GIFALI DAN MAURA

GIFALI DAN MAURA
Jaminan Kebahagiaan untuk Maura


__ADS_3

Selamat sore guyss


Selamat baca


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tanpa suruhan dan tanpa paksaan serta tanpa sepengetahuan siapapun. Lelaki ini begitu saja mengikuti kata hatinya untuk mendatangi Papa Bilmar ke kantor. Tentu kedatangannya kali ini hanya demi kebahagiaan untuk anak tercinta nya, Gifali.


"Maaf Mas, saya mengganggu." Ucapnya ketika langkah kaki nya sudah terhenti di depan meja kerja Papa Bilmar.


Papa Bilmar memberikan senyumnya dengan hangat dan bersahaja. "Tidak menganggu sama sekali, Mas. Ayo silahkan duduk..." Papa Bilmar mempersilahkan Papa Galih untuk duduk.


Jantung Papa Bilmar masih terus berdegup. Ada perasaan malu didalam dirinya karena sudah tega melempar arang ke hati Gifali kemarin. Namun Papa Galih tetap memberikan rasa simpatik dan wajah persahabatan. Papa Bilmar sudah hafal sekali dengan apa yang akan dibicarakan oleh lelaki yang akan menjadi besannya kelak.


Papa Galih pun duduk sambil merapihkan jas kerjanya. "Bagaimana kabarmu, sehat Mas?" Tanya Papa Galih membuka kembali awal pembicaraan.


Papa Bilmar mengangguk dan mengulang pertanyaan yang sama seperti Papa Galih.


"Kabarku dan keluarga ku semua baik..." Papa Galih kembali menjawab. Papa Bilmar hanya mengangguk senang.


"Mas Bilmar pasti sudah tau maksud kedatangan saya kesini." Ucap Papa Galih.


Papa Bilmar masih menatap fokus wajah lelaki ini. "Ya saya faham, Mas Galih. Untuk yang kemarin, saya ingin mengucapkan kata maaf yang sebesar-besarnya kepada Gifa, jujur saya memang sudah lepas kendali."


Papa Galih hanya mengangguk dan tersenyum. Tentu melihat calon besannya seperti ini. Ia tidak perlu lagi mengeluarkan tenaganya untuk merayu Papanya Maura lebih dalam.


"Saya sangat mengerti Mas, dengan apa yang Mas lakukan kemarin kepada Gifa. Tentu saya akan melakukan hal yang sama, jika mengetahui anak perempuan saya dalam posisi seperti Maura. Dipermainkan begitu saja, mungkin juga sikap saya akan lebih dari Mas Bilmar kepada Gifali."


Dengan helaan nafas dan senyuman yang masih merekah, Papa Galih kembali bertutur. "Atas nama anak saya Gifali. Saya meminta maaf atas kesalahan yang sudah ia perbuat untuk Maura dan sepupunya itu."


"Saya mengerti sekali bagaimana saling merindu dan menyayangi tanpa bertatap muka selama 12 tahun, itulah yang terjadi kepada Gifa dan Maura."


"Anak lelaki saya merasa, mungkin Maura tidak akan pernah kembali lagi ke dalam hidupnya. Walau didalam hatinya, masih tercetak jelas nama Maura."


"Dan semuanya terjadi begitu saja seperti air mengalir, saya memang menyesalkan kenapa tidak tahu jika disaat itu, Gifa baru meminta Gadis untuk menjadi kekasihnya dan tak lama kemudian jodohnya pun kembali terlihat, ada Maura yang datang kembali."


"Tentu penantian 12 tahun itu tidak bisa begitu saja terlupakan di hati anak saya. Ia tetap menginginkan Maura. Maka dari itu saya ingin meminta belas kasih dari Mas Bilmar untuk mau memberikan kesempatan lagi kepada putra saya untuk bisa membahagiakan putri kamu."


"Saya ingin melamar Maura untuk Gifali. Semoga saja dengan penuturan saya barusan, bisa menjadi pertimbangan untuk Mas Bilmar beserta istri nanti dirumah---"

__ADS_1


Papa Bilmar mengangguk tanda faham. Ia terus menatap wajah Papa Galih dan terus berfikir. Lalu tanpa menunggu lama ia pun memutuskan jawabannya dengan cepat.


"Tentu Mas Galih tau, apa yang diinginkan orang tua ketika melihat anaknya sudah besar. Tentu mereka hanya ingin melihat anaknya bahagia dalam segi hal apapun."


"Begitupun dengan saya, saya ingin Maura dicintai, dibahagia kan dan dilindungi serta dibimbing menjadi wanita yang berakhlak dan baik budi pekertinya. Walau awalnya saya sangat percaya dan setuju dengan Gifali, namun saat ini saya masih meragukan itu dari anak kamu."


"Tapi karena melihat mereka saling mencintai. Dan Gifa sudah mendapatkan hukumannya sendiri, maka dari itu saya akan memberikan satu kesempatan lagi untuk Gifali. Tapi untuk itu saya butuh jaminan---"


Papa Galih memotong cepat.


"Diri saya yang akan menjadi jaminannya. Mas Bilmar bisa melakukan apapun kepada saya jika Gifa kembali berulah. Saya berjanji akan terus memantau Gifa untuk tidak melakukan hal yang salah untuk kedua kalinya, bagaimana Mas?"


Papa Bilmar menatap wajah Papa Galih dalam-dalam, ada helaan nafas panjang yang ia keluarkan sebelum akhirnya menjawab.


"Baik Mas, saya terima jaminan itu, saya mencoba memberikan kesempatan kedua untuk putra kamu...."


"Alhamdulillah, terima kasih Mas." Jawab Papa Galih dengan wajah bahagia.


Begitu beruntungnya Gifali dan akan senang sekali Mama Difa, jika mengetahui Papa Galih yang telah melakukan pengorbanan seperti ini. Tentu sudah seharusnya seorang Papa berjuang untuk kebahagiaan sang anak.


****


"Dorrrrrr....." Gadis menghentak bahu Gifa yang tengah duduk termenung dibangku taman sambil menatap lapangan basket yang begitu luas.


Gifa menoleh ke arah Gadis. "Eh Dis, ayo duduklah---" Gifa mempersilahkan Gadis untuk duduk.


"Kamu gimana kabarnya Gifa? Apakah sudah kontrol lagi ke Dokter?"


"Insya Allah, lusa, Dis."


Gadis mengangguk. Mereka pun kembali hening, bingung mau berucap hal apa. Sepertinya Gadis sudah mulai menerima takdir cintanya, bahwa lelaki yang sedang ia ajak bicara sekarang tidak akan menjadi miliknya. Cinta Gifali hanya untuk Kakak sepupunya saja.


"Kamu belajar terus ya, Dis. Kan mau UAN. Biar nilainya bagus, kan mau masuk UNPAD..."


Gadis memang bertujuan untuk kuliah disana, ia ingin mengambil jurusan Hukum. Gadis menarik sudut bibirnya keatas mengembang senyum tiada tara.


"Hahaha, masih ingat aja Gifa. Nggak tau deh sekarang, terserah Elang aja---"


Gifali menoleh cepat menatap wajah Gadis penuh maksud. Ia membulatkan kedua matanya untuk menatap jelas kornea mata Gadis dalam-dalam. Gadis pun faham akan sikap Gifa yang seperti ini. Lelaki itu butuh penjelasan.


"Aku ingin mencoba menerima Elang, Gifa. Aku ingin merasakan dicintai seutuhnya. Seperti Kak Maura yang dicintai utuh oleh kamu." Ada air bening yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.


"Maka dari itu mulai sekarang aku akan membiasakan diriku bersama dan menerima Elang. Elang juga selalu ngajarin aku tentang pelajaran yang susah. Lebih tepatnya dia jadi guru privat aku sekarang...." Ucap Gadis apa adanya. Ia menyeka air matanya lalu tertawa.


Penuh perjuangan untuk mengucapkan tentang semua ini. Jujur saja didalam relung hatinya yang paling dalam, nama Gifali masih terkantung jelas di dasar hatinya.


Gifali tentu sangat senang dengan penuturan Gadis. Ia memberikan senyum kebahagiaan untuk mantan kekasihnya ini.


"Alhamdulillah kalau begitu, aku ikut senang, Dis. Aku juga ingin minta maaf sekali lagi ke kamu atas segala sikap aku yang udah nyakitin perasaan kamu, Dis!"


"Aku nggak ada maksud kayak gitu. Aku tau hanya Elang yang bisa melindungi dan menjaga kamu, walau dia memang sedikit menyebalkan, tapi----"


"Apaan nih maksudnya? Gue nyebelin gitu??" Selak Elang yang tiba-tiba muncul ditengah mereka. Lalu mengayuh leher Gifa dengan lengannya. Elang terkekeh dan Gifali meronta untuk melepas jeratan itu.


"Lepas begoo! Gue kecekik nih---" Seru Gifali.


"Elang...." Ucap Gadis diselingi tawa.


"Lepasin sayang, kasian Gifa..." Gadis kembali berucap namun ucapan itu membuat Elang dan Gifa melongo.

__ADS_1


Wajah Elang seketika berbinar. Gadis pun masih terkekeh tidak sadar, sepertinya ia refleks mengucap kata-kata itu.


Elang melepas kan lengannya dari leher Gifali.


"Minggir lo, Nyet--!" Elang seraya mengusir Gifa dari posisinya yang sedang duduk disebelah Gadis.


Gifali bangkit dan mendengus. Ia masih berdiri melihat Elang yang duduk berhadapan dengan Gadis. Pemuda itu menatap lamat-lamat wajah wanita yang sangat ia sukai dari dulu.


"Sayang? Kamu tadi panggil aku sayang, Dis? Beneran??"


"Dih, pede lo! Buat gue itu mah!" Gifa berdecih geli, ia ingin terus meledek Elang yang sedang kasmaran.


"Diem lo botak---" Elang kembali menatap Gadis dan menggenggam tangannya.


"Kamu beneran tadi manggil aku kayak gitu? Itu tandanya, kamu nerima aku, Dis?" Tanya Elang penuh harap. Gadis terlihat mati kutu, memang sudah dua hari yang lalu Elang terus meminta Gadis untuk menjadi kekasihnya. Namun wanita itu selalu enggan untuk menjawab, ia masih belum yakin akan hatinya.


Gadis tersenyum dan mengelus pipi Elang. "Aku akan belajar dan tugas kamu untuk ngajarin aku, gimana?" Jawab Gadis apa adanya.


Ia tidak mau berbohong kepada Elang. Sungguh ia akan tersiksa jika Elang tahu dirinya dibohongi dengan perasaan Gadis yang sebenarnya.


"Iya kok, aku selalu bersedia untuk ngajarin kamu terus. Aku gak akan capek untuk hal itu---" Elang mencium tangan Gadis.


"Makasi ya, udah mau nerima aku. Berarti sekarang kita jadian kan??"


Gadis mengangguk dan tersenyum tipis, namun lama-lama senyuman itu mendadak menjadi lebar, ketika Elang berhambur memeluk Gifali.


"Makasi ya tak, gara-gara kebegoan lo yang gak bisa pacarin dua cewek sekaligus. Gue jadi kecipratan berkahnya. Sekarang gue bisa jadian sama Gadis.." Elang terus memeluk Gifali.


"Lepas ****. Jijik gue pelukan ama laki---" Dengus Gifali. Gadis terus tertawa melihat tingkah mereka.


"Satu yang gue pinta, tolong jagain Gadis. Jangan nyakitin perasaannya. Cukup hanya gue yang pernah salah sama dia."


Gadis menatap nanar kearah Gifali, ia mengangguk senyum.


"Pasti tak, gue akan selalu buat Gadis senang kok." Ucap Elang bangga. "Eh tapi tunggu deh, lo selama pacaran ama Gadis, belum pernah kissing kan??" Bisik Elang ditelinga Gifali. Tentu saja bisikan itu terdengar ke telinga wanita yang ia sukai.


"ELANG!!"


Gadis bangkit dan menghentakkan kakinya, lalu ia menjewer daun telinga Elang.


"Nakal ya kamu, pakai segala ngomong kayak gitu! Ayo balik ke kelas!!" Gadis membawa Elang pergi dari sana.


"Ampun dong sayang, beneran deh cuman bercanda---"


"Udah diem, ayo balik ke kelas!"


Gifali hanya tersenyum senang dengan apa yang ia lihat saat ini. Hatinya begitu lega, karena Gadis sudah menerima perpisahan ini dengan lapang dada. Ia pun kembali duduk dan termenung, tentu saja hati dan fikirannya masih terganjal soal masalahnya dengan Maura.


Ia merasa keadaan menjadi berbalik. Ketika Elang sudah bisa mendapatkan hati Gadis dan Gadis pun menerimanya. Kenapa malah ia yang haru terancam untuk berpisah dari Maura. Sungguh kelaraan hati terus menyiksanya.


"Tenang ya, Ra. Aku akan menemui Papa kamu lagi, aku akan perjuangkan kamu sebisa aku..."


Entah bagaimana perasaanya jika sang Papa yang telah berhasil untuk mempersatukan hubungannya kembali.


Gifali peluk lah Papamu dan ucapakan segala cinta dan kasih untuknya, sebelum halilintar kedua siap untuk menerjang.


****


__ADS_1


__ADS_2