
Haii selamat malam. Aku kembali guyss
Episode ketiga dihari ini, hanya buat kalian
Selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Terlihat mobil Maura sudah menepi di pinggiran jalan industri yang begitu sepi dan hening. Ada Gifali yang masih memeluk perut Maura dan meletakan kepalanya diceruk leher sang pujaan hati.
Gifa masih menangis dan terisak. Entah mengapa hatinya sore ini terasa sangat sendu dan sedih. Maura hanya tahu sang kekasih tengah bersedih karena kehilangan seorang tante, tapi jauh dari itu. Gifa merasa sore ini adalah sore terakhirnya bisa bertemu dengan Maura.
"Ra..."
"Iya sayang?"
"Jangan pernah pernah berhenti mencintai aku ya, Ra. Hanya kamu yang ada dihati aku! Maaf jika nantinya aku akan mengecewakan kamu--"
Maura mengangkat dagu Gifali, agar kedua mata mereka saling bersitatap. Ia ingin lebih mendapat penjelasan pasti tentang makna dari ucapan itu.
"Kok kamu ngmongnya kayak gini? Kaya mau ninggalin aku?"
Itulah Maura, ia terlalu peka dan sensitif. Bisa membaca pemikiran orang hanya dari ucapan.
"Sebisa aku untuk selalu sama kamu, Ra!"
Gifali kembali meletakan kepalanya diceruk leher Maura. Ia pun merasakan degup jantung Maura yang tiba-tiba bergemuruh hebat.
"Jangan takut Ra! Aku nggak akan ninggalin kamu---"
Maura hanya bisa terdiam dan terus menafsirkan sendiri apa yang menjadi ganjalan hatinya sekarang.
"Kamu kenapa Gifa? Kenapa jadi sedih banget kayak gini? Bukannya kamu lagi berduka soal Tante, kenapa jadi ngomongin tentang kita? Kamu segala bawa-bawa kata kecewa, maksudnya tuh gimana?"
Gifali terlihat memejamkan kedua matanya lalu ia membuka cepat dan bangkit untuk terlepas dari dekapan itu.
Gifali mengelus pipi Maura dan meraih dagu Maura untuk meraup bibir tipis itu.
__ADS_1
Dan
Blass
Semilir angin sore serta kicauan sepasang merpati di udara menjadi saksi ketika mereka saling melepas cinta dan asa.
Gifali menggigit bibir bawah Maura agar wanita ini membuka setengah mulutnya. Gifa menginvasi rongga mulut Maura dengan rakus.
Kedua mata mereka saling terpejam dan kedua tangan saling menggenggam. Awalnya Maura masih gugup dan hanya diam saja ketika lidah Gifali sudah menyesap masuk kedalam mulut, gigi dan bibirnya.
Lama kelamaan Maura ikut terhanyut, ia pun mulai mengikuti instingnya. Maura ikut membelit lidah dan mengimbangi permainan pergulatan kedua bibir mereka.
Decitan saliva terus terdengar dari dalam mobil. Disela-sela itu, terdengar Maura terus menyebut nama Gifali. Membuat pemuda ini terus bergelora dengan hormon yang terus membuncah.
Mereka sama-sama masih muda, sama-sama baru melakukan hal seperti ini. Maura makin merancau ketika Gifali sudah menyesapi ceruk leher Maura dan meninggalkan beberapa tanda merah kecil di area tulang selangka.
"Ra...." Gifa merintih.
"Hemm...Gifa---"
"Aku nggak bisa berhenti Ra!" Keluh Gifa ketika ia kembali meraup kasar kedua bibir kecil itu.
"Gifa...." Maura ikut mengeluh.
"Kok perasaan aku gini sih, Ra? Aku....tegang!" Gifa tidak faham dengan dirinya. Seumur-umur ia baru merasakan dirinya hanyut dalam hal seperti ini.
"Aku juga Gifa....." Kini kedua tangan Maura sudah mengalung indah dileher Gifali. Membuat Gifali bebas untuk melakukan apa saja.
Lalu
"Jangan Gifa! Sabar, kita belum menikah---"
Maura menurunkan tangan Gifali secara halus kebawah. Ia pun tidak mau menyakiti hati Gifa yang sedang merekah.
Gifali mengusap wajahnya dengan kasar. Mencoba mengeluarkan nafasnya ke udara, ia terus menjernihkan fikirannya untuk mengganti ketegangan yang sedari tadi sedang membuncah jiwa dan tubuhnya.
"Maafkan aku ya, Ra! Aku udah kelewat batas sama kamu!" Gifali memeluk Maura dengan erat.
Dengan bibir yang sudah polos tanpa lipgloss ia terus menenangkan Gifali sambil terus mengusap-usap punggung lelaki ini.
"Aku ngerti kok sayang, aku juga ingin. Tapi kita nggak boleh terlalu jauh, aku sudah janji sama Mama---"
"...Iya Ra, aku malu banget! Tapi aku juga senang."
"Hemm, maksudnya?"
"Aku belum pernah liat wajah kamu kaya tadi, manggil-manggil nama aku terus---"
"Iihhhh, Gifa! Aku malu!"
"Terus bibir kamu tuh rasa strawberry, ehmmm...."
"GIFA!!!" Maura meronta-ronta manja didalam pelukan itu. Ia terus saja di goda oleh sang Kekasih.
__ADS_1
"...Aku cinta kamu, Ra!"
"Aku juga cinta kamu, Gifa---"
"Jangan pernah berkata-kata macam Gifa! Aku akan selalu mempertahankan kamu bagaimanapun keadaannya nanti! Kamu nggak akan pernah sendiri!"
"Ada aku yang akan selalu menemani kamu! Meski kamu ke ujung Bulan, aku pasti akan susul kamu..."
Gifali terlihat lebih erat memeluk tubuh Maura. Ia hanyut akan kata-kata cinta yang terus mencuat dari bibir pujaan hatinya.
"Karna kamu hanya untukku, Gifa!"
****
Hari sudah mulai gelap, sesuai permintaan Gifa, Maura akhirnya menurunkan kekasihnya itu di sekolah. Gifa bermaksud untuk mengambil motornya karena ia akan melesat untuk pergi ke rumah Gadis untuk mengakhiri perpisahan secara baik-baik, memberikan semangat kepada Gadis untuk bersama-sama menghadapi ujian nasional serta mengembalikan barang-barang yang dibelikan oleh Gadis.
Maura pun kembali pulang untuk langsung pergi kerumah Kakek Luky. Karena menurut pesan yang ia terima dari Gadis, bahwa Ammar sudah ada disana untuk membantu mereka mendekor taman untuk acara besok.
Didalam perjalanan, Maura terus saja memegangi kedua bibirnya yang masih terasa panas karena ulah Gifali. Raut bahagia dan gembira terus membulat di wajahnya.
Sesekali ia berteriak senang ketika sedang mengemudi mengikuti alur jalan.
"Aku cinta kamu GIFA! AKU CINTA KAMU!!"
Maura terlihat sangat bahagia sekali, ia terus merancau memanggil-manggil nama kekasihnya dengan batin yang begitu membahagiakan. Ciuman pertama telah berhasil ia dapatkan dari orang yang benar-benar ia cintai.
Entah bagaimana setelah ini, semoga cinta kalian akan tetap kuat untuk terus bersatu. Sesuai keinginan Gifali bahwa Maura jangan pernah berhenti mencintainya.
***
.
.
.
.
.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
__ADS_1
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️