
Haii selamat malam❤️❤️
Selamat baca ya
.
.
.
.
.
.
.
Selama 17 tahun Papa Galih selalu menutup akses agar Mama Difa dan Om Malik tidak bisa bertemu dalam keadaan apapun. Jika Om Malik dan Tante Kinanti ingin membawa Gifali pergi atau menginap, Papa Galih yang akan selalu mengantarnya dan Papa Galih hanya akan mengizinkan Gifali untuk pergi bersama mereka.
"Sebenarnya ada apa sih Om Malik dengan Mama, kenapa Papa sampai seperti itunya ya? Selama ini juga Papa selalu melarang jika Om dan Tante mau mengajak kita untuk ikut tamasya bersama keluarganya!" Tanya Ganaya kepada kedua adiknya ketika mereka sudah berada dimobil menuju sekolah.
"...Iya Papa hanya mengizinkan Kak Gifa yang pergi!" Sambung Gemma.
Gelfa semakin mengerutkan keningnya, kecurigaannya semakin terus berputar. Kepalanya terasa pusing dan penat karena terus menangis memikirkan kebohongan yang selama ini sudah ditutup rapat oleh kedua orang tuanya.
"Kamu kenapa sih Gel? Diam terus dari tadi! Kalau ada masalah tuh ya ngomong dong! Aku kan kakakmu, wajar kalau aku tau tentang kesedihan kamu!" Ucap Gana terus melihati Gelfa yang hanya fokus menatap pepohonan rindang dipinggir jalan yang mereka lewati.
Gelfa tetap bergeming. Ia tetap dalam pendiriannya, kalau luka dan kebohongan ini cukuplah hanya ia yang tahu sampai ia menemukan sendiri kebenarannya.
Ganaya dan Gemma hanya menghela nafas secara bersamaan ketika melihat Gelfani tetap dalam mode diam.
Cit.
Deru mesin motor Gifali sudah terhenti diparkir sekolah lebih dulu. Hari ini ia membawa sebuah jaket hadiah pemberian Gadis beberapa waktu lalu. Ia berencana akan mengembalikan jaket dan sejumlah uang yang ia rasa cukup untuk mengganti harga jaket itu.
Ia masih melangkah dengan tas punggung kulit cokelat disalah satu pundaknya. Ia sengaja melewati lorong kelas Gadis, untuk mampir sebentar menemui mantan kekasihnya itu.
"Din, apakah Gadis sudah datang?" Tanya Gifali kepada Dina, teman sebangku Gadis dikelas.
"Gadis nggak masuk Gifa, katanya sakit."
"Hah? Sakit? Sakit apa, Din?"
"Katanya demam Gifa, tengoklah nanti sehabis pulang sekolah. Mungkin Gadis akan lebih cepat sembuh."
Gifali membuang nafasnya perlahan dan meraup oksigen untuk menyegarkan kepalanya. Ada rasa sesak di dadanya, ia merasa pasti Gadis seperti ini karena ulahnya.
"Baiklah Din, makasi ya atas infonya. Aku kembali ke kelas!"
__ADS_1
"Iya Gifa..."
Gifali berjalan kembali untuk keluar dari kelas Gadis. Ia terus melangkah sambil memainkan ponselnya, mencoba mengetik pesan untuk Gadis lalu seketika ia hapus dengan cepat. Fikirannya bingung ia merasa bersalah.
Lalu
Seketika langkahnya terhenti ketika ia merasa ada sebuah langkah kaki lain yang mencegat dirinya.
Gifali mendongakkan wajahnya dengan cepat.
"Minggir!" Seru Gifa
Tetapi pemuda ini tetap tidak mau mengalah, ia tetap bergeming diposisinya. Mengangkat sedikit dagunya untuk berlagak seperti penguasa di medan perang.
"Lepaskan Gadis!"
"Gue udah melepaskannya!"
Kedua mata Elang begitu terbelalak dengan hebat. Garis senyum yang sedari tidak nampak begitu saja mengalun indah.
"Hahaha bagus! Lo tau kan kalo gue it----"
Gifali menyelak cepat. "Lo nggak usah banyak ngomong! Gue butuh fakta bukan janji! Gue cuman minta satu, tolong lo jaga Gadis! Kalau sampai lo nyakitin perasaannya, lo akan berhadapan sama gue!"
Gifali menghentak bahu Elang. Elang yang sedari tadi ingin meledek Gifali, sontak menjadi diam terus berfikir apakah ucapan Gifali itu benar atau bohong.
Gifali memang sedang tidak berbohong, ia hanya ingin Gadis mendapatkan lelaki yang mencintainya tulus. Seperti ia mencintai Maura saat ini.
Kamu sakit apa Dis? Aku mencarimu hari ini ke kelas, katanya kamu sakit. Cepat sembuh ya jangan lupa minum obat. Aku ingin bertemu kamu untuk mengembalikan jaket yang telah kamu belikan buat aku.
Send...
Seuntai kata-kata yang bersatu padu membentuk sebuah kalimat dan akhirnya menjadi paragraf telah Gifali kirim ke ponsel mantan kekasihnya itu.
Gifali mau menghapus segala kenangan atau memori tentang Gadis. Ia ingin terus menjalani hubungan dengan Maura sampai ke titik pernikahan. Ia terlalu mencintai Maura.
*****
Sesuai kesepakatan tadi pagi, Papa Galih akhirnya menjemput Gifali ke sekolah. Ia meminta ijin kepada wali kelas sang anak untuk pulang cepat dari sekolah.
"Motor Kakak ditinggal aja disini, besok pagi ikut saja dengan Mang Adim!" Ucap Papa Galih ketika berjalan dengan sang anak menuju parkiran.
"Iya Pah..." Gifali hanya menurut apa kata sang Papa.
Mereka pun akhirnya bergegas untuk berlalu ke Rumah Sakit. Ingin menjenguk bagaimana keadaan Tante Kinanti yang sedang terbaring di ICU.
"Pah, kenapa Mama tidak boleh dikasih tahu? Padahal keadaan Tante sekarang sedang kritis?"
"Dan sepertinya...Papa nggak suka kalau Mama berhubungan dengan mereka?"
__ADS_1
"Ada apa sih Pah?"
Pertanyaan beruntun keluar dari mulut sang Anak. Papa Galih tetap dalam keputusannya, ia hanya ingin bungkam tidak mau menjawab apapun yang berkaitan dengan Mama Nadifa dan Om Malik di masa lalu.
"Maura gimana sekarang, sudah sehat?"
Gifali tersentak ketika jawabannya dialihkan begitu saja oleh Papanya. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa.
"Sudah mendingan Pah, oiya Kakak juga mau ijin. Habis dari Rumah Sakit, Kakak mau kerumah Maura lagi ya. Mau bantuin persiapan acara Kakeknya dua hari lagi---"
"Iya Nak, boleh! Asal Kakak tetap menepati janji kepada Papa, soal masalah kita menjenguk Tante Kinanti dari Mamamu!"
"Iya Pah!"
Gifali terus berpacu dalam keingintahuannya yang semakin membuncah.
Lagi-lagi
"Ada apa Mama dengan Om??"
***
.
.
.
.
.
Haii semuaa, konflik panjang sebentar lagi akan aku mainkan. Stay tune ya, siapkan diri kalian. Kalau ada perasaan takut, ditabung aja bacanya biar enak heheheh❤️❤️🖤
Terharu aku sama komenan kalian, ternyata udah masuk banget ke cerita ini. Sabar dulu ya guyss mereka pasti akan bertemuu🔥🔥🔥
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
__ADS_1
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️