
Selamat pagi guyss
Selamat membaca ya
❤️❤️❤️❤️
Terlihat keduanya tengah berbaring di dua sofa yang berbeda.
"Maura, bangun sayang..."
"....Gifa, ayo bangun, Nak!"
Ke empat orang tua ini masih setia membangunkan anak-anak mereka yang masih belum sadarkan diri.
"Mah, coba pakai kaos kaki Gelfa, pasti Kak Gifa cepat bangun--" Gana berbisik ditelinga sang Mama. Sontak ucapan itu membuat Papa Galih berdecis geli.
"Bau apa sih emang? sampai segitunya?" tanya Papa Galih.
"Kamu ah--" Mama Difa mulai menggerakkan sikutnya untuk menyentak lengan suaminya.
"Bau bangke, Pah." Jawab Gana.
"Gana, malah bercanda sih?" Seru Mama Difa. "Gifa, bangun Nak--" Mama Difa masih mengibas-ngibaskan minyak angin di lubang hidung anaknya.
Gelfa yang baru datang dari luar bersama Gemma langsung berteriak.
"Ada apa ini? Kak Gifa kenapa?" Ia pun berlari menghampiri sang Kakak yang tengah dikerubungi oleh keluarganya. Lalu ia menoleh ke arah berlawanan, dilihat ada orang yang sepertinya ia kenal.
"Tante yang waktu itu kan---?" Gelfa mulai mengingat-ngingat.
"Iya Gelfa, ini tante Alika. Lihat ini anak tante, Kak Maura, Gelfa ingat kan sama Kak Maura?" Alika membawa arah mata Gelfa untuk melihati Maura yang masih belum sadar.
"Wah kok bisa?" desahnya memanjang, ia terus melihati wajah Maura lalu bergantian ke wajah Kakaknya.
"Lady is back!!" gumamnya masih tidak percaya.
Ia mendekat ke arah Gana lalu berbisik. "Kak, kenapa mereka bisa pingsan?"
"Gel, cepat ambil kaos kaki kamu!" seru Papa Galih.
"Ih, buat apa Papa?"
"Buat bangunin Kak Gifa, sekarang!"
Kening Gelfa mengerut seketika.
"Kenapa harus pakai kaos kaki aku Pah? Bisa aja kan pakai kaos dalam nya Gemma, tuh liat dia habis main bola! Pasti asem banget--"
"Kok jadi bawa-bawa aku sih, Kak!" Gemma berdecak marah. "Mah, Kakak kenapa?"
"Hemm, adek bau banget sih. Main bola di dunia mana? Bau kecut! Mandi sana!" Seruan Gana makin membuat Gemma berdecak. "Apa sih, Kak!" Ia pun berlalu dengan cepat untuk mandi.
Lalu Gelfa mempunya ide. Ia pun berbisik ditelinga Gifali.
"Kakak bangun, motornya di bobol maling!!"
Sontak tanpa sengaja, Gifali dengan cepat membuka kedua matanya lalu menatap lurus ke atas langit-langit rumahnya.
"Tuh kan bener, bangun!" ucap Gelfa bahagia
Keluarga Hadnan menghela nafas kelegaan. "Ayo, minum dulu Nak!" Mama Difa menyodorkan gelas berisi air ke mulut sang anak.
"Gimana nih Pah, Kakak belum bangun juga! Emang mereka ini siapa sih, Pah, Mah?" tanya Ammar, ia masih terus mengelus-elus rambut sang Kakak.
"Adek punya ide nggak?" Tanya sang Papa.
__ADS_1
"Oh iya ada Pah!" Lalu ia pun berbisik ditelinga sang Kakak.
"Kakak ayo bangun, toko kue kamu pindah ke bulan!"
Papa Bilmar mulai menghentak bahu sang anak. "Tanggung dek, Merkurius sekalian--"
"Papah! Nggak lucu!" Delikan mata tajam berarah dari Mama Alika.
"Nggak apa-apa sayang, biar cepat sadar anak kita--" Papa Bilmar masih sedikit tertawa karena mengingat ide Ammar yang konyol.
Hal yang terjadi pada Gifali pun kembali terulang pada Maura. Dengan cepat ia membuka kedua matanya dan bergantian melihat wajah keluarganya.
Kemudian
Maura dan Gifali bersama-sama untuk bangkit duduk berselonjor, mereka saling menoleh, saling menatap. Keheningan kembali terjadi di antara mereka.
"Kamu kembali, Gifa?" Ucap Maura dengan suara pelan.
Tanpa menunggu lama, Gifali pun bangkit dari sofa untuk melangkah cepat menghampiri Maura. Ia setengah berjongkok, terus melihati Maura yang masih duduk di sofa menghadapanya.
"Maura ini kamu?" Tanya Gifa sambil meraih tangan kanannya yang masih memakai gelang pemberiannya.
"Ini, gelang dari ku bukan?"
Maura pun mulai menangis. "Iya Gifa, gelang ini pemberian kamu 12 tahun yang lalu--"
Gifa memotong cepat. "Masih kamu pakai sampai saat ini?" Kedua mata Gifa terus berkaca-kaca.
"Mah, Ammar, ayo ditinggal dulu Kakak sama Gifa!" bisik Papa Bilmar setelah mendapat kode dari Papa Galih dan semua keluarga pun pergi dari sana untuk pindah ke tempat lain.
Mereka membiarkan kedua pasangan ini untuk berdua dulu, menikmati pertemuan mereka.
"Kamu kemana aja sih, Ra? Aku selama ini susah banget cari kamu!" Air mata Gifali pun menetes.
"Gifa, aku---" Maura terus menangis terisak. Gifa pun akhirnya memeluk Maura dengan erat, saling mendekap lama.
Maura semakin menangis, rasa haru, rasa rindu berbelas tahun menunggu dan rasa senang bercampur menjadi satu saat ini. Gifa dan Maura masih saling memeluk dalam pejaman mata mereka.
Sekarang kamu kembali Maura, lalu jawaban apa yang harus aku beri ke kamu, ketika saat ini aku sudah bersama dengan Gadis?
Melihat kamu ada disini, terasa hatiku utuh sekarang. Memang hanya kamu yang bisa menggenapkannya!
Maura pun melepaskan pelukannya. Ia menunduk ke bawah.
"Kamu kenapa, Ra?" Gifa meraih dagu dan mendongakkan wajah Maura yang sudah basah karena berpeluh airmata. Terlihat kedua matanya terasa bengkak dan wajahnya sangat merah.
"Apa kamu sudah punya pacar, Gifa?"
Pertanyaan apa ini?
"Kenapa kamu langsung ngmong kaya gini? Kita kan baru aja bertemu--"
"Karena selama ini aku selalu menanti kamu, Gifa! Aku harus bisa mengakhiri penantian ini, kalau memang kamu sudah punya kekasih!"
Bug.
Ini adalah suatu tamparan untuk Gifali. Mendengar seseorang yang sudah lama sekali ia tunggu-tunggu berucap seperti.
Sakit? Ya, itulah sekarang yang dirasakan oleh Gifa. Ia tidak mungkin menceritakan segala kenyataan ini, melihat Maura dan gelang yang masih melingkar, membuat ia yakin kalau Maura selalu menunggu seperti dirinya yang sampai saat ini juga menunggu Maura.
Ia pun mulai memejamkan kedua mata dan menghela nafasnya.
"Aku enggak punya kekasih, Maura!"
Gaifali kembali memeluk Maura sebagai kekuatan saat ini untuk menekan Gadis pergi dulu dari hati nya sekarang. Gifa terus memeluk Maura, ia menjatuhkan kepalanya di bahu wanita ini.
__ADS_1
Gadis maafkan aku...
Maura terus mengelus-elus punggung Gifali. Entah mengapa suara, tatapan dan belaian dari Maura sangat lembut dan membekas di hati Gifali.
"Kamu jangan pergi lagi ya, Ra---"
"Iya, Gifa. Sejatinya aku memang nggak pernah pergi dari kamu! Aku selalu bersama kamu, di hati kamu dan kamu juga selalu ada di hati aku!" Balas Maura dengan kasih dan sayang.
Gadis maafkan aku...
Relung hati Gifali terus menyeruak melalang buana, hari ini ia terisak karena dua hal. Hal pertama karena ia bahagia bertemu kembali dengan Maura dan hal yang kedua, ia bingung bagaimana menjelaskan posisi nya di hadapan Maura dan Gadis, lebih tepatnya bagaimana perasaan Gadis setelah ini.
"Jadi yang kemarin tabrak aku itu, benar kamu, Ra?"
"....Oh iya aku baru ingat. Pantas aja kemarin kamu sentuh gelang aku!"
"Aku bodoh ya, Ra? Masa aku mendadak lupa sama gelang itu waktu kamu masih ada disana, dan aku kembali teringat, tapi kamu udah enggak ada--"
Mereka masih terus memeluk, walau lutut Gifa sudah terasa kebas karena pertumpuan dengan lantai, tetapi ia tetap memeluk Maura. Ia tidak mau melepas nya.
"Aku juga nggak peka waktu kamu sentuh gelang aku...sayang---" balas Maura yang masih memeluk pemuda ini dengan sangat lekat.
Bussss
Jantung Gifali kembali berdegup ketika Maura memanggilnya dengan sebutan sayang. Entah mengapa rasanya lebih membahagiakan, menyejukkan dan memberi kedamaian di hati nya yang selama ini terasa kopong.
"Iya sayang, nggak apa-apa!" balas Gifali.
"Aku rindu kamu, Gifa---"
"....Aku juga rindu kamu, Maura!"
"Jangan pergi lagi ya!"
"Pasti, aku janji...."
Entah bagaimana setelah ini? Hanya Gifa yang tahu, jalan apa yang harus ia pilih. Apakah harus meninggalkan Maura, wanita yang selama ini selalu ia tunggu, ia fikirkan dan ia simpan dalam relung hatinya? Apakah harus meninggalkan Gadis, wanita pertama yang ia jadikan kekasih didalam hidupnya, yang begitu menyayanginya dengan tulus seperti Maura?
Sang surya, menunggu jawabanmu, Gifa!
****
.
.
.
.
Nah guyss, gimana nih pertemuan Maura dan Gifa ?? tungguin ya.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
__ADS_1
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️