
Haii, selamat malam guyss
aku kembalii
selamat baca yaa
❤️❤️❤️❤️
Terlihat Mama Difa tengah berjalan dari dapur dengan membawa dua gelas teh hangat untuk dinikmati bersama suaminya di ruang tv. Papa Galih langsunf melipat korannya ketika melihat istrinya datang.
"Teh nya, Pah." Mama Difa menyodorkan segelas teh kepada Papa Galih. Setelah meminum teh buatan istrinya, ia pun langsung memeluk cepat tubuh Mama Difa. "Ada apa nih Mama, tumben siang-siang begini cantik banget?"
"Pah ingat, ini bukan lagi dikamar!"
"Lah dulu kan biasanya kita gelepokan di meja makan juga jadi--"
"Hustt! Di kira kucing kali, lagi makan ikan!!" Mama Difa berdecak.
"Pah, Mama lagi kefikiran. Kan Gifa bentar lagi lulus sekolah, gimana kalau kita lamar aja dulu Maura buat Gifa, Pah?"
"Hah? Lamar? Nggak kecepetan, Mah?"
"Ya nggak dong, dulu juga Papa paksa Mama terus kan buat nikah muda. Umur 21 aku udah nikah sama kamu, nggak ingat??"
Papa Galih mencebik. "Tapi apa nggak sebaiknya nanti aja Mah, kalau mereka sudah kelulusan?"
"Yang bilang mau sekarang tuh siapa? Ngomong sama anaknya aja kan belum. Ini tuh hanya rencana Mama aja. Biar Gifa sama Maura sama-sama menjaga, biar nggak ada orang yang masuk diantara mereka, Pah!"
Entah apa jadinya dan bagaimana rasa kecewanya Mama Difa jika anaknya saat ini memang sudah masuk membawa gadis lain selain Maura. Walaupun semua ini bukanlah kemauan dan kesalahan Gifali semata. Ia tidak pernah tahu kapan Maura kembali dan mengapa juga Gadis bisa datang dengan begitu cepat.
"Dulu Papa pernah bercanda sama Mas Bilmar. Siapa tau aja kita berdua bisa besanan, eh bener aja. Nggak nyangka ya nih mulut bisa membawa petaka--"
"Ihh kok petaka sih, Pah?"
"Eh iya ya, musibah berarti!"
"Berkah dong Pah! Kok Musibah sih!!"
"Ehh iyaa Mah. Heran nih, salah mulu mulut Papa dari tadi. Mungkin karena udah beberapa hari nggak dikasih jatah buat bikin adiknya Gemma kali ya---" Papa Galih mulai menggeliat di lengan istrinya.
Mama Difa memicingkan matanya dengan tajam.
"Kalau sampai anak kita ada lima! Aku potong jagung kamu!!" Mama Difa bangkit meninggalkan Papa Galih yang masih tertawa menggoda dirinya begitu saja.
"Tungguin Mah, siapa tau abis ini ada Guntur, Gilang, Gugun---"
__ADS_1
"PAPAH!!" Mama Difa kembali berteriak.
****
"Kamu udah bangun, Ra?" Gifa masih mengelus rambut Maura, dilihatnya sang kekasih sudah membuka mata secara perlahan.
"Maaf ya Gifa, aku ketiduran! Paha kamu pasti pegal karena jadi bantal buat kepala aku."
"Nggak apa-apa kok, aku suka sayang!"
Maura tersenyum indah melihati wajah Gifa yang lebih tinggi menatap dirinya.
Gifa terus memainkan ujung dagu Maura yang lancip, ia terus menahan keinginannya untuk mengecup bibir Maura. Walau ini juga yang pertama baginya.
"Oh iya Gifa--"
"Hemm??"
"Aku senang keluarga kita, bisa menerima hubungan kita dengan baik! Aku juga nggak perlu lagi penjajakan ke kedua orang tua kamu! Apalagi Mama kamu, dia baik banget sama aku. Perhatiannya itu loh, bikin aku secinta itu sama Mama Difa!"
"Iya, Ra. Aku juga sependapat sama kamu. Mama Alika juga begitu perhatian dan sayang sama aku, aku senang banget kamu mempunyai Mama yang begitu mencintai kamu, Ra."
Maura menghela nafasnya panjang, ada air mata haru menggenang di kedua kelopak matanya.
"Aku selalu minta sama Allah, agar Mamaku selalu diberikan umur yang panjang Gifa. Karena aku nggak tau, gimana hidup aku kedepannya tanpa Mama. Bersyukurlah dulu Mama Alika yang datang untuk menikah dengan Papa setelah kematian Mamaku--"
"Iya Gifa. Mama Alika bukanlah Mama kandungku, ia hanya Ibu sambung untukku! Aku dan Ammar hanya adik tiri! Namun perbedaan nggak pernah aku dapatkan selama ini, Mama Alika selalu menyayangiku dan membagi rata kasihnya untuk aku dan Ammar--"
"Masya Allah, Maura. Aku benar-benar kaget dan nggak menyangka sama sekali. Beruntunglah kamu, walau Mama Alika hanya sebagai Mama tiri, tapi perlakuannya melebihi Ibu kandung."
"Maka kamu juga harus selalu berbakti kepada Mamamu ya, Gifa! Mama Difa kan yang melahirkan kamu secara langsung, tentu semua hidupnya hanya diserahkan untuk mengurus kamu!"
"Iya sayang aku akan selalu berbakti kepada Mama dan Papa. Aku nggak bisa ngebayangin kalau Mama Difa bukan Mama kandung aku, mungkin aku akan frustasi berat."
Apa jadinya nanti, kalau Gifali mengetahui siapa jatidiri nya yang sebenarnya. Bagaimana jika kedua orang tua yang sekarang bukanlah orang tua aslinya, mungkin ia akan lebih frustasi, bisa saja meminum racun untuk bunuh diri dan lebih memilih untuk mati.
Semoga saja suatu saat nanti, bagaimanapun Gifali dan seperti apa keadaannya, Maura akan tetap mencintainya tanpa memandang apapun.
****
Gadis terus menangis di kamar. Ia hanya meringkuk dikasur, menahan sedih dan kesal. Sudah 10x teleponnya di alihkan begitu saja oleh Gifali.
"Kamu lagi ngapain sih, Gifa? Masa tega banget udah mau sore kamu nggak ngabarin aku juga?? Seenggaknya kirim pesan dong! Aku kan khawatir!!"
Gadis terus memaki dalam tangisannya, ia memukul-mukul bantal yang kini tengah ia peluk.
__ADS_1
"Kamu sayang nggak sih, sama aku??" Gadis melempar semua bonekanya jatuh ke dasar lantai.
"Aku udah memaafkan kamu soal kemarin, tapi hari ini kamu buat aku kesal lagi! Aku benar-benar kesal sama kamu, Gifa!!"
Ia terus menangis, menanti sang pujaan hati yang tidak kunjung datang. Mungkin setelah ini, Gifali akan merebut kembali hati Gadis yang sudah kepalang tanggung karena kecewa.
Drrtt...drrtt..
Kedua matanya yang sedang menangis sontak beralih ke layar ponselnya yang bergetar. Langsung ia raih dengan cepat, takut-takut Gifali yang mengirimkannya pesan.
Benar saja, yang ditunggu-tunggu akhirnya mengirimkan pesan balik.
Dis, Maafkan aku nggak bisa angkat telepon kamu dulu. Aku masih nyetir. Nanti jam 8 malam tunggu aku di ujung jalan rumah kamu ya, aku akan kesana. Ada yang ingin aku bicarakan
Melihat seuntai pesan dari kekasih hatinya, membuat Gadis berubah moodnya menjadi 180 derajat. Hatinya terasa lega, wajahnya yang sedari tadi mendung dan sendu berubah menjadi terang benderang.
"Iya sayangku, Gifa ku! Aku akan tunggu kamu!" seru Gadis bahagia.
Sungguh hebat Gifali, bisa membuat dua wanita bertekuk lutut dengan cintanya. Semoga saja kamu bisa selamat dalam mengakhiri semua ini tanpa cacat.
Jangan ada lagi, dua cinta dalam satu hati.
***
.
.
.
.
.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
__ADS_1
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️