GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Keputusan, Putra Gifali Hadnan.


__ADS_3

Setelah membahas tentang harta warisan yang ditinggalkan untuk Gifali dari Bundanya. Dan melepas kepergian Om nya untuk kembali ke Bandung. Kini Gifali melaju pergi untuk mendatangi kediaman Maura bersama kedua orang tuanya.


Tidak hanya Gifali yang resah, tetapi Mama Difa dan Papa Galih pun sama. Mereka khawatir kalau calon besannya akan murka terhadap anak mereka.


Dua jam membelah jalanan, akhirnya mereka sampai dikediaman keluarga Artanegara. Maura yang sudah menunggu sedari tadi langsung keluar menjemput mereka di pekarangan rumah. Wajah gadis itu terlihat bahagia dan terus tersenyum. Ia mencium tangan Mama Difa dan Papa Galih secara bergantian.


"Sudah mendingan, Nak?" Tanya Mama Difa kepada Maura.


"Alhamdulillah Maura udah enakan tante."


Mama Difa pun tersenyum. "Mama, Papamu--?"


"Mama dan Papa masih ada kamar, tapi memang sedang menunggu kedatangan kalian, terutama Gifa!" Maura mengalihkan pandangannya untuk menatap senyum ke arah calon suaminya.


"Ayo Tante, Om, Gifa kita masuk ke dalam!" Maura merangkul tubuh Mama Difa untuk mengikuti langkahnya masuk sampai keruang tamu.


Sesampainya disana mereka pun dipersilahkan untuk duduk. "Sebentar ya, Maura panggil Mama dan Papa dulu!"


"Iya Nak..." Jawab Mama Difa. Maura pun berlalu.


Terlihat raut ketegangan muncul diwajah mereka bertiga. Kedua orang tua itu takut kedatangan mereka kesini hanya akan menimbulkan keributan, mereka khawatir kalau Om Bilmar akan membatalkan pernikahan anak mereka. Karena kecewa dengan sikap Gifali beberapa tempo lalu.


"Tenang ya, Kak. Ada Papa disini---" Papa Galih menggenggam tangan sang anak yang terasa dingin dan berkeringat. Gifali duduk ditengah-tengah antara Mama dan Papanya. Anak itu terus di apit oleh orang tua mereka.


****


Kini keluarga Hadnan saling bertatapan dengan keluarga Artanegara, si pemilik rumah yang memang sudah menunggu kedatangan mereka.


Seperti halnya Gifali yang tengah berada diantara kedua orang tuanya begitu pun Maura diapit lekat di antara Mama Alika dan Papa Bilmar.


Keheningan kembali muncul ketika baru saja mereka bersalam-salaman dan berjabat tangan. Ada rasa malu yang mencuat dari wajah Papa Bilmar ketika menatap Papa Galih, begitu pun Papa Galih kepadanya. Mengingat mereka pernah saling meninju karena cemas memikirkan anak-anak mereka.


Lalu

__ADS_1


Dua bola mata Papa Bilmar beralih menatap Gifali. Lelaki yang sangat diinginkan oleh putrinya setengah mati. Dari raut wajahnya tersirat masih ada rasa kekesalan dan kekecewaan, namun Mama Alika sudah berulang kali menasihati Papa Bilmar untuk memaklumi sikap Gifali pada saat itu. Mama Alika hanya tidak ingin Maura kembali shock.


"Bagaimana pukulan dari anak lelaki, Om? Apakah sakit?" Papa Bilmar membuka keheningan dengan suaranya. Ia menatap kebiruan di dekat tulang pipi di wajah Gifali berkat bogeman panas dari Ammar kemarin malam.


"Gifa minta maaf, Om. Sudah mengecewakan Om, Tante, Maura dan Ammar--" Jawab Gifa dengan senyuman yang tercetak jelas di wajah tampannya. Tidak ada rasa sakit hati yang membekas berkat pukulan dari calon adik iparnya.


"Mungkin kamu harus tau akan ada lagi pukulan panas seperti itu jika kamu tega menyakiti hati anak Om, Gifa!" Ucapan itu terdengar santai namun menghentak semua orang.


"Saya minta maaf, Mas. Atas sikap Gifali, wajar kan anak saya, kala itu ia tidak bisa berfikir jernih. Anak saya juga shock!" Ucap Papa Galih membela sang anak. Demi apapun hati Gifali begitu terenyuh. Ia menoleh dan terus menatap Papanya yang terus berucap untuk meminta maaf atas nama dirinya.


"Iya Mas, kami sudah mengerti untuk hal itu. Yang lalu biarlah berlalu, harus bisa dijadikan pelajaran untuk Gifa dan Maura. Bahwa setiap masalah yang ada harus dihadapi bukan lari untuk menjauhinya." Sahut Mama Alika, ia ingin menetralkan suasana agar menjadi hangat kembali.


Ada desahan nafas dari Papa Bilmar sebelum ia kembali bertutur. Seperti ada pemikiran jauh yang sedang berkutat mengitari kepalanya.


"Satu minggu lagi ujian nasional untuk Maura dan juga Gifali. Bagaimana dengan permintaan Mas Galih waktu itu di kantor?" Tanya Papa Bilmar mengingatkan perihal kedatangan Papa Galih untuk memintanya merestui hubungan Gifa dan Maura.


"Oh masalah itu. Tentu, Mas. Saya ingin melamar Maura untuk Gifali setelah mereka ujian nasional. Mungkin untuk pernikahan bisa dilaksanakan setelah kelulusan sekolah, bagaimana?" Papa Galih berbalik tanya.


Gifali diam sebentar, ia menatap Maura dan wanita itu hanya memberi kode dengan anggukan. Maura begitu yakin kalau Gifa akan mengikuti kemauannya. Gifa kembali menatap wajah Papa Bilmar. Raut akan kejantanan sebagai lelaki pun terpancar menyerbak wajah Gifali.


"Gifa ingin meminta ijin untuk melamar Maura sehabis kita ujian, Om---"


Semua orang yang sedang mendengarkan terus menatapnya dengan dua bola mata yang membulat. Terutama Maura yang wajahnya terus berbinar-binar. Ia sudah tahu jika lelaki itu tidak akan meninggalkannya lagi.


"Tapi..."


Begitu kata itu keluar dari mulut Gifa. Semua yang menatap merubah raut wajah mereka menjadi aneh dan takut. Ada apalagi dengan Gifa?


"Gifa tidak bisa menikahi Maura dalam waktu dekat---"


".....GIFA!" Maura menyelak cepat. Terlihat raut kekecewaan mendominasi wajahnya. Kebinaran di pelupuk matanya sudah menghilang, dadanya terasa sesak sekarang.


"Loh, Kak, kenapa?" Tanya Mama dan Papanya bersamaan. Begitupun Mama Alika. "Ada apa Gifa? Apa yang memberatkan kamu?"

__ADS_1


"Lanjutkan Gifa, saya menunggu penjelasan kamu!" Papa Bilmar kembali membuka suara.


Dengan lantang dan sejumlah tekad yang bulat, akhirnya Gifa berujar kembali.


"Gifa ingin Maura mengejar cita-cita dan impiannya dulu. Gifa pun ingin memantas kan diri untuk Maura. Gifa ingin memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anak-anak kami kelak! Gifa akan menikahi Maura beberapa tahun lagi---Tidak sehabis kelulusan kami.


"GIFA!" Seru Maura kembali. Air mata yang sudah menggenang begitu saja turun menetes membasahi permukaan pipi nya yang halus. Si wanita sabar kembali dikejutkan dengan keputusan Gifa yang menyakitkan.


"Kamu udah janji sama aku kan?"


"Iya, Ra. Aku pasti akan nikahin kamu, tapi gak mungkin dalam waktu secepat ini. Aku gak punya apa-apa, Ra. Aku takut gak bisa biayain hidup kamu nanti---"


Wajah Papa Bilmar terlihat terang benderang. Tentu yang dikatakan Gifali sesuai dengan kemauannya. Ia mengizinkan Gifa menikahi anaknya, namun ketika Maura sudah lulus menjadi chef terbaik di London.


"Kakak! Kenapa bicara kayak gitu? Ada Mama sama Papa yang akan bantu kamu, Nak!"


"Iya Gifa..Tante dan Om juga akan bantu kalian. Jangan terlalu merendahkan diri kamu, Maura dan kita semua menerima kamu apa adanya..." Ucapan itu keluar dari mulut calon mama besannya yang begitu baik hati.


Maura pun menangis dalam pelukan sang Mama. Wanita itu tidak begitu saja terima dengan keputusan Gifali.


"Kamu bohongin aku, Gifa! Aku kecewa sama kamu...."


"Aku gak bohongin kamu, Ra! Dengan pertunangan itu sudah mengikat kita. Aku janji gak akan berpaling dari kamu sampai waktu pernikahan kita tiba!"


Demi apapun hati wanita itu pun hancur berkeping-keping. Bayangan pernikahan yang sudah didepan mata begitu saja terhancurkan. Bagaimana bisa mereka berpisah cukup lama dalam waktu empat tahun dan berbeda negara. Pertunangan tidak akan menjadi jaminan, ia sangat takut kalau Gifali beralih cinta kepada wanita lain ketika ia pergi jauh dari sisi lelaki itu.


"Aku akan nunggu kamu, Ra.."


****


Ayoo jadi nikah gak nih? Akan ada satu episode lagi setelah ini, tungguin ya.


__ADS_1


__ADS_2