GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Pukulan panas dari Ammar.


__ADS_3

Selamat baca ya


🤗🤗


.


.


.


.


.


Gifa akhirnya menggendong tubuh Maura yang tidak sadarkan diri untuk kembali ke kamar perawatannya. Beruntung lah dipertengahan jalan ia bertemu dengan beberapa perawat yang segera membantunya untuk membawa tubuh Maura keatas brangkar.


Tak berapa lama dari kejauhan terlihat Ammar sedang berlari-lari menuju arah balik kamar perawatan Kakaknya, karena ia melihat punggung Gifali yang bersamaan beberapa perawat ketika mendorong brangkar masuk kedalam kamar Maura.


"Kenapa bisa begini sih, Kak?" Mama Difa terlihat cemas.


Gifa hanya terdiam, wajahnya pun terlihat panik. Rasa bersalah terus menyelimuti hatinya. Tentu ia tidak mau Maura seperti ini, namun ia tidak memiliki jalan lain. Selain membuat Maura menjauh darinya.


"Ra..." Gifa mengelus-elus pipi Maura untuk menyadarkan wanita itu.


"Sadar nya lama gak ya, Sus?" Tanya Mama Difa kepada dua perawat yang sedang memasukan jarum infusan ke punggung tangan Maura.


"Ketika cairan infusan masuk, pasien akan segera sadar, Bu.."


"Oh, syukur lah..makasi ya Sus."


Mama Difa meluapakan kelegaannya. Ia tidak mau anaknya tersandung dengan masalah lagi. Dengan masalah Maura sakit saja, keluarga Artanegara pasti punya perhitungan sendiri untuk Gifali apalagi jika mereka tahu kalau keadaan Maura semakin tidak baik.

__ADS_1


Karena merasa ada rasa nyeri dibagian punggung tangannya, berkat tusukan jarum infusan membuat Maura perlahan-lahan membuka matanya. Ia terlihat meringis karena sakit.


"Ra..kamu udah sadar." Gifa tersenyum tepat di atas wajah Maura. Sambil memegangi kepalanya ia merintih. Mama Difa pun beringsut untuk mendekatinya.


"Aku pusing Gifa..."


"Sus, anak saya masih pusing katanya." Ucap Mama Difa kepada para Perawat itu.


Plester sudah terpasang diselang infus pada punggung tangan Maura. Cairan elektrolit itu pun mengalir kedalam tubuhnya.


"Cairan infus nya sudah berjalan, obatnya sedang berproses. Kalau ada apa-apa, tinggal kabari kami ya--" Jawab Perawat itu sambil membereskan alat-alat mereka.


"Makasi ya, Sus.." Ucap Gifa, Maura dan Mama Difa bersamaan. Dua perawat itu pun berlalu menuju pintu. Belum saja membuka pintu dari arah luar sudah ada yang mendorong pintu ke dalam, ada Ammar yang masuk dengan langkah blingsatan kedalam kamar perawatan Kakaknya.


"Kak Gifa?" Wajah Ammar terlihat bahagia. Namun ketika Gifali menoleh dan ingin menyapanya, bogeman mentah sudah melayang jauh ke wajah tampan Gifali.


Bug.


"AMMAR!" Seru Maura. Wanita itu histeris ketika melihat sang kekasih di pukul oleh adiknya sendiri. Gifa hanya menatap Ammar sambil memegangi bagian yang sakit disekitar wajahnya.


"Ammar jangan pukul Kakakmu, Nak.." Mama Difa mencoba menenangkan Ammar. Dan tanpa diduga, Ammar langsung memeluk Gifali.


"Aku senang akhirnya Kak Gifa datang! Pukulan ini hanya sebatas pengingat jika kamu kembali berulah untuk menyakiti Kakakku!" Ucap Ammar tepat di telinga Gifali. Ia pun melepas pelukan itu lalu berbalik mencium tangan Gifa lalu bergantian ke arah Mama Difa.


"Tante mau minum apa? Biar Ammar belikan ya?" Tanya Ammar.


Gifa masih tercengang dengan sikap Ammar sekarang. Wajahnya terus melongo.


Mama Difa hanya bisa menghela nafasnya karena Ammar sudah kembali membaik. Wanita itu sudah berfikiran macam-macam, takut-takut Ammar dan Gifali berkelahi.


"Gak usah, Nak. Sudah malam, Tante juga mau pamit pulang dulu." Lalu ia menoleh kearah Maura. "Tante pulang dulu ya, Nak. Biar Gifa nanti yang jagain Maura disini!"

__ADS_1


Mendengar ucapan itu membuat Maura menoleh ke arah Gifali. Samar-samar Gifali mengangguk dan setuju akan ucapan sang Mama.


Namun, entah mengapa Gifali berubah fikiran.


"Hemm tapi...Apa gak sebaik nya Gifa antar Mama pulang dulu? Gifa gak mau mama hanya berdua di mobil dengan Om Malik!" Raut ketidaksukaan masih memancar dari wajah Gifali terhadap Mamanya.


Mama Difa baru teringat dengan keberadaan lelaki itu yang masih setia menunggu disini.


"Kamu gak keberatan kan kalau aku antar Mama dulu kerumah?" Tanya Gifa kepada Maura.


"Tapi kamu gak bohongin aku kan? Kamu bakal balik lagi kesini?" Maura menggenggam tangan Gifali. Rasa trauma karena ditinggali masih bertahta dalam benaknya. Maura masih merasa Gifa tetap dalam pendiriannya untuk meninggalkan dirinya.


Gifali tersenyum. "Iya aku akan balik lagi setelah mengantar Mama. Aku juga ingin bertemu Papa. Kamu harus banyak istirahat---Maafkan aku ya!" Gifali mencium kening Maura. Ia sadar dirinya sudah sangat keterlaluan, karena sikapnya lah pujaan hatinya harus sakit seperti ini. Mau kemanapun ia menghindar, tetap saja bayangan Maura terus mengusik jiwa raganya.


"Janji ya Gifa?" Tanya Maura kembali.


"Tenang ya Nak, tante akan jagain Gifa buat kamu. Dia gak akan berani kabur lagi kok--" Mama Difa tersenyum lalu mencium pipi Maura. "Cepat sembuh ya sayang, biar bisa cepat masuk sekolah, kan sebentar lagi kalian akan ujian sekolah!"


Maura mengangguk senang. "Iya Tante, makasi ya."


"Gifa kamu kesini nya besok pagi aja jangan tengah malam dipaksakan kesini. Kamu juga perlu istirahat, aku gak mau kamu masuk angin lalu sakit." Maura tetap mengutamakan kesehatan lelakinya, walau hatinya sudah begitu saja dipatahkan oleh Gifali, Maura tetap mencintai dan memperhatikannya lebih dari apapun.


"Sakit ya pukulan Ammar? Maafkan Adikku ya sayang, dia kayak gitu hanya karena sayang sama aku---" Maura terus menatap wajah Gifali untuk meyakinkan dirinya, bahwa lelaki itu tidak marah karena pukulan dari adiknya.


"Gak kok, aku gak marah. Harusnya aku mendapatkan lebih dari ini.." Jawab Gifa menenangkan Maura, ia kembali mengedarkan pandangannya ke arah Ammar. "Maafin Aku, Ammar. Aku salah, udah buat Kakak kamu kayak gini."


Ammar mengangguk penuh senyum bahagia ke arah Gifali. Setidaknya Gifali tahu bahwa ada dua lelaki yang siap mencari dan merobek habis tubuhnya jika Maura kembali disakiti. Siapa lagi jika bukan Ammar dan Papa Bilmar. Dua lelaki itu tidak akan bisa melepaskan Gifali begitu saja. Entah bagaimana sikap Papa Bilmar besok ketika melihat Gifali datang datang kembali.


****


Beberapa episode lagi Maura dan Gifa akan berakhir ya, berikan komen dan like nya❤️💛

__ADS_1


__ADS_2