GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Demi Cinta kita, Gifa!


__ADS_3

Haiii selamat malam


Aku kembali


Selamat baca ya guyss


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Didalam keheningan mushola, diatas sajadah panjang terdapat wanita terbalut mukena yang sedang menengadahkan kedua tangannya ke atas.


Kedua mata itu terlihat sudah basah dan bengkak sedari tadi. Wajah pucat pasi serta hidung yang sudah memerah terus mengunci senyum yang sudah hilang entah dari kapan.


Ada Maura yang masih bersimpuh kepada Maha Penguasa Alam dalam shalat malamnya. Ia terus berdoa untuk kelancaran operasi dan kesembuhan Gifali.


"Hanya kepadamu lah aku memohon dan meminta. Curahkanlah rahmat dan kasihmu untuk Gifali, Ya Allah---"


Desahan dan rintihan doa mengalun indah dari bibirnya.


Maura menangkup wajahnya, ia menangis terisak-isak. Melihat keadaan Gifa yang seperti orang linglung membuat hatinya begitu perih seperti sedang tersayat oleh pedang sembilu.


"Gifa, bertahanlah! Kamu pasti kuat!"


Baru saja kemarin mereka memadu kasih namun hari ini mereka kembali berperang dalam garis tipis yang akan merenggut nyawa Gifali selama-lamanya.


****


Om Lukman yang melihat Papa Galih sedang dalam tekanan mencoba untuk menghiburnya sebentar dengan membawanya ke kantin Rumah Sakit. Sepertinya kopi panas bisa merelaksasi kan fikiran sahabanya itu.


"Gue takut Gita bohongin gue, Men! Gue takut nggak bisa nerima kenyataan kalau Gifa itu bukan anak kandung gue! SHIT...." Papa Galih menghentakkan kepalan tangannya di meja. Membuat sedikit cairan kopi keluar dari gelasnya.


Papa Galih terlihat frustasi, ia terus bersikap tidak tenang. "Sabar dulu Lih. Lo harus tenang, ini masalah yang nggak main-main, jangan sampai terkaan lo itu berakibat buruk untuk psikis Gifa serta anak-anak lo yang lain!"


"...Darah gue sama Gita nggak sama kaya Gifali, Men! Gue B, Gita AB kenapa Gifa jadi O? Itu tandanya Gita pernah sama lelaki lain sebelum gue---"


GITA?


Lukman seraya membidik. Ia terenyak sebentar, nama Gita seperti tidak asing ditelinganya. Di dunia ini nama Gita tidak hanya satu atau dua orang saja, tapi banyak ribuan manusia yang banyak bernama Gita.

__ADS_1


Semoga saja Gita yang dimaksud, bukanlah wanita yang pernah menemuiku 17 tahun yang lalu. Semoga saja !


Papa Galih memang tidak pernah menceritakan tentang Gita secara gamblang kepada Lukman, seperti menunjukan foto atau wajah tentang istri keduanya itu.


Karena selama pernikahannya dengan Gita, Papa Galih selalu menutup celah akses kepada siapapun agar tidak mengetahui pernikahannya dengan ibu kandung Gifali.


Om Lukman hanya mengetahui Gifali bukanlah anak dari Mama Nadifa. Ia hanya tahu bahwa Gifali adalah anak dari hasil kesalah fahaman antara Papa Galih dengan teman sekantornya, Sagita Haryani.


"Lo kenapa Men? Kok muka lo tegang?" Papa Galih terus melihati wajah Om Lukman yang sedikit agak redup.


"Nggak Lih!" Om Lukman dengan cepat menggelengkan kepalanya, menelan semua terkaan untuk pergi menjauh.


"Jadi lo mau apa? Mau tes DNA?"


"Iya..." jawab Papa Galih dengan penuh frustasi. "Nggak ada cara lain tanpa cara itu, gue akan tersiksa sampai mati! Gue akan terus berfikir bahwa Gifa adalah anak gue Men!"


"Tapi kan sekarang dia juga udah jadi anak lo, Lih? Lalu apa yang mau lo lakuin, kalo lo tau dia bukan anak lo?"


Papa Galih mendengkus dan berdecak. Ia memejamkan kedua matanya agak lama. Lalu membuka cepat dan memunculkan air mata yang sudah menggenang.


Hati Papa Galih begitu sakit dan hancur!


"Nggak tau Men, gue bener-bener nggak ada bayangan apa-apa sekarang! Gue akan mengutuk Gita sampai kapanpun, jika ternyata dia benar membohongi gue, Men!"


Om Lukman merangkul Papa Galih seraya memberikan kekuatan. "Semoga aja Gifa memang anak kandung lo, Lih. Gue support kalau lo mau tes DNA---"


"Udah jangan nangis, kaya manusia aja lo pake nangis segala, mau gue elap air mata lo pake apa? Tanah apa pasir?"


"Ck!Lo fikir gue kucing yang lagi buang hajat?" Papa Galih tertawa, ia sedikit terhibur.


"Makasi Men, lo emang sahabat terbaik gue! Walau terkadang perkataan dan sikap lo suka nggak singkron! Tapi gue tau lo orang baik, lo sayang sama keluarga."


"....Apaan nih maksudnya??" Lukman mencebik. "Ngapa lo jadi muji-muji gue?"


"Penjahat kelamin, apa pantes nya gue puji-puji??" Papa Galih berdecis geli.


"Hemmm....?"


"Lo jangan sering main cewek, Men! Lo udah tua, lo mau kena penyakit? Lo selalu bilang hanya iseng! Gue takutnya lo bakal nyesel di akhir."


"Ya elah si kurap, pake segala nasihatin gue! Padahal tadi lo yang nangis, ngapa sekarang jadi gue yang pengen nangis...?"


"Gue nggak mau lo nyesel kaya gue, Men! Gue udah anggep lo kayak saudara sendiri! Berharap kita bisa jadi besanan? Makanya gue nggak mau penyakit lo turun ke anak lo, kan kasian anak gue nanti!"


"Wah parah lo semffak! Tenang Lih, gue tetap pengen ngejodohin Fadil sama Ganaya---"


"Aturlah Men, gue punya anak cewek dua dan lo juga punya anak cowok dua, gimana kalo kita jodohin aja semua anak kita?"


"Gue setuju, Lih. Ya itung-itung harta kekayaan kita nggak jatuh ke tangan yang salah, ye kan?

__ADS_1


"Lu ya fikirannya nggak jauh-jauh, dari harta, uang dan wanita---- Awas aja kalau sampai anak-anak lo nurunin sifat bejat lo!"


"Tenang Lih, gini-gini gue tetap setia sama Lala!"


"Istri lo satu emang, tapi cewek yang kaya Da-kyung banyak bertebaran disisi lo!"


"...Sapa tuh gayung?" Kening Om Lukman mengernyit.


"Tau siapa? Bini gue yang suka histeris kalau abis nonton tu cewek di tv..."


"Ya elah, kirain gue apaan----Lala dong nontonnya Maria Ozawa, hahahaha!"


"What? Yang bener lo? Mana sini gue minta link nya----"


"Hahahahahha....."


Gelak tawa Papa Galih dan Om Lukman saling beriringan. Om Lukman berhasil membawa Papa Galih untuk sedikit melupakan masalah yang sedang ia hadapi. Begitulah persahabatan sejati. Harus selalu mengasihi dalam suka dan duka.


Semoga persahabatan Papa Galih dan Om Lukman tidak akan pernah terputus sampai kapan pun.


Semoga!


****


Jap.


Lampu kamar operasi sudah menyalah. Sebagai tanda jika operasi Kraniotomi Gifali sedang berjalan. Semua mata memandang penuh nanar kepada pintu kamar operasi yang sudah tertutup.


Maura terlihat merebahkan kepalanya di paha sang Papa yang sedang duduk di bangku tunggu. Kepalanya terasa berat dan pusing karena terus menangis dan menangis. Mama Alika juga bersandar di bahu suaminya. Ia sedih melihat putrinya yang terus melamun dan susah diajak bicara.


"Papa mengerti sekali keadaan Maura sekarang, Mah!"


Papa Bilmar membuka suaranya, membuat Mama Alika mendongakkan wajahnya untuk melihat dua bola mata Papa Bilmar dengan jelas.


"Karena Papa pernah ada diposisi seperti ini, ketika sedang menunggu Mama yang masih tergeletak tidak berdaya didalam kamar operasi!


"Papa selalu berdoa agar Mama terus berjuang agar lolos dari maut, 12 tahun yang lalu--" Papa Bilmar terus berucap sambil mengelus-elus lengan Maura yang sedikit dingin.


"Rasanya Papa udah nggak bisa bernafas lagi! jantung berdegup hebat dan yang ada difikiran Papa, jika Mama nggak ada, Papa akan tetap nyusul Mama. Seegois itu Papa waktu itu!"


Mama Alika menitikan air mata dan kembali mendekap suaminya. "Makasi Pah, makasi banyak atas cinta Papa ke Mama.."


Maura begitu pilu mendengarkan kisah cinta orang tuanya yang hampir mirip dengannya saat ini. Air mata itu kembali menetes membasahi kain celana sang Papa.


"Gifa! Berjuang lah----Demi cinta kita!"


****


Like dan Komen ya guysss

__ADS_1


__ADS_2