
Selamat pagi guyss
Selamat baca
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini langkah kaki mereka sudah tiba di sebuah apartemen mewah kepemilikan Maura. Apartemen yang dibelikan oleh Papa Bilmar dua tahun yang lalu. Walau tidak pernah ditempati, tapi Maura selalu menyempatkan datang untuk menengok apartemen itu beberapa kali dalam sebulan. Hanya untuk membersihkannya dari debu-debu yang berserakan.
"Ayo sayang masuk.." Ucap Maura ketika ia berhasil membuka pintu apartemen.
"Ayo Gifa!" Maura menggandeng paksa tangan Gifali. Lelaki itu masih melamun dan diam. Ia menurut seperti anak balita yang tengah dipapah oleh sang ibu.
"Kamu mau mandi? Mau makan? Tapi aku gak ada stok makanan dan baju ganti buat kamu disini, apa aku keluar dulu ya?"
Bub.
Seketika kedua bibir Maura mengatup begitu saja ketika dua jari Gifali tengah mendarat disana. Gifali menggelengkan kepalanya, membawa isyarat dengan matanya agar Maura diam sejenak.
Kemudian Gifali menjatuhkan dirinya di sofa.
"Ayo duduk!" Gifali menarik tangan Maura untuk duduk disebelahnya. Ia merebahkan tubuhnya dan menjadikan kedua paha Maura sebagai bantal untuk menopang kepalanya.
Telapak tangan Maura mengusap-usap kepala Gifa yang sudah mulai di tumbuhi dengan rambut-rambut tipis disana. Usapan itu membuat batin Gifali jauh lebih tenang dan damai.
"Kamu gak sendirian sayang...ada aku disini."
Maura membuka suaranya di keheningan malam. Perlahan-lahan ia membuka percakapan untuk membahas prahara yang terjadi saat ini. Ia ingin Gifali tahu bahwa dirinya akan selalu setia mendampingi hidupnya.
"Aku akan selalu terima kamu apa adanya. Gak perduli siapa kamu, bagaimana latar belakang kamu. Itu semua gak penting buat aku, Gifa!" Maura terus memberikan janji dan semangatnya untuk sang kekasih.
Gifali hanya diam, ia terus memejamkan kedua matanya. Lidahnya terasa keluh, ia sulit untuk membalas semua perkataan Maura. Ia hanya bergerak untuk meraih tangan Maura lalu menggenggam dan meletakan diatas dadanya.
Ada tetesan air bening turun dari ekor matanya. Lelaki itu menangis kembali. Dadanya terguncang lagi. Yang ada didalam kepalanya saat ini, hanya ingin menghilang dan meninggalkan semua yang pernah ada.
__ADS_1
Sekilas wajah Mama, Papa dan ketiga adiknya terus berpusat di otaknya, memenuhi kepalanya. Lalu ia bangkit melepaskan genggaman tangan Maura begitu saja, ia duduk berselonjor dan memukul-mukul kepalanya.
"Arggghhh!" Gifali berdecak histeris. Maura pun bangkit turun dari sofa dan melekatkan lututnya dilantai dan membungkuk ke arah Gifali. Ia memegang pergelangan tangan Gifali untuk menghentikan pukulan tersebut.
"Gifa jangan sayang..." Desahnya. "Kepala kamu masih sakit, jangan dipukul-pukul kayak gini!"
Gifa menatap wajah Maura dalam-dalam. Ia melihat kedua mata Maura sudah berkaca-kaca.
"Aku gak pantas..." Gifa menggelengkan kepalanya, lalu ia menunduk ke bawah.
"Gak pantas buat kamu, Ra!" Rintih nya sangat pelan. Ucapan itu sontak membuat hati Maura meringis seperti tengah ditusuk.
"NGGAK, Gifa! Kamu itu sangat berharga buat aku dan keluarga mu!" Maura tetap bersikeras meyakinkan Gifali. Ia terus menggenggam tangan Gifa agar lelaki itu tidak lagi memukul kepalanya.
"Kalau memang jatidiri kamu seperti ini, terus kamu mau apa, Gifa?"
"Mau mengutuk diri kamu?"
"Mau membenci keluarga kamu?"
"Mau meninggalkan mereka yang jelas-jelas udah membesarkan kamu?"
"Kamu ikhlas meninggalkan Mama mu yang paling kamu cintai?"
"Kamu boleh marah, boleh juga kecewa. Tapi tidak untuk meninggalkan mereka!"
"Kamu tetap pantas! Kamu tetap berharga! Untuk aku dan mereka!"
"Kita semua cinta sama kamu, Gifa!"
Sekumpulan bait kekuatan terus memuncah dari bibir Maura. Ia ingin lelaki itu bangkit dari keterpurukan. Memang semua ini tidak mudah untuk diterima, tapi memang ini lah kenyataannya. Fakta yang tidak bisa diganggu gugat. Bahwa Giflali memang bukanlah keturunan Hadnan.
Gifali melepaskan genggaman tangan itu dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kedua matanya masih memerah dan tangisannya terus turun tidak mau surut.
"Tapi mereka udah bohongin aku, Ra. Tentang siapa aku, jati diri aku!"
"Bahkan Gelfa dan Gana aja tau siapa aku sebenarnya, Ra!"
"Tapi aku gak tau apa-apa! Selama 18 tahun, mereka tutupin semua ini, Ra! Aku boleh kecewa kan??"
Gifali meledakkan semua rintihan hatinya kepada Maura.
"Aku malu, Ra. Aku bukan anak kandung Mama dan Papa...aku bukan seorang Hadnan!" Ucap Gifa diiringi tangis dan emosi yang begitu membara. Ia meraup kain kemeja di dadanya dengan kepalan tangannya, menandakan kalau hatinya begitu sakit dan perih.
Maura pun kembali menangis, ia tidak tega melihat Gifali seperti ini. Tentu ia faham bagaimana rasanya menjadi Gifali sekarang. Apa kata dunia nanti ketika mereka tahu bahwa Gifali hanya menumpang hidup dan dibesarkan oleh keluarga Hadnan.
"Asal-usul hidupku gak jelas, Ra! Aku gak pantas buat kamu..." Gifali mengusap pipi Maura. Ia menghentikan tangisannya dan menatap sendu wajah calon istrinya.
"Kamu adalah wanita bermatabat Ra. Kamu berharga, kamu terhormat! Dunia kita gak sama.." Gifali terus merendah. Membuat hati Maura menjadi pilu dan merana.
"Gifa! Aku gak suka kamu ngmong kayak gitu!" Kedua mata Maura mendelik tajam. Ia menangkup wajah Gifali dengan kedua tangannya. Mereka pun bersitatap dalam tangis yang membuncang kembali.
__ADS_1
"Rasa sayang aku tulus buat kamu! Aku gak perduli asal-usul kamu! Yang aku perduliin hanya ini."
Maura menunjuk ke arah dada Gifali.
"Aku hanya butuh rasa sayang dari kamu aja! Walaupun aku harus hidup susah sama kamu, aku mau, Gifa!"
Sebegitu murninya perasaan Maura kepada Gifa. Bahkan ia tetap meminta belas kasih lelaki itu untuk tidak meninggalkannya. Tentu saja keadaan ini begitu terbalik. Karena seharusnya yang merasa takut untuk ditinggalkan adalah Gifali. Lelaki itu lah yang harusnya merasa terancam karena status dirinya yang tidak jelas seperti ini, bisa saja membuat Maura enggan untuk melanjutkan hubungan dengannya.
Gifali hanya diam dan menundukkan kepalanya lagi. Ia bingung ingin menjawab apa. Otaknya seketika beku untuk berfikir dalam mencari jalan keluar.
"Aku mau tidur, Ra. Kepalaku pusing." Ucapnya kembali menatap Maura tanpa air mata.
Maura mengangguk lalu bangkit untuk merangkul tubuh Gifali yang masih berpakaian seragam sekolah lengkap.
"Tidur di kamar ya.." Ucap Maura.
Ceklek.
Lampu kamar seketika terang menyalah. Gifa terus mengedarkan tatapannya untuk menyusuri sudut ruangan.
"Duduk dulu disini ya, aku mau ganti seprainya dulu." Maura menyuruh Gifali duduk di kursi meja riasnya.
Lelaki itu hanya menurut dan melihat Maura yang tengah sibuk membereskan tempat tidur. Membersihkan dari debu dan memasangkan seprai yang baru.
Samar-samar garis senyum Gifali kembali muncul, ia senang melihat keluwesan tangan Maura yang sedang menata rapih tempat tidur yang akan ia gunakan untuk beristirahat beberapa saat lagi.
"Memang kamu calon istriku yang baik." Ucapnya, membuat Maura menoleh. "Makanya cepat nikahin aku, biar kamu ada yang urus.." Jawab Maura tertawa.
Gifali hanya tersenyum, ia terus memandangi Maura dengan cinta yang amat membahana. Ia bingung harus dengan apa menikahi Maura, tentu ia tidak punya uang sebanyak itu.Tidak mungkin jika ia harus meminta kebaikan hati keluarga Hadnan untuk membantunya.
"Ayo berbaring lah sayang.." Maura melambaikan tangan Gifali untuk menghampirinya. Gifali pun bangkit dari sofa dan berjalan menuju tempat tidur. Lelaki itu membaringkan tubuhnya dengan desahan nafas yang masih terasa berat.
Maura melepaskan kaos kaki dan sepatu Gifali yang masih melekat menutupi jejak kakinya.
"Tidur ya sayang. Aku disini jagain kamu."
Maura membiarkan lelaki itu untuk memejamkan matanya, meninggalkan sejenak beban yang masih mengikutinya.
"Jangan fikirkan besok, jalani saja hari ini ya." Ucap Maura lalu mencium dahi dan pipi Gifali. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh kekasihnya agar tidak dijamahi oleh udara dingin.
Namun ketika Maura ingin beranjak bangkit, tangannya langsung dicekal oleh Gifali. "Kenapa Gifa?" Tanyanya.
"Ayo Ra tidur disebelahku!" Gifa menepuk bantal yang ada disebelahnya.
Maura pun mengangguk dan merangkak naik untuk tidur disebelah Gifali.
"Menghadap kesana ya, aku ingin peluk kamu dari belakang." Gifa meminta Maura untuk tidur memunggunginya. Tangan kanannya terangkat untuk diletakan diatas perut Maura dan meletakkan kepalanya di bahu sang kekasih.
"Selamat malam, mimpi indah ya, Gifaku!"
****
__ADS_1