rasa sakit hatinya kepada Bunda Gita belum sepenuhnya menghilang. Jauh didalam lubuk hatinya kebencian kepada wanita itu belum memudar. Dibohongi mentah-mentah dan difitnah dengan keji tentu tidak pernah ia bayangkan sama sekali.


"Ini foto Papa dan Bunda kamu ketika sedang akad, Nak---" Suara Mama Difa begitu saja muncul dan mengagetkan Gifali yang masih memegang foto pernikahan antara Bunda nya dan Papa Galih.

__ADS_1


Ia tatapi foto yang sudah termakan usia belasan tahun namun masih terlihat jelas karena berada didalam bingkai yang kuat.


"Apa Mama ada ketika mereka menikah?" Tanya Gifali.


Mama Difa menggelengkan kepala. "Nggak, Nak. Pada saat mereka menikah, Mama gak tau----Mereka nikah diam-diam dibelakang Mama. Papamu takut kalau Mama mengetahui alasan pernikahan mereka. Sampai dimana Mama tau sendiri tentang kebohongan yang mereka buat!" Mama Difa merangkul sang anak.


"Jangan benci Bunda kamu, Kak! Bagaimanapun dia adalah wanita yabg sudah melahirkan Kakak. Sudah berbaik hati untuk memberikan anak lelaki tampan seperti Kakak kepada Mama." Mama Difa menjawil pipi kanan sang anak, lalu meletakan kepala dibahu Gifali.


"Maafin Bunda ya, Mah. Bunda udah salah dan berdosa sama Mama dan Papa---"


"Iya, Nak. Mama hanya ingin apa yang sudah terjadi diantara Mama, Papa, Bunda Gita dan Om Malik bisa menjadi pelajaran untuk Kakak dan Maura nanti, ya?" Mama Difa mendongakkan wajahnya untuk melihat ekspresi sang anak.


Ada tarikan nafas hebat yang mencuat dari wajah Gifali, ketika ia diingatkan kembali dengan Maura. Bukan tentang sosok wanita itu, tapi dengan hal pernikahan yang sudah ia janjikan. Gifali termenung lama sampai ia kembali disadarkan ketika Mama Difa melepas rangkulannya dan berjalan ke arah lain. Mama Difa meraih sebuah foto yang ia bawa kembali untuk memperlihatkan kepada sang anak.


"Lihat ini, Kak!" Mama Difa menyodorkan sebuah foto.


"Ini foto---?" Gifali melihat kedalam gambar orang yang ada di foto lalu menoleh ke arah sang Mama yang juga sedang menatapnya balik.


"Ini foto kami bertiga ketika masih di SMA. Mama itu adik kelas dari Papa dan Bunda kamu. Posisinya disini Mama itu udah jadi kekasihnya Papa kamu dan yang Mama tau kalau Kak Gita itu adalah teman dekat Papa, Mama gak tau kalau dia cinta mati sama Papamu!"


"Ya Allah..." Desah Gifali panjang. Ia kaget dengan sikap Bundanya yang sudah mengincar Papa nya sejak lama. "Lalu aku anak dari mana ya, Mah? Kenapa Bunda bisa hamil?"


Mama Difa mengeratkan tangannya di bahu Gifali seraya menenangkan sang anak. "Kakak masih ingat kemarin ucapan Papa, kan? Untuk gak usah ingat-ingat masa lalu?"


"...Iya Mah." Gifali memberikan senyuman setipis benang.


Dan pembicaraan tentang harta dan warisan dari Bunda Gita pun di mulai oleh Om Malik kepada mereka bertiga.


"Gita meninggalkan beberapa aset yang ia punya untuk Gifa. Sebelum Gita meninggal, ia mempunyai sejumlah uang yang di deposito kan ke Bank. Yang lainnya ada rumah ini, ada lahan tanah kosong disamping Villa saya yang ada di Bandung serta tambahan uang kontrakan yang selama 18 tahun ini disimpan oleh istri saya!"


Mama Difa dan Papa Galih terus menatap Om Malik dengan wajah serius. Mereka berdua tidak menyangka bahwa lelaki yang ada dihadapannya sekarang, adalah lelaki yang begitu amanah. Ia mampu menjaga segala aset dan harta kekayaan untuk Gifali.


"Total uang yang ada saat ini ada sekitar satu Milyar, namun kemarin saya sudah keluarkan untuk membeli motor sportnya Gifali sebesar 50 juta. Pembukuan keuangannya pun saya buat dengan rapih. Nanti akan Om serahkan ke kamu, Nak."


"Alhamdulillah Ya Allah---Kakak senang kan? Semua uang itu disimpan untuk tabungan Kakak ya, Nak." Ucap Mama Difa dengan wajah bahagia menatap sang anak.


Papa Galih tertawa sarkas. "Lebih dari itu saya bisa kasih untuk Gifali, saya sudah mempunyai tabungan khusus untuk Gifa sedari ia bayi sampai sekarang!" Papa Galih menatap Om Malik.


"Pah!" Sentak Mama Difa. "Jangan kayak gitu ah!"


"Loh memang kenyataan kan, Mah?"


Papa Galih hanya tidak ingin sang anak pergi meninggalkannya jika ia tahu bahwa Bunda Gita sudah menyiapkan tabungan untuk Gifali.


"Saya sudah siapkan sepuluh Miliyar untuk masing-masing anak saya---"


"Papah!" Mama Difa kembali memotong ucapan suaminya yang semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Gifa tetap punya hak, ini kan pemberian dari Bundanya. Kamu harus menghormati itu!"


"Om, Gifa gak akan terima semua uang itu kalau Papa belum mengizinkannya. Papa yang punya hak atas diri Gifa!" Tak disangka ucapan itu keluar dari mulut pemuda ini. Ia lebih memilih menjaga perasaan sang Papa dibandingkan harus menerima uang itu begitu saja.


"Kakak kenapa ngomong kayak gitu? Ini semua pemberian dari Bunda kamu, Nak! Di alam sana ia pasti menangis kalau Kakak seperti ini!" Lalu Mama Difa menoleh ke arah suaminya. "Galih, tolong! Jangan buat masalah menjadi runyam! Kamu jangan posesif dan terlalu cemburu, Gifa tetap anak kamu! Kamu yang selama ini membesarkan dia, hanya dengan uang dari Kak Gita, tidak akan membuat Gifa meninggalkan kita begitu saja!"


Seolah wanita itu tahu apa yang sedang difikirkan oleh suaminya sekarang. Ketiga lelaki itu pun terdiam, mereka tidak bisa berkutik dengan ucapan Mama Difa. Terlihat Om Malik tersenyum karena setuju dengan apa yang mantan kekasihnya itu bicarakan.


Drrt drrt drrt


Ponsel Gifali bergetar. Ia pun merogoh kantung celananya untuk meraih ponselnya.


"Iya hallo, Ra? Maaf ya aku agak telat datang ke Rumah Sakitnya.." Ucap Gifali ketika mendengar suara Maura dari seberang sana. Gifali pun terus mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Maura di sambungan telepon.


"Baiklah kalau begitu, aku akan kesana!"


Tut.


Sambungan telepon diantara mereka pun terputus.


"Kenapa, Nak?" Tanya Mama Difa ketika sang anak sudah memasukan ponselnya kembali ke kantung celana.


"Maura sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, Mah."


"Alhamdulillah---" Ucap Mama Difa dan Papa Galih bersamaan.


"Tapi..."


"Tapi kenapa?" Tanya Mama Difa kembali cemas. Ia terus menatap wajah sang anak yang terlihat mulai tegang.


"Kenapa, Kak?" Sambung sang Papa.


Gifali menatap ke arah wajah kedua orang tuanya dengan suara pelan ia pun menjawab.


"Om Bilmar menunggu kedatangan Kakak dirumahnya, Pah, Mah!"


Ada helaan nafas panjang yang keluar dari mulut kedua orang tua Gifali.


"Papa dan Mama akan temani Kakak kesana!" Ucap Papa Galih.


Mereka resah dan khawatir, apa lagi yang akan dilakukan oleh Papanya Maura kepada Gifali. Mama Difa sudah terlihat tegang, ia takut Om Bilmar masih marah dan ingin memukuli Gifali karena sempat membuat Maura sakit seperti itu.


****


Bagaimana kah hubungan mereka setelah ini??"


__ADS_1


__ADS_2